
Terkapar di atas ranjang, Axton kembali merasa lemas. Serangan mual yang begitu brutal, membuat perut seperti diremas-remas. Energi di dalam tubuh seolah sudah diperas. Pria itu tak berdaya dengan kondisi jauh dari kata waras.
"Naora, apa kau masih lama?"
"Iya ... iya, ini aku sudah sampai halaman rumah, Axton."
"Iya, tapi jangan berlari ya. Jalan saja. Berhati-hatilah."
"Iya."
Axton segera mengakhiri panggilan. Diletakkan ponselnya dengan sembarangan. Ia kembali memejamkan mata sembari menunggu kepulangan sang pujaan. Sungguh, mengalami sindrom kehamilan simpatik membuatnya sangat tidak nyaman. Apalagi dengan indera penciumannya yang rentan oleh aroma-aroma tak menyenangkan.
Baginya, hampir semua aroma di sekitarnya menyerupai bau kotoran hewan, kecuali tubuh Naora.
"Axton, kau baik-baik saja?"
Suara lembut sang istri langsung menarik perhatian Axton. Lega, itulah yang dirasakan. Pria itu lantas mengambil posisi duduk sembari bersandar pada headboard ranjang.
Naora yang baru saja tiba langsung berhamburan mendekati. Ia mengambil posisi duduk di bibir ranjang, disusul tangan terulur membelai lembut pipi si suami.
"Aku tidak baik-baik saja, Naora. Kau tahu kalau aku tidak bisa jauh darimu," keluh Axton lalu menarik tubuh Naora ke dalam pelukannya. Dihirup dalam-dalam aroma tubuh yang bagaikan candu nikotin baginya. Gejolak rasa mual di dalam perut seketika sirna.
"Aku cuma pergi sebentar bersama daddy, tapi kau sudah seperti ini." Naora merasa gemas dengan tingkah bayi raksasanya itu.
"Kau pergi tanpa berpamitan kepadaku, Naora. Jangan lakukan itu. Seorang istri harus meminta ijin kepada suaminya dulu sebelum keluar rumah. Apalagi kau sedang hamil dan butuh perhatian ekstra sekarang. Kau tidak boleh luput dari pengawasanku."
Naora tersenyum simpul. Ia mengakui bahwa ia memanglah salah. "Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Senyuman di bibir tampak mengembang. Senang sekali melihat sikap istrinya yang jauh dari kata membangkang.
Pria itu membawa kepalanya turun ke perut Naora. Dilabuhkan kecupan sayang di sana dan kembali bersuara. "Besok aku akan mengantarmu untuk memeriksakan kandungan. Aku sudah tidak sabar ingin melihat Axton junior di dalam sini."
"Kau yakin?" Naora memasang mimik penuh makna.
Axton kembali menarik kepalanya naik ke atas dan diakhiri sebuah kecupan pada bibir mungil Naora. "Memangnya kenapa? Hm?"
"Di rumah sakit pasti bau obat. Jangan sampai kau buat aku kerepotan karena harus membopong tubuh besarmu ini."
"Itu tidak akan terjadi selama aku bersamamu."
"Lalu bagaimana kalau kau kerja nanti? Apa kau bisa menahan mualmu itu?"
Axton menggeleng sebagai jawaban.
"Terus?"
"Kau bisa ikut bersamaku di kantor."
"Haaaa? Jangan bercanda, Axton."
"Kemarilah, aku butuh obat." Axton menuntun tubuh Naora untuk berbaring bersamanya di bawah selimut.
Suara cekikian tawa seketika tercipta di bibir Naora. Axton rupanya mulai bertingkah nakal dengan tangan merayap ke mana-mana.
"Axton ...! Kau buat aku geli!"
__ADS_1
"Diamlah, Naora. Sebentar saja."
"Ahk! Jangan sekarang, Axton. Aku belum mandi."
"Ssttt! Jangan teriak. Nanti daddy mendengarnya. Mandinya setelah berolah raga saja ya."
"Hmmm, Axton."
"Iya, Sayang."
…
"Kau?!" ucap Nathan dan si penabrak secara bersamaan.
Sedetik kemudian pria itu menyadari gelagat cemas Jovana yang begitu kentara. Wanita itu tampak beberapa kali menoleh ke belakang seakan ada bahaya yang mengejarnya.
"Kau mau ke mana?!" Nathan menarik lengan Jovana saat hendak pergi dari hadapannya.
"Lepaskan aku, Nathan. Aku harus pergi sekarang!"
Nathan nyatanya tampak enggan membiarkan wanita itu pergi begitu saja. "Ada apa sebenarnya? Cepat katakan, mungkin aku bisa membantumu."
Tidak ingin pria itu ikut campur dengan masalahnya, Jovana tidak berniat memberi jawaban. Ia mencoba menggeliat agar terlepas dari kuasa cengkeraman Nathan. Namun, semakin dia memberontak, pria itu justru mengerahkan kekuatan.
"Vana! Mau pergi ke mana kau?! Ayo kembali dan ikut aku!"
Dari kejauhan seorang pria datang dengan muka garangnya. Dia juga terlihat tersengal-sengal karena baru saja berlari untuk mengejar Jovana.
Mampu membaca posisi Jovana yang sedang terancam, jiwa pelindung Nathan seketika timbul begitu saja. Pria itu sangat yakin bahwa orang itu memiliki maksud tidak baik jika dilihat dari gelagatnya. Tidak ingin hal buruk terjadi, Ia menarik wanita itu agar bersembunyi di belakangnya.
