
Masih di malam yang sama, dessahan kenikmatan menggema ke seluruh ruang kamar hotel mewah berbintang. Kegiatan panas tengah berlangsung diiringi decitan ranjang bergoyang. Hingga erangan terdengar bersamaan dengan tubuh yang menegang.
Sepasang anak manusia itu lantas mencabut diri masing-masing. Mereka meraup udara sebanyak-banyaknya.
"Menjauhlah, aku sangat lelah." Si wanita sedikit memberi dorongan saat si pria hendak merengkuhnya.
Pria berbadan tegap itu menghela napas panjang, mencoba memaklumi sifat ketus si istri. Ia pun menjauh lalu berniat ke kamar mandi. Namun, baru saja kaki berpijak di lantai, jeritan ponsel membuat telinganya geli.
Sementara si wanita langsung menggiring matanya. Ia memberi atensi penuh kepada gerak-gerik si pria. Menaruh harapan akan sebuah kabar gembira.
Diraih benda pipih yang terus bercahaya terang itu dari meja. Sebuah nama di layar sontak memenuhi ruang mata. Tidak ingin lama-lama, ia langsung membungkam jeritan ponsel tersebut dengan satu gesekan ibu jarinya. Kemudian menempelkannya ke telinga.
"Bagaimana?"
Mengerti dengan apa yang akan dibahas ia langsung bertanya ke titik poinnya. Raut tak terbaca seketika melingkari wajah setelah mendengar laporan dari seseorang di seberang panggilan teleponnya. Benda pipih yang semula masih tergenggam diletakkannya kembali di atas meja.
"Apakah mereka mengerjakan tugasnya dengan baik?" tanya si wanita dengan mimik sarat akan sebuah tuntutan jawaban.
"Gagal," jawabnya singkat seolah tak terlalu mengambil pusing tentang rencananya yang gagal.
Namun, hal itu berbanding terbalik dengan reaksi si wanita yang langsung tampak marah.
"Kenapa bisa gagal?!"
"Para berandalan itu sempat kewalahan melawan Axton, dan belum lagi beberapa warga setempat keburu datang memergoki, jadi mereka memilih kabur untuk menyelamatkan diri."
"Aarrgg! Dasar tidak becus! Tugas semudah itu saja tidak bisa mengerjakannya! Rugi besar karena sudah membayar mahal mereka. Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada wanita jallang itu! Kenapa selalu saja gagal?!"
Wanita yang tak lain Lana itu kian tersulut amarah saat mengingat setiap rencana untuk mengusik Naora selalu gagal. Hingga membuatnya harus lebih keras mencari akal. Tanpa ia berkaca, bahwa otaknya itu sangatlah dangkal.
"Kau tenanglah dulu, Lana."
Usaha Stefan untuk menenangkan Lana rupanya sama sekali tak mempan. Wanita itu malah kian menggila seperti setan kesurupan. Mungkin saat ini dia sedang butuh asupan kemenyan.
Edan!
Ngomong-ngomong, setan kalau kesurupan yang merasuki siapa ya? Author serius bertanya.
Oke lanjut!
Seprai putih yang semula masih membungkus peraduan sudah terkapar di lantai. Bantal dan guling juga turut dibantai. Lana meluapkan amarahnya sementara Stefan terlihat santai.
Pria itu sangat hafal dengan karakter istrinya yang tidak bisa ditengahi jika sedang kumat. Jadi, memilih untuk menjadi penonton yang baik adalah pilihan yang tepat.
"Sudah?" tanya Stefan, masih setia menelisik gelagat Lana yang mulai terlihat tenang. Tepatnya wanita itu sudah kelelahan karena energi terkuras untuk mengamuk.
Pria berbadan tegap itu kadang kala berpikir, andai istrinya itu bisa bersikap lembut seperti saat ia berkamuflase di depan Axton, mungkin dia akan lebih senang. Dan tentunya, bisa lebih dikendalikan.
Lana masih enggan menjawab, ia masih tampak tersengal-sengal. Hatinya juga masih dirundung rasa kesal.
"Andai kau tidak tergesa-gesa, pasti rencana kita, hmm ... maksudnya rencanamu itu tidak akan gagal." Stefan sempat meralat kalimatnya di tengah ucapannya. Pasalnya, memang Lana otak dari aksi gila yang menyerang Axton dan Naora.
"Jadi kau menyalahkanku?!" Lana terlihat tidak terima. Ia kembali mendengus seperti kerbau betina.
