Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Tuntutan Menikah


__ADS_3


Dentingan sendok dan piring yang saling beradu terdengar mengiringi suasana ritual pengisian perut di pagi hari. Semua penghuni ruang makan tampak menikmati makanan yang tersaji.


"Usiamu hampir menginjak kepala tiga, Putraku. Harus berapa lama lagi Mama dan Papa harus menunggumu membawa seorang menantu ke rumah ini?" Rosa mulai membuka percakapan di sela makannya.


"Kau sudah waktunya mengarungi bahterah sebuah pernikahan. Kedua orang tuamu ini juga semakin tua. Kami juga ingin segera menimang cucu seperti para orang tua lainnya." Thomi turut menimpali.


Mulut yang semula masih mengunyah makanan terhenti begitu saja. Nathan tampak mendesah ringan saat mendengar ucapan dari kedua orangtuanya. Kata 'menikah' selalu sukses membuatnya tak mampu berkata.


Bukan bermaksud untuk bersikap anti akan sebuah pernikahan. Apalagi berniat menjadi perjaka tua karena tak laku di pasaran. Mana mungkin para mawar menolak untuk dihinggapi kumbang setampan Nathan.


Ibarat kata, sang mawar rela menanggalkan duri-durinya yang tajam demi sang kumbang agar tidak terluka. Mereka tak segan membuka lebar mahkota bunganya untuk dijamah dan dihisap madunya.


Namun kenyataannya, ia bukan sosok pria yang mudah membuka tirai hati. Pria itu juga tidak ingin asal menjalin hubungan dengan perasaan yang tak pasti. Tindakan itu malah akan membentuk sebuah goresan luka pada si wanita karena tersakiti.


Nathan Alexanders adalah seorang putra yang sangat menyayangi sang mama. Itulah sebabnya, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak mempermainkan perasaan hati wanita.


"Ma ... Pa ... sabar ya. Kalau sudah waktunya, Nathan pasti juga akan menikah kok." Nathan mencoba meminta pengertian sebelum melanjutkan kembali makannya.


Terus terang, hatinya mengerang frustrasi saat kedua orang tuanya membahas bab pernikahan. Bosan saja karena setiap berkumpul dengan mereka yang dibahas hanya itu-itu saja tanpa berkesudahan.


"Sabar, sabar. Orang tuamu ini loh sudah cukup bersabar menunggu sampai keriput seperti ini. Kau bahkan tidak pernah berpacaran." Rosa menjeda omelannya sembari menghunus tatapan sangsi. "Putraku, jangan-jangan kau tidak normal. Apa kau itu menyukai sesama jenis?"


Nathan seketika tersedak karena tuduhan asal-asalan sang mama. Gegas ia meneguk segelas air putih untuk mengurangi rasa sakit ditenggorokannya.


"Nathan, apakah itu benar? Kau gay?" bukannya menengahi, Thomi malah ikut-ikutan memojokkannya dengan sebuah pertanyaan sekaligus tuduhan. Bahkan pria itu terlihat syok karena menelan bulat-bulat prasangka dari sang istri tentang putranya.


"Pfftt! Uhuk! Huk!"


Bagaikan mendapat serangan kejutan dadakan, Nathan reflek menyembur sisa air yang belum sempat tertelan. Dia tidak mengira, kedua orang tuanya sampai memiliki pemikiran yang berlebihan.


Terlalu jauh dan menyesatkan!


"Yaak! Kau sangat tidak sopan!" seru Thomi yang baru saja menjadi sasaran semburan Nathan.


"Mama dan Papa sampai hati menuduh Nathan seperti itu." Pria itu melayangkan protes.


"Kami tidak menuduhmu," jawab Rosa seraya menyapu mukanya yang juga terkena semburan si putra.

__ADS_1


"Terus itu tadi apa?"


"Mama dan Papa hanya bertanya," sanggah Rosa dengan entengnya.


Nathan bahkan dibuat tercengang. Baginya, ia baru saja menjadi korban tuduhan sadis yang mengarah ke fitnah.


Ingat! Fitnah itu lebih kejam dari pada fitness!


"Nathan masih normal, Ma .. Pa. Nathan itu pecinta wanita. Lagian umur Nathan masih mau 30 tahun. Masih muda, tampan, gagah, dan perkasa."


"Apa gunanya muda, tampan, gagah, dan perkasa kalau tidak laku? Pak Mamang si penjual sayur keliling komplek rumah kita saja punya istri dua. Kau kalah banyak, Putraku," ledek Thomi.


