
Ahk! Sial! Ternyata dia sudah menyadari niatku. Kakiku tidak bisa bergerak! Ya Tuhan ...! Apa yang dia lakukan?! Tidak ...!
Naora berkali-kali merutuki diri. Ia menyesali perbuatannya saat ini. Menginjak kaki Axton, ternyata sebuah kesalahan besar yang telat disadari. Membuatnya terjebak oleh situasi tegang yang dibuatnya sendiri.
Di sela usahanya menutupi gelagat cemas di depan Nathan dan Lana, Naora menggerakkan sebelah kakinya yang sedang terjepit di antara kedua kaki kokoh Axton. Sebisa mungkin membebaskan diri dari kuasa pria itu di bawah meja.
Kyaak! Ini sangat geli. Apa dia akan bertindak nekat? Please! Jangan gila Axton ...!
Hati kecil Naora menjerit histeris sejadi-jadinya. Diam-diam, sebelah tangan Axton menyusup ke bawah meja. Meraih kaki Naora dari jepitan kakinya. Kemudian memindahkannya di antara kedua paha dan kembali menjepitnya. Dia ... mulai beraksi di saat itu juga.
Ini akibatnya karena mencoba berani melawanku, Naora! Sekarang rasakan Ini!
Axton menyeringai di dalam hati. Merasa puas karena sukses membuat Naora tak mampu berkutik saat ini. Apa lagi melihat muka cantik di depannya mulai berubah pasi.
Naora terkesiap, saat tangan Axton melucuti sepatu berhak tinggi yang membungkus kakinya. Hingga sensasi geli mulai terasa. Axton membawa jari-jarinya berputar-putar pada telapak kaki Naora.
Ia sedikit menundukkan kepala, menyembunyikan muka yang memerah karena menahan tawa. Axton memang gila! Melakukan tindakan nekat tanpa melihat di mana mereka berada.
Beruntung meja berlapis taplak berumbai panjang, hingga tidak akan ada mata yang menyadari perbuatan Axton yang terbilang usil. Bahkan Nathan dan Lana pun tak menyadarinya.
Dan apa ini?! Ekspresi muka Axton sangat kontras dengan kelakuannya saat ini. Dari atas meja ia terkesan santai dengan khas muka super dinginnya. Akan tetapi, siapa yang menyangka kalau tangannya bergerak nakal di bawah meja.
Kegilaan Axton tidak berhenti sampai di situ saja. Pria itu bahkan membawa sebelah kakinya menyingkap rok kerja Naora. Lanjut menelusup ke dalam dan bermain-main di sana.
Axton ...! Aku akan membunuhmu!
…
Rasa dongkol masih menggebu di hati Naora. Mengingat kelakuan mesum Axton di restauran tadi, membuatnya kehilangan kosentrasi dalam bekerja. Andai tadi dia tidak berpura-pura menjatuhkan sendok makan dan berniat ingin mengambilnya, mungkin Axton tidak akan menghentikan aksi gilanya.
"Bella, aku ijin ke toilet sebentar ya."
"Iya, Naora."
Naora berniat meluruhkan kedongkolannya di kamar mandi. Mencuci muka, itulah yang tercetus di kepalanya saat ini. Mungkin cara itu bisa menenangkan hati.
Sentuhan dingin air di muka, ternyata tak mampu menjadi solusi. Di depan cermin toilet, Naora memandang bayangan diri. Bersamaan itu, ingatan akan perbuatan Axton kian merajai.
Axton memang gila! Tubuhku sampai dibuat meremang di tempat umum. Astaga ... Naora! Bisa-bisanya kau terangsang di sembarang tempat.
__ADS_1
Ternyata, kedongkolan Naora bukan hanya semata-mata karena kelakuan mesum Axton beberapa saat lalu. Tetapi juga karena tubuhnya yang seolah menyambut sentuhan pria itu. Otak ingin menolak, tapi tubuh tak mampu.
Naora tiba-tiba merasakan kembali sebuah denyutan pada bagian organ senstifnya. Karena otak terus saja mengulang ingatan akan sensasi hasrat yang masih baru baginya.
Gegas ia menggeleng kasar, menghempas ingatan kotor yang terus menari-narik di otak, mengalihkannya dengan yang lain. Hingga, Naora teringat akan sikap arogan Axton kepada pelayan restauran tadi.
Oya! Bukankah lidahku tadi sangat gatal ingin menegurnya tentang sikapnya ke pelayan tadi?
Dirogohnya benda pipih pada saku pada blazer sebelah kanan. Lalu membuat sebuah pesan singkat dan dikirimkan kepada Axton.
…
Di gedung pencakar langit, Sanders Corp. Tepatnya di lantai 29, di mana kursi tahta pimpinan tertinggi berada. Wildan, sang asisten, tengah menyampaikan informasi yang berkaitan dengan kendala pemasaran produk.
"Berdasarkan laporan, produk-produk terakhir kita sudah bagus di pasaran. Akan tetapi ada sedikit kendala dengan harga yang hanya mampu dinikmati oleh para konsumen yang memiliki tingkat perekonomian rata-rata ke atas."
