
Kegelisahan merengkuh perasaan tanpa cela. Denyutan tak nyaman terus menekan dada. Naora tampak beberapa kali menddesah gusar tanpa tahu alasannya. Yang dia tahu, bayangan sang suami terus saja berputar di dalam kepala.
Di ujung senja wanita berparas cantik bak barbie itu berdiri menatap langit jingga. Sebuah ponsel juga urung terlepas dari kungkungan jemarinya. Kali saja, sang suami menelepon balik setelah tidak menjawab beberapa kali panggilan darinya. Saat ini, ia sangat mengharapkan sebuah kabar gembira yang mampu menepis perasaan buruknya.
"Nak Naora, kenapa sedari tadi kau tidak masuk ke dalam?" tanya Milah yang sempat memperhatikan istri tuannya itu masih setia berpijak di depan pintu rumah. "Kau terlihat tidak tenang."
"Entahlah, Bi. Perasaanku tidak enak. Aku sedang mencemaskan, Axton sekarang."
"Mungkin itu cuma perasaanmu saja. Masuklah dulu ke dalam. Sudah 2 jam kau terus berdiri di sini," tutur Milah, mencoba menenangkan.
"Tapi Bi ... kecemasanku saat ini adalah perasaan yang sama saat Axton depresi di malam itu. Aku sangat yakin telah terjadi sesuatu dengannya, tapi aku tidak tahu apa itu."
Milah berusaha memaklumi dengan sikap Naora. Sebenarnya, dia pun juga merasakan hal yang sama. Hatinya pun tak henti-hentinya melantunkan doa.
Naora sempat lega saat sebuah mobil yang dikira milik Axton memasuki gerbang. Namun, kelegaannya harus menguap seketika setelah menyadari bahwa apa yang diharapkan tidak sesuai ekspetasi. Dari jauh, justru Lana dan si sopir pribadinya yang terlihat menuruni kendaraan tersebut.
"Sedang apa kalian di sini?" Muka pucat Lana tampak keheranan.
Naora yang masih terselubung kecemasan tampak enggan menjawab. Lagian dia masih sangat **ilf**eel jika mengingat rencana licik madunya itu yang sungguh tak beradab.
"Nyonya, bagaimana dengan keadaan anda? Apa perutnya masih sakit? Muka anda masih terlihat pucat." Milah malah balik bertanya.
Setelah adegan senjata makan tuan tadi pagi, Lana terus mengeluh kesakitan dan tersiksa. Tubuhnya sampai lemas hampir tak berdaya. Obat yang tanpa sengaja ia minum tadi pagi terus menguras habis semua isi perutnya.
Lana melirik sinis ke arah Naora yang tampak masa bodoh dengan keberadaannya. Ingin rasanya ia melempar sumpah serapah di depan madunya.
Aku yakin wanita ****** ini telah menukar minumannya dengan milikku. Gara-gara dia aku jadi tersiksa. Dasar ******!
"Aku sekarang sudah baik-baik saja!" jawab Lana dengan nada ketus.
"Nyonya, apakah sakitmu sangat parah?" Pertanyaan ke-dua Milah mengurungkan langkah kaki majikan perempuannya itu yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Apa Bibi sedang menyumpahiku? 'Kan tadi sudah aku bilang jika aku sudah baik-baik saja," sungut Lana. Suasana perasaannya yang buruk membuat ia mudah sekali tepancing emosi.
"Maaf, Bibi tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja bercak-bercak merah di leher Nyonya membuat Bibi cemas."
__ADS_1
Tangan reflek menutupi lehernya, perkataan Milah membuat Lana seperti maling yang ketahuan mencuri. Sementara Stefan tiba-tiba ijin undur diri. Pria itu tidak ingin gelagatnya dicurigai.
Kurang ajar si Stefan. Harusnya dia lebih berhati-hati saat bermain di mobil tadi!
"Bercak merah-merah ini hasil dari perbuatan nakal suamiku. Bi Milah, kenapa kau terlalu lugu?"
Naora yang semula masa bodoh seketika memandang Lana dengan tatapan sangsi. "Kapan Axton melakukannya? Seingatku tadi pagi kissmark itu belum ada. Apa kau bertemu dengan Axton saat keluar tadi?"
Apakah itulah sebabnya Axton tidak bisa dihubungi sedari tadi? Dia sedang bermain dengan Lana di luar. Hah! Hatiku terasa sakit jika memang itu benar. Karena itu sama saja aku mencemaskan sesuatu yang tak seharusnya aku cemaskan.
"I-iya. Tadi aku makan siang dengannya, lalu sekalian ke hotel. Dan kau pasti tahu apa yang terjadi setelah itu." Lana kembali mengarang cerita.
Sayangnya, Naora bukanlah bayi kemarin sore. Alih-alih percaya, perkataan Lana yang baru saja didengar justru menumbuhkan kejanggalan baginya. "Makan siang?" Ia mulai menyelidik. "Bukannya di waktu makan siang kau baru saja berangkat ke dokter untuk berobat? Kau sedang kesakitan mana mungkin kau bisa makan siang apalagi bercinta?"