"Kau siapa hah?! Jangan ikut campur urusan kami. Wanita ini harus ikut denganku," sentak pria itu lalu berniat menarik tubuh Jovana. " Kemari kau! Jangan buat keluarga malu. Juragan Demang akan membawamu besok!"
"Aku tidak mau ikut denganmu, Kak Ferdi. Kau tega menjualku kepada juragan bangkotan yang sudah bau tanah itu!"
"Kau harus menurut sebagai adik!"
Mendengar perdebatan yang sedang berlangsung di antara Jovana dan pria itu membuat Nathan sedikit bisa mencerna suasana. Ternyata mereka memiliki hubungan bersaudara.
"Tunggu sebentar, Tuan. Saya mohon jangan paksa dia." Nathan menghalau tangan yang hendak menarik Jovana. Namun ....
Buk!
"Ahk! Kak, kenapa kau memukulinya?!"
Wajah tampan Nathan langsung terlempar ke samping saat menerima hadiah satu tinjuan dadakan. Ia masih berusaha menahan diri untuk tidak terpancing emosi agar situasi tidak semakin runyam.
"Diam kau!" sentak Ferdi kepada Jovana. Kemudian ia menatap berang ke arah Nathan. "Apa hubunganmu dengan adikku hingga sangat berani mencegahku membawanya?! Hah?!"
"Saya adalah kekasihnya."
Jawaban Nathan membuat Jovana terperangah sesaat. Namun, otaknya langsung bisa menangkap maksud yang tersemat.
Alih-alih percaya, Ferdi malah tergelak remeh. "Kau jangan berbohong hanya untuk melindunginya. Tidak ada pria manapun yang mau dengan wanita tomboy seperti dia kecuali juragan Demang. Dia harusnya bersyukur karena masih ada orang yang mau menikahinya dan diberi kemewahan."
"Dia tidak berbohong, Kak! Kami memang sepasang kekasih!" sela Jovana yang mencoba mengimbangi drama Nathan.
"Halah ...! Mana buktinya kalau kalian berpacaran?!"
__ADS_1
Nathan dan Jovana tampak saling melempar lirikan di dalam kebisuan. Keduanya sedang dilanda kebingungan. Bagaimana caranya agar bisa membuat Ferdi percaya tanpa paksaan.
Haruskah aku bertindak nekat? Tapi aku tidak punya cara lain. Semoga Nathan tidak salah paham.
Jovana menepis keraguan dari rongga dada. Diraupnya bulat-bulat ketekatan yang ada. Hingga, kenekatan mendorong ia menggencarkan rencana.
Ditarik wajah Nathan hingga melihat ke arahnya. Kaki diajak berjinjit, lalu mencium si pria tanpa aba-aba.
Terkejut? Sudah jelas!
Nathan tidak pernah menduga bahwa Jovana akan bertindak seberani itu. Anehnya, ia malah tampak menikmati sentuhan bibir yang hanya sebatas menempel. Tidak ada lumattan atau sesapan, tapi terasa menyenangkan.
"Sekarang Kakak sudah percaya 'kan?" tanya Jovana setelah usai melakukan ciuman kilatnya.
"Ck! Beraninya kau berciuman di depanku!" Ferdi menelisik penampilan Nathan dari atas sampai bawah.
Kalau dilihat dari penampilannya, ia seperti dari kalangan orang berada.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk menikah dengan juragan Demang, asalkan kekasihmu ini bersedia memberi uang 50 juta untuk mengganti uang yang sudah diberikan juragan Demang kepada keluarga kita." Ferdi mulai bernegoisasi.
"APA?! Tidak bisa. Aku bahkan tidak pernah tahu perihal uang itu, apalagi memakainya. Jangan gila Kak!"
"Aku tidak peduli!"
"Baiklah. Aku akan memberimu uang 50 juta asalkan jangan ganggu kekasihku lagi." Nathan tiba-tiba memotong pembicaraan antara Jovana dan Ferdi.
"Bagus! Besok datanglah ke rumah dengan membawa uang itu. Kalau tidak, aku akan memaksa wanita ini menikah dengan juragan Demang." Ferdi langsung memutar tumit lalu pergi dari sana.
"Fyuuh! Akhirnya dia pergi juga." Jovan merasa sedikit lega. Sekilas ia melirik Nathan yang tengah memandangnya dengan tatapan penuh makna. Jujur ia merasa canggung sekarang. "Terima kasih, Nathan."
"Kau harus membayarnya, Jovana. Apa yang aku lakukan tidak gratis." Pria itu memangkas jarak dengan si wanita.
"A-apa? Terus bagaimana caraku membayarnya? Ahk! Mau apa kau?" Jovana dibuat terkejut saat Nathan menariknya hingga tubuh keduanya saling menempel sempurna.
"Kau harus menjadi kekasihku. Ah, bukan kekasih tetapi istriku."
"APA?! Itu tidak mung--" ucapan Jovana terputus karena Nathan tiba-tiba menyambar bibirnya.
Memberontak, wanita itu mencoba lepas dari pagutan Nathan. Namun, pria itu kian mengunci pergerakanya seiring dengan ciuman yang mendalam. Sadar Jovana mulai kehabisan napas, ia menyudahi aksinya.
"Asal kau tahu, aku tidak pernah sembarangan mencium seorang wanita. Bagiku, ciuman adalah simbol jalinan yang harus dipertanggung jawabkan."
☘
☘
☘
Bersambung~~
Please! Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen kalian ya ....
Gift dan Vote juga bolehlah disumbangkan untuk karya ini🥰
Terima kasih..
wo ai nimen🥰😘
__ADS_1