Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Aksi Naora


__ADS_3


Axton menarik kasar tangan Naora yang masih terangkat, hingga membuat tubuh wanita itu tersentak. "Apa yang akan kau lakukan kepadanya, Naora?!" Nada bicaranya memang tidak terdengar layaknya manusia murka, tapi terlihat jelas aura dingin melingkari mukanya.


Ringisan samar terukir di paras cantik Naora, saat merasakan sensasi ngilu pada pergelangan tangannya yang terbelenggu kuat oleh jari-jari besar Axton. Tidak ingin terlalu lama merasakan sakit, ditarik tangannya dari cengkeraman pria itu.


"Kenapa kau cepat sekali datangnya? Aku bahkan belum sempat memberinya sedikit pelajaran." Naora tak gentar sama sekali. Bahkan sikapnya terkesan terlampau santai saat ini. Tidak ada gurat-gurat ketakutan yang membingkai muka cantiknya yang selalu berseri seperti bunga-bunga di musim semi.


Iya, Naora memang selalu tampil dengan muka berseri. Sayangnya, riasan cantik mukanya yang satu itu, belum pernah terbit di depan suami. Apakah Naora tidak baik sebagai istri? Bukan seperti itu, hanya saja ... muka masam dan sifat dingin Axton, seolah menenggelamkan semua keistimewaan pada dirinya kini.


Axton kembali menarik kasar Naora, hingga kedua tubuh mereka saling menempel, tak menyisakan ruang udara. Pemandangan seperti saat ini, tentu saja sangat dibenci Lana.


"Kau sangat berani mengusiknya, Naora! Apa kau sangat suka aku hukum?!"


Naora membalas tatapan tajam Axton. Namun, gegas ia melempar muka ke samping. Seperti biasa, wanita itu seolah tahan melihat sorot mata yang mengingatkannya akan sosok sang Mama.


Mungkin akan lain ceritanya jika Axton menggunakan mata itu dengan tatapan lembut dan hangat di depannya. Tentu saja dia akan sangat betah memandang sepasang mutiara abu-abu yang sebenarnya terlihat sangat mengagumkan, apa lagi saat tersiram cahaya.


"Aku tidak akan mencakar jika tidak dicakar duluan, Axton. Kau harus tahu itu." Suara Naora memelan, tapi tetap terkesan membela diri.


Perhatian Axton seketika terpaku pada pipi Naora yang memerah. Bahkan di sana juga terhiasi oleh goresan berdarah. Kendati hanya kecil, pria itu tahu kalau istri ke-duanya itu sedang terluka. "Kenapa dengan pipimu?"


Seakan lupa akan alasan awal kemarahannya, Axton bahkan tak sadar bahwa saat ini Lana sedang terabaikan. Apa yang terjadi dengan Naora bagaikan sudah menjadi suatu prioritas yang harus diutamakan.


Terperangah! Perlahan Naora menuntun mukanya, melabuhkan pandangan pada paras tampan yang sarat akan perhatian di matanya. Entalah, apa itu hanya sekedar perasaan sekilas seorang wanita saja atau mungkin memang begitu adanya. Yang jelas, wanita itu cukup tak percaya akan sikap Axton yang tak biasa.


"Apa kau akan percaya jika aku bilang bahwa luka ini karena perbuatan istri kesayanganmu yang super lemah lembut dan manja itu?" Naora menggerakkan tubuh, menggeliat meminta bebas, hingga rengkuhan Axton mulai merenggang.


Sepasang manik mata si pria, kini bergilir ke arah Lana, seiring kembalinya perhatian yang sempat tergusur entah ke mana. Axton, sungguh tak percaya, bahwa wanita yang selama ini dianggap lemah lembut, bisa berbuat kasar hingga orang lain terluka.


Menyadari raut penuh tanya di muka Axton, Lana yang sudah beranjak dari posisi bersimpuh langsung mengayunkan kaki. Pundaknya sempat menabrak Naora sebelum ia berakhir ke pelukan sang suami.

