Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Baby Axcel


__ADS_3


Malam tenang, menaungi sepasang orang tua yang terlelap dalam tidurnya. Hingga, kenyamanan mereka harus sedikit terusik kala suara tangisan bayi menguar ke dalam telinga. Keduanya langsung terjaga di saat yang sama.


"Biar aku saja, Naora. Kau tetap beristirahat," tutur Axton lalu bergerak cekatan mendekati box tempat Axcel diletakkan.


Naora tidak semerta-merta kembali tidur begitu saja. Ia bangkit dari posisi terbaring lalu menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang.


"Axcel kenapa?" tanya Naora, masih mengamati suaminya yang tengah memeriksa sang putra.


"Dia mengompol," jawab Axton lalu kembali fokus kepada Axcel yang masih menangis. "Hei, kau itu makhluk kecil tapi kalau menangis suaranya kencang sekali. Tenanglah, daddymu yang paling tampan ini akan membantumu, tapi kau harus membayarnya untuk itu."


"Axton ... dia masih kecil, bagaimana bisa kau mengajaknya bernegoisasi seperti itu?" Naora mengajukan protes, tapi Axton seolah tak mendengarkan.


Axton terus mengoceh dengan tangan bergerak terampil membersihkan lalu mengganti pempers putranya. Pria itu mengangkat tubuh mungil Arden hingga bersejajar dengan mukanya.


"Bagaimana? Kau sudah merasa nyaman bukan? Kau harus membayarnya, yaitu dengan cara menyayangi ibumu. Jangan pernah kau sakiti dia. Kita berdua harus kompak untuk membuatnya bahagia. Okay?"


Bayi berusia 6 bulan itu mulai berceloteh lucu. Ia menggerakkan kedua tangan mungilnya seolah ingin menggapai wajah sang daddy. Sepasang kakinya juga terlihat menendang-nendang udara dengan lincah. Bahasa tubuh Axcel seolah mengatakan bahwa ia menerima kesepakatan yang diberikan Axton.


Naora tersenyum lembut melihat interaksi manis di antara Axton dan putranya. Pemandangan di depan mata menciptakan perasaan hangat di dada. Tidak pernah disangka, bahwa Axton si raja arogan bisa menjadi seorang suami sekaligus ayah yang membuatnya bangga.


Axton tertawa geli melihat tingkah Axcel. "Apa kau ingin bermain? Tapi sekarang bukan waktunya untuk itu. Ini masih tengah malam, kau harus kembali tidur."


Celotehan lucu masih saja terdengar dari bibir mungil Axcel. Sepertinya bayi itu memang sedang ingin bermain.


"Axton, berikan dia kepadaku dulu. Dia pasti haus," ucap Naora dengan tangan terulur ke depan. Ia berniat menyusui anaknya.


Axton masih sempat mencium gemas pipi tembem putranya lalu diberikan kepada Naora. Seolah tiada lagi rasa kantuk yang melanda, pria itu mengamati sang putra yang tampak menyesap kuat sumber makanannya. Sebelah tangan mungilnya bahkan terlihat memegang posesif sumber ASI yang satunya.


"Kau terlalu rakus. Makanya sering sekali ngompol." Axton mulai mendekatkan muka pada dada Naora yang terbuka lalu memberi kecupan di sana. "Kau harusnya mau berbagi kepadaku karena sebelum kau lahir ini semua milikku tapi kau merebutnya. Ahk!" Pria itu sedikit mengadu seraya meringis karena tangan Axcel tiba-tiba menjangkau dan menarik telinganya.


"Axton, sepertinya ia tidak suka dengan perkataanmu." Naora terkekeh geli.


"Hei, lepaskan tanganmu kalau tidak ingin aku merebut kembali kedua mainanku ini." Axton mencoba menggoda sang putra.


Axcel seolah tidak mengijinkan sang daddy menyentuh apalagi merebut kembali sepasang sumber ASI miliknya. Ia langsung berhenti menyesap dan langsung menangis keras sebagai bentuk protes dengan tangan masih belum ingin lepas dari telinga Axton.


"Axton, kau ini seperti anak kecil saja. Axcel jadi menangis 'kan," omel Naora.


"Iya iya ... Daddy tidak akan merembutnya darimu. Kau bisa memiliki semuanya. Daddy berjanji."

__ADS_1


Dan demi apa coba? Tangisan Axcel berhenti seketika. Tangan juga sudah lepas dari telinga. Bayi tampan itu bahkan kembali melanjutkan meminum ASInya. Axton dan Naora sampai dibuat sulit berkata-kata.


"Sebenarnya dia ini anaknya siapa?" celetuk Axton masih di mode terperangah.


"Anaknya pak tukang parkir," jawab Naora sekenanya.


"Naora, jangan berbicara sembarangan."


"Kau sendiri juga bertanya tanpa berpikir."


