
Sang waktu terus berjalan. Tidak terasa gelap malam sudah bersua dengan rembulan. Kendati, langit bersapu kelamnya awan. Namun, binar para bintang tak jua karam dalam kebosanan.
Naora, si cantik yang tengah bersuram hati. Mungkin jiwa sedang berada di titik lelah saat ini. Hingga melenakan diri ke dalam pusaran rasa terpatri dan sudah lama disimpan rapi. Sebuah rahasia kalbu, tak ada insan lain yang mengetahui.
Dibukanya sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru. Hingga tumpukan amplop berisi surat tulisan tangan memenuhi tatapan sendu. Serangkaian huruf yang tertera di setiap sampul surat mengundang denyutan pilu.
To: Kakak Cinta Pertamaku
From: Gadis Pemujamu
Seperti itulah tulisan yang terangkai oleh jari-jari lentik Naora di sana. Sayup-sayup, senyuman getir terbit saat rasa nyeri di hati kembali menyapa.
"Delapan tahun lamanya, perasaan ini aku pendam sendiri. Dan selama itu pula, aku menumpahkan segala isi hatiku di surat-surat ini. Ya Tuhan ... aku mohon kuatkan hatiku. Sungguh, aku hanyalah sebatang tulung rusuk yang rapuh." Suaranya tercekat di tenggorokan, seiring dengan tetesan bulir kesedihan. Basah sudah pipinya yang semula kering.
"Atau hapus saja rasa cinta yang membelenggu jiwaku selama ini. Atau ... renggut saja ingatanku tentang dirinya."
Tidak ingin terlalu lama hanyut dalam perasaan gundah yang bisa saja menggoyahkan ketegarannya selama ini. Tangan diajak menyeka air mata agar berhenti membasahi pipi. Kemudian kotak biru berisi surat itu, ia tutup kembali.
Naora turun dari peraduan empuknya. Tungkai dibawa mengayun mengikuti keinginan hati yang berkata. Namun, langkahnya sesaat tersendat tepat di depan kamar sang suami dan madunya. Terdengar jelas suara dessahan wanita dari dalam sana. Semua orang dewasa pasti tahu, scene apa yang sedang terjadi dan siapa saja pemerannya.
"Aah ...! Aah ...! Axton. Aku sangat menyukainya. Ini sangat nikmat, Axton ...."
Hati nan suram kian terjerat pilu. Gemuruh di dalam dada bagaikan gulungan ombak laut yang menenggelamkan perahu. Batin Naora seketika menjerit menahan luka bertalu.
Perih rasanya. Di saat Naora bergundah gulana, mereka malah bersenang-senang dengan dunianya. Suara kenikmatan dari sepasang manusia yang sedang bercinta itu, seperti menabur garam pada sayatan luka.
Suasana hati kian memburuk, menyokong kaki untuk lanjut melangkah, meninggalkan suara kenikmatan yang bagaikan neraka dunia baginya. Bertepatan dengan itu, pintu kamar Axton perlahan terbuka diikutin munculnya sosok Lana.
Wanita itu, menatap punggung Naora yang kian menjauh dengan sorot mata penuh makna. Seringai kepuasan pun turut menghiasi muka.
"Sedang apa kau di sini, Lana?"
Lana terhenyak samar saat sosok Axton tiba-tiba datang dari arah luar kamar. Namun, gegas ia rubah mimik muka dengan senyuman manis yang mengembang layaknya bunga sedang mekar.
"Aku baru saja berniat ingin menemuimu di ruang kerja, Honey," kilahnya.
Sepasang pangkal alis pria itu terlihat hampir bertautan karena heran. "Bukannya kau baru saja dari ruang kerjaku?"
Lana seketika mati gaya. Ia lupa bahwa baru saja kembali dari ruang kerja suaminya. Namun, hal itu tidak dibiarkan terlalu lama. "Ah ... itu karena aku sudah tidak sabar, Honey. Kau membuatku menunggu lama. Aku susah tidur jika tidak dipeluk, makanya aku ingin memintamu untuk menyudahi urusan pekerjaanmu itu."
"Tapi aku masih belum selesai, Lana. Aku kembali karena ingin mengambil sesuatu di dalam kamar."
__ADS_1
Mimik si wanita mendadak masam. Ia menekuk muka hingga berkali-kali lipat . "Lagi-lagi kau lebih mementingkan pekerjaanmu dari pada aku."
Brak!
Dengan perasaan kesal, Lana masuk ke kamar seraya membanting pintu, membiarkan Axton yang masih keheranan dan juga jengah.
"Kapan dia bisa mengerti akan kesibukanku?"
Sementara itu di sudut lainnya. Langkah kaki mengantar Naora ke sebuah bangku taman dekat kolam bunga teratai berwarna ungu muda. Satu-satu area yang ia jadikan tempat untuk menenangkan pikiran dan perasaannya saat galau melanda.
Dia berharap, menenggelamkan diri ke dalam dinginnya udara malam, mampu mengalihkan rasa di hati yang selama ini mati-matian ia pendam. Hingga dia bisa menjalani hari-hari tanpa muka suram.
Namun, bukannya kembali tenang, perasaan di dalam dada malah kian berkalut resah. Gejolak rasa seolah menerjang jiwa yang kini mulai pasrah.
