
Hari demi hari telah terlewati begitu saja. Axton masih menjalani lakonnya sebagai pria beristri dua. Namun, suasana yang tercipta sudah tak lagi sama. Meskipun ia masih menyempatkan diri tidur di kamar Lana, tapi sofa menjadi tempat peraduannya.
Semua penilaian baik tentang istri pertamanya itu perlahan menghilang. Mengingat akan permintaan terakhir Lana perihal apartemen dan mobil, membuat kedekatan di antara mereka merenggang.
Bukan perihal jumlah nominal yang dipermasalahkan, melainkan cara sikap Lana yang selalu melibatkan uang di dalam setiap penyelesaian. Dan hal itu membuatnya semakin yakin, bahwa posisinya sebagai suami tidaklah lebih penting dari kekayaan.
Di kamar Lana, Axton terlihat sibuk dengan komputer lipat di pangkuannya. Andai, Naora tidak mengingatkannya untuk tetap bersikap adil sebagai pelaku poligami, ia lebih memilih tidur bersamanya.
Jeritan nada dering ponsel sontak menghentikan pergerakan jari-jari besarnya. Gegas diraup benda pipih tersebut ketika tahu nama Wildan menyala terang di sana.
"Halo? Bagaimana, apa pelakunya sudah tertangkap?" Tanya Axton langsung pada titik poin yang ternyata sudah ditunggu-tunggu.
Tadi siang dia memang mendapat kabar bahwa pihak penyidik sudah bisa melacak keberadaan si preman bertato.
"Petugas kepolisian tadi sempat berhasil meringkusnya setelah melesatkan satu timah panas di kakinya. Namun, sayangnya dia berhasil kabur, Tuan," lapor Wildan dari balik telepon.
Tidak puas dengan kabar yang diterima, Axton langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
"Honey, apakah pelakunya sudah tertangkap?" Lana bertanya dengan mimik penasaran membingkai wajahnya. Kalau dilihat, gelagat wanita itu terkesan santai seolah tidak ada yang perlu ditakutkan. Tapi siapa yang menduga, hatinya sedang harap-harap cemas selama beberapa hari ini.
"Dia sudah tertangkap," Axton menjeda kalimatnya untuk mengamati perubahan reaksi Lana yang terlihat terkejut. "Tapi kabur," sambungnya kembali. Dan di saat itu pula pria berparas dingin itu kembali menyadari helaan napas samar-samar si wanita seolah merasa lega.
Dia mencurigakan. Batin Axton.
"Baru kali ini, kau ingin tahu tentang pengembangan kasus itu," ucap Axton.
Pria itu lalu melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Sementara Lana tak berniat memberi tanggapan akan kalimat sindirian suaminya.
Bagaimana dia bisa memberi tanggapan di saat kebingungan mencari jawaban? Otaknya yang tumpul seolah kian mengendap dalam kebodohan. Dari pada salah bicara lebih baik mengalihkan pembicaraan. Itulah cara teraman.
"Honey, aku tidak bisa tidur. Bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu itu dan datang kemari?" Lana yang sedari tadi sudah mengambil posisi di atas ranjang tampak merajuk. Pasalnya si pria seolah menganggapnya makhluk tak kasat mata.
"Aku masih sibuk, Lana," jawab Axton tanpa mengalihkan atensi dari layar di depannya.
"Kalau sudah selesai temani aku tidur ya di sini ya? Jangan tidur di sofa lagi."
Axton bergeming. Suasana kembali hening. Hanya suara ketukan jari pada keyboard yang terdengar bising.
"Honey, kenapa kau diam saja sih?!" Lana kian menekuk muka.
"Apa kau sudah membeli apartemennya?" Axton mengalihkan topik.
"Aku masih menundanya, tepatnya aku masih bingung mau membeli apartemen dengan model yang seperti apa. Hmm ... mungkin aku akan mengambil apartemen di kawasan elit tengah kota." Lana seketika terlihat antusias dan hal itu membuat Axton tersenyum jengah di dalam hati.
"Jangan menundanya terlalu lama, dari pada menyesal nantinya," tutur si pria. Sungguh, mimik mukanya saat ini sulit terbaca.
