Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Petunjuk


__ADS_3


^^^Bandung, 01 Februari 2014^^^


Untuk Kak Axton


Malaikat penolongku


Mungkin pertemuan kita hari ini bukanlah yang pertama. Kita sudah beberapa kali bertemu ketika Kak Axton datang ke rumah, meskipun Kakak tidak pernah melihat ke arah Naora. Namun, Naora sering merhatiin Kakak dari balik tangga.


Kak, tahukah kau? Saat Kak Axton menolong Naora di taman bendungan sungai tadi siang, mata kita saling bertemu. Dan di saat itu juga, Naora merasakan getaran aneh di dada. Jantung Naora sangat merasa geli seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalamnya.Tapi, rasanya sungguh menyenangkan dan aku menyukainya.


Naora belum mengerti perasaan apa itu? Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Kalau memang benar, berarti Kak Axton adalah cinta pertamaku.


Kak Axton tahu nggak? Rasanya Naora ingin sekali berbagi perasaan ini kepada Kakak. Karena ... rasanya sangat menyenangkan seperti yang Naora katakan tadi. Getaran yang menggelikan dan bikin senyum-senyum sendiri.


Hehe ... Naora terlalu tinggi mimpinya ya? Karena berharap Kak Axton juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Naora rasakan.


Sudah dulu ya. Oh ya, ngomong-ngomong ini surat pertama yang aku tulis sepanjang hidupku. Meski, surat ini hanya akan Naora simpan sendiri.


Dari Naora


Gadis kecil yang kau benci


Begitulah rangkaian kata dari isi salah satu surat yang ditulis oleh Naora waktu ia masih sangat belia. Axton membaca dengan perasaan tak percaya. Ada gemuruh tak kasat mata di dalam dada. Andai si wanita sedang berada di depan mata, pasti sudah dia tarik ke dalam dekapannya.


"Naora ... apakah kau tahu harapanmu waktu itu menjadi kenyataan. Sejujurnya, aku juga merasakan getaran yang sama sepertimu. Hanya saja saat itu aku terlalu bodoh karena tidak mengerti makna dari getaran itu."


Masih penasaran, Axton kembali menjumput lagi satu dari sekian tumpukkan amplop dari dalam kotak. Sekilas raut penuh tanda tanya membingkai wajahnya yang pucat. Ada beberapa jejak tetesan air yang mengering di badan surat. Namun, ia tak ingin menghiraukannya lebih lama lalu mulai membaca.


^^^Bandung, 05 Februari 2021^^^


Untuk Kakak Axton


Raja hatiku dan cinta pertamaku


Hai Kak Axton. Ini adalah surat ke 100 yang sudah kutulis di malamku yang kelam. Tidak terasa sudah tujuh tahun lamanya aku mencintaimu dalam diam.


Awalnya, aku pikir perasaanku ini akan selalu terasa menyenangkan. Ternyata aku salah besar dalam perkiraan. Semakin bergulirnya waktu justru rasa sakit yang menghujam jantungku tanpa belas kasihan. Karena cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat menyesakan.

__ADS_1


Tahu kah kau? Setiap rangkaian kata yang ku torehkan pada surat ini, mengantarkan setiap tetesan air mata di pipi. Sungguh, denyutan tak nyaman menyisakan rasa perih di hati.


Tahu kah kau? Di setiap malam yang cerah, aku memandangi langit, berharap ada satu bintang jatuh untuk ku jadikan sebuah tempat permohonan. Lucu ya? Di saat hati sudah berputus asa dengan perasaan ini, aku mulai mempercayai mitos.


Tahu kah kau apa permohonanku itu? Aku memohon agar rasa sakit ini menghilang tanpa memudarkan rasa cinta, meski kau tidak bisa kumiliki. Itu saja sudah cukup bagiku. Karena kutahu, sangat mustahil kau yang membenci mau menyambut salam cinta dari seorang Naora.


Oya, sekarang usiaku sudah 20 tahun loh. Naora yang dulu hanyalah seorang gadis kecil kini sudah tumbuh besar. Tidak menyangka saja, aku bisa bertahan mencintaimu dari masih belia hingga menjadi seorang wanita dewasa. Bolehkan aku memuji 'hebat' untuk diriku sendiri? Hehe ....


Dari Naora


Wanita yang kau benci


Geliat kepiluan kian merambah ke setiap seluk beluk hati. Himpitan sesak di rongga dada seolah menghukumnya tanpa henti. Sudah cukup ia tersiksa karena Naora tak bersamanya saat ini. Dan kini, ia masih harus mengetahui sebuah fakta bahwa sudah selama itu sang wanita tersakiti karena memendam cinta seorang diri. Air matapun tak terbendung lagi. Axton mulai tenggelam ke dalam penjara penyesalan yang mencambuknya berkali-kali.


"Ternyata ini bekas air matanya." Axton membawa ujung jemari menyentuh jejak-jejak air mata Naora di badan surat. "Dan apa ini? Jika di dalam surat ia memanggilku dengan sebutan 'kakak'."


