
Naora menelisik muka Axton seraya menanti sebuah jawaban. Kendati, ia sudah bisa menduga akan sebuah alasan. Alasan yang membuat pria tampan itu, meminta ia pulang terlebih dahulu ke kediaman.
"Karena apa, Axton?"
Tidak seperti biasa wanita berparas barbie itu sangat ingin tahu tentang apa yang akan dilakukan suaminya. Sikap masa bodohnya seolah sirna. Entah ke mana.
"Pasti karena kau ingin menjaga perasaan Lana. Kau tidak ingin Lana bersedih karena melihat kita pulang bersama setelah semalaman tidak di rumah. Iya kan?" Wanita itu mendesak Axton dengan sebaris keyakinan akan praduganya.
Axton masih setia dalam kebisuan. Lidah tak dibiarkan untuk langsung berlisan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang sudah terlewatkan. Kali ini, ia sungguh ingin menjaga hati Naora dengan sarat akan perasaan.
Sebuah kepiluan yang merongrong di relung hati seakan melemahkan diri untuk sekedar menegakkan kepala. Naora sedikit tertunduk dengan helaan napas sendu di udara.
"Aku juga punya perasaan, Axton. Tidak hanya Lana saja." Ia kembali mengangkat muka yang masih terlihat sayu, tapi enggan menatap suaminya. Salah satu sudut ruangan, dijadikan objek pandangan nanarnya. "Kau itu terlalu pengecut sebagai pria," imbuhnya.
Tidak ada genangan air kesedihan yang membingkai netra. Namun, Axton sangat menyadari sorot kerapuhan di sepasang mutiara hazel Naora. Hal itu, lagi-lagi membuat hatinya menanggung sesuatu yang tak biasa. Rasanya, ingin sekali ia melindungi si wanita dengan menenggelamnya ke dalam dada.
Tapi ... ah ...! Entahlah. Nyatanya begitu sulit bagi Axton untuk mengespresikan perasaan yang membuat batin mendesah resah.
Namun, gegas ia hempas dilema diri yang mengekang. Sorot mata penuh makna digiring ke muka Naora untuk melabuhkan pandang. "Aku memang ingin menjaga perasaan, Lana. Semalaman aku di sini bersamamu, menjagamu yang sedang sakit dengan mengabaikannya. Dia pasti sedang gelisah sekarang. Terus bagaimana dengan hatinya nanti, jika masih melihat aku pulang bersamamu?"
Perih di hati sontak dirasakan Naora. Kepedulian Axton yang lebih dominan ke Lana barang tentu menyayat perasaannya. Namun, gegas ia menarik jiwa agar tidak terbuai oleh harapan tak semestinya ada.
Selama ini, ia sudah bersusah payah untuk tidak goyah dari tembok pertahanan. Meski, kalbu terus menyapa dengan bisik rayuan. Wanita itu harus tetap berdiri di posisi ketegaran.
Naora terhenyak, saat sepasang tangan besar Axton menjangkau kedua pundaknya dari belakang lalu menuntun kaki menuju jendela. Ia seketika menyematkan muka penuh tanya. Dan menunggu penjelasan si pria atas tindakannya.
"Tapi kau juga harus tahu, aku bukan si pengecut seperti kau katakan barusan." Axton mununjuk ke pemandangan luat jendela. "Coba kau lihat kontruksi bangunan di sana." Pandangan Naora mengikuti ke mana jari si pria menunjuk.
"Memang apa hubungannya dengan konstruksi bangunan di sana?" tanya Naora.
Axton yang memang sudah berdiri di belakang Naora, mencoba lebih mendekat. Hingga jarak tubuh di antara mereka tidak lagi tersekat. Keduanya pun saling merasakan rambatan sensasi hangat.
"Kontruksi bangunan raksasa itu adalah milikku. Setelah ini, aku harus ke sana untuk memantau langsung tingkat perkembangan pembangunan lapangan serta juga ada beberapa hal berkaitan yang harus kuselesaikan. Aku harus bekerja keras untuk menyenangkan anak-anak keturunanku kelak."
__ADS_1
Entah sejak kapan, mengharapkan pengertian dari Naora tumbuh pada diri Axton. Baginya, memberi penjelasan ke wanita itu sudah bersifat penting dan perlu. Dan setidaknya, ia juga ingin istri ke-duanya tersebut tahu bahwa alasannya meminta dia pulang, bukan sepenuhnya untuk menjaga perasaan Lana, melainkan juga ada hal lain yg harus dikerjakan.
