Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Ketahuan


__ADS_3


Dok! Dok! Dok!


"Naora keluar sekarang!"


Naora tercekat saat Axton menggedor pintu kamarnya dari luar. Ia sangat yakin, pria itu kian terselubung amarah yang menguar, membuat tubuh wanita itu bergetar. Jujur, ia tengah diserang oleh rasa tegang, cemas, dan takut yang berkoar-koar.


Brak!


Hingga seruan Axton tiba-tiba lenyap, gedoran pada pintu kamar mandi juga tak lagi terdengar. Dari luar, disusul suara bantingan pintu masuk kamar yang menyeruak ke dalam gendang telinga Naora, menarik rasa penasarannya seketika.


"Apa dia sudah pergi dari kamar? Tadi aku mendengar suara bantingan pintu. Sebaiknya aku memeriksanya." Ia memutar punggung, mendaratkan tangan pada handle pintu dan hendak memutarnya. Namun, keraguan tiba-tiba mengurungkan niatnya.


"Tunggu dulu. Jangan-jangan itu hanya sebuah trik licik saja agar aku mengira dia sudah pergi dari kamar dan ketika aku keluar kamar ia kembali menangkapku." Ia merapatkan alat indera pendengarannya ke daun pintu, menyelediki suara-suara pergerakan Axton. Ternyata sepi, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan dari balik pintu.


"Sepertinya ia memang benar-benar sudah pergi. Tapi sebaiknya aku periksa dulu."


Perlahan, ditariknya handle pintu hingga menciptakan sedikit cela. Naora menyembulkan sebagian mukanya dan mengajak mata untuk memindai keadaan di kamarnya.


"Fyuuh! Ternyata dia memang sudah pergi. Syukurlah."


Bagaikan mendapat angin surga, Naora mulai merasa lega. Disandarkan punggung polosnya pada daun pintu yang baru saja ditutup hingga tak menyisakan cela.


"Kau memang gila Naora ...." Ia merutuki dirinya sendiri. "Haiish! Aku sungguh tidak percaya, bagaimana bisa aku bertindak senekat itu, sangat memalukan!" Mukanya memerah, bahkan debaran di dadanya masih terasa.


Jangan dikira, Naora tidak gugup saat menggoda Axton ya, emak-emak. Sumpah demi apapun, tangannya saja masih gemetaran dan berkeringat dingin hingga saat ini. Aha ....


Diangkatnya sebelah telapak tangan yang sempat diajak bermain ke tubuh Axton. "Apa tekstur milik seorang pria memang seperti itu? Terasa hangat, besar, dan sangat keras seperti batang pohon."


Naora menelaah ulang ingatan akan sensasi sentuhan yang masih terasa jelas pada indera perabanya. Entah apa yang dipikirkan, ia mendekatkan tangan ke hidung lalu mengendusnya. "Ee? Harum sekali, apa dia menyemprotkan banyak parfum pada bendanya itu? Ck! Yang benar saja." Ia menggibas udara kosong di depan muka seraya tertawa bodoh.

__ADS_1


Diayun tungkainya menuju cermin toilet yang menempel di dinding. Naora seketika tercengang, setelah memeriksa kembali kissmark di seluruh tubuhnya. "Ya Tuhan ...! Ternyata lebih banyak dari yang aku lihat di cermin kecil tadi."


Wanita berparas bak barbie itu memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Mata diajak menelisik jejak-jejak perbuatan Axton beberapa waktu tadi. Tak lupa menghitung dan mencermati. "Delapan belas, sembilan belas, dua puluh. Astaga ... pria arogan itu sungguh luar biasa gilanya. Dan apa ini? Di ketiakku juga ada dua bercak. Tidak kusangka ternyata dia raja mesum!"


Sementara di sudut rumah lainnya. Axton menyusuri koridor dengan perasaan tak nyaman pada tubuhnya. Denyutan di bawah sungguh menyiksa. Perbuatan nakal Naora sukses mengusik biksu suci yang sudah lama bertapa.


Batinnya terus meraung frutrasi. Seumur hidup, baru kali ini dia diperlakukan seperti ini. Harga diri seorang Axton seakan terperosok ke dalam jurang tak bertepi. Terlebih lagi di hadapan wanita yang selama ini sangat dia benci.


