Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Maaf


__ADS_3


Naora berdiri dari duduknya, berjalan mendekati sesosok pria dengan binar bahagia. "Daddy ... kau datang juga." Bingkai netra sudah kembali dibasahi oleh linangan haru.


Gurat dingin menghiasi paras tampan pria yang tak lagi muda itu. Tiada garis senyuman ramah yang menyambut, sikapnya terlihat kaku. Namun, sorot matanya seolah menyiratkan sesuatu.


"Bukankah ini maumu? Meminta Daddy untuk menjenguk bocah berandalan itu." Pria itu berjalan melewati Naora, mendekati Axton yang sedari tadi masih terdiam tanpa kata.


"Bagaimana keadaan Daddy?" tanya Axton menanggapi sorot mata dingin sang Daddy.


"Apa kau sedang menyindirku? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," balas Edrich.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, Dad." Axton merasa tidak enak hati.


Kedua pria sedarah daging itu terdiam sesaat. Hingga suara lembut Naora memecahkan keheningan.


"Aku akan keluar sebentar ya, kalian berbincanglah dengan nyaman."


"Naora."


Wanita itu terperangah saat kedua pria itu memanggilnya secara bersamaan. Axton dan Edrich pun tampak saling melempar lirikan. Atmosfer ruangan seketika berselimut kecanggungan.


"Iya, ada apa?" tanya Naora keheranan seraya menggiring bola matanya ke arah Axton dan Edrich secara bergantian.


"Jangan ke mana-mana."


Sekali lagi, Naora dibuat terperangah untuk kesekian kalinya. Bahkan ia sampai mengulum bibir untuk menahan tawa. Ekspresi kedua pria itu terlihat sangat lucu di matanya. Pemandangan yang tersuguhkan saat ini sungguh sangat langka.


"Waah ... ternyata kalian bisa sangat kompak ya," ledek Naora secara halus. Ia berjalan mendekati Axton lalu duduk di bibir ranjang. "Ya sudah, aku tidak akan ke mana-mana," imbuhnya lagi.


Naora akhirnya memilih mengatup bibir dan tidak bersuara. Seolah memberi kesempatan bagi Edrich untuk berbicara. Ia sangat tahu, ayah angkat sekaligus mertuanya itu ingin melepaskan beberapa kata. Kendati masih tersangkut di ujung lidahnya.


"Daddy, ini sudah malam. Seharusnya Daddy berada di rumah untuk beristirahat," ujar Axton mendahului Edrich yang hampir mengeluarkan suara.


"Apa kau baru saja mengusirku?"

__ADS_1


"Bukan seperti itu maksudku, Dad."


Naora yang mengamati interaksi di antara kedua pria itu serasa ingin tepuk jidat. Dia baru menyadari bahwa sifat keras Axton diturun dari Edrich. Namun, ia sangat percaya bahwa masih ada sisi kelembutan pada diri mereka.


Detak jarum jam mengisi suasana yang kembali hening. Hingga Axton dibuat tak percaya saat satu kata tegas yang terdengar dari bibir sang Daddy.


"Maaf."


Ucapan Edrich sangat tidak selaras dengan garis-garis di wajah. Bukankah ungkapan kata maaf harus diucapkan dengan ekspresi menyesal karena merasa bersalah? Namun, kenyataannya dia malah menunjukkan muka super pongah.


Axton bergeming, mencoba mencerna perkataan sang Daddy. Sementara Naora tampak beberapa kali menghela napas karena sikap si ayah angkatnya yang tak jauh dari kata gengsi.


Dasar Edrich!


"Maaf, karena sudah membencimu." Pria yang masih tampan meski sudah menginjak usia kepala angka lima itu mengulangi ucapan maafnya dengan jelas.


Sebuah denyutan tiba-tiba menekan dalam dadanya. Di balik bingkai netra tajamnya tersirat akan keharuan yang luar biasa. Ingin rasanya ia menumpahkan air mata bahagia, tapi rasa malu seolah mencekal niatnya. Jadi, ia memilih menundukkan kepala.


