Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Mahkota Yang Terenggut


__ADS_3


Tubuh gagah Nathan terhuyung ke belakang saat Jovana mendorong kuat pada bagian dadanya. Dipindai ekspresi wanita itu yang mulai menunjukkan gurat-gurat tidak suka.


"Aku memang berterima kasih karena kau sudah menolongku. Namun, bukan berarti kau bisa mengendalikanku sesuka hatimu. Dan perihal mengganti uang kepada keluargaku sebaiknya kau urungkan. Aku tidak ingin memiliki hutang budi besar kepadamu." Jovana menghela napas panjang seolah tengah melepaskan banyak beban yang menyesakkan dada. "Sebaiknya aku pergi sekarang. Semoga kita tidak akan bertemu lagi."


"Jovana, tunggu dulu. Kau harus menjelaskan semuanya." Nathan menarik tangan si wanita guna mencegahnya pergi. Rasanya sangat tidak rela jika Jovana berharap tiada lagi pertemuan di antara mereka.


Ekspresi jengah langsung menghiasi muka. Terlihat jelas jika Jovana memang tidak ingin berlama-lama di sana. "Apa yang harus ku jelaskan?"


"Kenapa kau membenciku?" tanya Nathan langsung pada inti pokoknya.


"Siapa yang membencimu? Kau jangan kepedean!"


"Aku yakin penilaianku dari semenjak kita bertemu tidaklah salah. Kau memang membenciku. Terlihat jelas dari caramu bersikap kepadaku. Katakanlah sesuatu, mungkin aku melupakan hal penting yang harusnya kuingat."


"Sudahlah, lupakan."


"Apa yang harus aku lupakan sementara aku tidak mengingat apa-apa?"


"Hei! Kau mau apa?! Lepaskan! Kau sangat kurang ajar!" Jovana berseru saat Nathan menariknya menuju ke mobil yang terpakir tidak jauh dari tempat mereka berpijak.


Jovana berniat menerapkan kembali kemampuan ilmu bela dirinya dengan meninju muka Nathan, tapi gagal. Pria itu rupanya bergerak lebih gesit dengan menangkap serangan lalu mengunci tangannya.


"Bersikaplah sedikit lembut, Jovana. Kau itu wanita. Apa kau tidak memikirkan bahwa tindakan brutalmu ini bisa membuat orang lain cidera?"


"Aku hanya ingin membela diri karena posisiku terancam!"


"Aku tidak ada niat berbuat jahat kepadamu, kenapa kau merasa terancam? Tolong ikutlah denganku, aku benar-benar ingin berbicara kepadamu." Tanpa persetujuan terlebih dahulu Nathan membawa Jovana masuk ke mobil.


"Apa sih mau mu?!" Kalah kuat Jovana akhirnya pasrah juga. Ia memasang ekspresi cemberut dengan melipat kedua tangan di depan dada.


Nathan terlihat mengulum senyum mengamati tingkah Jovana saat ini. Kalau seperti ini, ia sangat menggemaskan. Bahkan sekarang aku tidak melihat vibes tomboynya.


Nathan memandang lekat wajah si wanita seiring dengan kekaguman yang merayap di hati. Memang ia tak lagi menampik akan rasa indah yang mulai bersemi.


"Jovana, apa kau tahu rasanya dibenci seseorang tanpa tahu alasannya? Itu sangat tidak mengenakan."


Bayangan masa lalu tiba-tiba kembali terkenang, menciptakan denyutan di dada yang menyisakan perih. Tak ingin raut sendu terbaca oleh Nathan, ia melempar muka ke luar kaca jendela.


Sadar akan perubahan mimik Jovana, Nathan meraih tangan wanita itu. "Jovana, katakanlah," pintanya dengan suara lembut.

__ADS_1


Dihirup udara sebanyak mungkin hingga rongga dada terasa penuh. Jovana seolah tengah menyiapkan diri untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri.


"Kau bahkan tidak ingat jika aku ini teman sekelasmu waktu masih sekolah di bangku SMA. Mana mungkin kau juga akan mengingat kejadian di malam itu?" ungkapnya tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan luar jendela. Ia masih bertahan menahan sesak di dada.


Tanda tanya besar seketika mengapung di atas kepala. Kerutan di antara pangkal kedua alis sebagai tanda otaknya sedang mencerna. Ditarik kedua bahu Jovana agar berhadapan dengannya.


"Kau Jovana Sandrea, si murid baru?" Nathan rupanya mulai mengingat, tapi Jovana malah tersenyum getir. Hal itu tentu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Terus kejadian apa yang kau maksud di malam itu? Apa yang sudah aku lakukan kepadamu? Apa aku menyakitimu?" Pria itu kian membrondong si wanita dengan serentetan pertanyaan.


Ada setitik keharuan di hati saat melihat sikap Nathan yang terkesan menaruh perhatian kepadanya. Akan tetapi rasa itu tidak bertahan lama. Kepiluan seolah membuat ia tak mampu menegakkan kepala. Jovana tertunduk seiring dengan cairan air mata meluncur dari telaga.


Sakit yang dirasa Jovana seolah menjalar di hati Nathan. Hanya melihat buliran air mata si wanita, pria itu merasakan nyeri di dada karena serangan denyutan.