__ADS_1


Ia tidak mungkin membiarkan Axton berpikiran buruk tentangnya terlalu lama. Oleh karena itu, gegas ia mengajak bibir untuk menjelaskan sekaligus membela diri. "Honey ... itu memang perbuatanku. Aku sangat kesal karena Naora mencoba menggodamu. Istri mana yang akan terima jika suaminya disentuh wanita lain. Aku tidak rela, Honey. Besarnya rasa cintaku kepadamu, membuatku takut kehilanganmu, hingga akhirnya aku khilaf. Aku pun tidak percaya bisa nekat menampar Naora. Sungguh itu bukan diriku yang sebenarnya, Honey. Aku menyesali perbuatanku sekarang." Lana pun kembali berlinang air mata kesedihan dan penyesalan.


Masih di dalam pelukan Axton, wanita itu menggiring muka dengan mimik rasa bersalahnya ke arah madunya. "Naora ... maafkan atas kekilafanku. Akan tetapi aku mengharapkan segala pengertianmu sebagai sesama wanita."


Di dalam hati, Naora tergelak tidak percaya. Lana terkesan menutupi keegoisannya dengan mengatas namakan perasaan hati seorang wanita. Belum lagi, ia merasa kesal karena dituduh sebagai wanita penggoda. Dan lucunya, pria yang digoda adalah suaminya sendiri yang sedang berdiri di depan mata.


Namun, bukan Naora namanya jika ia hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Dengan secepat kilat, ia merubah mimik muka. Diambilnya langkah lalu menggelayut manja ke lengan kokoh suaminya. Tindakan yang tergolong tiba-tiba itu, tentu saja mengejutkan Axton, terutama Lana.


"Axton ... aku yakin kalau kamu adalah pria terpandang yang menjunjung tinggi sikap kejujuran. Coba katakan, siapa yang lebih dulu menggoda saat kita berdua tadi? Aku masih sangat ingat, kau tadi terlihat sangat menikmatinya saat menyentuh tubuhku." Suara Naora terdengar merdu nan menggoda, membuat dada Axton berdebar-debar. Sementara hati Lana kian memanas dan terbakar.


"Jangan sembarangan kalau berbicara, Naora. Kenapa kau suka sekali menyakiti perasaanku?" Lana menatap muka Axton. "Honey ... dia pasti mengada-ngada 'kan?"


"Lana--" kalimat Axton terputus karena Naora kembali menarik atensinya.


"Axton ... kau juga pasti tidak lupa 'kan tentang statusku yang notabene istri sahmu? Seorang istri yang diakui, bukan sekedar istri simpanan. Jadi, aku juga berhak atas dirimu." Sindiran Naora kian memancing gemuruh di dalam dada Lana.


"Naora, kau lagi-lagi menyakiti perasaanku. Aku memang istri simpanan, tapi bukan berarti aku suka berada di posisi itu. Kau tega sekali." Isak tangis Lana kembali terdengar.


Perdebatan mereka terus berlangsung tanpa jeda. Axton yang masih berdiri di antara kedua istrinya, dibuat pusing karena suara para wanita terdengar seperti cicitan ratusan tikus di dalam telinga. Lana terus saja mengoceh sambil berurai air mata. Sementara Naora, tampak bersemangat dalam aksi memanas-manasi lawan debatnya. Sungguh, pria itu dibuat frustrasi oleh mereka. Sesaat ia menyadari, bahwa memiliki dua istri tak seindah yang dikatakan orang-orang diluar sana.


Pria itu membawa perhatiannya ke Naora. "Naora, berhentilah memanas-manasi Lana. Kau suka sekali membuat dia menangis. Apa kau lupa siapa dia? Dia istri pertamaku. Wanita yang lebih dulu ada di rumah ini sebelum kau. Jadi, jaga sikapmu dan ingat akan posisimu!"


