Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Hasrat


__ADS_3


Brak!


Suara dentuman keras hasil dari bantingan daun pintu menyeruak memenuhi langit-langit kamar mandi. Berselubung amarah, Axton mengayun tungkai mendekati Naora yang tampak berusaha menjaga jarak dengan mengambil langkah mundur untuk menjaga diri.


"Axton, kau mau apa? Jangan macam-macam."


Naora masih menegakkan kepala, memamerkan segudang keberanian dalam menghadapi pria yang tengah menatap lapar dirinya, kendati posisinya saat ini sudah terjebak di sudut ruang kamar mandi pribadinya.


"Hari ini kau terus membuatku marah, Naora."


Seharian suasana hati Axton memang sangat tak bersahabat. Belum kelar sakit hatinya karena perlakuan buruk Edrich, ia kini juga harus dilanda kecemburuan yang tak disadari.


Yang Axton tahu, bahwa ia tidak terima jika Naora terlalu dekat dengan pria lain saat ini. Selepas dari itu, semua akal pikirannya telah tertutupi oleh gengsi, membuatnya tidak peka akan perasaannya sendiri.


Yang Axton tahu, bahwa kini ia membutuhkan sebuah tempat pelampiasan. Sungguh, hatinya tengah terusik oleh berbagai perasaan yang tak nyaman. Semuanya, harus ia keluarkan. Dan sosok Naora, dirasa sangat bisa diandalkan.


Mata elang itu membidik tajam mangsa di depannya. Lanjut dibawa pandangan menyusuri setiap lekuk muka hingga sebatas dada. Mengikuti pikiran negatif yang mulai berkelana.


"Kupastikan akan menghapus semua jejak kotor para bajingan itu dari tubuhmu."


Naora kembali keheranan. Sampai kapan Axton akan bertahan dengan kesalah pahaman? Membiarkan pikiran kotor terus berperan. Tanpa mencerna dengan baik informasi yang ia telan.


Bodoh!


Keinginan untuk segera lepas dari situasi tak mengenakkan seperti saat ini, mendorong lidah untuk menyanggah kembali. Semuanya harus segera diluruskan, sebelum kegilaan Axton kian tak terkendali.


"Axton, dengarkan aku du--, hmp ...!" Lagi-lagi Axton kembali menghalau Naora untuk berlisan kata dengan melahap kasar bibirnya.


Pria itu seolah sudah dibuat buta dan tuli. Tak membiarkan Naora untuk berkelit, meski sekedar membela diri.


Tubuh kecil Naora kian tak berkutik, saat tubuh kekar Axton menekannya lebih kuat hampir pada semua titik. Hanya mampu memekik seperti itik yang tercekik. Pria arogan itu ... terus bermain pada bibir mungilnya yang mulai membuat ia tertarik.


Hingga kedua anak manusia itu harus merasakan dinginnya air yang mengguyur dari atas kepala karena sebelah tangan Axton tanpa sengaja menarik kran shower.


Bagaikan sedang melakukan adegan ciuman panas di dalam film romantis. Siraman air yang membasahi tubuh, kian memberi efek super dramatis. Dan Authornya auto menangis saat jari-jarinya ini menulis, hanya bisa tersenyum miris sambil duduk manis, merenungi nasib karena mendapati takdir sinis.


Sungguh tragis.


Tahan ... tahan .... kurang 391 hari lebih 22 jam 13 menit, si Author bisa nyeret koper menyeberang laut Cina untuk kembali ke Indonesia, Negeri tercinta. Meski bukan tempat tanah kelahiran yang sebenarnya tapi Author lebih suka tinggal di sana.


Maklum, korban LDRan. Ahay ...! Malah curhat.


Oke, sudah cukup iklannya.


Axton mulai terlena akan manisnya bibir Naora. Berawal dari amarah, kini bertransisi menjadi asmara. Tapi sayang, dia masih belum peka.


Aku ingin menginginkannya. Wanita beracun ini harus jadi milikku seorang. Dalam keadaan bergairah, batinnya meracau.


Masih terpenjara oleh rengkuhan posesif si pria, Naora terus meronta. Namun, Axton seolah tak memberinya cela.