"Lanjutkan." Axton mencoba menyimak.
"Harga produk sangat mahal. Banyak pelanggan yang menyayangkan hal itu, Tuan."
"Iya, hal itu karena kita masih menggunakan layanan jasa dari perusahaan lain."
"Bagaimana perkembangan perancangan teknologi baru kita?"
"Sudah berjalan hampir 98 persen, Tuan. Diprediksi minggu ini bisa langsung diterjunkan ke lapangan."
"Apa kau sudah merekrut tambahan staff TI untuk membantu manager TI dalam penggunaan teknologi baru itu?"
"Sudah, Tuan."
Gurat-gurat kaku kembali bermunculan di mukanya. Axton seketika membuang napas ke udara. "Kau membuang waktuku hanya untuk mendengarkan hal sepele seperti ini, Wildan."
Firasat Wildan mendadak tidak enak. "Ma-maaf, Tuan."
"Produk lama dan baru kita akan menggunakan teknologi terbaru yang sudah kita rancang. Dan di saat itu juga, layanan luar tidak akan dibutuhkan lagi. Itu dapat menurunkan harga produk. Kita bisa menjual produk di harga rendah. Itu akan lebih murah dari sebelumnya. Dan masalah beres! Kenapa kau masih bingung mencari jalan keluar?! Sepertinya kau harus sedikit diberi pelajaran!"
Muka Wildan seketika terlihat pias. "Saya mohon jangan pecat sekretaris baru anda. Saya masih dalam pendekatan dengannya, Tuan." Pria itu sudah sangat hafal dengan pelajaran yang dimaksud.
Geram! Axton menghunus tatapan dingin kepada personal assistantnya itu. Bisa-bisanya ia memiliki tangan kanan seperti Wildan.
"Aku akan memecatnya, karena kau mendadak bodoh ketika jatuh cinta."
__ADS_1
"Tuan juga akan mendadak bodoh jika jatuh cinta," cicit Wildan dengan suara kecil maksimal. Sayangnya, ucapannya itu masih mampu tertangkap oleh pendengaran tajam Axton.
"Beraninya kau bilang aku bodoh!"
"Ampun Tuan!" Wildan terpejam disusul kedua tangan menyilang di depan muka saat Axton hendak melemparnya dengan kalender duduk dari mejanya.
Wildan perlahan membuka kembali pelupuk matanya saat ia tidak merasakan apa-apa. Rupa-rupanya, aksi Axton terurung saat sebuah notifikasi pesan masuk terdengar di ponselnya.
Syukur ... syukur ... akhirnya aku terbebas dari makiannya." Batin Wildan seketika bersorak gembira.
Sedangkan Axton, ia gegas membuka pesan tersebut saat melihat nama Naora menghiasi layar ponselnya.
^^^Naora:^^^
^^^Sebenarnya tadi aku sangat ingin menegurmu saat kau bersikap kasar kepada pelayan restauran tadi. Aku hanya ingin mengingatkan, kita sebagai makhluk berhati tak seharusnya meninggalkan rasa empati kepada sesama. Jujur, aku sangat kasihan melihat pelayan itu. Dia mungkin saja memiliki keluarga di rumah. Atau mungkin dia juga sebagai tulang punggung keluarga, yang di mana ada perut yang tak boleh dibiarkan lapar. Banyak orang diluar sana sangat kesulitan mencari pekerjaan, Axton. Harusnya kita lebih meikirkan hal itu. Tapi aku juga berterima kasih karena kau tidak benar-benar berniat melapor kepada pimpinannya agar pelayan itu dipecat.^^^
Hati Axton seketika tercubit untuk pertama kalinya. Teguran Naora tidak terkesan menggurui, tapi saling mengingatkan lebih tepatnya.
Sebuah dentingan notifikasi susulan kembali menarik atensi Axton.
^^^Naora:^^^
^^^Oya, aku tadi diam-diam memasukkan sebungkus obat di jas kerjamu. Aku tahu kau memiliki sakit asam lambung. Kau itu memang bodoh, sudah tahu tak boleh makan lada, tapi kau tetap memakannya.^^^
Axton gegas merogoh saku jasnya. Dan benar, sebungkus obat ditemukan di dalam sana. Senyuman seketika membingkai muka. Pria itu merasakan aliran hangat di dada. Sekali lagi, Naora berdiri sebagai istri yang lebih tahu tentangnya.
"Kebetulan sekali. Sedari tadi perutku memang sudah merasakan sakit. Asam lambungku sepertinya memang kembali naik." Pria itu bermonolog pada dirinya sendiri.
Seolah lupa dengan kecemburuannya tadi, Axton tiba-tiba mendengus geli. Teringat akan muka Naora yang memerah karena menahan sensasi geli. Ia merasa gemas saat ini.
"Kau kenapa Wildan?" Axton menyadari gelagat aneh asistennya itu.
Masih dengan ekspresi melongo sempurna, Wildan menatap tak percaya kepada Tuannya.
"Tuan ... anda ternyata bisa tersenyum?"
☘
☘
Bersambung~~
__ADS_1