Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Debaran Yang Sama


__ADS_3


Axton kian mengeratkan lilitan tangan di tubuh Naora, membuat wanita itu kian menempel di dadanya. Kenyamanan yang dirasa, mengenakkan pikiran untuk menerawang dan bernostalgia dengan ingatan masa lalunya.


Pemandang hiruk pikuk jalanan di luar kaca jendela mobil tak lepas dari sorot mata milik seorang pemuda. Dia adalah Axton Sanders, si Tuan muda. Ia terlihat sangat menikmatin apa yang dilihat mata. Akan tetapi, siapa yang tahu kalau ia tengah berkelut dengan perasaannya.


Selama dalam perjalanan menuju rumah Edrich, keresahan terus memenuhi rongga dada. Khawatir, penolakan akan kembali diterima. Kendati secercah harapan selalu setia ada.


Selain didorong oleh rasa rindu, ia juga berniat meminta Edrich untuk hadir di acara wisuda perpisahan di sekolahnya. Kalau bukan sang Daddy terus siapa lagi yang dia harapkan untuk datang bersama. Sedangkan dia penyandang status piatu sejak lama. Kakek dan neneknya juga sudah tiada.


Kegundahan hati yang terus melanda, sungguh membuatnya tidak tenang. Antara keraguan dan kemantapan seolah terus berperang. Bayang-bayang muka tak bersahabat Edrich terus saja terngiang. Dia bahkan sudah lupa, kapan terakhir Daddynya itu menyambutnya dengan senang. Senyuman hangat dan pelukan penuh kasih sayang dari pria tengah baya itupun tak mampu terkenang. Karena ... sebuah tragedi mengerikan yang telah menimpa keluarga, menciptakan sebuah hubungan yang gersang.


Axton akhirnya meminta si sopir untuk berhenti di sebuah taman bendungan sungai yang kebetulan sedang dilewati. Dibawa kaki menuruni mobil lalu berjalan menuju area sepi. Ia mencoba meletakkan sejenak segala rasa pengusik hati. Berbaur dengan alam bebas, menghirup udara segar di antara pepohonan rindang, dirasa mampu menenangkan diri.


Tidak jauh dari pesisir taman bendungan sungai, ia berdiri di sana, menatap lurus pada genangan air yang terlihat sangat tenang. Ia meraup satu batu pipih di bawah kaki lalu melemparnya hingga memantul berkali-kali di atas permukaan air sebelum akhirnya tenggelam. Diambilnya lagi satu batu dan kembali melemparnya. Hal itu dilakukan sampai beberapa kali sebagai bentuk pelampiasan kegundahan hatinya.


Namun, helaan napas kasar malah terdengar seolah upayanya itu sama sekali tak mampu meringankan keresahan jiwa. Kemudian ia menggiring sepasang manik lensa abu-abunya menyisiri pemandangan di sekitarnya. Hingga sesosok gadis yang sangat ia kenal dan juga sangat ia benci memenuhi ruang mata. Gadis itu adalah Naora Alesha.


"Kenapa aku harus melihat gadis benalu itu di tempat ini?" Axton mendadak kesal. "Sebaiknya aku segera pergi, sebelum ia sadar aku berada di sini. Akan sangat risih jika ia terus bersikap sok ramah dan terus memanggilku dengan sebutan 'Kakak' setiap bertemu."


Dengan melihat Naora dari kejauhan saja, sudah memperburuk suasana hatinya. Apa lagi harus saling bertukar sapa. Masih teringat jelas, bagaimana sang Daddy mengabaikannya dan lebih memilih melimpahkan semua perhatian dan kasih sayang hanya untuk si gadis yang tak lain saudara angkatnya.


Mendapat perlakuan pilih kasih, itulah sebab ia sangat anti dengan gadis itu. Tidak ingin membiarkan hatinya kian dikuasai emosi terlalu lama, ia memutar tumit, berniat pergi dari tempat itu. Namun, niatnya terhalau oleh rasa penasaran yang seolah enggan untuk berlalu.


Apa yang sedang dilakukan Naora di sana? Itulah salah satu pertanyaan yang mengapung di atas kepala. Dan menuntut kaki untuk berjalan mendekatinya.


Dari balik batang pohon besar, ia mengamati Naora yang tengah asyik dengan sebuah buku di tangannya. Cukup lama, kaki setia berpijak tanpa berpindah dari sana.


Entah apa yang terjadi dengan si hati, Axton tampak enggan segera berpaling muka dari Naora. Seiring dengan terpaan semilir angin, detak jantungnya bergerak cepat tanpa diminta. Muka cantik si gadis belia, membuatnya terpesona.


"Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang asing di dadaku." Axton meremas kain di dadanya. "Sebenarnya perasaan apa ini?"


Ia mencoba menelaah satu rasa yang baru pertama kali didapatinya. Namun, ia tampak kesulitan untuk mengartikannya. Hingga ia memilih mengabaikan perasaan itu begitu saja.


"Hah! Sudahlah. Kenapa aku membuang waktuku untuk hal yang tidak penting?" Akhirnya ia memutar tumit lalu mengayunkan tungkai menuju ke mobil.


"Di mana gadis jallang itu?"


"Tadi aku melihatnya di sana, Bos!"


"Bagus! Kita beri pelajaran ke dia sekarang."

__ADS_1


"Bagus!


Langkah Axton tampak memelan, saat tanpa sengaja mendengar percakapan segerombolan remaja pria yang baru saja berpapasan dengannya. Ia memutar tubuh, pandangan mata mengikuti ke mana arah tujuan mereka.