Selang beberapa waktu, dua tampungan ASI sudah terkuras, ditandai Axcel yang menyudahi kegiatan menyusunya. Namun, bukannya segera kembali terlelap, sepasang mata bulat bayi itu malah semakin berbinar terang.


"Tidak seperti biasanya, Axcel tidak langsung tertidur setelah kenyang," kesah Naora keheranan. Wanita itu juga terlihat beberapa kali menguap karena rasa kantuk yang kian melanda.


"Serahkan saja dia kepadaku. Biar aku yang menidurkankannya. Kau beristirahatlah." Axton mengambil alih tubuh Axcel dari gendongan Naora.


"Tapi kau juga harus segera beristirahat. Besok kau 'kan kerja. Biar aku saja yang menidurkannya."


"Naora, tidurlah. Jangan buat aku terus mengulangi perkataanku. Lagian aku tahu kau sudah sangat kelelahan karena seharian mengurus putra kita. Kau juga butuh banyak berisitrahat."


"Kau tidak apa-apa?"


"Iya."


Axton mencium pucuk kepala Naora lalu tersenyum penuh makna. "Tidurlah. Aku juga tahu kau juga kelelahan karena melayaniku di setiap malam. Terima kasih ya," ucap Axton sedikit berbisik, agar si Axcel tidak mendengarnya. Padahal belum tentu bayi tampan itu mengerti dengan ucapannya.


"Kau selalu saja berterima kasih. Padahal kita sama-sama enak," ucap Naora tersipu malu sebelum akhirnya cepat-cepat menenggelamkan diri ke dalam selimut.



Senja pagi telah menyapa kalbu, bersambut suara alam bersenandung syahdu. Rasa berbeda mendorong jiwa untuk kembali dari dengkuran merdu.


Sepasang pelupuk mata perlahan terbuka, saat menyadari tiada rengkuhan hangat suaminya. Naora meraba ranjang di sebelahnya dengan pandangan mengernyit karena silau cahaya yang menembus retina, tapi sosok yang dicari sudah tidak ada.


"Apa Axton sudah bangun terlebih dahulu?" lirihnya bertanya-tanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Tidak seperti biasanya wanita itu terbangun tanpa merasakan hangat pelukan dan suara dengkuran lembut Axton. Kali ini, ia serasa ada yang kosong.


Dibawa kaki menuruni ranjang, berniat melihat wajah lelap si putra kecilnya. Namun, ia kembali dibuat bertanya, kala sosok mungil yang dicari juga tidak ada.


"Apa Axton yang membawa Axcel?"

__ADS_1


Naora pun mencari keberadaan Axton dan Axcel dengan segera. Hingga, ia mulai gelisah saat tidak kunjung menemukan mereka. Di berbagai sudut rumah sudah di telusurinya, tapi tetap belum tertangkap mata.


"Ada apa, Naora? Kenapa kau terlihat tidak tenang begitu?" tanya Edrich yang keheranan saat melihat Naora seperti induk ayam kehilangan telurnya. Milah yang kebetulan sedang bersama Edrich juga tampak bertanya-tanya.


"Axcel menghilang, Dad," ucap Naora. Wajahnya terlihat sangat cemas dan pucat.


"APA?! Kau jangan bercanda. Apa kau sudah mencarinya?" Edrich langsung terkejut, begitu pun dengan Milah.


"Aku sudah mencarinya, Dad, tapi tidak ketemu."


"Di mana Axton sekarang?"


"Semenjak bangun tidur, aku juga belum melihat ujung hidungnya sama sekali."


Mendengar penjelasan Naora, Edrich seketika menghela napas lega. Ia merasa yang menjadi masalah adalah reaksi berlebihan si Mommy muda itu.


"Sayang ... kau tenangkan dirimu dulu. Pasti Axton sedang membawa Axcel sekarang."


"Iya, Dad." Naora akhirnya mencoba menuruti perkataan Edrich untuk menenangkan diri.


Bersamaan dengan itu, Stefan terlihat datang dengan menggendong putranya, Alan. "Permisi, Nyonya."


"Iya, Stefan. Ada apa?" tanya Naora seraya membelai sayang kepala bayi Alan. "Hai, tampan." Ia masih menyempatkan diri menyapa Alan di tengah kegelisahannya.


"Itu Nyonya. Tuan Axton ... ada di taman belakang sekarang," lapor Stefan.


"Benarkah?"


"Iya, Nyonya."


Tak ingin menunggu lama, Naora langsung berlari menuju tempat yang dikatakan Stefan baru saja. Edrich dan Milah juga tampak mengikutinya. Hingga sesampainya di sana, mereka dibuat tercengang seketika.


Ada sebuah tenda kecil yang terletak di tengah taman. Dan di dalamnya terlihat Axton yang sedang terlelap sembari memeluk Axcel.


"Axton, Axcel. Kenapa kalian bisa tidur di sini?" tanya Naora yang seraya menahan emosinya agar tidak mengagetkan putranya.




__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2