
"Apa kau sudah tidak waras? Sedari tadi berbicara sendiri!"
Naora seketika terjingkat kaget saat suara asing menjalar ke dalam indera pendengarannya. Ia memutar tubuh hingga netra menangkap sosok Axton yang sudah berdiri pongah di belakangnya. "Kau?! Sejak kapan berada di sini?!"
Axton tak langsung menjawab. Mimik muka dingin dijadikan tanggapan tak ramah. Sepasang lensa abu-abunya menyorot tajam seonggok daging bernyawa di depannya yang tampak keheranan.
Namun, lagi-lagi alam bawah sadarnya seolah memancing hati untuk melantunkan sebuah pujian. Muka polos Naora yang bermandikan temaram cahaya dewi malam sukses menarik lidah untuk berkata 'memesona'.
Sangat berbeda, kemana perginya muka sok tegarnya beberapa saat yang lalu?
Bergidik, tatapan sukar terbaca dari Axton menimbulkan gelenyar tak nyaman pada perasaan Naora. Kekikukan yang sempat terlihat samar gegas ia tepis jauh jauh. Baginya, gelagat yang seperti itu dilarang keras diperlihatkan di depan Axton kalau tidak ingin membiarkan dirinya terseret ke dalam kubangan kearoganan pria bermutiara dark grey tersebut.
"Apa kau tidak pernah belajar sopan santun? Asal masuk ke kamar orang tanpa permisi. Apa susahnya mengetuk pintu terlebih dahulu?" Naora melayangkan protes. Pasalnya ia juga masih sangat kesal karena Axton membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Aku adalah Tuan di rumah ini. Terserah aku mau berbuat apa. Apa perlu aku ingatkan? Apa jangan-jangan kau juga perlu diingatkan bahwa kau di sini hanyalah benalu?"
Naora sontak memasang ekspresi jengah karena malas untuk berdebat panjang, disusul lipatan kedua tangannya di depan dada, membuat sepasang buah peach kembarnya sedikit terangkat ke atas. "Iya ... iya, terus ada maksud apa kau mendatangiku malam-malam begini?" sekilas ia melirik ke arah jam dinding lalu kembali melabuhkan perhatiannya ke Axton. "Sekarang sudah pukul 12 malam lebih, dan kau masih kelayapan di kamar seorang gadis. Sungguh aneh."
Apa dia sengaja menggodaku? Dasar murahan. decih Axton di dalam hati karena atensinya sempat beralih pada bagian tubuh kenyal Naora di balik gaun tidurnya. Ia bahkan tak langsung menanggapi celotehan yang meluncur dari bibir mungil Naora.
"Ehem! ... kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Naora memancing kediaman Axton. Jujur, ia lebih nyaman mendengar makian pedas Axton dari pada harus menerima cara pria itu memandangnya saat ini.
"Ini mata, mataku, jadi terserah aku bagaimana caraku menatapmu."
Helaan napas kasar Naora, mengantar dirinya untuk terbungkam sesaat. Tak menyahut ucapan pongah Axton, memilih membuang muka ke sembarang tempat.
"Kenapa kau menerima pernikahan ini?" Axton akhirnya mulai menggiring suasana ke dalam pembahasan yang menjadi salah satu tujuannya menemui Naora.
__ADS_1
Muka cantiknya sama sekali tak beralih dari posisi semula, tapi terlihat bola mata Naora bergerak-gerak tak beraturan, seolah jawaban dari pertanyaan Axton adalah sesuatu yang tak ingin dia jawab. "Apa jawaban dariku penting untukmu?" bibir mungil Naora justru balik melempar pertanyaan.
"Tentu saja penting. Andai kau sendiri yang menolak langsung permintaan Daddy, sudah pasti pernikahan sialan ini tidak akan terjadi karena Daddy lebih mendengar keputusanmu dan selalu mengabaikan perasaanku." Axton menjeda kalimatnya, namun sorot mata tak lepas dari muka cantik Naora. "Jadi apa alasanmu tidak menolak pernikahan ini?"
Hening sesaat, hingga sebuah seringaian tipis tercetak di muka Axton. Yakin bahwa sebuah praduga yang selalu berputar di atas kepala sepertinya tidak hanya sekedar praduga belaka. Kebisuan Naora seolah mengisyaratkan sebuah jawaban baginya. "Sudah kuduga sebelumnya."
Kalimat ambigu Axton sontak memancing muka Naora untuk melihat ke arahnya kendati hanya sekilas, karena setelah itu ia kembali memalingkan muka. Entah, di situasi seperti sekarang, ia terasa enggan saling baradu muka dengan pria tampan yang berstatus sebagai suaminya tersebut. "Kau terlalu yakin kalau dugaanmu itu benar padahal aku belum memberi jawaban," bantah si wanita.
"Tatap mukaku kalau sedang berbicara!" titah Axton. Sikap Naora yang seolah malas bersitatap dengannya membuatnya merasa tidak dihargai. Dia sangat benci hal itu.
Perlahan, Naora menggiring muka hingga mata bulatnya bertemu dengan mata tajam Axton.