"Apa gadis yang mereka maksud adalah si benalu? Apa yang akan mereka lakukan kepadanya?" Ia mendadak cemas, tapi rasa itu segera dihempas. "Hah! Buat apa aku peduli. Harusnya aku senang jika si gadis benalu itu mendapat pelajaran."


Kaki kembali melangkah, melanjutkan niatnya untuk kembali ke mobil. Namun, ternyata otak tak sejalan dengan hati. Ingin sekali ia menepis rasa kepeduliannya, tapi teramat sulit berkilah dari dorongan hati. Axton menyempatkan diri menelepon si sopir dan asistennya sebelum bergegas pergi menuju ke tempat Naora berada.


"Lepaskan dia sekarang juga!" Ia berteriak, menghalau pergerakan tangan para segerombolan berandalan remaja yang hampir menggencarkan aksi pelecehan seksual kepada si gadis.


Para berandalan remaja itu seketika terhenyak saat menyadari Axton memergoki perbuatan mereka.


"Siapa kau berani ikut campur urusan kami?!" salah satu dari berandalan itu seolah tak takut. Ia bahkan kian bertingkah seperti berandalan busuk dan siap melayangkan pukulan.


Namun, belum sempat perkelahian terjadi keempat berandalan remaja itu langsung berlari tunggang langgang karena ketakutan kala melihat kedatangan dua pria dewasa yang berperawakan tinggi, besar, dan lengkap dengan muka sangar. Mereka adalah si sopir dan asisten Axton.


"Kakak ...! Hiks! Hiks!" Naora langsung berhamburan ke pelukan Axton, menumpahkan segala kesedihan di dadanya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Gadis itu menggeleng lemah. "Aku tidak baik-baik saja. Aku terluka dan terasa sakit," keluhnya.


"Ya sudah, aku obati kamu dulu, lalu aku antar pulang."


"Sudah, jangan menangis. Kau sudah aman sekarang. Nanti akan aku urus tuntas para berandalan itu agar tidak lagi mengganggumu."


Deg! Deg! Deg!


Saat netranya bersiborok dengan mutiara hazel milik Naora, jantungnya kian bertalu tak karuan. Axton sampai kewalayahan menghadapi debaran di dada, karena sejatinya ia tidak peka dalam perihal perasaan.


Setelah mengobati luka Naora, Axton langsung membawa Naora kembali ke rumahnya. Terbesit di dalam angan akan sambutan hangat sang Daddy jika tahu ia telah menolong Naora. Namun, sepertinya hal itu hanyalah sebuah impian belaka. Kini, mimik muka dingin Edrich tampak menghakiminya.


"Naora, kau masuklah ke kamar."


"Ya, Daddy." Naora pun patuh dan langsung pergi ke kamar.


Plak!


"Apa yang telah kau lakukan kepadanya? Hah?! Belum puas kau menjadi anak pembawa sial hingga istriku meninggal, sekarang kau malah mencoba menyakiti Naora!"


Alih-alih mendapat apresiasi tanda terima kasih karena telah menolong Naora, Axton malah disambut oleh sebuah tamparan keras di pipi.

__ADS_1


Sekali lagi, ia kembali menuai luka di hati.


Sebelah tangan masih merangkum rasa panas di pipi. Sepasang bola matanya bahkan sudah memerah karena menahan pedih. "Aku tidak menyakitinya, Dad. Tadi dia diganggu oleh para berandalan dan aku menolongnya," jelasnya guna membela diri.


Hati memang sudah dibutakan oleh kebencian, Edrich seolah enggan mempercayai segala ucapan Axton dengan keras. "Aku sangat sulit mempercayaimu. Sekarang kau pulanglah ke tempatmu. Jangan temui aku jika tidak ada hal yang benar-benar penting dan mendesak."


"Tapi, Dad ... ak--"


"Pergilah!" pangkas Edrich dengan cepat.


Axton yang masih berupaya menjelaskan, akhirnya mau tidak mau harus menerima tuduhan dari sang Daddy. Ia pun gegas keluar dari rumah masa kecilnya itu dengan membawa segunung kekecewaan di hati. Ia bahkan belum sempat mengutarakan keinginan akan kedatangan Edrich di acara wisuda perpisahannya.


Ini semua karena Naora. Aku sangat membencinya!


Pikiran Axton seketika tertarik dari lamunan saat merasakan tubuh kecil di dalam dekapannya bergerak ringan. Dipandang muka Naora yang ternyata masih tampak damai dalam lelap.


"Aku sangat membencimu Naora, tapi kenapa dadaku selalu bertalu cepat jika saat bersamamu? Aku baru saja ingat, bahwa getaran ini memiliki rasa yang sama saat aku mengamatimu di taman bendungan sungai waktu itu." Axton bermonolog dalam lirih.


"Axton ...."


Pria itu terhenyak saat mendengar bibir Naora menggumam dengan menyebut namanya. Ia bahkan dibuat terperangah kala menyadari bulir-bulir bening jatuh dari pelupuk matanya yang masih terpejam.


"Sebenarnya apa yang kau tangisi, Naora? Di saat tidurpun kau menjatuhkan air mata."


Axton menyeka cairan bening yang membasahi pipi Naora. Sungguh, saat ini ia sangat tidak tahan melihat wanita itu berurai air mata. Hatinya seolah luluh begitu saja.


"Sangat berbahaya jika kau sampai menangis di depan pria lain."


☘


☘


☘


Bersambung~~


Maaf ya jika banyak typo yaπŸ™


Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🀣 Berncanda kok✌


Yang punya Vote dan Gift bolehlah disumbangkan ke karya ini..πŸ₯°

__ADS_1


Sarangheyo ...😘😘


__ADS_2