
Kaki bergetar menyusuri jalanan gelap, membawa muka pasi yang sesekali dengan napas tergagap. Seolah tiada belas kasih, air langit terus menerjang tubuh wanita itu, kendati sudah menggigil kedinginan dalam senyap.
Sepasang netra dibawa mengedar ke lingkungan sekitar yang terlihat sepi. Ia mencoba mencari tempat berteduh dari guyuran hujan di malam hari. Namun, tiada satu pun bangunan yang terjangkau oleh pandangannya kini.
Ratusan rintik hujan yang menghantam kepala, kian menambah intensitas denyutan di sana. Wanita itu mulai merasakan sesuatu tidak nyaman pada dirinya.
Tubuh terasa kaku, tulang terasa ngilu, karena udara dingin terus menderu, menusuk setiap persendian hingga membeku. Ketidak berdayaan mulai menyerbu, bersama hati bertabur pilu.
Topangan kaki seolah tak lagi bertenaga. Mata tiba-tiba berkunang-kunang, karena pusing menyergap kepala. Langkahnya mulai gontai seiring kepayahan yang menyapa.
"Naora?!"
Ia terkesiap kala gelombang suara seorang pria menyeruak ke dalam indera pendengaran, disusul sepasang tangan kekar dengan sigap menangkap tubuhnya yang hampir saja ambruk.
"Kamu ...," lirihnya sebelum pandangan kian kabur dan merenggut kesadarannya.
…
"Bagaimana keadaannya Dokter Ridwan?" Pria tampan yang tengah dilanda kecemasan itu melontarkan pertanyaan kepada seorang dokter pribadi yang baru saja memeriksa keadaan Naora.
Senyuman tipis terbingkai di muka. Sikap tenangnya seolah memberi sugesti kepada orang lain bahwa semuanya baik-baik saja. Ridwan pun mulai berucap kata. "Pasien sedang terkena demam, Tuan. Selain itu tekanan darahnya juga sangat rendah. Saya sudah menyuntikkan obat pereda demam dan ini beberapa resep obat untuk pasien. Biarkan pasien beristirahat cukup untuk beberapa hari hingga kondisinya benar-benar pulih," paparnya.
"Syukurlah." Kecemasan yang semula masih menyelimuti perasaan berangsur-angsur menguap, tergantikan oleh kelegaan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan."
Pria itu tersenyum simpul. "Baiklah, silahkan. Sebelumnya terima kasih."
Ridwan mengangguk sopan sebelum akhirnya membawa kaki keluar kamar. Sementara pria itu langsung mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang sedang tertidur di atas ranjang.
Ia memindai muka pucat yang terlihat damai dalam lena. Dibelainya pucuk kepala Naora dengan perasaan penuh sesal di dada. Ia meraih tangan si wanita lalu mengecup penuh cinta.
"Maafkan aku, Naora. Ini semua salahku," ucapnya dengan air muka sendu.
Teringat akan sesuatu, ia meraih benda pipih dari atas meja. Jemari langsung mencari kontak nomor telepon seseorang. Cukup lama ia harus menunggu hingga permintaan panggilan keluarnya terhubung.
"Ada urusan apa kau menghubungiku?" sahut langsung seseorang dari balik telepon. Suaranya terdengar tak bersahabat.
__ADS_1
"Datanglah ke rumahku sekarang," pinta si penelepon seraya menahan gejolak rasa di dada.
"Jangan harap!"
"Baiklah kalau itu maumu, tapi jangan salahkan aku jika Naora menjadi milikku, karena dia bersamaku sekarang."
"Kenapa dia ada bersamamu?! Ku bunuh kau jika berani menyentuhnya lagi!"
Tidak ingin menyandang status tuna rungu dadakan, Nathan segera menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara Axton dari seberang telepon laksana tabuhan genderang perang bala tentara.
Pria bermata teduh itu lalu meletakkan ponselnya tepat di depan mulut. "Makanya cepat temui aku sekarang, brengsek! Kau terlalu banyak bicara!"
Panggilan seketika terputus. Bukan Nathan yang mengakhiri percakapan terlebih dahulu, melainkan Axton.