Deg!
Bukan jantung Naora yang tiba-tiba berdenyut, melainkan jantung Axton. Sorot matanya ... kenapa seperti itu? Meski ia tampak berusaha keras menutupinya, tapi aku bisa melihatnya.
Axton gegas menguasai perasaan hati. Tidak ingin suatu rasa yang tak pasti mengalihkan pembicaraan awal yang belum sampai titik akhir. Walaupun, tingkat penasaran akan diri Naora masih membumbung tinggi. Mendesaknya untuk segera mencari tahu isi hati si wanita yang ditutupi secara mati-matian.
Kaki jenjang diajaknya mengambil beberapa langkah mendekati Naora yang masih berpijak di luar balkon kamar. Membunuh jarak di antara kedua tubuh, hanya menyisakan sedikit ruang udara.
Axton menatap lekat sepasang netra bulat Naora. "Kaulah yang mengharapkan pernikahan ini. Itulah pradugaku sekaligus jawabanmu," ucap pria itu dengan penuh keyakinan bahwa perkataannya memang benar adanya.
Naora menengadahkan mukanya sedikit tinggi, karena tinggi badan yang hanya sebatas dada Axton. "Atas dasar apa kau berkata seperti itu, Axton?"
Seolah belum puas, pria berpostur gagah itu kembali melangkah, memangkas sisa jarak tubuhnya dengan Naora, membuat tubuh kecil di depannya terpaksa harus mendoyong ke belakang hingga membentur pagar besi balkon.
Gugup? Mana mungkin tidak. Naora bahkan bisa merasakan suhu hangat dari tubuh Axton. Ia juga bisa mencium aroma parfum yang diyakini milik Axton.
"Atas dasar fakta. Fakta di mana harapanmu itu ada karena cinta. Iya, aku sangat yakin kau diam-diam menaruh hati kepadaku," jawab Axton dengan itensitas keprcayaan diri yang terlampau tinggi, membuat Naora tercengang seketika.
__ADS_1
"Justru saat ini aku melihat kau tengah berharap bahwa aku bisa mencintaimu, Axton." Naora tidak mau kalah.
Axton menekan kedua sisi pipi Naora dengan jari-jari besarnya. Salah satu sudut bibir terangkat, membentuk sebuah seringaian sinis. "Iya, kau benar. di saat kau mencintaiku di saat itu pula aku akan tertawa puas karena melihat kau disiksa oleh rasa cinta bertepuk sebelah tangan. Sebuah rasa yang tak berbalas karena aku hanya mencintai Lana, satu-satunya istriku."
Naora tak gentar. "Apa perlu aku ingatkan, bahwa akulah satu-satunya istrimu yang di akui di depan keluargamu terutama Daddy Edrich," ia menurunkan cengkeraman tangan Axton dari mukanya. "Dan satu lagi, aku tidak akan berjanji bahwa mulut ini mampu untuk tertutup rapat untuk pernikahan rahasiamu bersama Lana," sambungnya lagi. Tiada gurat-gurat ketakutan di mukanya.
Geram. Ucapan Naora seketika memancing letupan amarahnya. Axton kembali menekan kedua pipi mulus di depannya dengan sebelah tangan dan sisa satu tangan lainnya dibuat mencengkeram pundak polos Naora. Kali ini lebih kuat dan kasar. Bahkan tubuh kecil si wanita semakin tercondong ke belakang, membuat jemari lentiknya reflek menarik kain dada Axton sebagai pegangan.
"Jika pernikahanku bersama Lana sampai terdengar di telinga Daddy, akan aku pastikan kau akan kulumpuhkan di atas ranjang! Ku siksa kau hingga tak bisa berbuat apa-apa!" gertak Axton.
Jujur, gertakan Axton hampir membuat nyali Naora mengecil. Bisa dibayangkan, tubuhnya yang remuk karena diperko.sa oleh suaminya sendiri. Apa lagi mahkota keperawanannya masih terjaga kesuciannya. Tentu akan sangat menyakitkan.
"Ahk! Lepaskan tanganmu Axton! Pria sejati tidak akan berlaku kasar kepada wanita." Ucapan Naora sepertinya membuahkan hasil. Axton menurunkan tangannya. Kendati kedua mata masih berkabut amarah.
"Ssttt! Apa kau lihat? Pundak memerah karena ulahmu. Besok pasti muncul lebam." Naora sangat kesal.
"Siksaan yang kau dapatkan sekarang belum seberapa. Lihat saja jika kau sampai berlaku buruk juga kepada Lana, siap-siap aku menendangmu dari rumah ini," gertak Axton kembali.
Sayangnya, Naora sama sekali tidak menunjukkan sikap goyah karena ketakutan. "Kembalilah ke kamarmu. Istri tercintamu itu pasti sedang kedinginan sekarang."
☘
☘
☘
Bersambung~~
Maaf jika banyak typo, dari.tadi.ketiduran terus aku🤣 tapi nanti.bakal.aku revisi.kok🥰
__ADS_1