Sesaat, Axton memindahkan perhatiannya ke penampilan Lana yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di balik kain baju tidur menerawang. Dia tahu, wanita itu sedang memancingnya untuk bermain-main di atas ranjang.
"Apa kau belum juga datang bulan?" selidiknya.
"Aku belum datang bulan. Maka dari itu datanglah kemari, kita bersenang-senang," goda Lana, sayangnya Axton sama sekali tidak tergiur.
"Aku tidak bisa, Lana."
__ADS_1
Lihat saja, dalam hitungan detik kau akan berubah pikiran, Axton.
Dan benar saja, baru beberapa saat yang lalu batin Lana berseru penuh percaya diri, kini Axton sudah menunjukkan gelagat gelisah. Tubuhnya mendadak terasa panas tersulut gairah. Hormon testosteron seolah berpacu di dalam darah.
Bagus! Obatnya sudah bereaksi. Malam ini akan aku buktikan bahwa tubuhku ini lebih menyandukan daripada wanita jallang itu.
Dilirik gelas berisi air yang terletak di atas meja. Axton curiga bahwa cairan bening yang beberapa saat sempat teguk itu adalah sumber masalahnya.
"Honey ... aku akan menyenangkanmu malam ini."
Entah sejak kapan, Lana sudah berada di pangkuan Axton dengan liyukan tubuh yang menggoda. Tangannya merayap ke bawah hingga benda keras itu membuatnya terkesima.
Aku tidak menyangka kalau dia benar-benar sudah menjadi seorang pria normal. Baiklah, malam ini aku harus bisa membuatnya bercinta denganku agar anak yang kukandung diakuinya.
"Apa yang kau lakukan, Lana?"
Suara Axton terdengar parau selaras dengan tubuh yang kian dikuasai gairah.
"Aku ingin bercinta denganmu, Honey." Lana bersuara manja.
Wanita yang masih meliyuk-liyukkan tubuhnya bak penari ular kobra itu berniat menyambar bibir Axton, tapi sayangnya gagal. Karena pria itu menghempas wajahnya ke samping.
"Apa yang kau masukkan ke dalam minumanku?!" Axton tampak mati-matian manahan hasrat, meski tubuhnya sudah terasa lemas karena tuntutan gejolak libido.
"Aku hanya memasukkan sedikit obat perangsang, Honey."
"Sialan!"
"Aahk! Sakit! Kenapa kau lakukan itu kepadaku?!"
"Kau sangat lancang, Lana!" hardik pria itu sembari berupaya membawa tubuhnya berdiri.
"Honey, aku ini istrimu! Jadi tidak ada yang salah jika aku melakukan itu. Aku berhak mendapatkan nafkah batin!" Lana melontarkan sebuah protes diiringi derai air mata yang sudah membasahi pipi.
"Kau mau ke mana? Tetap di sini." Wanita itu meliliti sebelah kaki Axton. Ia berniat menghalangi pria itu pergi dari kamar.
"Lepaskan, Lana. Aku tidak bisa melakukannya denganmu," tegas Axton.
"Kenapa?! Aku tahu kau sudah sembuh, Honey. Jadi apa ada alasan lain hingga kau tidak bisa melakukannya denganku?"
"Karena aku tidak bisa bercinta dengan wanita yang tidak aku cintai."
"Jadi kau tidak mencintaiku?" Lana mendadak lemas seiring dengan lilitan tangannya yang mengendur.
Pengakuan siaminya bagaikan angin badai yang mengikis semua rasa percaya dirinya selama ini. Mungkin ada kata-kata bijak yang mengatakan 'Badai pasti berlalu', sayangnya bagi Lana itu tidak berlaku.
Meskipun aku menikahinya karena harta, tapi hatiku juga sakit dan tidak bisa terima ketika tahu kalau Axton tidak mencintaiku.
"Kau tidak perlu terkejut, Lana. Karena sebenarnya dari awal hingga saat ini di antara kita tidak pernah ada cinta. Perasaanku kepadamu hanya sebatas kasihan. Dan kau hanya mencintai hartaku."