Namun sayang, alih-alih penjelasan yang terlisan mampu memberikan hasil sesuai ekspetasi. Naora malah memutar tubuh, menghadap ke si suami, sembari menekuk muka hingga berkali-kali. Ucapan yang didengar, nyatanya tak menyentuh hati.
"Iya ... kau bekerja keras untuk anak-anakmu bersama Lana 'kan?" cebik si wanita. "Dan semuanya tetap untuk Lana. Poin dari topik pembicaraan kita hari ini, tetap kembali ke Lana. Tentang perasaanku, lupakan saja."
Mungkin sudah terlajur tenggelam ke dalam perasaan, suasana hati Naora mendadak suram. "Baiklah, aku akan pulang duluan saja. Cepat panggil sopirmu." Ia sedikit mendorong tubuh besar Axton yang menghadang lalu berjalan ke depan cermin meja rias untuk mematutkan diri.
"Bukan anak-anak dari Lana saja, tapi juga anak-anak darimu. Aku yakin kau tidak melupakan tentang pemintaan Daddy kepada kita untuk memberinya cucu. Itu sudah menjadi tanggung jawab kita," sanggah Axton sekaligus mengingatkan.
Gerakan tangan menyisir rambut terhenti seketika. Naora terdiam sejenak, menikmati denyutan kelu di dada. Di saat ia bermimpi memiliki buah hati hasil dari cinta, Axton justru menjadikan kehadiran malaikat kecil hanya sebagai sebuah wujud tanggung jawab.
Melupakan segala rasa yang menusuk hati, wanita itu kembali bersuara. "Jangan bahas anak jika perceraian yang menjadi akhir kisah pernikahan kita."
"Bercerai memang sudah menjadi jalan pernikahan kita."
"Dan perceraian itu, demi menjaga perasaan Lana. Itu tujuanmu." Naora kembali mengungkit perihal hati madunya yang harus dijaga. Sementara Axton, tak berniat berkilah. Hal itu membuat Naora kian bermendung durja.
Jeritan nada dering telepon tiba-tiba menjalar ke seluruh penjuru kamar. Menyadari suara berisik itu berasal dari ponselnya, Naora gegas meraup benda pipih itu dengan kasar.
"Halo ...?" sapa Naora dengan suara super ramah.
"Naora, ini aku, Nathan," sahut pria itu dari seberang telepon.
"Iya, aku tahu. Ada apa kau meneleponku, Nathan?"
"Bagaimana dengan keadaanmu, Naora?" Bukannya menjawab pertanyaan Naora, Nathan malah balik bertanya.
"Aku sudah lebih baik sekarang, kau tidak perlu khawatir, Nathan."
"Syukurlah ...."
"Ya sudah, aku matikan teleponnya ya? Aku harus pulang ke rumah sekarang."
"Kau pulang dengan siapa?"
__ADS_1
"Aku pulang sendiri, Nathan."
"Biarkan aku mengantarmu. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Tidak baik pulang sendiri." Nathan menawarkan diri.
Naora tampak menimbang- nimbang sejenak sebelum mengiyakan tawaran Nathan. Kali ini ia benar-benar mengabaikan muka masam Axton. "Baiklah kalau begitu. Lagian ada yang harus kita bicarakan juga."
"Kalau begitu tolong buka pintu kamarnya sekarang."
Naora tampak keheranan. "Untuk apa?"
"Buka saja, Naora. Aku keburu menjamur di sini karena menunggu terlalu lama."
Tidak ingin membuang waktu, Naora gegas menuruti permintaan Nathan. Mencari tahu, kenapa pria itu memintanya membuka pintu kamar.
Selaras dengan daun pintu yang terbuka, sosok pria tampan berparas ramah itu seketika memenuhi ruang mata.
"Nathan? Kenapa kau berada di sini."
"Karena aku ...."
โ.
โ
โ
Bersambung~~~
Bab ini dilanjutin bessok ya..
Maaf ya, cuma bisa up sedikit.๐
Sedari tadi Nofi ngetik sambil nahan kantuk. Dan ahirnya udah gk kuat๐
Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon like. Tinggalkan komen cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini๐คฃ
__ADS_1
Vote gratis mingguan juga boleh disumbangkan ke lapak yang masih sangat sepi pembaca ini..