Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Kabar Gembira


__ADS_3


Axton menunggu ditemani jantung yang berdebar. Waktu seolah berjalan lambat sehingga menguji rasa sabar. Ia berdiri bersandarkan dinding sembari menunggu kabar.


Dada kian bergetar di kala Naora keluar dari kamar mandi dengan raut wajah sulit terbaca. Diajak kaki mendekati si istri seraya menebar harapan melalui sorot mata.


"Naora?"


Naora sangat yakin, kekasih hatinya itu sudah tidak sabar menunggu kabar gembira. Ditarik sebelah tangan dari balik punggung disusul genggaman yang terbuka. Hingga sebuah benda kecil berbentuk pipih berhias dua garis merah memenuhi ruang mata.


"Aku positif, Axton," ucapnya berselimut haru seiring dengan netra yang mengembun.


Tiada tanggapan berlebihan selayaknya seseorang yang baru saja menerima kabar gembira. Axton malah membisu tak berucap kata. Diambil alat tes kehamilan itu dari tangan Naora lalu pergi menuju kamarnya. Tindakannya itu memancing tanda tanya di hati si wanita.


"Axton, kau tidak senang?" tanya Naora dengan perasaan yang sudah tak karuan. Pasalnya, reaksi Axton kali ini membuat ia tidak nyaman.


Kaki melangkah mendekati suaminya yang sedang duduk di bibir ranjang dengan kepala menunduk. "Axton, bicaralah. Jangan diam saja. Kau membuatku takut. Apa kau tidak senang karena aku hamil?" cerca Naora yang masih berdiri di depan pria itu.


Wanita itu tertegun saat menyadari kedua bahu kekar Axton tampak berguncang. Naluri mengajak tangan menarik wajah tampan yang masih tertunduk itu agar melihat ke arahnya.


"Axton, kau menangis? Kenapa? Kau tidak bahagia?" Naora tampak gusar. Namun, perasaan negatifnya itu seketika sirna di kala Axton memeluknya dan mulai mengutarakan isi hati.


"Apakah ini yang dirasakan oleh para calon ayah di luar sana? Dan apakah ini juga yang dirasakan daddy saat tahu ibuku mengandungku dulu? Sungguh, aku sampai kesulitan untuk mengespresikan rasa bahagiaku ini, Naora. Rasanya sangat menakjubkan. Aku sebentar lagi menjadi seorang ayah. Bukankah ini luar biasa? Aku mencintaimu, Naora. Sangat mencintaimu."


Axton tampak beberapa kali menghujani perut Naora yang masih rata itu dengan ciuman sayang. Tergambar jelas bahwa tindakan dan tutur katanya itu sebagai wujud luapan rasa senang.


Naora membelai lembut kepala sang suami yang kembali tenggelam di perutnya. Keharuan yang kian menyelubung mendorong bulir-bulir bening dari pelupuk mata.


"Aku juga sangat bahagia, karena bisa mengandung anakmu, Axton."


"Aku jauh lebih bahagia." Pria itu seolah tidak mau kalah.


Naora tertawa kecil seraya menyeka bingkai netranya yang basah. "Aku tidak menyangka, seorang Axton yang dulu sangat membenciku bisa bersikap manis seperti ini. Sebenarnya sejak kapan kau mulai mencintaiku?"


Perlahan, Axton menuntun tubuh Naora agar duduk di pangkuannya. Dicium kening dan pipi sang istri itu sebelum menatap serius paras cantik di depannya.


"Apa kau percaya bahwa dadaku ini sudah merasakan getaran yang berbeda semenjak delapan tahun yang lalu? Tepatnya setelah aku menolongmu di taman bendungan sungai. Belum lama ini, aku baru disadarkan oleh keadaan bahwa kau adalah cinta pertamaku," jelas Axton.


Hangatnya rasa cinta di relung hati Axton saat ini, bukanlah sebuah sentuhan kalbu yang baru saja ada. Sesungguhnya, benih rasa itu sudah bertunas semenjak sepasang mutiara hazel Naora menjukkan kerapuhan seolah membutuhkan perlindungannya.


Tepatnya pada delapan tahun yang lalu. Di taman bendungan sungai yang menjadi saksi akan dua jantung saling bertalu. Hanya saja, keadaan tak bersahabat lebih berkuasa waktu itu. Hingga gebuan kebencian terus berseru, mengubur jauh-jauh perasaan sejati sampai tiada satu insan pun tahu.


Tertegun dan sangat sulit dipercaya. Naora merasakan denyutan hebat di dada. Dikorek secara intens sepasang manik abu-abu suaminya. Dan menemukan kejujuran yang benar-benar nyata.

__ADS_1


Apakah ini berarti waktu itu cintaku tidak bertepuk sebelah tangan? Ya Tuhan, apakah ini sebagai bukti akan kuasamu dalam membolak-balikkan perasaan para ciptaanmu?


Hati kecil Naora terus saja berbisik. Hingga sebuah kecupan di bibir menariknya kembali dari lamunan.


"Kenapa malah diam? Apa kau tidak percaya dengan perkataan kakak Axtonmu ini?" Pria itu tersenyum pernuh arti.


Sementara Naora langsung terkejut selaras dengan garis-garis kerutan di dahi. Tidak lupa tatapan curiga tersuguhkan di depan suami. "Kau kok bisa--"


"Iya, bukankah diam-diam kau memanggilku dengan sebutan 'Kakak Axton' di setiap lembaran surat cinta yang kau tulis untukku?" tukas si pria.


