Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Pertarungan


__ADS_3


"Axton! Awas!"


Axton dan Naora seketika diserang kepanikan saat sebuah kendaraan lebih besar tiba-tiba menabrak bagian kanan badan mobil mereka yang masih melaju membelah hujan deras. Bahkan salah satu kaca jendela sudah retak karena hantaman benda keras.


Brak!


Brak!


"Kyaaa! Axton ...!"


Seolah tak pandang bulu, kendaraan asing itu terus mendempet tunggangan sepasang suami itu hingga keluar jalur dan hampir menabrak sebuah pohon besar. Keduanya kian menegang saat mobil mereka sudah dikepung oleh segerombolan preman berparas sangar.


"Axton ...." Naora ketakutan dan badannya menegang.


"Kau tenanglah, Naora." Axton menenggelamkan tubuh bergetar itu ke dalam pelukannya. Mencoba meluruhkan ketakutan si wanita.


"Sebenarnya mereka siapa, Axton?"


"Aku juga tidak tahu, Naora. Kau tenang ya. Ada aku di sini." Pria itu mengusap punggung bergetar sang istri, disusul sebuah kecupan penenang di kening.


Yaelah, di saat situasi genting kayak gini masih sempat-sempatnya cup cup muah kau itu Ton ....


Oke! Balik ke cerita!


Mata elangnya memindai keadaan di luar mobil dengan perasaan was-was. Ia mempertajam bidikannya guna menelisik bentuk rupa para preman. Namun sial! Suasana sangat gelap. Guyuran air langit pun juga seolah sedang ikut bersekongkol. Hingga pandangannya terhalau. Pria itu kesulitan mengenali muka mereka.


Dok! Dok! Dok!


"Keluar!" bentak salah satu preman berpenutup kepala seraya beberapa kali mengetuk kaca jendela tepat di sebelah Naora dengan tongkat bisbol.


"Cepat keluar!" bentaknya sekali lagi dengan nada suara lebih tinggi. Kesabaran kian terkikis saat targetnya tak kunjung mematuhi.


"Jangan keluar, Axton. Kita tidak pernah tahu apa tujuan motif mereka sebenarnya. Bagaimana nanti kalau mereka menyakitimu? Aku tidak ingin kau terluka lagi," pinta Naora dirundung kecemasan.


"Iya aku tahu, Naora. Aku juga tidak ingin kau terluka."


Tanpa banyak kata, Axton menghidupkan mesin kendaraannya kembali. Kabur adalah pilihan terbaiknya saat ini. Bukan bermaksud ingin menjadi seorang pengecut dan tak bernyali. Ia bisa saja melawan para preman itu karena memiliki basic ilmu bela diri. Namun, ia juga harus pandai menyelami situasi. Sekarang ada wanitanya yang harus dilindungi.


Kalau ada cara yang lebih aman, kenapa tidak? Tidak semua permasalahan harus diselesaikan menggunakan otot, bukan? Tapi sayang ... kali ini Axton memang harus unjuk otot. Karena itulah kemauan si penulis naskah cerita ini. Haha!


"Ah! Sial! Kenapa tidak bisa berjalan?!" umpat Axton karena kesal.


Tanpa pria itu ketahui ternyata salah satu dari para preman tengik itu sudah merusak ke empat ban mobilnya sekaligus.


Brak!

__ADS_1


"Kyaaa! Axton!" Naora kembali memekik saat seorang preman mencoba memecahkan kaca jendela mobil.


"Jangan menjauh dariku Naora!" Axton kian mendekap erat tubuh wanitanya.


"Keluar! Kau harus ikut denganku!" Preman itu mecoba menarik Naora keluar saat berhasil membuka kunci pintu mobil melalui jendela yang sudah dirusak.


"Aahk! Axton!"


"Jauhkan tangan kotormu itu dari dia!" Axton mendekap erat tubuh Naora guna mencegah aksi si preman.


Namun, sepertinya ia harus berusaha lebih keras saat ini. Preman itu berhasil membawa Naora pergi. Axton gegas keluar dari mobil dengan deru amarah di hati. Tidak rela wanitanya disentuh pria lain apa lagi tersakiti. Mengabaikan deras air langit yang mengguyuri, ia melangkah lebar untuk menolong sang istri.


