
WILDA SI ASISTEN KOCAK
AYU SI GADIS DESA
Di tengah taman kota, seorang gadis bernama Ayu tampak menikmati pemandangan di sekelilingnya. Tatanan bunga, pepohonan, dan kolam air mancur diatur sedemikian rupa sehingga sukses memanjakan mata. Sesekali ia celingukan menanti seorang yang sedari tadi tak kunjung tiba.
Terus terang hatinya tengah dirayapi oleh kedongkolan. Dibuat menunggu hingga satu jam lamanya bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kali ini ia benar-benar harus meraup banyak kesabaran. Hah ...! Lagian Ayu bukanlah sosok yang mudah emosian.
"Mas Wildan!" Ayu seketika beranjak dari duduk dengan binar bahagia dan juga ... lega. Iya, lega karena akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Jadi penantiannya tidaklah sia-sia. Kedongkolannya pun seketika sirna.
Dari kejauhan terlihat Wildan berjalan sedikit berlari mendekati si wanita dengan sebuah buket bunga di tangan kanannya.
"Ayu ...!" panggil Wildan setengah berteriak karena jarak mereka masih lumayan jauh.
"Mas Wildan ...."
"Ayu ...."
"Mas Wildan ...."
"Ayu ...."
"Mas Wildan ...."
"Ayu ...."
"Mas Wildan ...."
"Ayu ...."
*Dahlah! Gitu aja terus kalian sampai lebaran monyet gulung tikar! Drama banget perasaan! Authornya mendadak emosi!
Oke! Balik ke cerita!
Kesabaran seolah terkikis. Kerinduan kian membuat suasana mendramatis. Bagaikan di sebuah potongan adegan film romantis, hujan kelopak bunga tiba-tiba datang untuk mempermanis. Di dalam efek slow motion mereka saa-sama berlari menghampiri dengan tersenyum meringis. Jarak yang sebenarnya tinggal beberapa meter saja serasa tak habis-habis.
Kalian pasti bisa membayangkannya bukan? Ya ... seperti di film-film gitu pokoknya. Masa sih authornya harus memperagakan juga?
"Mas Wildan ... awas ...!" teriak Ayu saat melihat tubuh Wildan tiba-tiba oleng karena kaki menyandung sebuah batu yang cukup besar. Kira-kira batunya seukuran kepala orang.
Gedebuk!
Tidak mampu mempertahankan keseimbangan tubuh, Wildan akhirnya terjerembab di atas tanah. Ia langsung mengadu kesakitan seraya menatap nanar telapak tangannya yang memerah.
Hancur sudah ekspetasi tentang pertemuan yang manis. Wildan malah menahan malu di depan si gadis. Belum lagi ia terjatuh dalam posisi jauh dari kata estetis. Sungguh miris! Haha ...! Para pembaca ketawa sampai menangis!
"Mas Wildan, apa kau baik-baik saja?" tanya Ayu dengan lembut. Dengan cekatan ia membantu pria itu untuk berdiri.
"Dasar kurang ajar!" hardik Wildan tiba-tiba. Sikapnya itu tentu mengejutkan Ayu.
"Mas Wildan kok jadi marah kepada Ayu?"
__ADS_1
Kedua sudit bibir gadis itu terlihat melengkung ke bawah seketika. Entah sejak detik ke berapa wajah manisnya sudah dibanjiri air mata. Cuping hidung kembang kempis dan merah merona, lengkap dengan cairan ingus yang menggelayut manja di kedua lubangnya.
Wildan tampak salah tingkah. Maksud hati ingin mencaci di batu yang sebenarnya tidak berdosa itu, tapi malah salah sasaran.
"Bukan kamu Ayu, tapi batunya yang kurang ajar. Jangan nangis ya." Pria itu mengusap pipi wanitanya yang basah.
"Ihh ...! Mas Wildan memang aneh. Orang batunya nggak ngapa-ngapain juga, malah dimarahin," cebik Ayu.
Wildan langsung nyengir kuda, memamerkan deretan gigi putihnya, diikuti garukan spontan di kepala. "Oya, ini mas Wildan belikan bunga untuk Ayu." Ia lantas menyodorkan buket bunga yang sempat terlupakan.
Ayu menerima pemberian Wildan dengan raut tak senang. "Apa ini mas?! Mas Wildan doain Ayu agar cepat mati?! Kamu jahat mas Wildan!" Wanita itu kembali menangis karena si pria membelikannya sebuket bunga anyelir yang dipadukan dengan bunga kamboja. Orang awam pun tahu kalau kedua bunga itu merupakan simbol duka cita.
