Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Dua Pria


__ADS_3


Alunan musik jazz menguar rata ke seluruh penjuru lounge bar yang terletak di jantung kota. Memanjakan indera pendengaran bagi para pengunjungnya.


Axton dan Nathan berada di sana, duduk di atas bar stool seraya menikmati suasana dengan sajian cocktail yang diramu langsung oleh bartender di balik meja counter bar.


Nathan sedikit memiringkan tubuh ke arah sahabatnya, mengukir mimik tak sabar di muka.


"Apa kau ingin membuatku menunggu lama sampai aku tumbuh uban?" Pria itu sedikit kesal karena sahabatnya itu tak kunjung memberi obat rasa ingin tahunya.


Axton melirik sekilas ke arah Nathan, lalu kembali bermain dengan cocktail yang sama sekali belum disesapnya. "Bertanya saja, nanti aku jawab."


"Bagaimana kronologinya kau sampai bisa berpoligami?" Nathan tiba-tiba memasang muka syok bahkan sebelum Axton mulai membuka mulutnya untuk menjawab. "Jangan-jangan kau asal main celup hingga membuat anak orang hamil," sambungnya asal tuduh.


Axton berdecih kesal. "Apa kau sedang meledekku? Kau sudah tahu kalau aku tidak bisa melakukannya. Jadi bagaimana dia bisa hamil?"


"Jadi setelah peristiwa kecelakaan 2 tahun yang lalu, kau belum juga sembuh?"


Dua tahun yang lalu, Axton memang pernah tertimpa musibah saat berkedaraan bermotor roda dua. Dan dari peristiwa itu, ia mengalami cidera karena benturan keras pada tulang belakang yang menimbulkan gangguan saraf penyebab disfungsi ereksi.


"Iya."


"Dan kau masih menggunakan cara dari saran yang dulu aku kasihkan untuk menyenangkan Lana." Bukannya prihatin, Nathan malah tertawa meledek.


"Berhentilah meledekku! Mulutmu memang seperti wanita!" sengit Axton merasa kesal.


Tidak ada ruang baginya untuk menyangkal, karena kenyataannya memang begitu adanya. Selama ini ia hanya menggunakan alat bantu saat bermain di atas ranjang dengan Lana. Hasrat gairahnya seolah mati, kendati istrinya sudah melakukan berbagai cara.


"Maaf, aku tidak bisa untuk tidak tertawa ...." Nathan kian tergelak.


"Bajingan kau!"


"Tubuhmu tinggi, gagah, dan sangat kekar. Wajahmu juga tampan, meski ... tak setampan diriku, tapi sayang ... kau tidak bisa berdiri. Kau sangat memalukan, Axton!" Nathan kian menjadi.


"Aw! Hanya kau yang berani memukulku!" Gelak tawa seketika tergantikan oleh ringisan kesakitan saat Axton menempeleng kepalanya. Di depan Axton, wibawanya sebagai CEO dari perusahaan besar Alexindo Corp. nyatanya tak berarti apa-apa.


"Dan hanya kau yang sudah sangat lancang menghinaku." Axton menegak cocktailnya. Sementara Nathan masih setia dengan gerakan tangan yang mengusap kepalanya. Pukulan Axton memang cukup berasa.


"Beruntung, Lana selalu bisa menerima kekuranganku. Itu lah yang membuatku mencintainya." Axton kembali bersuara.


Tapi aku tidak yakin dengan istri pertamamu itu Axton. Dari awal aku bertemu dengannya, aku tidak begitu suka.


"Kau yakin itu cinta? Bukan karena rasa tanggung jawab atas janji konyolmu itu?"


"Kenapa kau berkata seperti itu?"

__ADS_1


"Dulu kau menikahi Lana karena ingin mencegah niatnya untuk bunuh diri karena despresi setelah diperkosa ayah tirinya 'kan? Kau berjanji untuk menjadi pelindungnya." Nathan mendengus di sela perasaan herannya. "Kau bahkan tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun sebelum bertemu dengan Lana, jadi kau belum begitu paham apa itu perasaan cinta, Axton."


"Kau tidak perlu mengguruiku." Axton kembali menenggak sisa cocktail hingga tandas. Ucapan Nathan ternyata sukses mengusik hatinya.


"Aku dulu hampir tidak percaya, manusia searogan dirimu, masih mempunyai rasa simpati kepada orang lain, sampai kau bersedia membawa Lana pulang ke rumah dan menjadi bagian hidupmu."


"Melihat Lana waktu itu, aku seperti melihat diriku sendiri. Lana yang diabaikan ayahnya, membuatku merasakan apa yang dia rasakan juga. Dia terihat sangat lemah dan rapuh. Aku jadi tidak tega."


"Tidak tega? Itu berarti selama ini kau hanya mengasihaninya, Axton! Bukan karena cinta ...! Please, be smart thinking!"