"Apa dia lupa dulu pernah bilang tidak akan peduli dengan istri ke-duanya? Dan sekarang apa ini? Dia seolah tak ingin melepaskan Naora. Hah! Hatiku malah terasa tidak nyaman dengan sikap pedulinya kepada Naora," gerutu Nathan.
Nathan tampak membuang kasar napas ke udara, menghempas perasaan rancau yang menyesakkan dada. Sungguh, ia masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan akan status Naora. Namun, melanggar suatu ikatan royalitas persahabatan di antara dia dan Axton, itu tidak mungkin dilakukannya.
Diayunkan kaki menuju ranjang tempat Naora terbaring lemas. Efek suntikan obat dari dokter Ridwan, membuat wanita itu tertidur pulas. Nathan menatap nanar muka si wanita yang masih terlihat pias.
Andai saja menculik dan mengurungmu di rumah ini agar aku senantiasa bisa memilikimu itu tidak berdosa, pasti sudah kulakukan. Entah apa yang telah kau perbuat kepadaku, Naora. Perasaanku kepadamu memang benar-benar nyata. Namun, begitu sulit kuterima bahwa rasa ini tak seharusnya ada.
…
Malam kian larut, berteman deraian air hujan yang seolah enggan untuk berhenti. Kabut tebal pun turut mengiringi. Pria itu kian dirundung frustrasi. Kecemasan akan keadaan sang istri ke-dua, membuatnya bersusah hati. Bahkan, batin tak berhenti merutuki diri.
Axton mencoba menelepon Naora, tapi usahanya sia-sia. Bagaimana tidak? Sementara ponsel yang dihubungi ternyata tertinggal di dalam mobilnya.
"Aarg! Kau di mana, Naora ...?" Diamati area luar kaca jendela. Derasnya hujan semakin bersemangat empat lima. Kilatan petir terus menerangi langit yang gelap gulita. Pikiran buruk tentang Naora mulai merangkak ke dalam otak, menggiring perasaan tak nyaman di dada.
"Apa mungkin dia sudah tiba di rumah? Sebaiknya aku pulang untuk memastikan." Tak ingin membuang waktu, Axton langsung menambah kecepatan laju mobil, membelah terjangan air langit.
Ayunan lebar tungkai kaki Axton menapaki anak tangga dengan tergesa. Kamar Naora menjadi tujuan langkahnya. Namun, lagi-lagi sosok yang dicari tidak ada di sana. Pria itu mendadak lemas tak bertenaga.
Hingga sebuah nada dering dari ponselnya, memecahkan pikiran yang berkalut resah. Gegas ia raup benda berisik dari saku jas kerja, menaruh harapan besar, panggilan itu berkaitan dengan Naora.
"Buat apa bajingan ini meneleponku?" Ia langsung mengeluarkan sungutnya saat nama Nathan menghiasi layar ponsel.
"Ada urusan apa kau menghubungiku?" Ketusnya setelah menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
Percakapan via telepon pun berlangsung beberapa saat. Hingga sebuah informasi yang didapat, menyokong kaki untuk kembali melangkah meninggalkan ruangan.
"Honey ... kau mau ke mana?" tanya Lana yang baru saja tiba di rumah.
"Aku akan keluar sebentar, Lana," Sahut Axton dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan wanita itu yang tampak keheranan.
☘
☘
☘
Bersambung~~
AXTON SANDERS
NAORA ALESHA
NATHAN ALEXADER
LANA KRISTINA
Well, bab ini masih akan berlanjut besok ya. Maaf sekali karena Nofi belum bisa ngetik panjang🙏
Mendekati imlekan, benar-benar menguras waktuku. Hingga harus ngemis-ngemis kesempatan agar bisa nulis bab. Mohon dimaklumi ya ...🙏
Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon like. Tinggalkan komen cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣
Vote gratis mingguan juga boleh disumbangkan ke lapak yang masih sangat sepi pembaca ini..
Sumbangan Gift juga akan Nofi terima dengan senang hati🥰
__ADS_1
lop lop you pooolllll😘😘