Lagi-lagi Wildan salah tingkah. Rupanya dia salah mengambil langkah. Padahal dia sudah membayangkan Ayu akan memberinya sebuah kecupan mesrah. Namun disayang, impiannya itu kini pupus sudah.
"Maaf, Ayu. Mas Wildan tidak tahu."
"Mas, Ayu menginginkan sebuah kencan yang romantis. It's my dream Mas ...! It's my dream! Tapi Mas Wildan malah merusaknya." Gadis manis itu meledak juga pada akhirnya.
Wildan memang sosok mengesankan, gadis sesabar Ayu pun bisa terpancing kemarahan. Jadi tidak salah jika Axton selalu ingin mencekiknya karena geregetan.
Dasar Wildan!
Seolah rambutnya mendadak kutuan, Wildan berkali-kali menggaruk kepala karena kebingungan, karena kekasihnya itu terus menangis sesenggukkan.
Haah ...! Rasanya ingin sekali ia berteriak karena frustrasi. Namun, itu tidak mungkin terjadi. Bisa gawat nanti. Ayu bisa pergi meninggalkannya sendiri. Tidak! Dia tidak ingin menjomblo lagi.
"Maafkan Mas Wildan ya. Hm ... Ayu mau eskrim?" rayu pria itu yang terkesan sangat receh.
"Boleh. Tapi yang porsi jumbo ya," pinta Ayu tanpa sungkan.
Wildan seketika tercengang. Hanya disogok dengan eskrim saja, Ayu langsung tenang. Suara isak tangisnya juga mendadak menghilang.
Si gadis menurut dan langsung duduk di bangku taman. Sedangkan Wildan langsung berlari menuju ke gerobak penjual eskrim yang terletak tidak jauh dari kawasan.
Di sela menunggu eskrim pesanannya siap, isi tempurung kepala Wildan tiba-tiba tercetus sebuah ide, mengingat hari ini sebenarnya dia sudah membeli cincin dan berniat melamar Ayu.
Aku yakin Ayu akan suka dengan caraku memberinya kejutan kali ini.
"Ayu, lama menunggu ya?" Wildan yang baru saja datang langsung menyodorkan eskrim kepada si wanita.
Ayu tersenyum manis. "Lumayan lama sih, tapi bukan masalah. Terima kasih ya," ucapnya seraya menerima pemberian Wildan.
Diam-diam Wildan mengulum senyum di bibirnya. Ia sangat yakin bahwa rencananya tidak akan berakhir sia-sia. Jadi tidak rugi jika hari ini ia mengambil cuti kerja. Kemudian ia mengamati Ayu yang mulai memakan eskrimnya dengan debaran di dada.
Pria itu sudah tidak sabar menunggu detik-detik di saat si wanita histeris senang seraya menangis haru lalu memeluk dan menciumnya. Ah ... Wildan sudah girang duluan ternyata. Padahal apa yang dibayangkan belum benar-benar terjadi di depan mata.
Namun ....
Ekspresi penuh percaya diri Wildan berangsur-angsur menguap ke udara, tergantikan oleh kernyitan di dahi karena otak mulai bertanya-tanya. Ekspetasinya belum juga terbukti meski Eskrim yang dimakan Ayu sudah habis tak tersisa.
"Ayu, apa kau tidak merasa ada yang janggal ketika memakan eskrim itu tadi?" Wildan tampak sangsi.
"Iya, tadi Ayu merasa seperti menelan sesuatu, Mas."
"APA?! Astaga Ayu ...! Mas Wildan tadi meletakkan sebuah cincin di dalam eskrimmu!" Wildan langsung panik.
"APA?! Mas Wildan kok tidak bilang sih?!" Ayu pun tak kalah panik dan akhirnya pingsan di tempat.
__ADS_1
…
Langit cerah mulai meredup, menyambut senja sore yang hangat. Di sebuah kawasan danau pinggiran kota, Axton, Naora, dan Edrich tampak bersemangat. Berbagai perlengkapan memancing serta alat-alat lainnya seperti kursi lipat dan tenda juga tidak ketinggalan.
Hari ini, Axton memang sengaja pulang dari kantor lebih awal demi menuruti ajakan Edrich untuk memancing bersama. Meskipun ia harus mengesampingankan pekerjaan yang sebenarnya sangat butuh perhatian ekstra.
