Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Nathan Alexander


__ADS_3


Sepanjang perjalanan pulang, sepasang mutiara hazel masih enggan mengalihkan pandangan dari pemandangan di balik luar kaca jendela mobil. Seraya menopang dagu, ia tercenung. Pikirannya kembali mengingat akan pesan si Ayah angkatnya.


Naora, Daddy tidak ingin ada perceraian di dalam pernikahanmu. Hanya kau wanita yang pantas menjadi anak menantukku. Demi memenuhi amanah terakhir dari kedua orang tuamu, kau harus bertahan. Percayalah, kelak Axton akan sadar bahwa keputusannya menikahi Lana adalah salah.


Naora menghentikan lamunannya dengan satu kali helaan napas panjang. Mengusir segala pikiran rancu yang melintang. Namun sayang, pikiran itu seolah tak patah arang. Keukuh mengganggu Naora dengan riang.


"Apa yang sebenarnya Daddy ketahui tentang Lana? Andai Daddy bersedia menceritakan semua, pasti aku tidak sepenasaran ini. Haah! Membuat kepikiran saja." Ia mengubah posisi duduknya tanpa mengalihkan penglihatannya dari luar kaca jendela.


"Sebelum aku pulang, Daddy terus mengingatkan agar segera memberinya cucu. Dan hal itu seratus kali lipat jauh lebih sulit dari pada harus naik tangga sampai ke lantai seratus."


Mengacak asal rambut diselingi erangan frustrasi, lalu melempar kasar punggungnya pada sandaran tempat duduk mobil. "Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya dengannya, sedangkan selama ini hubungan kami tidak pernah baik."


"Membayangkan untuk bercinta dengannya saja aku sudah sangat malu," celotehan Naora kian terdengar seperti cicitan tikus di akhir kalimatnya.


Menempelkan kedua telapak tangan pada kedua sisi pipinya yang mendadak memerah seperti buah ceri. Bayangan kotor yang menari-menari di kepalanya, seketika membuatnya malu sendiri.


Wanita itu terus bermonolog pada dirinya sendiri, tanpa menyadari kalau si sopir tersenyum gedek karena mendengar celotehan si anak majikannya itu.


Pandangan Naora yang sedari tadi tak lepas dari luar jendela tiba-tiba tarpaut pada sebuah aksi kelompok penyanyi jalanan kota yang tengah memamerkan suara emas dan kemahiran dalam memainkan musik. Ia tertarik untuk menikmatinya lebih dekat. Hitung-hitung, menyegarkan otaknya yang stress karena banyak barpikir. Begitu batinnya.


Naora menepuk ringan pundak si sopir. "Pak Hasan, aku berhenti di sini saja." Hasan sontak menginjak pedal rem dan menepikan mobilnya.


"Pak Hasan langsung pulang saja."


Hasan sedikit memutar tubuhnya ke belakang. "Tapi, Non, saya harus mengantar anda sampai rumah."


"Tidak perlu Pak. Aku ingin mencari udara segar dulu. Lagian tempat tinggalku juga sudah tidak jauh dari sini. Nanti aku bisa memanggil taksi."


Naora berceloteh seraya tangan mengobrak-abrik isi tasnya. Senyuman terulas di bibir saat benda yang dicari ketemu, lalu ia memberikannya kepada Hasan. "Ini untukmu Pak, anggap saja sebagai teman di perjalanan pulangmu."


Hasan menerima pemberian Naora yang berupa beberapa bungkus pie susu dengan ulasan senyuman hangat. Meski sangat sederhana, tapi sarat akan perhatian.


"Terima kasih, Nona."


"Dimakan ya, itu 'kan kesukaan pak Hasan. Ya sudah aku turun dulu, hati-hati di jalan ya Pak."


"Iya, Non. Nona juga hati-hati."


"Oke."


Naora pun keluar dari mobil. Diayun sepasang kaki berbalut flatshoes itu mendekati pertunjukan penyanyi jalanan yang sudah dikerumuni oleh para penonton.


Bug!


"Ahhk!"


Namun, belum sempat ia bergabung dalam keramaian, tubuhnya harus terhuyun ke belakang akibat bertabrakan dengan sesorang dari arah berlawanan. Andai tidak ada sepasang tangan kekar yang menangkapnya, mungkin akan ada adegan romantis pantat mencium tanah karena terjatuh.


"Maaf, Nona. Apa kamu terluka?" tanya seorang pemuda dengan posisi tangan masih merengkuh tubuh Naora.


Merasa tidak nyaman dengan posisi yang tak patut jika dibiarkan terlalu lama, karena mengingat statusnya sebagai wanita bersuami, Naora melepaskan diri dari lilitan tangan kekar pada perutnya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Tuan. Terima kasih sudah menolongku."


"Kau tak seharusnya berterima kasih, karena aku yang menyebabkanmu hampir terjatuh. Sekali lagi aku minta maaf."


"Bukan masalah, kalau begitu saya permisi dulu."


Tungkai yang hampir melangkah terurungkan, karena pria itu mencoba menghalau dengan memegang sebelah lengannya. Hingga mengundang mimik penuh tanya di mukanya.


"Maaf, ada apa lagi?" tanya Naora.


"Sepertinya aku telah membuat masalah yang lain, Nona."


"Maksudnya?"


"Air minum yang aku bawa ... menumpahi bajumu, sekali aku minta maaf." Pria itu merasa tak enak hati.


