
Srek!
Kreek..! Kreek..!
"Kyaaa! Kenapa kau merobek baju tidurku?!"
Naora menatap iba baju tidurnya yang sudah terkapar tak berdaya di lantai. "Itu baju tidur kesayanganku, kenapa merusaknya?!"
Wanita itu masih sempat-sempatnya melayangkan protes perihal baju tidur yang sudah terlihat menyedihkan. Ia bahkan lupa akan keadaan tubuhnya yang hampir tak berbalut benang di bawah kungkungan Axton.
Srek!
Tubuh kecil yang berada di bawah kuasa kekuatan Axton bergetar tak berdaya, kala tangan besar menarik pembungkus dadanya. Naora meremang seketika, saat salah satu aset berharganya tenggelam ke dalam mulut si pria.
"Aahk! Axton jangan kasar, kau menyakitiku!" pekik Naora, saat Axton memberi gigitan pada sebelah puncaknya diikuti satu tangan meremas gemas puncak yang lain.
Axton menjeda permainan, mensejajarkan mukanya dengan muka Naora. Ia melabuhkan tatapan yang sudah berkabut gairah berpadu amarah.
"Ini akibatnya karena memuji pria lain di depanku, Naora!"
"Kalau tidak ingin aku memuji pria lain, maka bersikap lembutlah kepadaku, Axton!" Naora menggeliat, mencoba membebaskan diri. "Kau kasar, arogan, dan tidak pernah bersikap adil kepadaku yang juga istrimu." Ia mengeluarkan segala unek-unek di dalam hati.
Merangkum kasar muka kecil Naora, Axton kian geram. "Aku membencimu, Naora! Sangat membencimu! Kau membuat pikiranku tidak tenang karena frutrasi, merusak kosentrasiku saat bekerja, selalu merangsang amarahku. Bagaimana aku bisa bersikap lembut kepadamu? Hah!"
"Kalau begitu jangan larang aku mencari kelembutan dari pria lain jika kau yang sebagai suamiku tidak bisa bersikap lembut."
Mungkin sudah lelah lidah untuk terus menjelaskan apalagi memberi tuturan, Naora pun turut terpancing emosi. Dan ucapannya yang baru saja terlisan itu kian membuat Axton memanas tak terkendali.
Bibir mungil Naora kembali menjadi sasaran keganasannya. Lidah dibawa menjelajah ke seluk beluk rongga mulutnya. Pertukaran cairan saliva pun berlangsung cukup lama. Kedua anak manusia itu pun mulai terlena, tenggelam ke dalam arus yang menggetarkan jiwa.
Perlahan, perlakuan kasar tak dirasakan lagi oleh Naora. Axton melembutkan ******* bibirnya. Pria itu seolah sudah lupa akan amarahnya. Saat ini dia terlihat sangat menikmati benda ranum yang dipagutnya.
Manis sekali ... aku sangat menyukai bibirnya. Wanita beracun ini hanya boleh menjadi milikku.
Tak berbeda dengan Axton, Naora juga sudah terbuai oleh pagutan hangat di bibirnya. Ia pun mulai mengimbangi permainan. Tangan dibawa melingkari leher si pria, dan mulai membalas ciuman.
__ADS_1
Namun, axton tiba-tiba melepas pagutannya, memahat mimik muka merendahkan, disusul seringaian sinis. "Dasar wanita murahan."
Sekali lagi, ucapan Axton mengenai hati. Tersinggung? Sudah pasti. Namun, kali ini Naora lebih memilih mengutukki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia dengan sangat mudah terbuai oleh rayuan Axton saat sedikit kelembutan ia dapati.
Tangan Axton bergerak lincah, menyusup ke dalam kain tipis yang membungkus organ kewanitaan Naora. Memastikan keadaan di dalam sana. "Kau bahkan sudah basah." Pria itu terlihat bangga dengan perbuatannya. Apa lagi melihat muka Naora yang sudah memerah seperti buah ceri di musim semi.
Wanita itu ... malu setengah mati. Bahkan batin tak henti-hentinya mengumpati diri.
Ia sedikit mengangkat tubuhnya, mata memindai kulit putih Naora dari bagian leher hingga ke sepasang gundukan kenyal yang menggoda, membuat si pemilik reflek menutupi tubuhnya dengan kedua tangan dibawa menyilang ke dada. "Kita lihat besok, apa kau masih punya muka untuk bertemu Nathan dengan bercak-bercak merah di tubuhmu."