Ditaruhnya kembali surat yang ditulis Naora satu tahun yang lalu itu ke tempatnya semula. Ia seolah tidak akan sanggup membaca lebih banyak lagi isi surat-surat yang merupakan bentuk curahan perasaan hati si wanita.


"Di saat Naora sudah terlalu lama berjuang menahan sakit sendirian, aku malah dengan tega menambah luka di hatinya di awal-awal pernikahan dulu. Kau memang bajingan, Axton!"


Otak seketika mengajak pikiran mengilas balik saat Axton bersikap kasar kepada Naora. Dia ingat saat menumpahkan kuah panas, mendorong wanita itu ke kolam renang, dan menurunkan paksa ia dari mobil saat hujan lebat melanda. Belum lagi ucapan pedas dari lidah tajamnya. Dan hebatnya, wanita itu masih bisa menunjukkan sikap tegar di depannya.


"Kau kenapa?"


Axton seketika terperanjat kecil saat suara bariton sang daddy tiba-tiba menjalar ke pendengaran. Ia gegas menghapus jejak air matanya. Sementara Edrich tampak menatap penuh tanya setelah menyadari muka sendu si putra.


"Bagaimana kesehatanmu?" tanya Edrich kembali.


Terus terang, Edrich sangat prihatin melihat kondisi si putra semata wayang. Axton bahkan belum lepas dari balutan perban di tubuhnya karena memang masih dalam proses pemulihan dari cedera patah tulang. Dan kini ia harus mengalami siksaan mual dan pusing yang membuatnya lemah di atas ranjang.


"Seperti yang kau lihat Dad," jawab Axton terlihat lesu.


"Kalau kau sakit, bagaimana bisa mencari Naora?" Edrich melabuhkan pantatnya di bibir ranjang.


Perhatian pria itu tertarik pada tumpukkan surat di dalam kotak yang bersanding dengan si putra. Di ambil satu surat lalu membaca sekilas tulisan pada amplop tanpa membuka isinya.


"Akhirnya kau sudah mengetahuinya," ucap Edrich yang seolah memang paham dengan situasi.


Dua sudut siku-siku tercetak di sepasang pangkal alis Axton seiring dengan raut penuh tanya. "Daddy seolah sudah mengetahuinya sejak lama."

__ADS_1


"Kau benar. Itulah juga salah satu alasannya Daddy menikahkan kalian. Karena dia wanita baik yang mencintaimu dengan tulus. Dan wanita seperti dialah yang pantas mendampingimu, bukan seperti Lana. Meskipun dulu hubungan di antara kita terhalang tembok kebencian, bukan Daddy sama sekali tidak memikirkanmu."


Axton bagaikan memanen sebuah tamparan keras di hati. Entah sudah berapa banyak kesalahan yang sudah ia perbuat selama ini. Kecerobohan dalam bertindak akhirnya berbuah penyesalan tak bertepi.


"Kenapa Daddy tidak memberitahuku saja?"


Edrich melempar lirikan sinis. "Naora bahkan sudah berusaha merahasiakan tentang perasaannya itu mati-matian. Jadi sudah sepatutnya Daddy menghargai privasinya."


Axton mendesah frustrasi. "Aku lama-lama bisa gila, Dad! Apalagi sekarang Naora belum juga kutemukan. Aku sudah sangat merindukannya. Hal ini sungguh menyiksaku."


"Permisi Tuan besar, ini pesanan anda."


Perhatian kedua pria itu tiba-tiba beralih ke sosok Milah yang baru saja masuk dengan sebuah nampan berisi makanan di tangannya.


"Terima kasih. Berikan saja ke dia," titah Edrich yang langsung dipahami oleh Milah.


Wanita itu mengulurkan sepiring makanan itu kepada Axton yang seketika merubah binar muka. Makanan di depan mata seketika merangsang nafsu makannya. Ia juga terlihat beberapa kali menelan cairan saliva.


"Makanlah. Daddy yakin kau menyukai rujak buah itu."


Dan benar, Axton langsung menyantap rujak buah itu dengan lahap. Perutnya bahkan tidak menunjukkan penolakan. Rasa mual juga tak menunjukkan eksistensinya.


Milah sampai dibuat keheranan dengan pemandangan di depannya. Sementara Edrich malah tampak tersenyum penuh makna.


"Kau harus segera menemukan istrimu, Axton. Saat ini dia sedang membutuhkan perhatian ekstra dari suaminya," tutur Edrich lalu menyodorkan secarik kertas bertuliskan sebuah kontak nomor telepon seseorang. "Ini nomor telepon milik sahabatnya Naora."


Kunyahan mulut Axton seketika berhenti. Ia raup kertas tersebut dengan mimik penuh arti. Pria itu seolah baru saja menemukan petunjuk emas akan keberadaan sang istri.


"Kenapa baru sekarang Daddy memberi tahuku?"


"Karena Daddy berniat menghukummu terlebih dahulu karena pernah bersikap buruk kepada Naora."





Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2