Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Benda Titipan


__ADS_3


"Kau?!"


Axton langsung terperangah melihat kedatangan seseorang yang tampak mengenaskan. Pria itu reflek melempar mimik muka keheranan. Naora saja sampai merasa kasihan. Sementara Nathan tampak ingin tertawa tapi masih ia tahan. Bahkan Jovana yang tidak mengenal juga dibuat terkejut dan juga penasaran.


Bagaimana ceritanya hampir seluruh tubuh orang itu rata oleh lumpur dengan bau tak sedap? Sangking tidak sedapnya, penciuman Axton yang akhir-akhir ini memang sedang senstif reflek menutup hidung sebelum rasa mual kembali menyerang.


"Wildan? Apa yang sudah terjadi denganmu?" tanya Naora, mewakili pertanyaan yang lain.


Wildan tidak langsung menjawab ataupun bersuara. Saat ini ia sedang kesal seraya menahan malu karena penampilannya sudah menyerupai manusia lumpur jadi-jadian.


"Suruh dia masuk dulu, Naora. Aku sudah tidak tahan melihat penampilannya. Kasian," tutur Jovana sebelum kembali ke tempat duduk ruang tamu. Perutnya sudah sangat lapar, ingin segera menyantap menu sarapannya yang sedari tadi belum sempat terjamah.


"Oh, iya. Aku sampai lupa. Wildan cepat masuk dulu dan bersihkan tubuhmu."


"Tapi Nona, saya tidak membawa baju ganti," ucap Wildan dengan ekspresi menyedihkan.


Sejenak Naora berpikir. Tidak lama ia langsung memutar leher ke arah Jovana. "Joe?"


"Iya ... apa lagi?" Jovana mulai kesal.


Sesendok nasi yang hampir saja masuk ke penggilingan mulutnya harus terurungkan. Padahal cacing-cacing di dalam perutnya sudah hampir mati karena kelaparan.


"Pinjamkan dia pakaianmu untuk dia. Bukannya hampir semua milikmu over size?" pinta Naora.



Menu sarapan sederhana nyatanya tidak jadi penghalang bagi mereka untuk bersyukur. Bahkan masakan ala orang desa itu begitu terasa nikmat di lidah para orang kota tersebut. Naora sampai dibuat kagum. Dia baru menyadari bahwa Axton si tuan arogan rupanya bukan tipe orang yang pilih-pilih dalam perihal makanan.


"Ini untukmu," Axton memberi telur balado miliknya kepada Naora.


Sedari tadi pria itu memang diam-diam mangamati sang istri yang tampak lahap menyantap makanannya. Dia juga sempat keheranan, karena porsi makan Naora terlihat lebih banyak dari biasanya.


Binar cerah menghiasi paras cantik Naora. Axton seolah mengerti kalau dia ingin menambah lauk dan rasa lapar juga masih mengorek lambungnya. "Terima kasih. Tapi kau jadi tidak makan pakai lauk. Apa tidak apa-apa?"


"Ini cuma telur, Naora. Kalau masih lapar kau boleh makan semua milikku," tawar Axton.


"Apa kau ingin buat aku menggemuk seperti babi?"


Axton tertawa kecil. "Jika kau menggemuk, aku malah merasa tenang karena kau tidak akan dilirik lagi oleh para mata jelalatan," celetuknya.


"Hish! Dasar!"


"Jadi mau atau tidak?" Axton kembali menawarkan makanannya untuk Naora.


"Hmm, mau deh kalau gitu."

__ADS_1


"Mendekatlah," pinta Axton.


"Untuk apa?"


"Jangan banyak tanya, Naora."


"Iya ... iya. Selalu deh begitu. Suka maksa." Naora pun menuruti permintaan suaminya meski mulut ngedumel.


"Buka mulutmu."


"Axton, malu dilihat teman-teman." Naora mendadak kikuk saat Axton berniat menyuapinya. Sesekali ia melirik ke arah Nathan dan Jovana yang tampak geli dengan pemandangan di depan mata.


"Anggap saja mereka lalat," cerocos Axton seenak jidatnya dan itu sukses membuat kedua orang di depannya berdecak kesal.


"Waah! Yang benar saja! Sampai hati kau anggap sahabatmu ini lalat," Nathan tampak tidak terima.


Puk!


"Aw! Kenapa kau melempariku?" protes Naora kepada Jovana saat sepotong tempe goreng mendarat cantik di keningnya.


"Kasih tahu suamimu itu, agar lidahnya dijaga jika tidak ingin kutarik dan kuikat di pagar depan," sengit Jovana berupa ancaman.