Naora melepas gamitan tangannya dari lengan Axton. "Iya ... iya ... terserah kau saja, tapi jangan memaksaku untuk meminta maaf kepadanya," cicit Naora terkesan santai. Namun, siapa yang menyangka bahwa ada rasa perih di balik muka tegarnya. Ucapan Axton, menyakiti hati lembutnya.


Kini perhatian Axton bergilir ke arah Lana. Ditatapnya muka istrinya itu dengan perasaan bersalah. "Lana, memang aku yang datang ke kamar Naora dan menyentuhnya terlebih dahulu."


Lana yang semula masih berada di atas awan karena merasa puas dengan ucapan pedas Axton kepada Naora seketika berwajah mendung. "Honey kau sangat jahat! Tapi aku harap, kau tidak mengulanginya kembali. Aku tidak rela! Cukup sekali kau bermain dengan wanita itu."


Seolah belum puas membuat Lana panas, Naora pun kembali beraksi. Rasa sakitnya belumlah hilang saat mengingat lidah licin wanita itu sempat menghina sang mama yang sudah pergi.


"Lana, kau dengar sendiri 'kan? Bahwa Axton lah yang terlebih dahulu mendatangiku. Suamimu ini sudah tergoda oleh pesonaku."

__ADS_1


"Naora, cukup!" Seru Axton karena yakin ulah Naora akan membuat Lana meraung sepanjang malam.


"Kau kenapa sih? Aku hanya ingin membantumu agar maduku yang lemah lembut ini bisa menerima kenyataan dengan lapang dada, Axton." Bukannya menciut, Naora malah kian menjadi.


Naora beralih kepada madunya, menyuguhkan mimik muka penuh makna. "Lana, akan aku buktikan perkataanku ini sekarang juga. Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri."


Tanpa ada hitungan aba-aba, Naora berjinjit dan langsung menyambar bibir Axton. Dan gilanya, bukan penolakan yang didapat melainkan sebuah sambutan.


Lana seketika tercengang tak percaya saat melihat dengan mata kepalanya sendiri adegan ciuman di hadapannya terkesan suka sama suka. Kakinya mendadak lemas, semua persendian tulangnya seolah lumpuh dan tak lagi berguna.


Sementara Axton, entahlah! Dia tidak tahu kenapa tubuhnya seolah enggan menolak segala bentuk sentuhan Naora. Yang dia tahu, rasa bergetar di dada itu ada, dan dia menikmatinya. Hingga pria itu kembali tersadar dari rasa terlena karena sentuhan di bibir tak lagi dirasa.


"Oke, aku rasa sudah cukup untuk ajang pembuktiannya." Naora melirik ke arah jarum jam yang sudah menunjuk angka 12. "Malam sudah larut, aku sudah sangat lelah." Ia melenggang menuju ranjang, lalu menelusup ke bawah selimut. Terus terang, wanita itu mati-matian menutupi kegugupannya.


"Axton, kenapa kau belum juga kembali ke kamarmu? Apa mungkin kau ingin menghabiskan malam panjang bersamaku di ranjang ini?" Naora menepuk tempat kosong di sebelahnya. Tidak ketinggalan paras cantik nan menggoda disuguhkan untuk kumbang jantan yang tengah memandangnya saat ini.


Aku tahu kau hanya sedang bermain-main, Naora. Lihat saja nanti, akan aku buat kau menyesal karena berani mencoba menggodaku tadi.


Diam-diam nyali Naora mendadak menciut saat menyadari tatapan Axton penuh makna. Ia langsung memutus tautan mata dan bersembunyi di bawah selimut tebalnya.


Ya Tuhan ... apa aku melakukan kesalahan fatal lagi? Tatapannya sangat mesum, membuatku bergidik.


"Jangan lupa, kalian matikan lampunya sebelum keluar," pinta Naora sedikit berteriak dari balik selimut.





Bersambung~~

__ADS_1


Maaf ya, hari ini up nya kesiangan🙏


Terima kasih ya karena kalian masih setia nyimak karya ini meski Authornya sering bolos up🙏


__ADS_2