"Papa sendiri, istrinya cuma satu. Bukannya sama saja Papa juga kalah banyak?" Nathan tak mau kalah.


"Itu karena Mamamu tidak mengijinkan Papa menikah lagi! Aduh!" Thomi meringis kesakitan saat Rosa menggetok kepalanya dengan sendok. "Apa'an sih, Ma?" Pria itu bertanya seraya memasang raut muka sok naifnya.


"Jadi Papa diam-diam ingin menikah lagi?!" geram Rosa.


"Cuma bercanda, Ma ... Papa tidak bersungguh-sungguh. Suer! Cintaku hanya untukmu."


"Heleh! Alasan!"


Dasar orang tua tidak berperikeanakan!


Beruntungnya Nathan itu jomblo ngenes anti galau. Jadi tidak pernah ia merasa risau. Kendati belum menemukan cinta untuk hatinya yang bagaikan musim kemarau.


"Pa ... Ma, Nathan pergi dulu ya. Ada janji main golf dengan relasi kerja."


"Apakah belum ada satupun wanita dihatimu saat ini?" Rosa kembali berlisan tanya saat Nathan sudah beranjak dari duduknya.


Nathan seketika termenung beberapa saat dengan otak mulai berkelana. Pertanyaan mamanya mengingatkan ia dengan seseorang yang beberapa hari ini sukses mengalihkan atensinya dari Naora.


Jovana ... ah, di saat seperti ini malah dia yang aku ingat. Sepertinya aku memang sudah terpesona dengan wanita urakan itu. Astaga ... bisa-bisanya aku merubah seleraku dari Naora yang lemah lembut berpindah ke Jovana yang kasar dan galak.


Cepat-cepat Nathan menarik pikiran dari lamunannya. Dipandang wajah keibuan sang mama lalu kembali berkata.


"Ada satu makhluk yang menarik perhatianku saat ini. Dia adalah seekor singa betina." Nathan langsung melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang tampak melongo.


"Pa, putra kita rupanya benar-benar tidak normal. Mama tidak mau mempunyai menantu seekor singa."

__ADS_1


"Papa juga tidak sanggup membayangkan putra kita berada di atas panggung pengantin bersama seekor singa."


Rosa langsung manangis histeris ke dalam pelukan suaminya. "Mama bisa mati berdiri kalau itu sampai terjadi."


Binar dinding langit mulai meredup kala sore menyapa. Usai bermain golf dan makan siang, Nathan tidak langsung kembali ke rumahnya. Seperti biasa, dia akan menghabiskan hari minggunya dengan mengunjungi tempat tongkrongan favorit yang terletak di taman kota. Di sana ia terlihat menikmati pertunjukan musisi jalanan yang beranggotakan para pemuda.


Sangat terhibur dengan pertunjukan yang tersaji, ia mendekati kotak uang lalu meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah jambu di sana.


"Terima kasih, Mas! Semoga segera dapat jodoh biar tidak lama menjomblo!" Celetukkan salah satu anggota musisi jalanan itu rupanya sukses menyentil hati Nathan.


Tidak ada rasa marah ataupun tersinggung, Nathan hanya tersenyum tipis guna menanggapi musisi jalanan itu. Kemudian ia keluar dari kerumunan para penonton dan berjalan santai menuju luar gerbang taman.


Brak!


Tubuh Nathan tiba-tiba terhuyun ke depan saat seseorang menabraknya dari belakang.


"Ah! Maaf Tuan, saya tidak sengaja. Apa kau baik-baik saja?"


Merasa tidak asing dengan jenis gelombang suara yang menjalar ke dalam pendengaran, ia langsung menoleh ke belakang.


"Kau?!" ucap Nathan dan si penabrak secara bersamaan.





Bersambung~~


Nofi cuma mau memberitahu bahwa karya ini mendekati ending, jadi sudah tidak akan ada lagi konflik berkepanjangan yang katanya seperti sinetron di ikan terbang😆


Jujur, Nofi itu hampir tidak pernah nonton sinetron jadi tidak tahu alur cerita yang seperti di sinetron ikan terbang itu yang gimana?


Dan maaf ya, semakin ke sini alur ceritanya terkesan amburadul dan membosankan. Ini karena Nofi belum bisa bersikap profesional. Di saat pikiran benar-benar kacau, tulisanku malah kujadikan korban.


Well! Terima kasih ya atas semua dukungan kalian. Jangan lupa tinggalkan jejak lika dan komen ya...


Vote dan Gift juga Nofi tunggu.

__ADS_1


Met malam. See you next time🥰


__ADS_2