__ADS_1


Pandangan Axton kian berkabut gairah, kala lekuk indah tubuh Naora terlihat jelas di balik kain yang sudah sepenuhnya basah. Tombak sakti yang selama ini tertidur lama, mulai menggelisah. Sepertinya sudah saatnya diasah. Lagian mereka sudah terikat oleh hubungan sah. Bukankah tidak akan jadi masalah?


Krek!


"Ahk! Tidak Axton!"


Entah kekuatan seperti apa yang dimiliki si Tuan muda arogan. Hanya satu kali tarikan, semua kancing kemeja Naora terlepas dari peraduan. Dan satu tarikan susulan, meluruhkan bungkus si kembar sintal yang bertengger elegan.


Apakah si kembar milik kalian para Ibu juga masih bertengger elegan seperti sebelum menikah, atau bahkan sudah melorot ke bawah? Jangan merasa tak percaya diri dan susah.


Berbanggalah. Dibalik body yang tak lagi indah, ada si buah hati yang bergerak lincah, memamerkan senyuman ceria nan merekah. Itulah salah satu nikmatnya anugerah dari Tuhan setelah menikah.


Oke, balik ke cerita!


Gejolak libido kian menggelora. Pemandangan yang tersaji di depan mata sungguh menggoda. Axton sudah tersiksa oleh hasrat ingin bercinta.


Tubuhnya seketika meremang, seiring dengan batin yang mengerang, karena adik kecilnya sudah menegang. Sepasang puncak imut milik Naora seolah menantang, bibir Axton pun langsung menyambutnya dengan senang.


"Ahh ...." Desa.han merdu tak sengaja terlepas dari bibir mungil Naora, membuat Axton kian menggila. Kendati otak menolak, tapi tidak dengan tubuhnya. Pria tampan itu sangat pintar bermain di dadanya.


Nakal sekali.


Namun, Naora gegas menarik kesadaran diri yang hampir saja terlena. "Jangan Axton!" Naora menahan sebelah tangan besar si suami yang sudah menelusup di dalam celananya. "Aku mohon hentikan."


Axton membalas tatapan Naora dengan mata yang masih berkabut nap.su. "Kenapa? Bukankah ini yang kau mau? Mewujudkan keinginan terakhir kedua orang tuamu yang sudah mati itu. Memiliki anak dari keturunan Sanders."


"Tidak. Aku tidak ingin melakukannya."


"Hentikan!" Naora mencoba menjauhkan tubuh Axton darinya. Tapi masih saja sia-sia. Kedua tubuh mereka bagaikan medan magnet yang saling menarik dan menempel.


"Diamlah! Aku berhak atas tubuhmu, karena aku suamimu!" Sentak Axton. Ia sangat tidak suka akan penolakan. Ditambah lagi rasa ngilu di bagian bawah sudah menuntut akan kepuasan yang tersalurkan.


"Aku tidak ingin anakku kelak kekurangan kasih sayang dan perhatian dari ayahnya karena kau akan menceraikanku."


Perkataan Naora sukses mencubit si ulu hati. Kalimat yang baru saja diterima seolah menggambarkan potret dirinya sendiri. Mengingatkannya akan sikap Edrich selama ini, membuat Axton memilih menyudahi diri.


Si Tuan Muda arogan itu sangat tahu bagaimana rasanya tak disayang. Ia sangat hafal betapa merananya saat tak dapat perhatian. Tentunya dari sang Ayah.


Axton mematikan shower sebelum mengambil jarak dari Naora. Digapainya handuk yang terletak tidak jauh darinya. Gegas dibungkusnya tubuh setengah telanjang itu sebelum ia kembali tergoda.


Naora tampak memalingkan muka, saat mata tak sengaja melihat sesuatu yang menonjol di balik celana suaminya. Sungguh, dia sangat malu dibuatnya.


Si pria pun juga dibuat canggung seketika, karena menyadari akan alasan dari gelagat Naora. Diputarnya tubuh, membelakangi si wanita. Demi menyembunyikan benda keras yang hampir saja merobek kain celananya.


"Segera bersihkan tubuhmu. Akan sangat merepotkan kau sampai sakit," ucap Axton karena melihat tubuh kecil Naora yang sudah menggigil karena kedinginan. Lalu berniat keluar dari kamar mandi, membawa hasrat yang terpaksa ditahan.


"Axton."


Suara gemetar Naora menghentikan ayunan kaki Axton tepat di depan pintu. "Ada apa?"


