Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Perasaan Axton


__ADS_3


Di kediaman Alexander.


"Putraku, Mama punya kejutan untukmu." Rosa tampak bersemangat seiring dengan senyuman penuh makna yang mengembang di bibirnya.


"Langsung saja, Ma. Nathan tidak suka dibuat menunggu." Pria itu ternyata sudah sangat penasaran.


Wanita tengah baya itu langsung menyurutkan senyumannya. "Hish! Iya, iya. Dasar nggak sabaran." Ia mencebik. Namun, sedetik kemudian senyuman kembali terbit menghiasi parasnya sebelum memutar tumit untuk pergi sebentar dari hadapan Nathan.


Tidak lama Rosa kembali. Dan kali ini ia tidak sendiri. "Taraaa ... coba kau lihat, Putraku! Menantuku ini bukankah sangat cantik?"


Rupanya Rosa sudah mempermak penampilan Jovana. Balutan gaun malam selutut dan aplikasi make tipis di wajahnya, sukses memberi kesan berbeda. Tidak butuh kerja keras menjadikan si calon menantu terlihat lebih selayaknya seorang wanita, karena sebenarnya Jovana sudah cantik semenjak lahir di dunia. Hanya saja selama ini, keadaanlah yang mengubah cara bergayanya.


Terkesima, Nathan bahkan tak mampu langsung berkata. Pemandangan di depan mata sukses menarik seluruh dunianya.


"Waow." Hanya itu yang terdengar dari bibir Nathan sebagai respon kekagumannya.


"Aku jelek ya?" Jovana malah menyalah artikan reaksi si pria. Jujur ia masih kikuk dengan penampilanya saat ini.


Menggeleng cepat, Nathan langsung menampik ucapan Jovana dengan segera. "Kau sangat cantik, Jovana. Cantik sekali." Ia berjalan mendekat dengan tatapan mendamba.


"Hei! Kau mau apa?" Cepat-cepat wanita itu menekan dada bidang si pria dengan tatapan curiga.


"Aku ingin menciummu," ucap Nathan dengan sangat enteng. Dia bahkan mengabaikan keberadaan sang mama yang tengah gedek melihat tingkahnya.


"Nathan ... masih ada Mama di sini," bisik Jovana seraya menahan malu.


"Ya sudah kalian cepat berangkat sana. Bukankah kalian ingin berkencan makan malam di luar?" Rosa menyela seraya menunjukkan sikap pengertiannya.


"Terima kasih ya, Ma." Nathan mengecup pipi Rosa sebelum menyeret Jovana menuju ke mobil.


Sesampainya di dalam mobil, ternyata Nathan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Hasratnya yang tadi sempat tertunda dicarikan pelampiasan.


"Hmmp! Nathan, sudah cukup! Tahan dulu bibirmu itu." Jovana sampai kewalahan menanggapi sikap calon suaminya itu.


"Aku sangat gemas denganmu, Jovana." Ia berniat kembali mencium si wanita.


"Iiihh ...! Menjauhlah dulu! Kau membuatku geli, Nathan! Riasanku memudar karena bibirmu." gerutu Jovana, Nathan malah tertawa.


"Jadi kau tidak suka?"


"Bukan seperti itu ...." Jovana mencoba menghindari tatapan nakal Nathan. Bagaimanapun ia tetaplah seorang wanita. Seketus-seketusnya ia, juga bakal salah tingkah jika terus digoda.


Dikecup ujung bahu Jovana sebelum ia kembali ke posisi duduk yang benar di depan setir. "Baiklah, kita berangkat sekarang. Kau pasti sudah lapar."


"Kenapa baru sekarang kau menyadarinya. Aku hampir kehilangan seluruh berat badanku karena kelaparan."


"Maaf ya."

__ADS_1


Baru saja mesin mobil dihidupkan, jeritan dering pada ponsel menarik perhatian Nathan.


"Naora menelepon," ucap pria itu, memberitahukan kepada Jovana.


"Buruan diangkat."


"Iya."


Nathan gegas menggeser ikon panggilan masuk di layar ponselnya lalu menempelkan ke telinga.


"Halo, Naora?"


"...."


"Apa?! Baiklah, aku kesana sekarang."


Suara dessahan panjang terdengar diujung percakapan di telepon. Nathan menoleh ke arah Jovana yang sudah memasang muka bertanya-tanya.


"Ada apa Nathan?"


"Tuan Edrich baru saja tertimpa musibah. Kedaannya kritis dan sekarang masih ditangani pihak medis. Naora meminta tolong agar aku menggantikannya menunggu Tuan Edrich yang masih berada di IGD. Dia ingin mencari Axton yang tiba-tiba pergi."


"Ya sudah, kita kesana sekarang."


Nathan memandangi muka cantik Jovana. "Apa kau tidak apa-apa kalau kita tidak jadi dinner di luar?"


"Tidak ada yang lebih penting dari menolong orang lain, Nathan. Apa lagi yang bersangkutan dengan Naora. Dia itu sahabat kesayanganku."



"Nathan, Jovana, kalian kok bisa datang bersamaan?" Naora tentu saja keheranan, apalagi melihat penampilan sahabatnya itu yang terlihat sangat berbeda. "Kalian pacaran?" tanyanya menyelidik.