Naora seketika memasang muka kebingungan. Masih di bawah kungkungan Axton, ia menjulurkan tangan ke samping ranjang, menjangkau cermin kecil yang terletak di atas meja lampu tidur.
"Kenapa banyak sekali ...! Bagaimana caraku menutupinya besok?!" gerutunya, saat melihat tanda-tanda di leher karena perbuatan nakal Axton. Kemudian ia menatap tajam muka tampan tapi terlihat sangat menyebalkan baginya itu. "Bagaimana caramu mempertanggung jawabkan perbuatanmu, Axton?! Aku tidak mungkin ke kantor untuk memamerkan jejak-jejak mesummu!"
"Memang kau pikir aku peduli?" pria itu kian membuat Naora kesal. "Sekarang kau jauh lebih terlihat murahan, Naora."
Sekarang, persetan dengan rasa malunya. Rasa tidak terima mendorong niat Naora untuk memberi pelajaran yang setimpal kepada pria arogan yang masih memandang rendah dirinya.
"Wanita murahan katamu? Akan aku buat kau merubah pikiranmu tentang aku saat ini juga."
Cumbuan lembut di bibirnya bagaikan bius yang melemahkan saraf-sarafnya. Raganya menerima pasrah perlakuan nakal Naora. Ia bahkan tidak berniat menghentikan tangan kecil itu saat membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Ahh ... kau memang nakal Naora ...." Axton mendesah kenikmatan. Hisapan-hisapan kecil Naora di dada, memancing hasrat kejantanannya.
Srek ...!
Naora mendorong tubuh besar yang semula menindihnya. Ia lanjut berganti posisi menunggangi. Tidak berhenti di situ saja, tangannya diajak bergerak lincah melepas ikat pinggang Axton, lalu menelusup ke dalam celana dan bermain dengan benda besar dan keras.
"Ahh ...! K-kau." Axton sampai tidak bisa berkata-kata. Tangan kecil yang sedang bergerak naik-turun di bawah sana, membuatnya tenggelam ke dalam hasrat yang kian menggelora.
"Aku rasa sudah cukup."
Axton seketika tersentak dari keterbuaian saat kenikmatan yang membelainya tiba-tiba terasa menghilang begitu saja. Bahkan tubuh Naora sudah tidak berada di atasnya.
Wanita itu berlari kecil menuju kamar mandi, meninggalkan axton yang terpaksa menahan ngilu pada kejantannya. Ternyata Naora mengerjainya.
Dasar Naora!
__ADS_1
"Naora ...! Beraninya kau bermain-main denganku!" seru Axton frustrasi, menatap nanar pada batangnya yang sudah menuntut akan sebuah pelepasan.
Daun pintu kamar mandi terbuka sedikit, disusul muka Naora yang menyembul dari sana. "Memangnya kau pikir hanya kau saja yang bisa memberi hukuman. Wlek!" Ia melempar muka meledeknya lengkap dengan lidah yang menjulur keluar.
Brak!
Naora kembali menutup daun pintu.
"Arrg ...! Naora ...!" Axton meraung frustrasi.
Sedetik kemudian, daun pintu terbuka lagi, muka Naora kembali muncul. "Lihatlah tubuhmu, sudah seperti orang terkena kurapan. Bersiaplah, kau tidak akan bisa tenang karena istri tercintamu itu meranjuk karena tahu suaminya bermain dengan wanita lain."
Brak!
Naora menarik mukanya dari ambang pintu, hingga ia benar-benar sudah tidak terlihat lagi.
Setelah kalimat terkahir Naora, Axton langsung memeriksa tubuhnya. Dan ternyata benar, ada banyak sekali kissmark yang tercetak di sana. Bahkan jumlahnya lebih banyak dari pada milik si wanita.
"Sialan! Wanita itu ternyata sangat licik!"
☘
☘
☘
Bersambung~~
Okey, bab ini dilanjutin besok lagi ya. Hari ini cuma bisa ngetik seribu kata. Maaf ya ...
Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon like. Tinggalkan komen cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣
Vote gratis mingguan juga boleh disumbangkan ke lapak yang masih sangat sepi pembaca ini..
Sumbangan Gift juga akan Nofi terima dengan senang hati🥰
lop lop you pooolllll😘😘
__ADS_1