"Bukan seperti itu maksudku, Lana," sanggah si pria.
"Aku sudah tidak tahan, Stefan! Wanita itu terus saja menggoda suamiku. Aku tidak terima! Dan coba kau lihat sekarang. Axton bahkan dari kemarin tidak mengabariku. Itu semua pasti karena bujuk rayuan si jallang itu!" Lana menjeda kalimatnya. Menggebu-gebu saat berbicara rupanya menyita oksigen di rongga dada.
Sedetik kemudian, ia memasang raut sendu. "Apa dia tidak berpikir, kalau perbuatannya itu sangat menyakitiku. Dia tahu aku sangat mencintainya. Seharusnya dia tidak bersikap abai seperti itu. Lagian selama ini siapa lagi yang bisa mencintainya dengan tulus selain aku?"Lana tersedu-sedu sembari mengusap air mata yang entah sejak kapan sudah mengambil peran.
__ADS_1
Tersenyum masam, ucapan Lana bagaikan ribuan jarum yang menghunus dada Stefan. "Kau bilang mencintainya, tapi hampir setiap hari bercinta denganku," sindirnya.
"Aku bercinta denganmu hanya sebagai tempat pelampiasan karena Axton tidak bisa melakukannya," sahut Lana tanpa memikirkan hati Stefan yang kian patah.
Tangan yang semula sibuk memungut pakaian seketika terhenti. Bisa-bisanya Lana berkata tanpa berpikir ada jiwa yang tersakiti. Dan bodohnya Stefan masih tetap setia mencintai sang istri.
Tidak lama, bibir pria itu kembali berkata dengan perasaan getir. "Aku ini suamimu, Lana. Bukan tempat pelampiasan." Ia menghela napas kecewa lalu lanjut bersuara. "Bukan dirimu yang bisa mencintai Axton dengan tulus melainkan Naora."
"Kau hanya berkata sampah." Lana tersenyum remeh.
"Terserah kau saja."
"Kau harus membantuku, Stefan."
…
Embun pagi sudah menyapa. Disambut ramah oleh kicauan merdu burung gereja. Mentari pun tampak bersolek cahaya.
Selimut yang membungkus dua raga tampak beriak lamban. Lelapnya mulai terusik saat merasakan gejolak di dalam organ pembuangan. Sepasang kelopak mata Naora terbuka perlahan.
Kandung kemih yang sudah penuh kian mendesak sampai ujung. Ia mencoba bebas dari tangan Axton yang mengurung.
"Ahk, rasanya masih sakit." Ia mengaduh saat merasakan sensasi perih pada organ kewanitaannya.
Langkah kakinya terlihat payah, padahal ia ingin segera meluapkan air seni yang sudah menggelitik di bagian bawah. Namun, tiba-tiba ia dibuat terperangah. Kakinya kini sudah tak berpijak di tanah.
"Ahk! Axton!" pekiknya setengah tertahan. Posisinya sudah berada di dalam gendongan si pria.
"Jika masih kesulitan berjalan kenapa tidak membangunkanku saja, Naora?" tanya Axton di sela langkahnya menuju kamar mandi dengan tubuh kecil Naora di dalam gendongannya.
Tak lama, pria itu menurunkan wanitanya di atas kloset duduk. "Ada apa dengan ekspresimu itu?"
"Aku mau pipis, Axton."
"Jangan lihat!"
Axton terkekeh geli. Mimik menggemaskan Naora justru membuatnya tidak ingin pergi. Ia lantas berjongkok di depan sang istri.
"Rupanya kau malu?" Pria tampan itu tersenyum penuh arti.
"Kau sudah tahu itu, tapi kenapa malah berjongkok di depanku? Ssshtt!" protes Naora diakhiri desisan menahan hasrat ingin pipis.
Enggan mengindahkan bibir ranum yang baru saja melayang protes itu, Axton malah bertindak nakal.
"Kau mau apa Axton?" Naora mencekal jemari besar prianya yang mulai merayap di pahanya.
"Aku akan membantumu." Pria itu berniat menurunkan celana istrinya.
"Aku bisa sendiri."
"Sssttt! Menurutlah."
"Axton, aku malu."
"Aku tidak suka penolakan, Naora."
Akhirnya pasrah juga, wanita itu membiarkan sang suami bertindak sesuka hatinya. Sudah tidak tahan lagi, ia langsung menyelesaikan urusan pembuangan limbah dari tubuhnya. Kendati harus menahan malu, karena Axton terus memasang mata.
"Sudah?"