"Naora, duduklah. Jangan banyak berdiri." Axton menuntun istrinya agar menempati kursi lipat yang baru ia siapkan. "Kalau lelah bilang kepadaku." Ia mengecup gemas pucuk hidung Naora lalu turun di bibir ranumnya.
"Hish! Tahan dulu bibirmu itu. Apa kau tidak malu di lihat Daddy?" gerutu Naora sedikit berbisik, padahal Edrich masih bisa mendengarnya.
"Anggap saja Daddy itu seekor-Aw!" Axton mengaduh sebelum kalimatnya selesai karena Edrich memukul kepalanya dengan palas pancing.
"Seekor lalat maksudmu?! Dasar putra berandalan!" Ia kembali menggetok kepala putranya.
"Dad! Kau bisa membunuhku!" seru Axton yang tampak berusaha menangkis serangan sang Daddy.
Bagaikan melihat secara live sebuah acara komedian, Naora tergelak pecah menyaksikan pertikaian antara sepasang ayah dan anak itu. Baginya, mereka terlihat sangat lucu.
"Axton, aku sangat haus. Apa kau tadi membawa air?" tanya wanita itu di sela tawanya yang belum sepenuhnya reda.
"Minumannya masih di mobil. Tunggulah sebentar, aku akan segera mengambilnya."
Seolah tidak rela jika sang pujaan hati disiksa oleh rasa haus, ia langsung berjalan setengah berlari menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari pinggiran danau.
"Daddy juga haus!" ucap Edrich setengah berteriak tapi tidak ada sahutan. Ia lantas menoleh ke arah putranya dan kembali berkata lebih lantang. "Aku juga haus, apa kau tidak mendengarnya?"
"Aku tidak tuli, Dad!" balas Axton yang juga setengah berteriak.
Tanpa mereka bertiga sadari, bahwa bahaya tengah mengintai sedari tadi. Di balik kaca hitam, Lana mengawasi dengan raut penuh amarah yang kian tak terkendali. Kedengkian seolah sukses memangkas seluruh kewarasan hati. Kemesraan Naora dan Axton di depan mata bagaikan siraman bensin pada api kecemburan yang kian membakar hati.
"Kau mengingkari janjimu, Honey. Kau sudah sangat tega menghianatiku! Aarrgh ...!" Lana melampiaskan kekecewaannya dengan berteriak seraya beberapa kali memukul setir mobil.
Namun, batin yang semula berperang dengan kemurkaan tiba-tiba dikuasahi oleh kesedihan. Sedetik kemudian, Lana menangis sesenggukan.
Perubahan sikap dan suasana hatinya merupakan bentuk reaksi dari gangguan mental yang dideritanya. Pasien DID atau biasa kita kenal dengan sebut dengan penderita kepribadian ganda memiliki dua atau lebih kepribadian di dalam dirinya, yang satu sama lain berbeda atau bahkan bisa bertolak belakang. Salah satu kepribadian bisa mengambil alih kontrol tubuh dan pikiran penderita kapan saja, dan biasanya dipicu oleh situasi tertentu ketika penderita merasa stres, takut, atau marah
"Maafkan aku, Honey. Kali ini biarkan aku menggenggam kebahagiaanku dengan caraku sendiri. Yaitu dengan memberimu hukuman. Dan hukuman yang pantas bagi seorang penghianat adalah MATI!" Wanita kembali mencetak seringaian jahat di mukanya yang masih dibasahi air mata.
Seolah iblis sudah merajai jiwa. Lana sudah tidak peduli akan segalanya. Yang dia inginkan hanya kepuasan semata. Yaitu dengan menuruti bisikan sesat di hatinya.
Dengan Axton yang menjadi titik sasaran bidikan matanya, wanita itu kembali menghidupkan mesin mobil lalu menarik tuas persneling. Tanpa dijegal oleh keraguan sedikitpun, ia langsung menginjak pedal gas dan melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Tatapan membunuh terselip di antara kedua sudut bibirnya yang menyungging lebar. Ia kian tidak terkendali saat jarak di antara ujung mobil dan Axton hampir tepangkas sempurna. Dan ....
Brak ...!
"Ahhkk!"
Byuuurr ...!
"Tidak ...!"
☘
☘
☘
__ADS_1
Bersambung~~