
"Permisi Tuan Muda dan Nona, kita sudah sampai," ucap si sopir bernama Herman setelah menghentikan roda mobilnya di halaman luas kediaman Edrich.
Tak kunjung mendapat balasan, Herman kembali memutar tubuhnya ke belakang agar lebih leluasa membangunkan para majikannya yang tengah terlelap itu.
Ia tersenyum hangat melihat pemandangan yang tersaji saat ini. Sepasang anak manusia itu terlihat serasi dan romantis. Tidak seperti biasanya Tuan Axton tertidur di dalam mobil. Dia bahkan membiarkan Nona Naora tidur di pelukannya. Terus terang aku lebih suka Nona Naora sebagai istri Tuan Muda Axton. Dia wanita baik dan penyayang. Mudah sekali berbaur dengan semua pelayan di rumah.
"Tuan Muda, sekarang kita sudah sampai."
Usaha Herman kali ini sepertinya berhasil. Axton terlebih dahulu terbangun. Diedar pandangannya ke sekeliling seiring dengan nyawa yang perlahan memenuhi raga.
Axton menggiring muka ke arah sumber beban yang menimpa tubuhnya. Naora masih terlelap ke dalam pelukannya. Paras cantik terlihat damai itu, membuat ia tak tega untuk membangunkannya.
"Kamu keluarlah terlebih dahulu," titahnya ditujukan kepada Herman.
"Baik, Tuan Muda." Herman patuh dan melakukan apa yang disuruh tuannya.
Hening ....
Suasana di dalam mobil begitu tenang. Sayup-sayup terdengar detak jantung yang berdendang. Dengkuran halus Naora seolah bagaikan alunan musik merdu di bukit gersang.
Sungguh, tindakan Axton saat ini terjadi begitu saja. Apa alasannya, dia pun tak tahu mengapa. Hanya mengikuti bisikan hati nurani yang menyapa.
Pria tampan itu membiarkan si wanita menikmati tidurnya lebih lama. Sebisa mungkin mengurangi pergerakan agar tak mengusik kenyamanannya.
Ah ... sebenarnya untuk apa aku lakukan ini? Harusnya aku menendangnya saja ke luar mobil. Batinnya terus saja menggerutu. Heran dengan dirinya sendiri.
Diliriknya muka Naora melalui ujung matanya. Memindai setiap lekuk cantik alaminya.
Indah ... lagi-lagi si hati menyuarakan kekagumannya tanpa sopan. Harum aroma rambut yang menguar merangsang hasrat untuk menghirup lebih lama dan dalam. Sampai akhirnya, sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Naora.
Untuk beberapa detik, Axton terlena dalam sebuah rasa yang belum pernah ia temui sebelumnya. Namun, hatinya tiba-tiba tersentak saat bayang-bayang Lana berkelebatan di pikiran. Seolah mengingatkan bahwa tak seharusnya bertindak seperti itu. Padahal ... sah-sah saja, 'kan mereka pasangan halal.
Gila! Aku benar-benar gila! Aku hampir saja menghianati Lana.
__ADS_1
Mengelak cepat dari perasaan asing yang hampir membelenggu jiwa, Axton berniat menjauhkan tubuh Naora darinya. Namun, alih-alih terbangun karena terusik, wanita itu malah menggeliat dan kian menyamankan posisinya.
Masih berada di bawah alam sadar, sebelah tangan Naora mulai mengedar, menggerayangi tubuh Axton yang ternyata sudah bergetar.
Sepertinya dia harus kembali mengalami kejadian di mana darah berdesir deras karena libido yang tergugah. Naora tidak tahu sekeras apa usaha Axton menidurkan kembali si ular pitonnya itu. Andai ada itikad baik dari Naora sebagai pertanggung jawabannya, mungkin ia tidak akan segila ini. Begitu batinnya.
Ayolah, mana ada orang yang sadar dengan kelakuannya saat sedang mengigau.
"Lembut sekali ... hmm," racau Naora di dalam tidurnya.
"Sempat-sempatnya ia mengigau di saat seperti ini," gerutunya di sela kepayahannya menelan cairan saliva.
Hembusan napasnya menderu, berpadu dengan degub jantung yang berpacu. Tangan Naora menelusup ke dalam baju. Mencari sesuatu yang dituju.