Mati kutu sudah, Lana seakan kehabisan akal untuk beralasan. Batin tak hentinya mengutuki diri yang terjebakan ke dalam kebodohan. Segera pergi dari hadapan Naora, adalah pilihan terkahir agar tidak semakin terpojokan.
"Bodohnya aku, karena hampir saja kemakan sama bualan Lana," gerutu wanita bermanik hazel itu seiring tubuh Lana yang tampak kian menjauh. Ia lalu memutar leher ke arah Milah. "Aku tidak begitu yakin bahwa kissmark di lehernya itu hasil karya Axton. Apakah Bi Milah juga berpikiran sependapat?"
Milah tersenyum simpul. "Bi Milah tidak berani asal berasumsi, Nak Naora. Apalagi belum ada bukti nyata di depan mata," jawab Milah.
"Bi Milah benar sih. Ah ... kenapa aku jadi suka berpikiran buruk ke orang lain?"
"Nathan?" lirihnya disertai kernyitan pada dahinya.
"Cepat angkat, Nak Naora. Kali saja Nak Nathan membawa sebuah kabar." Milah menegur Naora yang malah termangu.
"Ah, iya."
"Halo, Nathan. Ada apa?" sapanya setelah menempelkan ponselnya di telinga.
Paras cantik Naora seketika berona pias setelah mendengar kabar dari lawan bicaranya di balik panggilan. Kecemasannya kian merajai seiring dengan hujaman detak jantung tanpa belas kasihan.
"Nak Naora ... ada apa? Kenapa kau terlihat cemas?" Milah menepuk bahu Naora.
Wanita itu sontak menggiring pandangan ke arah Milah yang sudah tampak penasaran. Bibirnya bergetar. Dengan terbata ia menjawab. "Bi Milah ... Axton ... dilarikan ke rumah sakit."
Milah meraih jari-jari Naora yang terasa dingin dan basah oleh keringat, lalu mendekap tubuh menegang karena cemas itu.
__ADS_1
"Aku harus menemuinya sekarang juga, Bi." Naora mengurai pelukan Milah.
"Tapi, Nak ... ini sudah hampir petang."
Seolah menutup telinga, Naora tak mendengarkan nasehat wanita tua itu. Ia langsung melenggang pergi, memanggil seorang sopir pribadi.
"Nak Naora ... dia bahkan pergi dengan mengenakan baju tidur," lirih Milah seraya memandang mobil yang membawa istri ke-dua tuan mudanya itu menghilang di balik gerbang.
Dua jam lebih perjalanan telah dilalui dengan perasaan gamang. Kini Naora sudah berada di salah satu rumah sakit kota kembang. Ayunan kaki dibawa menyusuri lorong, melewati bangsal rumah sakit yang beratmosfer tenang.
Setelah sampai ke kamar yang dituju, Naora langsung berhamburan mendekati ranjang rumah sakit tempat Axton terbaring. "Axton ...! Kenapa bisa begini?" ujar wanita itu setengah menjerit. Ia memeluk tubuh suaminya sambil terisak.
Ia menatap nanar kondisi Axton yang terlihat tak berdaya. Pria itu terbaring dengan baju pasien berwarna biru muda. Perban putih juga membalut kening. Terlihat beberapa luka menghiasi tangan. Sebuah selang infus terpasang di pergelangan tangan kirinya. Sepasang mata Axton terpejam. Deru napasnya teratur.
Ingin segera mendapatkan jawaban, Naora menggiring mimik penuh tanya ke arah Nathan dan juga Wildan yang sedari tadi memang sudah berada di sana untuk menjaga Axton. "Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Naora, kau tenangkan dulu dirimu. Axton tidak mengalami cidera fatal. Tadi dokter memberinya obat tidur agar bisa beristirahat. Dia akan segera pulih," ucap Nathan.
Naora sedikit bisa bernapas lega, tapi bukan berarti rasa khawatirnya hilang begitu saja. Melihat kondisi Axton seperti itu, membuatnya seolah merasakan hal yang sama.
"Bagaimana ceritanya ia bisa terluka, Nathan?"
"Dia terluka karena berusaha melindungi Tuan Edrich dari amukan massa demo yang mengatas namakan masyarakat tempatan di lingkungan proyek."
"APA?!"
☘
☘
☘
Bersambung~~
Maaf ya ... Nofi belum bisa up double. Dan sepertinya itu mustahil bisa dilakukan selama Nofi masih bekerja di Taiwan. Bukannya malas, tapi memang waktu untuk nulis benar-benar kritis.
Sekali lagi maaf ya sudah bikin kecewa ...🙏
__ADS_1
Terima ya atas segala dukungan kalian. Jangan lupa tinggalkan like dan komen setelah baca di setiap babnya🥰
Nggak kerasa udah hari senin lagi. Bolehlah vote gratis mingguannya disumbangkan ke Axton, biar cepet sembuh🤭 Kasian dia.