Axton masih menyempatkan diri untuk mengucapkan beberapa patah kata sebelum benar-benar meninggalkan Lana.
…
Naora tersentak saat Axton membuka pintu kamarnya dengan kasar. Pria itu berjalan sempoyongan mendekatinya dengan perasaan gusar. Kuasa gairah pada tubuhnya kian melebar.
__ADS_1
"Axton, kau kenapa? Apa yang terjadi deng-- hmp!" Kalimat Naora langsung terputus saat Axton tiba-tiba menyambar bibirnya.
Selang beberapa saat, pria itu melepas pagutan bibirnya dan membawa mata berkabut gairahnya menatap Naora dengan lekat. "Naora, kau harus membantuku. Tubuhku terasa sangat tidak nyaman." Ia mendorong tubuh istrinya ke ranjang lalu menindihnya.
"Ahk! Axton kau kenapa sih?" Wanita itu tampak belum bisa mencerna situasi.
"Maaf, jika kali ini aku sedikit kasar, Naora." Ia kembali mellumat benda kenyal ranum di bawahnya seiring tangan merayap nakal ke mana-mana hingga kain pelapis pada tubuh Naora sudah berserakan di lantai.
"Axton, tenanglah. Jangan kasar. Ahk ...! Hmm." Tubuhnya seketika terguncang saat Axton memasukinya tanpa aba-aba. Pria itu seolah sangat kesulitan mengontrol dirinya.
"Naora ... aku mencintaimu," racau Axton merasakan kenikmatan.
"Pelan sedikit, Axton."
…
"Argg ...! Lagi-lagi aku gagal!"
Setelah Axton meninggalkan kamarnya, Lana mengendap-ngendap pergi ke tempat Stefan. Baginya, pria itu adalah tempat terbaik untuk dijadikan pelampiasan.
"Ssstt! Tenanglah, Lana. Jangan membuat keributan. Bisa mengundang kecurigaan orang. Bagaimana jadinya jika ada yang tahu kau bersamaku sekarang?" Stefan mencoba menenangkan wanita yang hampir saja menggila kalau saja ia tidak gegas bertindak.
Dada terilihat naik turun karena masih dirajai amarah. Lana menatap suaminya itu dengan sorot mata penuh makna. "Kau harus mau melakukanya untukku, Stefan. Mengeksekusi rencana yang sudah aku buat beberapa hari yang lalu."
"Aku tidak bisa! Kau jangan gila, Lana! Rencanamu itu terlalu berbahaya," tolak pria itu tanpa berpikir dua kali.
"Ya sudah, lebih baik aku menggugurkan janin di dalam perutku ini."
"Jangan lakukan itu! Jangan kau sakiti calon anakku." Stefan yang semula keukuh menolak permintaan Lana seketika tak berkutik karena ancaman yang diterima.
Menyeringai puas, Lana tampak senang meski amarah dan kecewa masih bergemuruh di dada. Ia mendekati Stefan lalu memeluknya. Tidak lupa memasang mimik sok lemah di muka.
"Aku tahu kau tidak akan bisa menolak keinginanku, Stefan.
☘
☘
☘
Bersambung~~
Maaf ya, karena membuat para readers sudah nggak sabar karena kebusukan Lana tidak segera terbongkar. Oleh karena itu, sekali lagi Nofi meminta kalian untuk ....
Menimbun lebih banyak lagi kesabaran kalian. Haha ...! peace✌
Mohon dimaklumi ya, karena Nofi memang harus menyelesaikan satu persatu konflik di dalam cerita. Dan nggak bisa langsung dselesaikan semuanya sekaligus. Nanti jatuhnya terkesan terburu-buru.
Andai konfliknya cuma seputar rumah tangga antara Axton, Naora, Dan Lana, pasti ini cerita dah tamat. Tapi kenyataannya ada konflik lain bersama Edrich dan masa lalu Axton. Jadi harus pelan-pelan.
Terima kasih ya atas segala dukungan kalian🥰
Berhubung sudah pukul 00:30? Nofi mau tidur dlu ya.
Wan an😘
__ADS_1