
Axton cukup terperangah saat menerima respon baik dari Lana setelah aksi pengakuan terang-terangannya beberapa hari yang lalu. Kendati, ungkapan kecewa sempat terucap di bibir, tapi akhirnya Lana mengatakan akan mencoba mengerti dan rela membagi cinta suaminya itu.
Kelegaan kian membumbung, saat Lana juga mengijinkan Axton untuk tidur bersama Naora sesuai dengan waktu yang sudah dibagi. Bukan semerta-merta tiada alasan jika sang istri pertama itu menunjukkan sikap tulus yang seolah benar-benar dari hati. Wanita itu ingin menciptakan image baik dan pengertian di depan suami.
Dengan mereka sering tidur bersama, maka satu lagi rahasia aib Axton akan terbeber di depan Naora. Dan di saat waktu itu tiba, Naora pasti tak segan-segan mengkecam pria itu lalu hubungan mereka kembali panas. Dan di saat itu pula Axton akan menyadari bahwa hanya aku satu-satunya wanita yang mau menerima segala kekurangannya. Haha ... kau sangat pintar Lana!
Begitulah rencana licik Lana untuk menarik kembali perhatian sang suami. Namun, secara tidak sadar, ia melempar bomerang untuk dirinya sendiri untuk ke sekian kali.
Berbeda dengan Axton yang merasa lega karena atmofer di kehidupan rumah tangganya mulai menghangat. Naora justru terus diusik oleh perasaan curiga akan segala perubahan sikap Lana yang mendadak sangat pengertian.
"Naora ... kau sedang apa?"
Naora yang semula tengah asyik merangkai bunga di dalam vas porselen itu sedikit terhenyak karena suara seseorang merayap ke dalam indera pendengaran secara tiba-tiba. Ia putar lehernya ke samping, hingga sosok Lana dengan dua gelas minuman di tangannya memenuhi ruang mata.
"Seperti yang kau lihat Lana. Aku sedang menganggur kerja, jadi aku mencari kesibukan agar tidak bosan di rumah," jawab Naora lalu melanjutkan kembali kegiatan yang sempat tertunda, tanpa ada sedikit pun rasa penasaran kenapa madunya itu membawa dua gelas minuman.
"Oya, aku baru saja membuat apple mocktail ini dengan tanganku sendiri. Ini untukmu." Lana meletakkan segelas berisi minuman itu di atas meja depan Naora. "Aku ingin kau mencicipinya. Kata Bi Milah, lidahmu itu sangat pintar menilai tentang rasa makanan dan minuman," sambungnya lagi seraya menarik satu kursi lalu mendudukinya.
Wanita bermutiara hazel itu menerbitkan senyuman tipis. "Bi Milah terlalu berlebihan. Aku tidak sepintar itu."
"Tapi aku mempercayai ucapan Bi Milah. Maka dari itu tolong cepat cicipi minuman itu dan beri tahu aku bagaimana rasanya," desak Lana secara halus.
"Bukankah kau sudah mencicipinya sendiri?" Naora melontarkan tanya tanpa melepas fokus dari beberapa tangkai bunga mawar merah di tangannya.
"Sudah sih, tapi bukankah biasanya orang yang lebih pintar dalam menilai?"
"Iya, baiklah." Naora meraih gelas berisi mocktail miliknya. "Oya Lana, bisakah kau ambilkan bunga gardenia di sebelahmu itu untukku?" pinta Naora sebelum mencicipi minumannya.
Lana menoleh ke samping. Dan benar, ada sekeranjang kecil bunga di sana. "Bunga gardenia yang mana?" ia sedikit kebingungan karena ada beberapa jenis bunga yang di lihat.
"Yang bewarna putih."
Istri pertama Axton itu langsung paham, lalu maraup beberapa tangkai bunga tersebut dan mengulurkannya ke Naora tanpa berucap kata.
Seutas senyuman tipis menghiasi sepasang bibir, Naora. "Terima kasih ya," ucapnya.
"Ayo dong, cepat cicipi mocktail buatanku itu." Lana kembali mendesak.
Tidak lama-lama membiarkan wanita yang sedang duduk di sampingnya itu menunggu penilaiannya, Naora mulai meminum mocktail tersebut tanpa ragu.
"Hmm. Rasanya segar sekali Lana," puji Naora setelah menegak hampir setengah gelas minumannya.
