Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Asmaraloka


__ADS_3


Setelah memastikan pintu dan jendela tertutup rapat, Axton kembali berjalan mendekati ranjang. Di atas sana, sang wanita mengamati pergerakannya tanpa melepas pandang.


Pria itu bersimpuh di bawah sang pujaan hati yang masih terdiam. Diraih tangannya dan memberi kecupan sayang pada buku-buku jarinya seiring dengan tatapan dalam.


"Kali ini bagaimana kalau aku tidak bisa berhenti, Naora ...?" Axton mencoba menekankan bahwa malam ini seakan akan menjadi malam yang sedikit berbeda.


Dibawa sebelah tangan menyusuri pahatan tampan sang suami. Naora mengulas senyuman tipis penuh arti. Hingga sengatan kecil menjalar ke seluruh tubuh saat Axton mulai ******* lembut lentiknya ujung jemari.


"Axton."


Gelombang lembut yang menyusup ke dalam indera pendengaran menghentikan aksi si pria. "Iya."


"Apa kau tidak bisa menahannya?"


Masih dalam posisi bersimpuh, Axton memeluk dan menenggelamkan mukanya ke perut Naora. "Selama ini aku mampu menahannya, kau tahu itu bukan?" Ia kian mengeratkan lingkaran tangannya. "Tapi aku sangat tersiksa. Saat bersamamu, hasrat itu selalu muncul tanpa kumau."


Hasratku yang sudah lama mati, seolah hidup kembali tanpa alasan yang sesuai jalannya nalar pikiran. Aku tidak memerlukan bantuan medis, karena obatku ada pada Naora. Jika ditanya kenapa justru wanita di depanku ini? Kenapa bukan Lana ataupun wanita lain? Dan aku akan menjawab 'hanya Sang Pemilik Hati yang tahu'.


Kenapa dia bilang tersiksa, padahal masih ada Lana yang bisa dijadikan tempat pelampiasan hasratnya selama ini? Apakah ada satu hal lagi dari Axton yang belum aku ketahui? Ingin sekali aku tidak percaya dengan perkataannya barusan, tapi aku melihat keseriusan di wajahnya.


Naora membelai lembut kepala sang suami, jemari diajak bermain di antara helaian surai hitamnya. Baginya, Axton terlihat seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada sang mama.


Sangat lucu. Ke mana ngungsinya si tuan muda arogan yang dulu? Rasa gengsinya seolah sudah enggan untuk bertamu. Wanita itu telah mengubahnya menjadi sosok baru.


Naora bagaikan seorang pawang hati yang mampu membuatnya luluh dan patuh tanpa di suruh. Membuatnya rela menyerahkan segala perasaannya dengan utuh.


"Jadi selama ini ... aku sudah menyiksamu?"


Axton sontak mendongak ke arah Naora. "Bukan seperti itu maksudku, Naora," bantahnya.


"Aku tahu," lirih wanita itu.


"Jadi ... malam ini bolehkah?"


Semburat kemerahan kian menghiasi paras cantik Naora. Rona itu menandakan ia tengah tersipu malu karena pertanyaan si pria.


"Aku sudah memintamu menutup pintunya 'kan tadi? Kau pasti tahu artinya." Suara Naora terdengar kecil sekali.


Binar cerah seketika menghiasi muka saat Axton bisa menangkap isyarat yang diberikan Naora. "Aku akan melakukannya, ya?"


Naora mangangguk sembari tersipu malu. "Hm."


Yakin sudah mendapatkan lampun hijau, Axton beranjak dari posisi bersimpuh lalu menuntun Naora berbaring di atas peraduan. Keduanya memiringkan tubuh hingga mereka berhadapan.


Dua pasang jendela hati saling menangkap bayangan. Indahnya pahatan karya Sang Maha Kuasa di hadapan masing-masing memaku pandangan. Tak mampu lagi berpaling, rasa ingin memiliki manautkan hati kedua insan.


Seiring dengan tatapan mendamba, belaian jemari Axton mendarat di kening lalu perlahan bermuara hingga ke pipi lembut Naora. Bulu halus yang membingkai netra menarik bibir untuk melabuhkan kecupan di sana.


