Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Kondisi Edrich


__ADS_3


"Daddy! Ya Tuhan!" Naora berteriak histeris sebelum berlari mendekati Axton yang malah tampak membatu dengan ekspresi sulit diartikan. "Axton! Cepat tolong Daddy!" Ia menggoncang tubuh suaminya seraya menangis cemas, tapi pria itu masih saja bergeming.


Beberapa detik sebelumnya, Edrich menyadari bahwa nyawa Axton dalam bahaya. Dari kejauhan ia melihat sebuah mobil melaju cepat ke arah putranya. Tidak berpikir panjang, kaki langsung diajak berlari secepat yang dia bisa. Dengan harapan, anak semata wayangnya itu selamat dan tidak terluka.


Akan tetapi sangat disayangkan. Sang waktu sepertinya tidak mampu dikalahkan. Ia berhasil menyelamatkan Axton, tapi dirinya sendiri yang malah jadi korban. Ia terlambat menghindari mobil hingga tubuhnya tertabrak dan terpental ke dalam danau buatan.


Axton yang semula membatu karena sangking terkejut, mulai menunjukkan reaksi. Rautnya terlihat tengah menahan gejolak di hati. Tubuhnya pun sudah dibasahi keringat dingin yang menyembul dari pori-pori.


Menyaksikan langsung sang ayah sekarat di dalam air, mengingatkan ia akan peristiwa tragis yang menimpa ibunya. Serebetan bayangan mengerikan itu seolah menyayat isi kepala. Pria itu ternyata kembali diserang oleh trauma. Tubuh gagahnya serasa lemas tak bertenaga, hingga topangan kaki pun melepaskan perannya. Axton beringsut di atas tanah seketika.


Tahu bahwa psikis suaminya saat ini sedang tidak dalam baik-baik saja, Naora berjongkok di depannya dengan melabuhkan tatapan penuh perhatian berpadu dengan kecemasan.


"Axton, bertahanlah! Kau harus baik-baik saja," tutur Naora. Setelah itu ia berdiri seiring dengan kemantapan hati. Berniat kuat menolong sang daddy.


Di situasi seperti sekarang, Naora pun harus melawan traumanya. Sama halnya dengan Axton, wanita itu juga memiliki cerita masa lalu kelam yang berhubungan dengan genangan air.


"Berhenti, Naora. Biar aku saja. Kau masuklah ke dalam mobil," halau Axton ketika menyadari wanita kesayangan bernekat untuk masuk ke dalam danau. Ia tidak akan mungkin membiarkan istrinya kenapa-kenapa.


Ternyata Axton mulai bisa menguasai jiwanya yang sempat bergejolak. Namun, bukan berarti ia langsung terlepas oleh trauma yang kini sedang menyiksanya.


"Dad, aku mohon bertahanlah," lirihnya dengan perasaan tidak karu-karuan. Sekuat tenaga ia melawan guncangan rasa lalu membawa kaki memasuki genangan air, berniat membawa tubuh sang daddy ke tepian.


Namun, belum sempat telapak kaki Axton tenggelam ke dalam genangan air, bahaya kembali menghadangnya.


"Axton, awas!" Naora kembali berteriak saat melihat Lana keluar dari mobil lalu menyerangnya dengan benda tajam berupa sebilah pisau kecil.


"Aarg ...!" erangan langsung terdengar saat sebuah sayatan berhasil merobek lengan Axton. "Lana?! Kau benar-benar sudah gila!" hardiknya saat menyadari keberadaan mantan istrinya itu.


Seolah rasa takut sudah terkubur dalam bersama sisi kewarasannya, Lana kian menggila. Gelak tawa jahatnya menggema. "Aku tidak gila, Honey. Aku ini wanita berani. Kau harusnya memujiku."


Secepat kilat seringai jahatnya bertransisi ke dalam mode sedih selayaknya seseorang yang memohon iba. "Maukah kau mati demi aku? Aku ingin kau mati sekarang. Setelah kau yang mati, istri ke-duamu juga harus mati. Hanya itu yang bisa buat aku bahagia." Lana kian berbicara ngelantur dan melewati batas nalar manusia normal.

__ADS_1


Axton menekan lengannya yang terluka, mencegah darah mengalir lebih banyak. Ia melirik ke arah Naora yang tampak ketakutan. "Naora, cepat masuk ke dalam mobil!" titah pria itu demi keselamatan istrinya. Namun, Naora justru terlihat ragu untuk meninggalkan suaminya.