Axton seketika menengadahkan mukanya ke arah langit-langit mobil, disertai mata yang mengerjap-ngerjap. Rupa-rupanya dia merasa keenakan saat jari-jari lentik Naora memilin lembut biji kecil di dadanya. "Ah ... betina nakal!"
Ingin rasanya ia menghentikan kelakukan Naora. Namun nyatanya, jalan kerja otak tak selaras dengan tubuhnya. Dan malah meleluasakan tangan itu bergerak bebas.
"Ehe, Juve ... kau sangat menggemaskan." Naora kembali meracau tak jelas, tapi Axton bisa menangkapnya.
"Juve? Ck! Kucing yang dia impikan tapi tubuhku yang dibuat mainan."
Rasanya ingin sekali aku memberi pelajaran pada tangan nakal ini. Satu gigitan sepertinya sudah cukup membuatnya jera. Axton tampak geram bercampur gemas.
Ia mengalihkan pandangan ke muka lelap Naora. Kembali memindai seksama setiap lekuk indah yang terpahat di sana. Sebagai seorang pria dewasa, tentu saja bisa mengundang rasa ketertarikan yang tak biasa.
Disibaknya anak-anak rambut Naora yang menghalangi pandangan. Menggiring netra untuk bermuara pada bibir mungilnya. Bergerak pelan, kepala Axton mulai berpindah. Hingga ruang kosong di antara kedua muka mereka kian terpangkas sempurna.
Axton hampir saja dibuat mabuk kepayang, saat satu sesapan lembut yang diberikan kepada bibir ranum Naora menciptakan sebuah sensasi nikmat luar biasa.
Dasar kerbau. Dia bahkan tidak terbangun saat kucium.
Merasa kurang dan ingin lagi dan lagi, ia kembali melakukan sesapan ke-dua, ke-tiga, dan ke-empat. Disergap oleh keterbuaian, ia hampir saja menuruti otak kotornya untuk menjamah sepasang buah peach yang bulat sempurna milik Naora.
Namun, gegas Axton mengurungkan niat cabulnya itu karena Noara mulai terusik dan terbangun. Secepat kilat, ia memalingkan mukanya ke arah jendela mobil seraya bertopang dagu. Berpura-pura tenang seolah tidak ada sesuatu yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Menyembunyikan degub jantung yang bertalu dengan muka super arogan. Padahal ... si Axton gila-gilaan sedang menutupi ketegangannya sekarang. Dia bagaikan kucing yang hampir saja tertangkap basah mencuri ikan.
Hampir saja ....
"Hmm ... apa kita sudah sampai?"
Dengan nyawa masih belum terisi penuh, Naora sedikit menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Sudah sampai sedari tadi. Sekarang menjauhlah dari tubuhku. Kau sangat berat."
Naora mencoba mencerna ucapan Axton dan memperhatikan posisinya saat ini. Ia seketika terkesiap seiring dengan kesadaran yang langsung terisi penuh. Ia langsung menjauh dari tubuh Axton dan mengambil posisi duduk yang benar.
Apa selama tertidur aku memeluknya? Hah! sangat memalukan!
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" Naora mengalihkan rasa malunya.
"Kau tidur seperti orang mati, susah sekali dibangunkan. Dasar kerbau."
Naora mencebik. "Seharusnya kau menggoyang-goyangkan tubuhku biar cepat bangun."
"Sudah kulakukan, tapi sepertinya kau keenakan tidur di pelukanku." Axton berdusta.
Naora tidak tahu saja kalau suami arogannya itu baru saja mencuri kesempatan untuk bermain dengan bibirnya waktu ia tertidur.
Dia sepertinya benar-benar tidak sadar akan tindakkanku tadi. Axton merasa lega di dalam hati.
"Ee, bibirku?" Naora baru menyadari bahwa ada yang aneh dengan bibirnya. "Kenapa basah? Apa aku ngiler saat tidur?"
Diam-diam Axton terlihat salah tingkah gara-gara ucapan Naora yang terkesan polos dan memang tidak tahu apa-apa itu. Ia sangat tahu, bibir Naora basah karena ulah nakalnya.
"Kau sangat menjijikkan, Naora!"
☘
☘
__ADS_1
☘
Bersambung~~