"Jadi kau sudah membaca surat-suratku itu?"


"Iya, 100 surat lebih sudah aku baca semua tanpa ada satupun yang terlewatkan." Axton mengusap gemas ujung hidung Naora dengan ujung hidung miliknya. "Kau kucing kecilku yang manis."


Tiba-tiba tubuh Axton sedikit terhuyung ke belakang saat menerima dorongan Naora di dadanya. "Kenapa?" Ia pun langsung bertanya setelah mendapati gelagat si wanita yang terlihat tidak senang.


"Jadi kau sudah tahu semuanya?!" sungut Naora.


"Iya semuanya. Ternyata kau sudah mencintaiku selama itu. Maafkan aku yang sudah terlambat tahu."


Naora menekan dada bidang Axton saat hendak menciumnya kembali. Bahkan raut masam kian turut menghiasi mukanya kali ini.


"Kau sangat lancang, Axton?!" wanita itu beberapa kali memukul dada Axton. "Itu 'kan privasiku. Tidak seharusnya kau membaca surat-surat itu. Aku membencimu!" Ia langsung turun dari pangkuan suaminya lalu beringsut ke dalam selimut.


"Iih! Menjauhlah, jangan dekat-dekat!" Naora memberontak. Jika diperhatikan dari luar, selimut yang menutupi kedua manusia itu tampak bergelombang.


Lucu sekali.


"Jangan suruh aku menjauh darimu, Naora. Kau itu obatku."


"Obat apa'an sih?! Jangan bicara omong kosong."


"Naora ... dengarkan aku." Masih di bawah selimut, Axton merangkum wajah ayu Naora. "Selama kau menghilang, aku benar-benar disiksa oleh syndrom couvade. Aku diserang oleh rasa mual, pusing, lemas, hingga muntah-muntah. Dan yang bisa mengobatinya hanya kau, yaitu cukup berada di dekatmu saja."


Rasa iba mendadak menyergap diri. Naora seketika luluh di depan sang suami. Memang, selama hamil suasana hatinya mudah sekali berubah-ubah bahkan sampai tak terkendali.


"Kau pasti sangat menderita." Naora menyentuh tangan besar Axton yang masih merangkum pipinya.


"Kau sudah tahu itu, jadi ayo kita pulang sekarang."


"Tapi, aku tidak tega meninggalkan anak-anak yang selama sebulan ini aku ajak belajar bersama. Mereka tidak bisa menikmati bangku sekolah karena dari orang tua kurang mampu."


"Kau tidak perlu memikirkan mereka lagi, Naora."

__ADS_1


"Kok gitu sih?! Kau masih saja arogan dan tidak punya rasa simpati sedikitpun."


"Asal kau tahu, mereka tidak membutuhkan rasa simpati kita."


"Terserah kau saja!"


Sementara itu, di sudut rumah lainnya. Seperti halnya dengan sepasang suami istri yang tengah berbahagia karena kehadiran calon buah cinta, Nathan, Jovana, dan Wildan juga turut merasakan hal yang sama.


Bagi Nathan, kabar kehamilan Naora merupakan kabar gembira. Kendati setitik rasa spesial untuk wanita itu masih ada. Akan tetapi, hal itu tidaklah penting jika dibandingkan dengan kebahagiaan sang pujaan hati dan juga sahabatnya.


Aku harap tidak akan ada lagi duri derita yang menelusup ke dalam bahtera rumah tangga kalian. Berhagialah, karena hanya itu yang bisa buat aku tenang.


Sedangkan Jovana, ia tampak setengah hati ingin mengespresikan rasa bahagianya akan kehamilan sang sahabat di depan orang lain terutama Nathan. Akhirnya wanita itu memilih meninggalkan ruang, menuju samping rumah.


"Kau mau ke mana Wildan?" tanya Nathan dengan cepat saat asisten pribadi Axton itu tampak beranjak dari duduknya.


"Aku ingin mengobrol dengan Nona Joe, sekalian mengucapkan terima kasih karena sudah meminjamkan bajunya kepadaku," jelas Wildan.


"Kau tetaplah di sini. Aku yang akan menyusulnya."


"Kau bukan bosku, Nathan. Jadi jangan suruh-suruh aku."


Nathan beranjak dari duduknya lalu mendekati Wildan. "Aku yang lebih dulu mengenal dia. Kau tetaplah di sini. Oke."


Menggeleng cepat, Wildan tidak berniat menuruti perintah sahabat bosnya itu. Namun, hampir saja bibir melontarkan sebuah penolakan, suara Axton memupuskan niatnya.


"Wildan, aku punya tugas untukmu!" ucap Axton yang baru saja keluar kamar.


Semangat Wildan seketika mengendur saat niat terselubungnya tidak terlaksana. Ternyata diam-diam ia ada ketertarikan kepada Jovana.


Sedangkan Nathan langsung tersenyum menang sebelum akhirnya melenggang pergi. Dia memang tengah penasaran apa yang sedang Jovana lakukan saat ini.


Terkesima. Pemandangan yang tersuguhkan di depan mata sukses mencetak gurat-gurat pertanyaan di wajahnya. Dari balik dinding ia mengamati Jovana yang sedang duduk di lincak kecil di bawah pohon mangga.


"Aku tidak menyangka wanita preman itu bisa menangis."





Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2