Axton tak menanggapi, alias cuek bebek. Dia malah tampak sibuk menyuapi Naora. Entah mengapa, melihat si istri makan dengan lahap ia seakan ikut merasa kenyang.


Sementara Nathan tiba-tiba merasa bergidik saat itu juga. Judes, sadis, dan seperti premanwati, begitulah penilaian pria itu terhadap Jovana. Jujur, hatinya mendadak gatal dan ingin mengubah wanita tomboy itu agar lebih memperhatikan sikap dan tutur katanya. Namun, ia mencoba sadar diri, mengingat bahwa dia bukanlah siapa-siapa bagi si wanita.


Pria tampan bermata teduh itu bermonolog dan ketawa di dalam hati. Bisa-bisa ia membayangkan Jovana menjadi kekasihnya.


"Wildan, kau sudah selesai? Sini makan dulu sarapanmu," tawar Naora setelah melihat kedatangan Wildan yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya.


"Terima kasih, Nona."


"Kau masih mempunyai hutang penjelasan."


Tangan yang hendak menjangkau nasi bungkus di atas meja langsung ditarik kembali saat suara sang majikan menyela. Wildan lantas memutar tubuh yang langsung disambut oleh tatapan menuntut dari ke empat manusia di depannya. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara.


"Akses jalan menuju ke rumah ini tidak muat dilalui mobil saya. Akhirnya saya turun dan terpaksa berjalan kaki. Saat di pertengahan jalan, ada tiga anak kambing." Wildan menjeda kalimatnya. Keempat pasang mata yang sedang menyorot serius ke arahnya malah membuat ia merasa dihakimi.


"Terus?" tuntut Naora minta kelanjutan.


"Langsung ke inti cerita bisa nggak sih?" sela Jovana tidak sabaran.


"Ada apa dengan anak kambingnya?" Nathan pun mendesak.


"Bisa-bisanya aku menjadi pendengar yang baik sekarang," gerutu Axton.


"Itu ... karena merasa gemas dengan anak-anak kambing yang terlihat sangat lucu, saya mencoba mengambil foto selfi bersama mereka. Tanpa disadari rupanya si induk para anak kambing marah dan langsung menyeruduk hingga saya terpental ke dalam sawah. Begitu ceritanya." Wildan tampak menghela napas setelah mengkatamkan cerita apesnya.

__ADS_1


Nathan dan Jovana seketika tergelak keras. Sedangkan Naora tampak mengulum bibir agar tawanya tidak lepas. Dan Axton masih setia dengan muka datar, sedatar kertas.


"Katakan, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Axton menyelidik.


Pertanyaan si bos mengingatkannya akan sesuatu yang sempat terlupakan. Wildan gegas beranjak dari tempatnya lalu mengambil sebuah benda dari tasnya.


“Ada titipan dari tuan besar untuk Anda, Tuan. Karena Tuan tidak bisa dihubungi lalu beliau meminta saya untuk memberikan langsung benda ini.” Wildan menyodorkan sebuah bungkusan ke arah Axton. Namun belum sampai benda itu berpindah tangan, ia menarik kembali tangannya.


“Apa kau sedang mengajak bercanda?!” Axton langsung emosi.


“Oya sebelum memberikan benda ini, tuan besar juga meminta saya menyampaikan pesannya kepada Anda.”


“Apa itu?”


Wildan menarik napas dalam-dalam sembari mengambil ancang-ancang sebelum kembali bersuara. “Kau itu orang yang sangat bodoh! Sangking bodohnya, sampai tidak sadar kalau kau sedang mengalami sindrom couvade! Dasar bocah berandalan bodoh!"


"Beraninya kau berkata seperti itu di depanku!" hardik Axton karena tindakan kurang ajar si asisten pribadinya.


"Maaf, Tuan. Saya hanya menyampaikan pesan Tuan besar apa adanya," sanggah Wildan tampak gelagapan.


"Pfftt ...! Rupanya Daddymu sangat jujur. Ia aku akui, putranya ini memang bodoh," ledek Nathan.


"Diam kau!" sentak Axton.


Nathan malah tergelak.


"Apa yang kau katakan tadi? Sindrom couvade?" tanya Naora memastikan.


"Iya, Nona."


Setelah bisa mencerna isi pesan dari Edrich, Axton langsung menyabet benda titipan itu dari tangan Wildan. Dibukanya bungkusan itu dengan tidak sabaran.


"Test pack?"





Bersambung~~


tolong pantau terus ya kisah cinta Axton dan Naora🥰


Terima kasih banyak ya atas dukungan kalian.


Lop you❤

__ADS_1


__ADS_2