"Benarkah?"
Naora mengangguk dengan gurat-gurat meyakinkan di mukanya. Hingga membuat Lana semakin penasaran dan ikut menegak mocktail miliknya. Bahkan dia tak tanggung-tanggung meminumnya sampai tak tersisa.
"Waah ... ternyata rasanya memang segar." Lana mengakui.
Melihat reaksi Lana, Naora langsung melempar tatapan menyelidik. "Kau bilang ... sudah mencicipi minuman ini sebelumnya, tapi kenapa baru sekarang kau bereaksi seperti itu?"
Mulut Lana terkunci seketika. Ia merasa telah salah berbicara. Namun, lidahnya gegas di ajak beralasan agar Naora tidak berpikiran buruk tentangnya.
"Itu ... tadi karena aku hanya mencicipinya sedikit sekali, jadi tidak terlalu tahu rasanya," jelas Lana.
"Ow ... begitu?" Naora mengangguk paham lalu kembali meneguk sisa mocktailnya.
__ADS_1
Cukup lama mereka saling berbincang di sana. Tidak terasa beberapa vas berisi bunga sudah berjajar cantik di atas meja. Naora memandang kagum semua hasil karyanya. Hingga gelagat aneh Lana mengalihkan atensinya.
"Kau kenapa, Lana?" tanya Naora keheranan karena madunya itu terlihat meringis sembari menekan perutnya seperti sedang menahan sakit.
"Perutku mules sekali."
Naora reflek menutup hidungnya dengan tangan saat Lana beberapa kali buang gas dengan suara khasnya. "Aku pikir ... kau harus ke toilet sekarang."
Rasa mulas kian meremas sadis isi perut, keringat dingin sudah terlihat membanjiri muka. Lana sudah tidak bisa menahannya lebih lama. Tanpa menjawab perkataan Naora, ia langsung ngacir begitu saja.
Seiring dengan tubuh lana yang kian menjauh, Naora menampakkan seringaian penuh makna. "Memegang pisau buah saja tidak bisa, apa lagi membuat *a*pple mocktail. Kau pikir aku bisa percaya begitu saja dengan minuman darimu itu? Aku tidak bodoh!"
Rupanya Naora sudah curiga dari awal bahwa Lana menaruh obat asing di dalam minumannya. Beruntungnya, ia sempat menukar mocktail miliknya dengan milik Lana saat wanita itu tak menyadarinya. Yaitu di saat mengambilkan bunga gardenia.
…
Sementara itu, di ruang kerja pemimpin tertinggi Sanders Corp.
"Kau ada perlu apa?" tanya Nathan sedikit kesal.
"Aku hanya memintamu datang menemuiku, kenapa kau kesal begitu?" Axton terkesan santai meski di hadapannya disuguhi muka masam Nathan.
"Kau bukan meminta tapi MEMAKSA!" ucap Nathan dengan sebuah penekanan di ujung kalimat. "Kau memaksaku dengan ancaman-ancaman licikmu itu."
"Kalau tidak begitu, kau tidak akan datang." Pria bermata elang itu masih bersikap santai di kursi kebersarannya.
"Gara-gara kau, aku membatalkan jadwalku bermain golf dengan klienku. Katakan kau mau apa?"
"Aku sepertinya sedang bermasalah dengan perasaanku." Axton mulai membahas tentang apa yang dirasakan.
"Maksudnya apa?" Nathan bertanya dengan malas. Pasalnya dia masih sangat kesal dengan sahabatnya yang pemaksa itu.
Nathan mengambil posisi duduk tegap saat itu juga. Mendengar nama Naora seketika menarik utuh perhatiannya. Perasaan kesal sirna begitu saja.
"Terus, apa masalahnya?" Pria bermata teduh itu tampak antusias.
"Di sini ... terus berdegub kencang tidak mau berhenti." Axton menjatuhkan jari telunjuknya di dada sebelah kiri.
Nathan kian memasang mimik serius. "Sejak kapan kau merasakannya?"
"Sebenarnya dari awal menikah dengan Naora, aku sudah merasakannya, hanya saja frekuensi degubannya lebih terasa beberapa hari ini," terang Axton yang juga tak kalah serius.