"Matamu indah sekali," puji pria itu setelah menghadiahi ciuman pada sepasang jendela hati wanitanya.


Benar-benar terlepas dari rasa gengsi, Axton mengutarakan semua nilai dari perasaan. Kini tiada satu pun kata hati yang tertahan. Semua ia luapkan tanpa beban ataupun paksaan.


Bisingnya deru hujan di atap rumah seolah terbungkam oleh dua mahkota nyawa yang saling unjuk debaran cinta. Sepasang raga berkabut asmara masih setia melabuh tatapan saling mendamba.


Mutiara abu-abu sang suami memaku pada durja sang istri yang mempesona. Rasa hati yang kuat telah menjalar hingga sukma, ingin segera meneguk nikmatnya bersenggama.


Sunyi malam ini


Temaram cahya rembulan


Bersandar di bahumu


Lukiskan kisah cinta yang syahdu

__ADS_1


Lautan bintang berpijar


Seakan mampu berdansa


Oh, indahnya malam ini


Larutkan asmara dalam pelukanmu


Kasih indahnya malam ini


Senada denting gitarmu alunkan lagu cinta


Kasih selaras hati


Kunyanyikan lagu puisi hati yang rindu


Rindu yang takkan memudar


Tercipta hanya untuk dirimu


Seakan alam pun tersenyum


Melihat insan bahagia


Oh, indahnya malam ini


Larutkan asmara dalam pelukanmu


Kasih indahnya malam ini


Senada denting gitarmu alunkan lagu cinta


Oh, indahnya malam ini


Larutkan asmara dalam pelukanmu, kasih


Oh, indahnya malam ini


Senada denting gitarmu alunkan lagu cinta


Lagu cinta kasih selaras hati


Lagu Cinta - Ecoutez


Kecuapan demi kecupan, belaian demi belaian, terus silih berganti sebagai bentuk pencurahan rasa. Hawa panas yang menjalar di dalam darah, membuat gerah kedua raga. Axton duduk dari posisi berbaring melucuti kaos dari tubuh gagahnya.


Dipandangnya paras ayu sang wanita, mengantar isyarat sebagai hasrat yang menuntut lebih. Sebuah anggukan ringan di depan mata, membuat niatnya tak mungkin lagi beralih.


Perlahan, kedua tangan terulur dan mendarat di atas aset kembar Naora. Lanjut membuka balutan kain yang mengahalangi pandangan dari pahatan sempurna karya Sang Pencipta.


Desiran darah kian menggelora saat melihat tubuh si wanita tinggal berlapis tipis pada kedua gundukan indah di dada dan di organ kewanitaannya. Naora sedikit beringsut kala Axton bergerak dan mulai mengukungnya.


"Kenapa, Naora? Apa kau berubah pikiran?"


"Selimutnya," jawab Naora dengan silangan kedua tangan di depan dada.


Paham dengan maksud wanitanya, Axton meraup sebuah selimut yang masih terlipat rapi lalu membebernya hingga menutupi kedua tubuh setengah polos mereka. Pria itu menangkap kegugupan mulai menghiasi wajah Naora. Ia pun tidak ingin memaksa apalagi melakukannya dengan tergesa-gesa.


Perlahan ia memeluk istri ke-duanya itu dengan panuh perasaan. Rengkuhan tangannya membenamkan tubuh kecil Naora ke dalam dekapan.


"Kau gugup, padahal ini bukan kali pertama bagi kita hampir telanjang bersama seperti ini," ucap Axton. Padahal dia sendiri tak kalah gugup.


"Situasinya 'kan berbeda, Axton." Naora mendongak hingga pandangan keduanya saling bertemu.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan."

__ADS_1


"Aku percaya denganmu."


"Kulanjutkan ya?"


"Iya."


Axton kembali bergerak dan berpindah di atas Naora. Bibir ranum di bawahnya seolah sudah menanti sebuah sentuhan. Pria itu kembali bermain dengan sepasang benda kenyal yang basah itu.