Jovana memang belum memberi kabar kepada Naroa tentang status hubungannya dengan Nathan. Bukan bermaksud tidak menghargai keberadaan si sahabat, hanya saja ia ingin memberi kejutan. Namun, belum sempat rencananya kesampaian, sudah ketahuan duluan.


"Nanti aku jelaskan. Bukankah kau ingin menemui suamimu?" Jovana mengalihkan topik."


"Iya, aku sedang mencemaskannya sekarang. Aku takut dia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan," jawab Naora dengan garis-garis kecemasan yang berlipat-lipat ganda di wajahnya.


"Aku antar saja, ya. Hari sudah menjelang malam." Nathan menawarkan diri. Kepeduliannya kali ini bukan atas dasar cinta, melainkan benar-benar murni sebagai bentuk dari sikap kemanusiaan.


"Tidak perlu, Nathan. Terima kasih. Tolong kau dan Jovana tetap di sini ya. Daddy, masih di dalam," pinta Naora beraut sendu. Mengingat Edrich sudah 2 jam di dalam IGD, tentu saja kekhawatiran kian menyapa.


"Baiklah, nanti aku akan mengabarimu jika Tuan Edrich sudah dipindahkan," ujar Nathan.


"Hati-hati ya." Jovana pun turut cemas.



Lelah seolah tak dirasa, langkah kaki terus membawa jejak tanpa menanggalkan asa. Sepasang netra juga tak henti mengedar pandang di penjuru area. Naora sangat berharap bisa segera mengetahui keberadaan suaminya.

__ADS_1


Cemasnya saakan tak berkesudahan. Dan hanya satu orang yang bisa menyembuhkan, siapa lagi kalau bukan si tuan muda arogan. Selagi belum menatap wajah suaminya yang rupawan, ia tidak akan mendapatkan ketenangan.


Naora tahu, perasaan sang suami sedang sangat terpukul saat ini. Bagaimanapun juga pria itu sangat menyanyangi sang daddy. Mengetahui Edrich bertaruh nyawa demi menyelamatkannya, tentu membuat ia merasa bersalah.


Binar kelegaan seketika menguar jelas di wajah Naora. Sosok Axton akhirnya memenuhi ruang mata. Melangkah cepat ia pun mendekati suaminya.


Naora berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan si pria yang tampak duduk meringkuk di atas ubin basement rumah sakit seraya bersandar pada badan mobil miliknya. "Axton? Kau sedang apa di sini? Aku mencarimu sedari tadi." Ia lalu memeriksa keadaan Axton dan di saat itu ia kembali bertanya-tanya. "Kau sudah mengobati luka? Syukurlah."


"Itu karena kau yang memintanya, Naora."


Rupanya Axton juga tidak ingin membuat wanita kesayangannya merasa cemas hingga berlarut-larut. Jadi, beberapa saat yang lalu ia mendatangi salah satu petugas rumah sakit dan memintanya untuk mengobati lukanya. Kalau bukan karena Naora, pria itu pasti sudah abai dengan keadaan dirinya sendiri.


"Terima kasih ya. Kau sudah mau mendengar permintaanku."


Axton malah terdiam sambil menurunkan pandangan mata. Ia sepertinya tengah menahan sesuatu yang memenuhi rongga dada. Melihat raut menyedihkan suaminya, tentu menciptakan kepiluan di hati Naora.


Sangat tahu Axton sedang membutuhkan wadah untuk menumpahkan semua perasaan gundah gulana, Naora lalu merentangkan kedua tangannya.


"Kemarilah, suamiku. Tumpahkan segala kesedihanmu di pelukkanku. Itu yang kau butuhkan sekarang."


"Naora ...."


"Iya, kemarilah. Bukankan dulu sudah aku katakan? Kau boleh menangis di depanku."


Akhirnya Axton menyambut pelukan Naora. Bersamaan dengan itu, genangan air kesedihan yang semula masih terbendung mulai meluncur dari pelupuk mata. Sekali lagi, hanya istrinya yang mampu menjadi tempat pelipur lara.


"Naora, aku mohon jangan biarkan aku pergi. Aku bisa gila."


"Kau akan tetap bersamaku, Axton." Naora mencoba menenangkan. Diusap lembut penggung suaminya yang tampak bergetar.


"Dulu aku yang menyebabkan kematian Mommy dan sekarang Daddy juga sedang bertaruh nyawa karena demi menyelamatkanku. Aku memang putra pembawa sial!"


Sudah wajar jika Axton bisa bersikap seperti itu. Traumatis dan juga rasa bersalah sedang mengungkungnta ke dalam bingkai yang sama. Hingga ia kesulitan mengontrol pikiran agar tetap berada di ambang logis.


"Itu bukan salahmu, kau sendiri juga korban. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu."


"Tapi kenyataannya akulah yang menyebabkan daddy terluka."


Naora sedikit mengurai pelukan. Dipandang lekat sepasang jendela hati Axton seiring dengan usapan jemari pada muka pria itu yang dibasahi air mata.


"Apa kau saat ini sedang meragukan kasih sayang Daddy terhadapmu? Semua orang tua pasti akan melakukan yang sama jika buah hatinya dalam bahaya. Dari pada terus terlarut di dalam kegundahan hati, lebih baik kau banyak berdoa untuk keselamatan Daddy."





Bersambung~~

__ADS_1


...3 EPISODE MENUJU TAMAT😩...


__ADS_2