
"Naora ...."
"Iya?"
"Maaf ya, sepertinya kau tadi ingin melihat pertunjukan penyanyi jalanan, tapi aku malah merusaknya."
"Iya, aku tadi memang ingin mencari hiburan, tapi gagal gara-gara kamu," selorohnya membuat Nathan kembali tergelak. Pria itu sama sekali tidak tersinggung.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mencari hiburan yang lain."
"Hiburan apa?"
"Ada satu wahana yang menyenangkan di lantai 3 mall ini."
Naora tampak berpikir sejenak. Mencoba menimbang-nimbang untuk menerima atau menolak ajakan Nathan.
"Hmm, sepertinya aku tid--," belum selesai Naora berkata, Nathan kembali menarik tangannya tanpa ijin dan membawanya menaiki tangga eskaltor.
Beberapa menit kemudian~
"Jangan takut, Naora. Pegang tanganku, aku akan mengajakmu ke tengah."
"Aahhk! Nathan ...! Aku takut terjatuh!"
Naora memekik tegang bercampur senang, saat sepatu skating yang dipakai membawanya meluncur ke tengah-tengan ice rink di dalam ruangan khusus untuk bermain ice skating
*Ice rink adalah sebuah tempat air beku, dimana orang-orang dapat bermain ice skating atau olah raga seluncur es.
"Bagaimana, bukankah ini sangat menyenangkan?"
"Antara senang dan tegang. Rasanya aku seperti terbang."
"Sekarang aku akan melepas tanganku. Aku yakin kau bisa melakukannya sendiri." Nathan sedikit menjauh dari Naora.
"Tapi ...."
"Ayo ...."
"Apa yang harus aku lakukan? Aku seperti bayi yang belum bisa berjalan saat ini."
Nathan tergelak. Merasa lucu dengan ucapan lugu Naora. Wanita itu hanya berdiri kaku di atas sepatu skatingnya dengan muka tegangnya. Namun justru terlihat cantik dan menggemaskan ... di mata Nathan.
"Pertama gerakkan kakimu dengan perlahan dan hati-hati, Naora."
"Lalu?"
"Dan jangan memperhatikan sepatumu."
"Kenapa? Bukankah aku harus memperhatikan gerak kakiku?"
"Karena lebih baik kau memperhatikan pria tampan di depanmu ini."
"Hish! Dasar narsis. Aku sudah serius mendengarkanmu."
__ADS_1
Lagi-lagi Nathan tergelak sebelum membawa diri sedikit lebih serius. "Aku juga serius, Naora. Kau jangan melihat ke bawah tapi harus fokus melihat ke depan." Ia memberi instruksi.
"Aku akan mencobanya."
Naora mulai memberanikan diri mengayunkan kaki berbalut sepatu bot berpisaunya. Kedua sudut bibir tertarik di atas, membentuk sebuah senyuman hampir mengembang sempurna saat tubuhnya mulai meluncur. Namun ....
Brak!
"Ahk!"
"Naora!"
Nathan langsung meluncur mendekati Naora yang terjatuh akibat ada seorang pemain ice skating lainnya kurang berhati-hati saat berseluncur.
"Maaf, Kak. Apa kau terluka?" tanya si penabrak yang masih berusia remaja. Ia juga terlihat merasa bersalah.
"Tidak apa-apa."
"Syukurlah. Aku akan membantumu berdiri."
"Tidak perlu, biar aku yang membantunya. Kau bisa lanjut bermain." Nathan segera mendahului si remaja untuk membantu Naora.
"Baik, Kak," ucap si remaja dan berlalu dari sana.
Nathan memberi tangannya kepada Naora dan membantunya berdiri dengan hati-hati. "Apa kau bisa berjalan?"
"Sepertinya masih bisa."
"Perlu aku gendong?"
"Jangan bercanda Nathan. Aku masih bisa berjalan. Dari pada banyak bicara, mending bantu aku ke tepian."
Baru saja Naora meletakkan pantatnya pada bangku, ponsel di dalam saku celana tiba-tiba bergetar. Gegas dirogoh benda pipih itu sebelum sensasi geli kian menjalar.
Axton? Pasti dia akan ngomel-ngomel lagi. Dasar kebiasaan.
Wanita itu menggerutu di dalam hati, seolah dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Halo?" sapanya setelah menerima permintaan panggilan masuk.
"Pukul berapa sekarang?"
Naora melihat sekilas penunjuk waktu pada layar ponselnya. Kemudian kembali menempelkannya di telinga.
"Pukul 9, kenapa?"
"Apa kau tidak tahu sekarang sudah malam?!"
"Aku tahu ...."
"Kenapa kau belum pulang?!"
"Ini masih dalam perjalanan pulang. Sebenarnya kau itu kenapa? Aneh sekali perasaan."
"Aku tidak peduli, lima menit kau harus sampai di rumah."
__ADS_1
"Kau jangan suka bercanda. Memangnya kau pikir aku ini jin yang bisa menghilang?"
Nathan yang melihat Naora tampak kesulitan membuka sepatu skatingnya karena seraya mengangkat telepon langsung mangambil inisiatif untuk membantunya.
"Naora, biarkan aku membantumu membukakan milikmu."
Naora mengangguk sebagai jawaban 'iya'.
"Aahh!" Naora memekik ringan saat Nathan menarik sepatunya, menimbulkan rasa linu pada kakinya. "Pelan-pelan saja."
"Maaf, aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut."
"Aahh ...! Sakit ...."
"Apakah ini pengalaman pertamamu?"
Perhatian Naora beralih sejenak pada suara sambungan telepon yang tiba-tiba terputus. Padahal aku belum selesai berbicara tadi, gerutunya di dalam hati.
Wanita itu kembali menggiring atensinya kepada Nathan yang sudah menunggu jawabannya.
"Bermain ice skating maksudmu?"
"Iya."
"Ini memang pengalaman pertamaku bermain di wahana seperti ini."
"Maaf ya."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
"Bukan masalah besar, Nathan."
"Kakimu sepertinya keseleo. Sebaiknya aku mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, aku pulang naik taksi saja. Kali ini aku mohon jangan paksa aku untuk menerima tawaranmu."
Terdengar samar, Nathan menghela napas kecewa. Padahal dia sangat berharap bisa mengantar Naora. "Baiklah. Kalau begitu aku akan membantumu mencari taksi."
Langit malam sudah sangat gelap ketika Naora sampai di kediamannya. Bahkan lampu di segala penjuru rumah hampir padam semuanya.
Sepertinya semua orang sudah pada tidur.
Berhati-hati, ia menapaki anak tangga yang mengantarnya ke lantai dua. Setelah sepasang kaki berhenti di depan pintu kamarnya, ia menarik knop pintu dan mendorongnya, lalu menenggelamkan diri ke dalam kamar.
"Ternyata kau masih ingat pulang?"
Tubuh Naora terjingkat kaget saat gelombang suara bariton tiba-tiba menguar ke segala penjuru ruangan. Gegas ia menekan saklar lampu untuk mencari tahu siapa pemilik suara itu.
"Kau?!"
☘
☘
__ADS_1
☘
Bersambung~~