Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Dejavu


__ADS_3


Masih berpayung suramnya langit malam. Di bangku taman itu, Naora tengah kepayahan menahan gejolak rasa. Mengingat akan cinta pertamanya yang tak bersambut, sungguh menyesakkan dada.


Delapan tahun ia pendam sebuah anugerah rasa di dalam jiwa nan sepi. Kendati, rasa itu sering kali menyongsong pikiran akan sebuah pengakuan yang haqiqi. Namun, Naora begitu gigih menekannya kuat, walaupun harus terpatri perih di hati.


Cinta merupakan sifat mulia yang mewarisi semua kebaikan, belas kasih, dan kasih sayang dari Sang Pencipta. Namun, tidak semua insan bernasib beruntung meski untuk sekedar mengespresikannya. Jadi, tak sedikit hati di dunia rela tetap menyimpan rasa itu meski sebuah asa itu ada.


Naora kian larut dalam kelamnya perasaan. Hingga sepasang jendela hati tak mampu lagi membendung bulir-bulir bening kesedihan. Isak tangis pun tak tertahan. Akhirnya, runtuh sudah tembok ketegaran hati yang selama ini ia bangun mati-matian.


Ia mengangkat kedua kaki, meringkuk di sudut bangku taman saat dinginnya angin malam membelai kulit. Jari-jari dibawa meremas kain di dada, mencoba menepis sesak, meski sulit. Rintihan hati terdengar mengalun sendu di antara keragaman rasa sakit.


Sungguh, aku tidak tahu caranya agar perasaan ini pergi dari hatiku. Penantianku selama ini nyatanya tak berbuah manis. Dia seharusnya tak ku harapkan.


Batin Naora mengaduh dalam sepi. Ia kian tergugu karena pilu menusuk sanubari. Selalu mencoba bersikap baik-baik saja ternyata tak selamanya menguatkan hati. Jemari lentik tampak beberapa kali menyeka air mata yang membelah pipi. Wanita itu seakan payah untuk keluar dari kesedihan di malam ini.


Aku sudah sangat lelah, Tuhan ....


Tanpa Naora sadari, sepasang mata elang sedari tadi tak melepas pandang darinya. Dia adalah Axton Sanders, suaminya. Dalam hening, pria itu merasakan denyutan perih di dada. Pemandangan di depan mata, sukses meremas hatinya. Kendati, ia tidak tahu hal apa yang membuat si wanita bermuram durja. Namun, melihat setiap tetesan air mata di pipi Naora, menumbuhkan rasa tidak nyaman di saat itu juga.


Menyaksikan Naora menangis adalah sesuatu yang sudah dinantinya dari dulu. Harusnya dia senang akan hal itu. Akan tetapi, kenapa malah rasa iba yang bertamu? Sungguh, dia tidak tahu. Saat ini, menjadikan bahunya sebagai sandaran si wanita adalah satu keinginan nyata dan bukan semu.

__ADS_1


Dari awal pernikahan hingga sekarang, baru kali ini aku melihat dia menangis. Sebenarnya apa yang membuat wanita sok tegar itu akhirnya menjatuhkan air mata? Axton bermonolog di dalam batin.


Waktu terus merangkak maju, seiring semilir angin malam yang menembus pori-pori. Pria itu masih setia berdiri dengan pandangan mengamati dan juga mengawasi. Sosok Naora, seolah tak dibiarkan keluar dari bidikan matanya kini. Hingga, ia mulai menggerakkan kaki, mendekati objek sasaran matanya sedari tadi.


Axton memandangi muka cantik yang tampak terlelap di depannya. "Bisa-bisa ia tertidur di luar seperti ini. Aku pasti akan menghukumnya jika sampai sakit lagi."


Ia melepas cardigan panjang selututnya dan lalu membungkus tubuh Naora. Tangan dibawa menyentuh pipi putih si wanita, berniat memeriksa suhu badannya. "Sangat ceroboh. Dia baru saja sembuh dari sakit tapi malah menmbiarkan tubuhnya kedinginan," gerutu Axton di sela sikap perhatiannya.


Tak tega melihat tubuh kecil Naora meringkuk terlalu lama di bangku taman, Axton menggendong tubuhnya dengan ala bridal style. Dengan gagah, pria itu membawa istri ke-duanya itu masuk ke rumah. Langkahnya bahkan tak terkesan tengah membawa beban.


"Tubuh wanita ini kenapa sangat ringan sekali? Apa dia tidak pernah makan?"


Sesampainya di kamar milik Naora, Axton membaringkan tubuh wanita itu di atas peraduan. Lanjut menyelimutinya agar tidak kedinginan. Tak berniat langsung pergi meninggalkan istrinya sendirian, pria itu mendaratkan tubuh di bibir ranjang dengan perlahan.


Sekali lagi, mata dibawa memandang muka sembab Naora karena baru saja menangis. Di saat itu pula hatinya kembali terasa teriris.


"Sebenarnya apa yang membuatmu menangis, Naora?" Ia kembali mengusap lembut sisa jejak basah air mata di pipinya lalu mengecup sepasang kelopak mata cantik yang tengah terpejam itu.


Entah dari mana bisikan itu muncul, Axton benar-benar tak berniat membiarkan Naora tidur sendirian kali ini. Ia langsung mengambil posisi. Di bawah selimut yang sama dengan si wanita, ia menenggelam diri.


Tidak berhenti di situ saja, ia menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukkannya. Bibir diajak bermuara di pucuk kepala Naora, memberi beberapa kecupan hangat di sana. Hingga sebuah debaran tak biasa di dada kembali berseru luar biasa.

__ADS_1


Ia sedikit terhenyak, saat tiba-tiba merasakan dejavu. Ingatan akan masa lalu tiba-tiba memenuhi otaknya. "Debaran ini mengingatkanku kepada delapan tahun yang lalu. Debaran asing yang baru pertama kali aku rasakan."


Axton kian mengeratkan lilitan tangan di tubuh Naora, membuat wanita itu kian menempel di dadanya. Kenyamanan yang dirasa, mengenakkan pikiran untuk menerawang dan bernostalgia dengan ingatan masa lalunya.





Bersambung~~


Maaf kali ini babnya sedikit pendek. Hari ini imlekan ... jadi repot banget🙏


Bab ini masih berlanjut besok lagi ya..🥰


Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣 Berncanda kok✌


Yang punya Vote dan Gift bolehlah disumbangkan ke karya ini..🥰


Sarangheyo ...😘😘

__ADS_1


__ADS_2