"Hmm." Naora mengangguk malu.
__ADS_1
"Sekarang aku akan membantumu mandi?"
Naora sontak menghunus tatapan sangsi. "Yakin hanya membantu?"
"Percayalah kepadaku, Naora. Hanya mandi saja."
"Bagaimana aku bisa mempercayai perkataanmu sementara pistolmu sedari tadi terus menodongku." Naora melirik ke arah celana Axton lalu gegas membuang pandangan ke sembarang tempat. Benda keras yang berada tepat di depan mukanya menarik semburat kemerahan di pipi dengan cepat.
Pria itu tertawa kecil seraya mengusap tengkuk lehernya. "Aku tidak akan memaksamu, Naora. Aku tahu kau pasti masih kesakitan."
"Tapi kau mengancamku dengan milikmu itu, Axton."
"Sudah kukatakan, kau harus mempercayaiku."
"Kyaaak! Axton!"
Pekikkan seketika menguar ke seluruh dinding ruangan. Naora terkejut karena Axton tiba-tiba mangangkat tubuhnya menuju ke bak air kamar mandi.
"Kita mandi sekarang."
Selang 30 menit, sepasang suami istri itu selesai dengan ritual bersih-bersihnya. Kegiatan itu memang tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Perkataan Axton benar-benar dapat dipercaya.
Tidak ada kegiatan panas apalagi sampai menuju titik nikmat teratas. Akan tetapi, tangan jahil Axton tak berhenti kelayapan seraya merremas-remmas. Naora sampai dibuat gemas.
Melangkah dengan gagah, pria berparas dingin itu menggendong Naora kembali ke kamar. Didaratkannya tubuh mungil sang istri di bibir ranjang. Hingga sebuah bercak merah yang menghiasi seprai membuat si wanita salah tingkah.
"Axton, ada darah di sana," ucapnya sedikit tercekat.
"Iya, itu darah keperawananmu. Kenapa memangnya?"
Naora mendengus kesal. "Kenapa kau masih bisa sesantai itu? Bagaimana nanti kalau pemilik rumah ini sampai melihatnya? Aku malu, Axton."
Tangan diajak melingkari perut ramping sang istri dari belakang lalu menjatuhkan dagu pada ceruk lehernya. "Tenanglah, Naora. Ini hanya masalah sepele. Kau terlalu berlebihan," ucap Axton setengah berbisik.
"Bisa-bisanya kita melakukannya di rumah orang," bibir ranum itu masih terus merutuki diri. "Axton ... hentikan." Naora kian kesal. Di saat seperti ini, si pria masih bisa terlihat santai. Bahkan ceruk lehernya sudah beberapa kali menjadi sasaran kecupan nakal.
"Kau lupa siapa aku, Naora. Mengajakmu bercinta di rumah orang yang tidak dikenal sama saja menjatuhkan harga diriku."
Naora sontak memutar leher ke samping dan langsung disambut sebuah kecupan di pipi. Namun, ia sedang tak ingin mempermasalahkan hal itu saat ini. Ucapan Axton barusan lebih menarik minatnya kini.
"Apa maksudmu, Axton?"
Bukannya memberi jawaban, Axton malah menyambar bibir ranum yang sudah menjadi candu baginya. Namun, ciuman itu tidak berlangsung lama.
"Jawab dulu pertanyaanku, Axton," tuntut Naora dengan jari-jari lentiknya masih menempel di bibir suaminya.
"Rumah ini milik kita, Naora. Aku sudah membelinya semalam."
Wanita cantik berparas bak barbie itu tertegun tak percaya. "Kau serius?"
"Dua rius malah."
"Axton ...yang serius jawabnya."
Axton memutar tubuh kecil yang semula masih membelakanginya hingga kini mereka saling berhadapan. Kedua pasang jendela hati pun saling pandang.
"Rumah ini sudah menjadi saksi kegiatan pertama kita semalam, jadi aku membelinya untuk kenang-kenangan. Lagian mana mungkin aku mengajak istriku bercinta di rumah orang?"
Axton kembali melahap bibir Naora. Menyesap rasa manis dengan sensasi yang berbeda. Sepasang rama dan sinta itu saling berpagutan dengan tangan sudah merayap ke mana-mana.
Dok! Dok! Dok!
__ADS_1
"Ternyata aku sangat merugi karena sudah mencemaskan kalian selama perjalanan menuju ke sini," sela seseorang yang langsung menghentikan permainan bibir sepasang kekasih halal itu.
Bersambung~~