"Gantilah pakaianmu dengan yang kering sebelum kau kembali ke kamarmu. Di lemari ada beberapa pakaianmu di sana."

__ADS_1


Sedikit memiringkan tubuhnya, sekiranya pandangan dapat menjangkau sosok Naora. Axton melempar mimik muka penuh tanya. Dan ternyata langsung dimengerti oleh si wanita.


"Aku tidak tahu kenapa ada beberapa baju pria di dalam lemarku. Tapi aku yakin kalau baju-baju itu milikmu."


"Hm."


Setelah menanggapi perkataan Naora dengan berupa suara dengungan saja, Axton melenggang pergi, hilang di balik daun pintu.


Andai hubungan kita terjalin sehat, aku akan senang hati menyerahkan jiwa dan ragaku untukmu. Andai kita tidak akan bercerai, tentu aku sangat bersedia melayanimu selayaknya seorang istri yang baik, suamiku.


Keluh hati kecil Naora seraya memandangi punggung lebar Axton hingga tenggelam dimakan daun pintu.


Setelah selesai dengan ritual bersih-bersihnya, Naora keluar dari kamar mandi dalam kondisi tubuh terlihat lebih segar. Namun, langkahnya terhenti bersamaan dengan rasa terkejut yang menyerang. Rupanya, Axton masih berada di kamarnya. Tentunya dengan pakaian yang berbeda.


"Ada apa lagi?" tanya Naora keheranan.


Butuh beberapa menit bagi Naora untuk mendengar suara yang mencelos dari bibir Axton.


"Aku peringatkan kepadamu untuk lebih menjaga sikap kepada pria lain. Jangan permalukanku di depan banyak orang karena kau ketahuan bermain cinta dengan pria lain. Ingat, selama aku belum menceraikanmu, statusmu masih istriku. Tidak ada satu pun pria yang boleh menyentuhmu."


Helaan napas panjang terdengar dari bibir Naora. Merasa lelah dengan Axton yang masih setia dengan kesalah pahamannya.


"Axton, dengarkan aku. Kau itu salah paham. Aku tahu bagaimana seharusnya membawa diri. Aku tidak buta akan adab seorang wanita yang sudah bersuami."


Luruhnya amarah yang tadi sempat menguasai hati, kini membuat Axton lebih bisa mengontrol diri. "Terus siapa pria yang suaranya terdengar saat aku meneleponmu tadi?"


Akhirnya Naora menceritakan semua kejadian tanpa ada satupun yang terlewatkan. Meski, kesalah pahaman sudah terselesaikan, tapi tetap saja ia tidak terima. Kendati tidak ada hubungan spesial di antara Naora dan Nathan, nyatanya ia tetap tidak suka.


"Jangan kau pikir segala amarahku tadi karena cemburu kepada pria itu. Aku hanya tidak ingin kau merusak nama baikku." Axton berkilah. Ia bahkan tak bisa berlama lama membalas tatapan Naora.


"Sadarlah. Bukan aku yang menjadi ancaman akan buruknya nama baikmu, melainkan pernikahan rahasiamu bersama Lana." Naora mengingatkan sekaligus mengungkapkan rasa tidak terimanya.


Axton dibuat terbungkam seketika. Membenarkan perkataan Naora. Namun, masih saja ia berkilah. "Aku tahu apa yang harus dilakukan."


"Iya ... iya. Sekarang kembali ke kamarmu."


"Tidak perlu kau suruh, aku memang akan kembali ke kamarku. Aku tidak ingin Lana kesepian."


Sama, aku juga tidak ingin kesepian. Kamar ini terlalu luas, kadang membuatku takut jika berada di sini sendirian.


Axton tidak tahu, kalau Naora sebenarnya juga butuh teman.


โ˜˜


โ˜˜


โ˜˜


Bersambung~~


Ditergen: Thor kok di bab ini mengatakan seolah tombak sakti Axton mulai terbangun saat bersama Naora. Apakah selama ini dia impoten?Terus apa yang dia lakukan bersama Lana selama ini?

__ADS_1


Thor: Gue percaya lu semua pada pinter2 jika disuruh nebak. Otak kalian itu sebelas dua belas sama otak othornya, radak mesum๐Ÿ˜’


__ADS_2