"Kau masih saja lebih memperhatikan wanita jallang itu dari pada aku, Honey! Kau sudah menyakiti hatiku!" Lana menangis sejadi-jadinya. "Kau mati saja!" Ia mengangkat pisau di tangannya dan siap menghujam Axton.


Bug!


"Ahk!"


Serangan Lana gagal karena Naora berinisiatif cepat mencegah perbuatannya dengan memukul punggungnya menggunakan kayu.


"Kurang ajar sekali kau wanita jallang!" umpat lana, menatap berang ke arah Naora.


Mengabaikan rasa sakit di punggung, bahkan Laba tidak peduli dengan kondisi janin di dalam perutnya. Ia melangkah lebar dan siap menyerang Naora. Namun, lagi-lagi niat jahat wanita itu tercegah karena Axton mencekal tubuhnya.


"Naora, masuk ke dalam mobil!"


"Tapi, Axton, bagaimana denganmu?"


"Aku bilang masuk ke dalam mobil sekarang!"


Axton yang kebetulan sedang terluka cukup kewalahan menahan gerakan random Lana. Hingga wanita itu sukses terbebas dari cekalan tangannya. Dan menghadiahi lagi satu sayatan luka di dada. Beruntung pria itu masih sempat sedikit menghindar, jadi sobekan cedera tidak terlalu menganga.


Lana langsung berlari mendekati Naora yang hampir masuk ke dalam kendaraan. Pisau di tangan sudah terangkat dan siap menghunus incaran.


Untuk beberapa detik, Axton sempat kebingungan karena sedang berada dalam pilihan sulit. Ada istrinya yang harus dilindungi, tapi di sisi lain sang daddy juga harus segera diselamatkan. Namun, segera ia enyahkan pikiran kalutnya.


Tidak ingin tinggal diam saat istrinya juga hendak menjadi korban. Kaki diajak berlari membututi Lana yang kurang sedikit lagi diyakini mampu menjangkau Naora. Suasana pun kian menegangkan.


Dor!


"Ahk!"


Kedua wanita itu memekik bersamaan saat sebuah ledakan pistol terdengar menggelegar di udara. Naora baik-baik saja, tapi tidak dengan Lana. Sebuah timah panas yang bersemayam di kaki sukses melumpuhkannya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, beberapa petugas kepolisian datang lalu membekuk buronan mereka. Siapa lagi kalau bukan Lana. Axton dan Naora pun sedikit bisa menghirup udara lega.


Teringat akan kondisi sang daddy, Axton bergegas berenang ke dalam danau meski harus melawan ketakutan di dalam hati. Baginya, keselamatan Edrich jauh lebih penting saat ini.


Dengan kecemasan yang luar biasa ia menarik tubuh Edrich ke tepian danau. "Daddy! Aku mohon bertahanlah! Kau tidak boleh mati!" Tidak terbendung lagi, akhirnya tumpah juga air mata membasahi pipi. Melihat kondisi sang daddy dalam keadaan kritis, menyisakan kepiluan di hati.


Di saat yang sama, beberapa petugas yang berada di sana pun langsung bergerak cepat mengevakuasi korban.



Di depan pintu ruang IGD, aura kecemasan masih menyelimuti suasana. Di dalam hati, Naora tak henti-hentinya membisikkan doa. Berharap akan keselamatan ayah angkatnya. Sementara di sudut ruangan yang sama, Axton tampak bergeming dengan ekpresi sulit terbaca.


"Axton, aku mohon. Biarkan petugas kesehatan mengobati lukamu," pinta Naora. Bagaimanapun juga, beberapa luka di tubuh Axton turut menambah kecemasannya.


Akan tetapi, Axton seolah tidak peduli. Ia tidak menanggapi permintaan Naora kali ini. Pria itu masih saja membisu dan seolah tuli.


"Axton, kau mau ke mana?" tanya Naora saat Axton mulai memutar tumit, berniat meninggalkan ruang tunggu.


Melihat gelagat Axton yang terlihat aneh, Naora kembali menitihkan air mata. Ia sangat tahu bahwa suaminya kini sedang tenggelam dalam kesedihan tak terkira.


"Aku mohon jangan seperti ini, Axton." Wanita yang sedang hamil muda itu masih berusaha mengikuti si pria.


Namun, Axton masih mengatup rapat bibirnya dan terus saja berjalan, mengabaikan keberadaan Naora.





Bersambung~~


Terima kasih ya bagi para pembaca yang masih setia menyimak kisah Axton dan Naora hingga di episode ke 100 ini🥰

__ADS_1


Terima kasih juga atas dukungan kalian😘


__ADS_2