Naora menurunkan pandangan ke arah bajunya. "Ahh ... iya, kenapa aku baru menyadarinya?" Naora sedikit terkejut. Iya, hanya sedikit. "Tapi ini bukan masalah besar, aku bisa mencucinya. Dan masalah beres bukan? Kau tidak perlu merasa tidak enak hati."


"Tidak bisa begitu, Nona. Bagaimanapun juga aku harus mempertanggung jawabkannya."


"Tidak perlu, Tuan."


"Maaf, aku akan tetap bertanggung jawab. Sekarang ikutlah bersamaku. Aku akan membelikankan baju yang baru untukmu." Pemuda itu menarik tangan Naora, berniat membawanya ke pusat perbelanjaan mall yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Tapi, Tuan, aku tidak bisa ikut bersama orang yang tidak kukenal." Naora masih bersikukuh menolak.


Pria itu mencetak senyuman. Mencoba memaklumi penolakan Naora. Akan tetapi bukan berarti dia akan berhenti begitu saja. Berpura-pura buta akan tanggung jawab dari kesalahannya bukan bagian dari personalitasnya.


Naora menatap uluran tangan si pria yang sudah menantikan sambutan di depannya. Ia tampak ragu, meski sebatas mengangkat tangan.


"Ayolah, aku hanya ingin memperkenalkan diri." Pria bernama Nathan itu menarik tangan Naora dan menempelkan kepada telapak tangannya. "Nathan." Ia kembali menyebutkan namanya dengan satu kali goyangan tangan.


"Namamu?" tanya Nathan.


"Naora," balasnya lalu menarik kembali tangannya.


"Bukankah kita sudah saling kenal, jadi aku yakin kau tidak akan keberatan jika aku mengajakmu masuk ke dalan bangunan itu." Nathan membawa jari telunjuknya menunjuk ke arah mall yang berada di seberang jalan.


"Maaf, Tuan. Meski kita sudah saling mengetahui nama masing-masing bukan berarti aku akan bersedia ikut denganmu begitu saja."


Ternyata, Naora masih gigih dengan pendiriannya.


"Kenapa?"


"Aku tidak pernah tahu dengan niat di hatimu yang sebenarnya."


"Apa ... kau berpikir aku bisa saja berbuat jahat?"


"Tentu saja. Itu sebagai bentuk antisipasi wanita agar terhindar dari kejahatan terutama dari lawan jenis."


Nathan seketika tergelak. Baru kali ini ia bertemu dengan wanita yang berpikir sangat kritis.


Dia wanita yang sangat menarik dan juga ... cantik. Sepertinya aku ... ah! sudahlah.

__ADS_1


"Kenapa Tuan tertawa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?"


"Sama sekali tidak ada yang salah dengan ucapanmu, Naora. Memang sangat dianjurkan bagi seorang wanita untuk lebih waspada dan menjaga diri. Apa lagi wanita cantik sepertimu ini."


"Bagus kalau Tuan tahu hal itu."


"Sejujurnya aku sedikit tersinggung dengan cara berpikirmu, Naora."


Sebenarnya, Naora sedikit kurang nyaman saat Nathan berkali-kali menyebut namanya yang terkesan sok akrab.


"Coba kau nilai penampilanku, apa aku terlihat seperti orang jahat?" sambung Nathan kembali.


Ucapannya terdengar bagaikan komando dari atasan. Sepasang mata Naora pun mulai memindai penampilan pria yang berdiri gagah di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Sangat rapi dan bersih. Semua benda yang melekat pada dirinya terlihat dari produk brand fashion terkenal. Aroma parfum yang berkelas. Dan juga ... paras yang rupawan. Sebelas dua belas dengan si arogan Axton. Bedanya, dia terlihat lebih ramah dan murah senyum. Tidak seperti Axton yang sangat mahal tersenyum. Ah! Kenapa aku jadi teringat dengannya.


"Apa kau sudah selesai?"


Naora sedikit tertegun saat gelombang suara Nathan menyeruak ke dalam pendengarannya, ternyata dia sempat tenggelam ke dalam lamunan. "Ee? Apanya?"


Sikap Naora membuat Nathan gemas. "Menilaiku, Naora ...."


"Ow."


"Aku yakin kau pintar dalam menilai orang dari penampilannya, Naora. Bukankah aku tidak terlihat seperti orang yang akan berbuat jahat?"


"Mungkin saja."


"Ya sudah, kalau begitu ijinkan aku untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku sekarang."


Seolah tak ingin memberi kesempatan untuk Naora yang diyakini akan kembali melontarkan sebuah kalimat penolakan, Nathan membawa paksa wanita itu menuju bangunan mall.


"Terima kasih. Tapi jangan memintaku untuk mengganti uangmu karena dari awal kau yang memaksa ingin membelikanku pakaian," ucap Naora setelah keluar dari kios pakaian.


Nathan tergelak lirih. "Ke mana perginya harga diriku jika aku sampai memintamu mengganti uangku, Naora. Jangan kau buat aku terlihat buruk, karena itu sangat kejam."


Sepasang bibir yang sedari tadi sama sekali tak menampakkan lengkungan senyuman, akhirnya memamerkan pesona. Gurauan yang mencelos dari lidah Nathan sukses menarik jiwa humoris Naora.


Keramahan Nathan perlahan menciptakan kenyamanan bagi Naora. Keraguan akan niat baik si pria pun sudah tidak dirasa.


"Baiklah, karena langit sudah semakin gelap, aku akan pulang sekrang." Ia berniat pamit.


"Naora ...."


"Iya?"





Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2