Tangan yang sudah hampir memutar handle pintu kamar, tiba-tiba terhenti. Axton kembali teringat akan perbuatan nakal Naora. Dia mengamati penampilan yang terlihat berantakan dipandang mata.


Gegas ia mengancing kembali kemejanya, menutupi kissmark di tubuhnya. Menghalau pemandangan yang tak boleh tertangkap mata Lana. Bisa-bisa wanita itu akan membombardirnya dengan segudang pertanyaan curiga. Belum lagi ia harus melihat rintihan air mata yang membuatnya tentu tidak akan berdaya.


Aku tidak ingin melihat Lana menangis. Lagian aku juga tidak ingin dibuat tambah pusing di saat milikku masih sangat terasa sesak sekarang.


Di rasa penampilannya sudah terlihat kembali rapi, Axton mendorong daun pintu dengan hati-hati. Seolah tidak ingin menciptakan suara berisik yang mungkin saja bisa mengganggu perjalanan Lana di alam mimpi. Begitulah yang dipikirkan pria itu saat ini.


"Honey ... kau kenapa kau lama sekali tiba di kamar?"


Axton langsung disambut oleh suara Lana di saat tubuhnya tenggelam di balik daun pintu. Ternyata situasinya tidak sesuai dengan yang dipikirkan beberapa detik yang lalu. Berusah bersikap tenang, ia menanggapi keberadaan istrinya itu.


Wanita yang sudah berbalut lingerie super tipis itu tampak menuruni ranjangnya. Berjalan lemah gemulai mendekati Axton, lalu menenggelam diri ke dalam dada bidangnya.


"Kenapa kau lama sekali masuk ke kamar? Padahal aku mendengar suara mobilmu tiba sudah sedari tadi." Suaranya terdengar mendayu-dayu manja.


"Aku tadi pergi ke ruangan sebelah terlebih dahulu. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan terlebih dahulu. Sekarang kau tidurlah."


Lana sedikit berjinjit, mempermudah dirinya untuk mencium bibir suaminya. Tangan juga tidak dibarkan menganggur begitu saja. Rupa-rupanya, wanita itu sedang berhasrat ingin bercinta.


"Honey, malam ini kau harus membantuku. Aku ... sedang menginginkannya. Dan aku juga akan berusaha menyembuhkan sakitmu." Lana berbisik dan merayu.


Herannya, Axton sama sekali tidak merasakan sesuatu yang bergejolak pada dirinya. Bahkan rasa sesak di balik celananya berangsur-angsur sirna. Batin pria itu seketika bertanya-tanya.

__ADS_1


Kenapa rasanya sangat berbeda ketika aku bersama Naora? Dan apa alasannya?


"Maaf Lana, aku ingin segera beristirahat malam ini. Aku sudah sangat lelah," Axton meminta pengertian Lana.


Muka cemberut langsung menghiasi muka berhasrat Lana. Bagaimana tidak kecewa, padahal dia sudah menyiapkan diri sedemikian rupa, seperti berdandan cantik dan juga berpakaian seksi, tapi Axton seolah sama sekali tak tergoda.


Lana mengurai pelukannya, menciptakan jarak dari tubuh gagah di depannya. "Kau membuatku kecewa Axton."


"Kau tidurlah duluan, Lana. Aku akan menyusulmu setelah mandi," tutur Axton, tak menggubris muka masam Lana.


"Baiklah."


Tubuh Lana yang hampir dibawa berpaling tiba-tiba terpaku pada saat mata menangkap sesuatu di leher Axton. Kecurigaan tiba-tiba menyergap seiring dengan ukiran garis-garis di keningnya. "Honey kenapa ada kissmark di lehermu?!"


Mimik suram seketika melingkari paras Lana. Dan di saat itu juga, matanya memerah dan siap menumpahkan air mata. Mungkin sudah firasat, sosok Naora tiba-tiba terbayang di benaknya.


"Apa kau baru saja bermain-main dengan istri mudamu itu?!"





Bersambung~~


Well, bab ini masih akan berlanjut besok ya. Maaf sekali karena Nofi belum bisa ngetik panjang🙏


Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon like. Tinggalkan komen cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣


Vote gratis mingguan juga boleh disumbangkan ke lapak yang masih sangat sepi pembaca ini..

__ADS_1


Sumbangan Gift juga akan Nofi terima dengan senang hati🥰


lop lop you pooolllll😘😘


__ADS_2