Kecemasan kian merebak saat melihat Naora di seret menuju mobil mereka. Sepintas ada kejanggalan yang dirasa. Para preman tersebut seolah hanya mengincar si wanita. Ia yakin, di balik semua kekacauan ini ada seseorang yang menjadi dalang utama.


Bug!


Bug!


Bug!


Axton langsung melayangkan tiga tendangan sekaligus, hingga seorang preman yang menawan Naora tersungkur tak berdaya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ditarik tubuh si wanita agar berlindung di belakangnya.


"Naora kau kembalilah ke dalam mobil! Berlindung di sana dan telepon seseorang!" titah Axton.


"Berhati-hatilah, Axton. Aku mohon," pintanya sebelum berlari menuju mobil.


"Woi! Wanita! Mau pergi ke mana kau?!"


Sreet!


Bruak!


Kreek!


"Arrrgg!" Seorang preman berkepala botak yang hendak menangkap kembali Naora harus merasakan kesakitan saat Axton menyerangnya lewat belakang lalu memiting tangan dan memutar tubuhnya hingga jatuh.


Tindakan berani Axton rupanya memancing amarah preman yang lainnya. Hingga, perkelahian 1 lawan 4 pun tak terelakan saat itu juga. Pria itu terus meninju, menendang, dan menangkis tanpa jeda. Meskipun belum ada satu pun dari lawan berhasil melukainya, tapi bukan berarti ia tidak kewalahan dalam menghadapi mereka karena kalah jumlah angka.


Sementara itu di celah kelengahan Axton, rupanya satu preman berhasil mendekati Naora.


"Aaahk!"


Bruk!


Wanita itu memekik kesakitan saat preman bertato Doraemon menarik dan melemparnya hingga tersungkur ke tanah. Dengan kepayahan Naora berusaha bangkit dan berniat melarikan diri meski tubuhnya masih terasa lemah.


"Mau kabur ke mana kau?! Hah?!" Si preman bertato Doraemon mencekal tubuh Naora dan hendak menyeretnya kembali ke dalam mobil yang sudah siap mengangkut korban.

__ADS_1


"Lepaskan!" Dengan segenap keberanian, wanita itu memberontak agar terbebas. "Lepaskan aku, bajingan!"


"Melepaskanmu kau bilang?" Si preman tergelak jahat. "Tidak akan!" Ia kian tergelak keras, merasa kemenangan berada di depan mata.


"Kau sangat bau! Apa kau tidak pernah mandi?! Nafasmu juga bau busuk! Menjauhlah dariku kalau tidak ingin aku memuntahkan semua isi perutku ke mukamu yang jelek itu!"


Harga diri si preman bertato doraemon itu sontak merasa direndahkan karena celaan frontal Naora. Baru kali ini ia mendapat target korban yang sangat berani menghinanya.


"Kurang ajar! Beraninya kau menghinaku!" Ia mencengkeram muka kecil Naora dengan kasar. "Arrrggggg! Lepaskan!" Si preman seketika meraung kesakitan saat tangannya menjadi korban keganasan gigitan si wanita.


"Rasakan ini, preman bau!"


Seolah belum puas memberi pelajaran, wanita cantik itu menendang anak burung pipit milik lawan tanpa ampun.


"Aaarggg! Wanita sialan!" Preman itu kembali meraung seperti serigala yang kehilangan telurnya.


Tragis!


By the way, sejak kapan srigala bertelur? Si tukang ketiknya mendadak bingung.


Oke! Kembali ke laptop!


Tindakannya tentu kian menyulutkan amarah si preman. Seraya menahan ngilu pada anak burung pipitnya yang malang, pria itu meraih balok kayu di bawah kakinya lalu melayangkannya ke arah Naora.


"Aaaahhk!"


Brak!


Brak!


Brak!





Bersambung~~


Maaf ya, cuma bisa up seribu kata🙏 Keadaan fisik sedang tak memungkinkan.


Waah ...! Nggak kerasa sudah hari senin lagi nih. Nofi mengharapkan votw dari kalian🤭


Terima kasih ya atas segala dukungan kalian untuk karya ini. Jangan lupa biasakan tinggalkan like dan komen di setiap babnya.


Bye bye. Ketemua besok malam lagi ya...🥰

__ADS_1


Wo ai nimen😘


__ADS_2