"Kau itu memang ahli di bidang bisnis, tapi sangat tidak becus jika sudah bersangkutan dengan perasaan," sembur Nathan, merasa gedek dengan sahabatnya itu.
"Aku memintamu datang bukan untuk menghinaku, Nathan!"
"Masih mending aku cuma menghinamu dan tidak menghajarmu."
Axton menatap tajam ke arah pria yang terus berceloteh itu. "Mulutmu memang minta dirobek."
Nathan spontan menutup mulutnya. "Dasar psikopat gila!"
"Berhentilah berbicara di luar topik. Aku ingin kau membantuku menjawab mengenai perasaanku."
Nathan menurunkan tangan dari mulutnya. Ia berdehem sebelum kembali bersuara. "Apa kau terus memikirkan Naora saat ini?"
"Iya."
__ADS_1
"Apa kau juga selalu ingin bersamanya?"
"Iya. Sekarangpun rasanya aku ingin cepat pulang dan bertemu dengannya."
"Kau akan merasa senang sekaligus gugup saat bersamanya. Kau juga merasakan nyaman. Terus kau pernah senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Dan aku yakin, kau juga suka berlama-lama di depan cermin. Oya ada lagi, kau juga sering merasa gemas seolah ingin mencium dan menggigitnya."
"Kenapa kau bisa tahu semua itu?" Axton terkesima di balik mimik dinginnya.
"Apakah semua yang aku katakan barusan benar-benar kau alami?"
Axton mengangguk sebagai jawaban. Namun, ia langsung dibuat keheranan saat Nathan tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di atas meja sambil mengaduh.
"Kau ini kenapa?! Dan cepat katakan, kenapa kau bisa tahu tentang semua yang aku rasakan saat ini?"
"Karena aku juga merasakan hal yang sama saat jatuh cinta dengan Naora. Itu berarti kau juga sudah jatuh cinta kepada istrimu itu. Aku yakin kau tidak pernah merasakan hal itu terhadap Lana, yang berarti tidak ada rasa cinta darimu untuk istri pertamamu itu."
Axton tertegun. Antara senang dan tidak percaya, dua perasaan itu terbingkai menjadi satu.
Delapan tahun yang lalu, Apakah itu berarti aku juga merasakan jatuh cinta kepada Naora? Tidak kusangka, dua kali aku jatuh cinta kepadanya. Dan benar kata Nathan, aku belum pernah merasakan hal seperti ini terhadap Lana. Jadi ... selama ini aku sudah salah menilai tentang perasaanku terhadap Lana. Bodoh sekali kau Axton!
"Kenapa kau terlihat frustrasi seperti itu?" tanyanya keheranan karena melihat reaksi berlebihan Nathan.
"Itu karena aku cemburu! Hatiku merasa sakit. Karena hingga sekarang, sosok Naora masih menjadi ratu di hatiku," terangnya blak-blakan.
Brak!
"Sialan! Buang perasaanmu itu! Naora hanya milikku!"
Tubuh Nathan terjingkat kaget saat Axton menghardiknya diiringi gebrakan meja. "Apa kau ingin membuatku mati karena jantungan?!" hardik Nathan juga karena tidak terima.
"Dan asal kau tahu, aku juga sudah sembuh. Milikku sudah kembali berfungsi. Dan itu hanya berlaku kepada Naora saja."
Nathan kian histeris seraya mengetuk-ngetukkan keningnya di permukaan meja. "Kau sudah menaburkan garam di lukaku, Axton. Seharusnya tidak perlu kau ceritakan hal itu kepadaku. Aku tidak sanggup membayangkan kau bercinta dengan Naora. Aku tidak rela."
"Dasar gila!"
Sebuah getaran ponsel di atas meja sontak menarik perhatian Axton. Gegas ia meraih benda tersebut dan melihat nama Wildan memenuhi layar.
"Halo?"
Wajah tampan Axton seketika berubah pias setelah mendapat laporan dari asisten pribadinya.
"Nathan, tolong carikan helikopter untukku?"
"Sekarang?"
"Iya sekarang."
☘
☘
☘
Bersambung~~
Maaf ya, Nofi belum bisa balas kome kalian satu-satu. Meskipun begitu jangan bosan-bosan ya meninggalkan jejak like dan komen. Insha Allah nanti pasti Nofi balas atau minimal Nofi kasih like.
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungan kalian..
lop you😘😘