"Axton juga minta maaf, karena sudah menjadi penyebab kematian ibu," ucapnya penuh sesal.


Selama ini, pria tampan bermata elang itu memang terus menyalahkan dirinya atas insiden kematian sang ibu. Kendati ia ingat bahwa tiada niat untuk menyelakai waktu itu. Namun, ulah para bibir jahat seolah memaksanya untuk menelan bulat-bulat sebutan 'pembunuh' hingga tertaman dan berakar di dalam kalbu.


Axton seketika mengangkat mukanya, memindai sorot mata Edrich, mencari kesungguhan yang tersirat di dalam sana.


"Apakah Daddy bersungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan?" Ia mencoba bertanya untuk meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja di dengar itu nyata, bukan sekedar halusinasi semata.


Pria muda itu sontak menoleh ke arah Allesya saat sentuhan lembut di tangan tiba-tiba dirasa. Tatapan wanita itu seolah meyakinkannya, bahwa apa yang didengar memanglah nyata.


"Kenapa kau masih bertanya padahal kau sangat tahu kalau daddymu ini tidak suka mengulang-ulang perkataan?" Ucapan Edrich mungkin terkesan dingin, tapi Axton menilainya dengan sudut pandang yang berbeda.


'Daddymu'? Apa aku tidak salah mendengar? Jika ia berkata seperti itu, apakah berarti aku sudah diakui kembali sebagai putranya?


Antara senang dan tak percaya, batin Axton seakan ingin berteriak saat itu juga. Naora bahkan merasakan remasan lebih kuat di tangannya. Dan ia tahu bahwa itu adalah sebuah reaksi dari luapan perasaan si pria.


"Kau jangan senang dulu. Aku bisa menerimamu kembali, tapi bukan berarti aku bisa menerima keberadaan istri pertamamu di keluarga Sanders. Dan itu akan tetap menjadi ladang kecewaku kepadamu selama wanita murahan itu masih menjadi istrimu." Edrich berkata secara jelas dan tegas.

__ADS_1


Axton termenung seketika. Rupanya kelegaan belum bisa sepenuhnya ia terima. Masih ada sosok Lana yang harus dia jaga.


Kenapa aku sampai melupakan keberadaan Lana?


Di saat ia sudah mulai merasa senang karena hubungannya dengan sang Daddy menunjukkan sebuah harapan, sosok istri pertamanya justru menjadi duri. Tidak dapat dipungkiri, dilema tengah menggerogoti hati.


"Daddy, bisakah tidak melibatkan Lana kali ini? Mengenai urusan di dalam rumah tangga, tolong beri kepercayaan kepada kami untuk menjalaninya." Naora mencoba menengahi. Ia sangat tahu kalau Axton sedang gamang saat ini.


"Terserah kau saja, Naora."


Edrich melirik ke arah penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya. Tanpa sepatah kata susulan, ia memutar tumit dan berniat meninggalkan mereka. Sesaat langkahnya terjeda saat daun pintu sudah sedikit terbuka. Diputar lehernya ke arah Axton, putra satu-satunya.


"Aku akan menepati janjiku kepadamu yang sampai sekarang belum sempat aku tepati," ucap Edrich.


"Janji?" Axton langsung memasang muka penuh tanya. "Janji apa, Dad?"


"Memancing di tengah laut."


Setelah menyampaikan kalimat terkahir, Edrich langsung pergi begitu saja, meninggalkan Axton dan Naora.


"Axton ... kau kenapa?" Naora mendadak cemas kala Axton tampak menekan dada dengan ringisan di muka.


"Kyaaa! Axton?!"


"Ssstt! Jangan teriak, Naora."





Bersambung~~


Maaf ya, kali ini cuma bisa up segini🙏 Badan bener-bener tidak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


Terima kasih atas semua dukungan kalian untuk karyaku ini..🥰


lop yuu..


__ADS_2