Diteguknya minuman berwarna kuning keemasan dari gelas kristal di tangannya, sebentuk upaya kecil guna mengusir kekesalannya. Nathan tidak habis pikir tentang Axton yang tidak bisa mendikripsikan perasaan hatinya.


Axton memang sosok pria yang memiliki segudang prestasi di dalam bidang bisnis, tapi ia akan sangat payah dalam hal perasaan cinta.


"Banyak kasus percintaan yang berawal dari rasa kasihan. Hal itu juga terkadi kepadaku." Axton masih keukuh membantah opini tegas Nathan. Walaupun, ia kini sedang meragu akan perasaannya terhadap Lana.


"Ok. Sekarang berhenti membahas tentang istri manjamu itu. Sekarang kembali ke topik awal. Kenapa kau berpoligami?"


Terdiam sejenak. Pandangan Axton terpaku pada gelas kosong di tangannya. Otaknya tiba-tiba memutar kembali di saat Edrich memintanya untuk menikahi Naora.


Ada rasa marah dan kecewa waktu itu. Kebencian terhadap Naora juga turut ambil andil dalam hati yang bertalu pilu. Sikap Edrich yang hanya menyayangi wanita itu tak elak membuatnya cemburu.


Helaan napas berat mengakhiri pikiran Axton yang sempat melayang ke awang-awang. Ia juga sudah tidak tahan akan tatapan Nathan yang seolah menuntut jawaban.


"Aku terpaksa memenuhi permintaan Daddy."


Axton tersenyum kecut. Lagi-lagi ia urung langsung memberi jawaban dari pertanyaan Nathan.


"Beri aku segelas cider," pintanya kepada seorang bartender. Lalu kembali mengalihkan perhatian kepada Nathan yang sudah diserang rasa penasarannya.


"Kau tahu juga, itu memang satu alasan di antaranya. Selain itu, Daddy memintaku menikahinya karena untuk membalas hutang budi kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal."


"Berarti kau menikah tanpa cinta."


"Aku hanya mencintai, Lana."


Nathan sangat jengah karena kegigihan pandangan Axton akan perasaannya kepada Lana.


"Kau harus bersikap adil, Axton. Termasuk berbagi cinta dengan kedua istrimu." Nathan menuturi.


"Aku akan menceraikannya."


"What?! Jangan memudahkan lidahmu untuk mengatakan talak tanpa berpikir panjang. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dibuat mainan belaka. Ada nama Tuhan di atas ikrar janji suci pernikahan, Axton. Ingat! Istri ke-duamu itu juga memiliki perasaan. Kau juga wajib menjaga dan melindunginya.


"Aku hanya ingin menjaga perasaan Lana. Hanya dia yang kuanggap istriku."

__ADS_1


"Oke. Terserah dirimu saja. Tapi jangan sampai kau berhamburan ke arahku sambil menangis darah karena menyesal. Karena di saat itu juga aku akan langsung menendangmu."


"Apa kau sedang menyumpahiku?!"


"Anggap saja seperti itu." Nathan menggeleng jengah, lalu menarik ponsel dari saku celana. Entah mengapa, muka cantik Naora tiba-tiba berkelibatan di pikirannya, mendorong keinginan untuk mengirim sebuah pesan kepadanya.


"Kau kenapa terus tersenyum sendiri?"


Ternyata Axton menyadari gelagat Nathan yang di matanya terlihat seperti orang kurang waras karena memandang layar ponsel sambil tersenyum sendiri.


"Aku baru saja mengirim pesan kepada sekretarisku. Ternyata dia langsung membalasnya."


Terusik! Ada perasaan tidak suka saat Axton tahu bahwa Naora dan Nathan saling membalas pesan. "Balasan pesannya seperti apa hingga membuatmu seperti orang gila?"


"Dia hanya mengirim pesan berupa ucapan selamat malam, tapi itu sudah membuatku senang."


Naora ...! Beraninya kau menggoda pria lain!


"Naora wanita yang menarik. Senyumannya sungguh cantik." Nathan terus berceloteh dengan pikiran menerawang. Tanpa menyadari muka Axton yang sudah memerah karena lahar panas kembali meletup-letup di dadanya.


"Apa dia sering tersenyum di depanmu?"


"Tentu saja."


Tak!


Axton sedikit membanting gelas cidernya di permukaan meja bar, membuat Nathan keheranan. "Aku akan pulang sekarang. Kau yang bayar minumanku."


Wanita penggoda itu memang harus kuhukum!


"Hei! Kenapa kau pulang cepat?!" Nathan sedikit berteriak, membawa suaranya menembus alunan musik, guna menjangkau pendengaran Axton. Namun, terlambat. Axton sudah hilang ditelan dinding banguanan.





Bersambung~~


Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora..


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen di setiap babnya ya.. Vote dn gift juga sangat Nofi tunggu..


Maaf jika komennya aku balasnya telat-telat..

__ADS_1


Sarangheo..😘😘


__ADS_2