Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Edrich Harus Tahu


__ADS_3


Ia membawa raut kecewa berbalut sendu, mendekati pria yang selama ini telah merawatnya dengan segenap kasih dan sayang. Namun, wanita itu serasa menjadi seorang perebut hak Axton sekarang. Setelah mengetahui semua tentang pria itu, rasa bersalahpun kian bersarang.


"Daddy ... bagaimana keadaanmu?" tanya Naora. Nada suaranya tak seceria biasa. Luka di hatinya seolah merenggut binar cerah pada dirinya.


Edrich bangkit dari duduk lalu mendekati putri angkatnya itu. "Ada apa, Naora? Kenapa mukamu tampak muram?" Alih-alih menjawab pertanyaan sang putri angkat, pria itu malah balik bertanya. Baginya, mimik tak biasa di depan mata lebih patut mendapat perhatian.


Ia membelai sayang pucuk kepala Naora. Namun, tindakan itu terhenti saat si gadis meraih tangannya. Seolah mengantarkan rasa perih, Naora merangkum tangan yang selalu memberinya perhatian selayaknya seorang ayah kepada putri kandungnya. Ia bingkai tangan itu dengan tatapan sendu di balik pelupuk mata.


"Apa Daddy masih ingat kapan terahkhir kali tangan ini pernah membelai sayang kepala putramu?"


Dada Edrich seketika dihimpit denyutan pilu. Lidah tak bertulangnya mendadak kelu. Sepasang bibir terasa kaku. Pertanyaan sesederhana itu sukses menggetarkan hatinya yang beku. Pria itu membisu, tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena dia tidak tahu.


Kebencian yang sudah menghujam dalam sampai ke palung hati seolah membuatnya lupa akan segala kewajibannya sebagai seorang ayah. Hingga saat ini, ia masih setia menganggap sang putra sebagai pihak bersalah.


"Daddy ... apakah Daddy pernah sekali saja mencoba merasakan berada di posisi Axton?" Naora mengusap lembut punggung tangan Edrich. "Apakah Daddy tahu sentuhan tanganmu ini sangat dirindukan olehnya?"


Pria yang masih terlihat tampan seolah tak terkikis oleh usia itu bergeming.


"Kenapa Daddy terus menyalahkan Axton sebagai penyebab kematian ibunya sendiri padahal dia adalah korban yang sesungguhnya?" Naora sudah tak mampu membendung air mata.


Ia mulai terisak lirih dengan hati menahan lara. Baginya, luka milik Axton adalah lukanya. Kesedihan Axton, kesedihannya juga. Naora seolah merasakan apa yang dirasakan suaminya.


"Daddy kenapa hanya diam? Kenapa Daddy terus saja menyalahkan putra Daddy? Bukankah yang seharusnya disalahkan itu kalian? Para orang tua yang memiliki masalah asmara yang rumit. Axton waktu itu bahkan tidak mengerti apa-apa tentang kehidupan orang dewasa? Dia itu korban dari perbuatan kalian."


Naora mengajak netranya yang basah menatap lekat sang Daddy. "Naora bertanya ke Daddy. Apakah Daddy tahu dulu Axton kecil sering menjadi korban penganiayaan istri pertamamu?"


Kalimat ungkapan yang baru saja mencelos dari bibir mungil Naora sukses membuat Edrich tergemap tak percaya. Tukikan tajam di antara kedua pangkal alisnya mewakili hatinya yang bertanya-tanya.


"Apa maksudmu, Naora?" Akhirnya Edrich kembali bersuara.


Miris, wanita itu tersenyum getir di sela tangisnya. Ia sangat menyayangkan sikap Edrich yang lalai sebagai orang tua.


"Axton dulu sering mendapatkan perlakuan buruk dari istri pertama Daddy, Rosmala. Istri pertama yang selalu dianggap ibu kandung oleh Axton. Waktu itu, Rosmala berjanji tidak akan lagi bertindak kasar jika mau mematuhi semua perintahnya. Ditambah lagi sebuah imingan kasih sayang yang selama tak didapatkan Axton akan diberikannya. Anak kecil di manapun pasti akan tergiur dan langsung mengiyakannya. Lagian di saat itu Axton pasti sudah sangat putus asa, Daddy."


Tubuh Edrich mendadak lemas. Hatinya serasa tergilas. Mengetahui sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui sungguh merenggut keegoannya dengan tegas.


Berarti luka lebam yang selalu aku lihat di waktu Axton masih kecil dulu bukan karena ia tidak berhati-hati saat bermain, melainkan karena perbuatan Rosmala. Kenapa aku sampai bisa kecolongan sampai segitu lamanya?

__ADS_1


Terhenyak dari pikirannya sendiri, suara Naora kembali menarik perhatiannya.


"Daddy terlalu sibuk dengan kesedihan Daddy sendiri hingga mengabaikan kondisi Axton kecil waktu itu. Daddy selalu merasa menjadi orang yang paling menderita dan paling kehilangan. Padahal jika dibandingkan dengan Daddy, Axton lah yang paling menderita dan paling kehilangan."


Naora kian berderai air mata, isakan tangisnya membuat suara tercekat beberapa kali. Hatinya pedih saat harus mengingat kembali semua penderitaan Axton selama ini.


"Axton tidak hanya kehilangan seorang ibu kandung, tetapi juga kehilangan sosok seorang ayah padahal jelas-jelas Daddy masih ada di depan matanya. Ia bahkan kehilangan masa kecil bahagianya. Di saat ia butuh dukungan moril, Daddy justru meremukkan batinnya, menghujam hatinya dengan sebutan seorang pembunuh. Siksa batinnya tidaklah cukup sampai di situ saja. Teman-teman di sekolahnya terus membully dan ikut menyebutnya sebagai seorang pembunuh, monster, dan manusia mengerikan."