"Jovana ... aku mohon katakan apa yang sudah aku lakukan kepadamu?" Ia menarik pelan wajah bermendung kelabu itu lalu menyeka lembut linangan air mata yang membasahi pipinya.


"Waktu itu, tepatnya di malam hari perayaan ulang tahun teman satu kelas kita, kau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan, Nathan."


Nathan tampak terkejut meski hatinya masih bertanya-tanya. Akhirnya ia memilih menyimak Jovana yang mulai bercerita.


Sepuluh tahun yang lalu ....


Hingar bingar perayaan pesta sweet seveteen di sebuah vila berlangsung meriah. Tamu undangan yang terdiri dari para anak remaja itu tampak menikmati semua sajian acara mewah.


Nathan Alexanders. Ya Tuhan ... aku sangat menyukainya. Hanya dengan melihatnya dari jauh saja jantungku sudah berdebar. Haruskah aku mengungkapkan cintaku kepadanya hari ini? Ah ... tapi aku terlalu pengecut untuk melakukannya.


Deburan perasaan cinta terus saja membasahi dinding hati. Namun, si gadis hanya bisa mengulum rasa itu lalu tersakiti. Mengingat sang pujaan barasal dari kalangan strata tinggi. Tidak seperti dia yang dari keluarga biasa bahkan tinggal bersama keluarga tiri.


Gadis itu adalah Jovana. Ia kian memusatkan perhatiannya saat Nathan tampak berbincang dan melempar senyum kepada seorang gadis yang baru saja menghampiri. Dari jauh juga terlihat pria itu menerima segelas minuman lalu meneguknya.


Ia langsung menegakkan punggung saat melihat Nathan dan remaja perempuan itu pergi meninggalkan pesta. Dorongan penasaran seolah menyokong niat untuk mencari tahu dengan segera. Membawa perasaan cemburu ia melangkah cepat mengikuti mereka.


Dalam aksi menguntitnya, Jovana bisa menyadari akan gelagat aneh pada diri Nathan. Ia juga mulai curiga pada orang yang membawa pria itu.


Mau dibawa ke mana dia? Terus itu Nathan kenapa? Dia terlihat lemas. Apa orang itu hendak berbuat jahat? Tidak! Itu tidak boleh terjadi.


Saat ini hanya satu tujuan di dalam pikirannya, yaitu segera menghampiri Nathan yang sudah dibawa masuk ke salah satu kamar bangunan vila. Memastikan si raja hatinya itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Kau mau ngapain?" tanya Jovana kepada seorang gadis yang membawa Nathan tadi.


Bagaikan seorang maling yang kepergok warga, gadis itu tampak gelagapan dan tidak langsung berkata. Tentu saja sikapnya itu menumbuhkan kecurigaan pada diri Jovana.

__ADS_1


"Dia kenapa?" tanyanya kembali. Ia kian dibuat khawatir saat menyaksikan Nathan yang tampak tersiksa.


Sialan! Rencanaku untuk memiliki Nathan malam ini jadi gagal total gara-gara perempuan ini! Haaah! Dia sangat mengganggu! Tapi sebaiknya aku pergi saja sekarang sebelum ia curiga.


"Hei! Kau mau ke mana?!" teriak Jovana saat menyadari orang yang membawa Nathan tadi kabur begitu saja tanpa memberi kejelasan terlebih dahulu.


"Jovana ... kau Jovana 'kan?"


Merasa namanya dipanggil, gadis itu seketika mengalihkan perhatiannya kepada Nathan. Tanpa ada pikiran buruk apapun, ia mendekati pria itu yang sedang terbaring di peraduan.


"Nathan, kau kenapa?" suara lembut Jovana terkesan sangat cemas.


"Jovana, bantu aku. Aku sangat tersiksa."


"Bagaimana caraku membantumu? Aahkk! Nathan! Apa yang kau lakukan?! Tidak ...! Jangan Nathan!"


Nathan seolah kehilangan kendali. Obat asing yang merembet ke seluruh tubuh sudah menguasai diri. Yang ia butuhkan hanya sebuah wadah pelepasan hasratnya saat ini.


Jovana terus memberontak saat Nathan mencumbunya dengan brutal. Pria itu benar-benar sudah kehilangan akal. Seakan tuli dengan teriakan si wanita, ia membiarkan hasrat mengukungnya tanpa sesal.


"Aahk! Sakit ...!" Jovana memekik histeris saat benda asing menyambangi dunia kecilnya tanpa permisi.


Rusak sudah mahkota harga dirinya yang selama ini ia jaga. Pasrah dan tak berdaya, Jovana hanya bisa berderai air mata. Ia tidak menyangka, kehormatannya direnggut oleh orang yang dicinta.


"Jovana ...," racau Nathan di sela gerakan tubuh beriramanya.


"Aku membencimu, Nathan!"





Bersambung~~


Sambung besok lagi ya ... udah dini hari nih.


Nofi pokoknya tidak lupa berterima kasih atas segala dukungan kalian🥰


Sehat selalu ya para pembaca setia🥰

__ADS_1


lop yuuu😘❤❤


__ADS_2