Tangan terampil Axton menarik tengkuk Naora hingga menciptakan ciuman yang lebih dalam. Si wanita kian meremang saat merasakan sensasi basah mulai menjalar di ceruk lehernya seiring dengan belaian telapak tangan pada kain pembungkus dada.


Tidak butuh usaha keras, kini lapisan pembungkus itu sudah tergeletak di sisi peraduan. Masih malu, Naora kembali menutupi dadanya dengan silangan tangan. Axton terkekeh geli melihat gelagat Naora yang terlihat menggemaskan.


Tak ingin membiarkan hasrat mengendap terlalu lama, Axton melanjutkan kegiatannya. Selimut penutup kedua raga yang saling menindih itu terlihat berombak seiring dengan tubuh gagah itu bergerak turun dan mulai bermain di bawah sana.


Naora menggeliat saat sepasang tepian bibir Axton mengecup dan menyesap di kedua puncak dadanya. Ia seperti merasakan sengatan listrik yang membuat hasratnya kian membara.


Belum puas, Axton perlahan membawa bibirnya turun ke perut hingga ke bawah pusar yang masih berlapis kain tipis berenda. Semantara tangan belum ingin jauh dari sepasang aset kembar sintal di atas sana.


******* seketika mengalun merdu dari sepasang bibir Naora seiring dengan tubuh yang menggeliat hingga pinggang rampingnya sedikit terangkat. Menyadari hal itu, Axton menarik pelan kain pelapis terakhir milik sang istri. Sedetik kemudian, ia pun melucuti sisa kain di tubuhnya.


Sekarang sepasang kekasih halal itu seperti adam dan hawa di swargaloka. Gesekan kulit polos mereka kian membakar gairah untuk bercinta. Keduanya pun kembali bercumbu tanpa aba-aba.


"Axton ...."


"Hmmm ...."


Jiwa yang berkabut gairah seolah terpanggil oleh bisikan naluri. Naora menggiring tangannya turun hingga menemukan benda keras yang dicari. Axton seketika menghentikan kesibukannya pada si kembar kenyal kala merasakan sentuhan dari sang istri.


"Axton ...." panggil Naora seolah menuntut kepada suaminya untuk memberi sentuhan lebih intim.


Axton mengulas senyuman seraya manatap sepasang netra Naora yang sudah terlihat sayu. Kemudian memberi sebuah kecupan mesrah di bibir yang membuatnya candu.


"Sekarang?" tanya Axton.


Napasnya terdengar bergetar karena degub jantung bertalu. Naora menelan cairan salivanya lalu mengangguk sembari menahan malu. Kali ini ia sudah tak lagi mampu menahan hormon estrogen yang telah lepas menyusuri ke seluruh tubuhnya itu.


"Iya sekarang."


Mengusir perasaan gugup, Axton mulai bergerak memposisikan diri untuk melakukan penyatuan raga. Sesaat ia tampak melakukan sekali tarik napas dan menghembuskannya. Bukan hanya Naora saja, bagi pria itu kegiatan bercintanya kali ini juga pengalaman pertama. Perlahan ia pun mulai memasuki gerbang kehormatan Naora.


"Aahhk!"


Naora tampak meringis kesakitan saat hentakan pertama suaminya menembus separuh bagian dunia kecilnya. Axton seketika menghentikan kegiatannya. Bulir air mata yang menghiasi wajah kesakitan sang wanita, menumbuhkan rasa tidak tega.


"Maaf, kau pasti sangat kesakitan. Sebaiknya kita hentikan saja ya."


Axton hendak mencabut kembali miliknya, tapi tarikan tangan Naora mengurungkan niatnya.


"Aku tidak apa-apa. Teruskan saja."


"Tapi aku tidak ingin menyakitimu, Naora. Kita hentikan saja."





Bersambung~~


Muup, bab ini dilanjutkan besok lagi ya ... di sini lagi mati lampu, batrai tinggal 1%.


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian berupa like dan komen di setiap babnya ya ....


Vote dan Gift juga Nofi harapkan untuk karya ini.

__ADS_1


Terima Kasih ....


Lop yu pull ... sekebon pisang.


__ADS_2