Naora mengusap kasar cairan bening yang menggelayut di bingkai netranya sebelum melanjutkan kalimatnya. Edrich harus tahu semuanya agar hatinya tidak dibiarkan terbungkus oleh rasa ego terlalu lama.


"Daddy tidak pernah tahu, kalau putra kandungmu itu selama ini sudah dihukum oleh siksa batin yang terus mempora-porandakan jiwanya. Dan siksakan itu akan meledak di setiap hari peringatan kematian ibunya."


"Apa lagi ini maksudmu, Naora? Daddy tidak paham?" Kali ini Edrich benar-benar dibuat bertanya-tanya.


Sesak di dada mengantarkan kaki Naora menuju salah satu sudut ruangan dekat jendela. Membahas tentang masa lalu Axton seolah banyak menguras energinya. Hingga ia memilih menjatuhkan tubuh di atas sofa. Setelah menata ulang perasaan, ia lanjut bercerita.


Waktu terus mengikis malam. Seakan tiada lelah, Naora membeberkan semua tentang kisah Axton yang kelam. Sementara Edrich lebih banyak terdiam. Entah apa yang dia pikirkan, setelah mendengar semuanya, ia terlihat suram.


"Naora ... apa yang kau inginkan setelah menceritakan semuanya kepada Daddy?" Itulah kalimat tanya yang justru terucap dari bibirnya.


Naora terperangah karena tak percaya. Masih bisa Edrich bersikap seperti itu setelah mengetahui semuanya. Haruskah dia masih bertanya? Dan apa itu? Mimik di wajahnya kini seolah sedang tidak terjadi apa-apa.


"Daddy, apakah hati kecilmu masih juga belum terketuk? Bahkan Axton sudah bekorban demi melindungimu. Dia berada di rumah sakit sekarang. Tidakkah Daddy berniat untuk menjenguknya?"


Gelengan lemah berhias tatapan nanar, wanita itu sampai sulit untuk berkata-kata. Ia tidak menyangka, Edrich sama sekali tidak tersentuh dengan ceritanya. Hati pria itu seakan membeku bagaikan gunung es di Antartika.


"Ya Tuhan ... sebegitu besarnya rasa sayang Axton kepada Daddy, hingga ia masih sangat peduli meski luka di hati terus ia terima. Sudah berapa seringnya hatinya bergetar pilu karena sikap Daddy? Naora sangat kecewa denganmu, Daddy."


"Sudah cukup, Naora. Jangan paksa Daddy untuk menyerah kepada kenyataan karena itu masih sangat sulit kuterima."


"Tapi, Dad--"


"Kau segera kembalilah ke rumah sakit. Daddy sudah sangat lelah."


"Daddy!" panggil Naora setengah teriak saat Edrich memilih melenggang pergi dari ruangan.



Sepasang kaki melangkah lamban seolah tiada gairah. Ia menyusuri lorong rumah sakit dengan hati yang patah. Hingga tidak terasa pijakannya sudah sampai di depan pintu kamar rawat inap VVIP tempat Axton terbaring lemah.

__ADS_1


Ia sempat berupaya menepis kegundahan hati melalui helaan napas berat, tangan diajak menarik handle pintu lalu masuk ke ruangan. Kemuraman seketika tersisih saat melihat Axton sedang dalam duduk sembari bersadar pada headboard.


"Axton, kau sudah bangun?" Ia melangkah cepat, mendekati suaminya. Kemudian mengambil duduk di bibir ranjang. Netra dibawa menelisik makluk tampan di depannya. "Bagaimana keadaanmu? Apa masih sangat sakit?"


Nathan yang sedari tadi berada di ruangan memilih keluar, memberi waktu dan tempat untuk sepasang suami istri itu. Lagian dia tidak ingin menjadi obat nyamuk di antara mereka. Akan terlihat menyedihkan nanti.


"Naora, ke mana saja kau malam-malam begini? Kenapa baru kembali?"


Mengabaikan lontaran pertanyaan dari Naora, Axton malah balik bertanya. Jarum jam sudah menunjuk pukul setengah sepuluh malam, jadi wajar kalau ia cemas kepadanya.


"Aku tadi ada sedikit urusan penting, Axton. Bagaimana dengan keadaanmu? Apa masih sangat sakit?" Setelah memberi jawaban, ia mengulang kembali pertanyaan yang belum sempat dijawab Axton tadi.


"Aku baik-baik saja, Naora. Luka-luka ini hanya luka kecil. Bukan masalah besar."


"Syukurlah. kau membuatku sangat cemas tadi." Ia menghela lega.


Sebuah rasa yang tak biasa kembali mengalirkan perasaan hangat di hati. Kepedulian Naora membuatnya berseri. Ia juga dibuat gemas oleh bibir mungil istrinya yang tampak memancing hasrat pada diri.


"Mendekat lah sedikit," pinta Axton dan langsung dituruti oleh Naora.


"Ada apa?"


"Kurang dekat, Naora."


Wanita itu lebih mendekat hingga sebuah kecupan di bibir menemani keterkejutannya. "Kau sedang sakit, tapi masih saja mesum," celetuk Naira sedikit kesal. Axton mendengus geli.


"Aku hanya mesum kepada istriku saja."


"Hish! Dasar!"


Suara handle pintu yang ditarik seketika mangalihkan perhatian keduanya. Hingga seseorang yang muncul dari balik pintu membuat mereka terperangah.





Bersambung~~

__ADS_1


Terima kasih ya untuk segala dukunyan kalian🥰


Saranghae🥰🥰


__ADS_2