Dipandang kanvas langit berselimut awan kelabu. Sang dewi malam pun tampak bercadar rona sendu. Alam seolah turut berempati terhadap wanita itu. Naora membiarkan pikirannya terbang menembus lorong waktu. Membawa tubuhnya kembali ke ingatan masa lalu.
Delapan tahun silam ...
Seorang gadis berusia 12 tahun tampak menikmati indahnya pemandangan taman bendungan sungai yang terletak tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Berteman dengan sebuah buku diary dan pena, serta segelas Thai tea dingin, ia tenggelam ke dalam dunianya. Gadis itu adalah Naora Alesha.
"Kyaak ...! Apa yang kau lakukan?! Kembalikan bukuku!" Ketenangan Naora seketika terusik di kala seorang remaja pria menyabet tiba-tiba buku diarynya. Naora gegas mengambil posisi berdiri dengan tatapan marah.
Remaja itu menyeringai sinis. "Kau ingin bukumu kembali? Ini ambillah."
Remaja pria beserta ketiga temannya itu merundung Naora, yang tak lain teman sekelasnya. Mereka tampak senang menjahili si gadis ditandai dengan gelak tawa.
"Aahk! Sakit ...!" Tubuh kecil Naora terjerembab ke tanah karena dorongan kasar di tubuhnya. Dia mencoba bangkit, tapi si remaja pria itu kembali mendorongnya. Kali ini ia bahkan sampai mencetak luka di lutut, siku, bahkan kepala.
Naora mengusap rasa perih di kening. Sepasang mata seketika membulat sempurna, saat melihat cairan merah mebasahi telapak tangannya yang kering. "Darah?" Tiba-tiba ia merasa pusing. Namun, masih berupaya terlihat kuat.
"Itulah akibatnya karena sudah berani melaporkanku kepada guru kelas. Gara-gara kau, aku di skors dan orang tuaku jadi marah!"
"Itu karena kau telah melecehkanku! Jadi sudah semestinya aku melaporkanmu!" bela Naora dengan sikap berani.
Remaja pria itu merotasi pandangan ke arah teman-temannya. "Sebaiknya kita apakan dia?" Ia meminta usul.
"Mumpung di sini sedang sepi, kita telanjangi saja dia lalu ...." Salah satu temannya menggantung kalimat dengan mimik muka mesum. Naora langsung was-was dengan membawa tubuh beringsut mundur.
Ketiga sekawan yang lainnya seketika menyeringai sebagai tanda setuju. "Ya sudah, seret dia ke sana." Remaja pria itu menunjuk ke salah satu sudut lingkungan yang terdapat banyak pepohonan rindang serta tanaman.
"Tidak! Aku tidak mau. Tolong ...!" Naora langsung berteriak meminta pertolongan saat tubuhnya diseret kasar.
"Diam!" Remaja pria itu membekap mulut Naora agar tidak memancing perhatian orang lain.
__ADS_1
"Hmmp ...! Hmmp ...!
"Lepaskan dia sekarang juga!"
Keempat sekawan seketika terhenyak saat seorang pemuda yang lebih dewasa tiba-tiba datang memergoki mereka.
"Siapa kau berani ikut campur urusan kami?!" remaja pria itu seolah tak takut. Ia bahkan kian bertingkah seperti berandalan busuk dan siap melayangkan pukulan.
Namun, belum sempat perkelahian terjadi keempat berandalan kecil itu langsung berlari tunggang langgang karena ketakutan kala si pemuda memanggil dua orang temannya yang berperawakan tinggi, besar, dan lengkap dengan muka sangar.
"Kakak ...! Hiks! Hiks!" Naora langsung berhamburan ke pelukan si pemuda.
"Apa kau baik-baik saja?"
Naora menggeleng lemah. "Aku tidak baik-baik saja. Aku terluka dan terasa sakit." Gadis belia itu mengeluh.
"Ya sudah, aku obati kamu dulu, lalu aku antar pulang."
Si pemuda mengurai pelukannya. Ia sedikit membungkuk dan mensejajarkan mukanya dengan muka Naora. Dipandang muka cantik itu dengan tatapan hangat lalu menyeka pipi mulusnya yang sudah basah karena air mata.
"Sudah, jangan menangis. Kau sudah aman sekarang. Nanti akan aku urus tuntas para berandalan kecil itu agar tidak lagi mengganggumu."
Deg!
Perhatian si pemuda menciptakan sebuah getaran tak biasa di dalam rongga dada. Semburat merah seketika menghiasi muka Naora. Muka tampan di depan mata begitu mempesona.
Sepertinya, pemuda tersebut sukses menyandang status raja di hati si gadis.
"Haah ...! Kenapa aku membiarkan otakku mengingatnya kembali?" Naora mengakhiri lamunannya seiring helaan napas berat seraya merutuki diri.
β
β
β
Bersambung~~
Lanjut besok lagi ya..π₯°
Nggak kerasa sudah hari senin lagi nih. Dosa nggak sih jika Nofi mengharapkan Vote gratis mingguan kalian?π€
Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa iniπ€£ Berncanda kokβ
__ADS_1
Sarangheyo ...ππ