Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Kesepakatan


__ADS_3


Sebuah mobil ambulance melaju cepat membelah pekatnya jalan raya. Suara ribut sirine terus berbunyi untuk memberitahu para pengguna jalan lainnya bahwa mobil tengah membawa pasien yang membutuhkan penanganan cepat.


Selang beberapa waktu, mobil berwarna putih itu tiba di salah satu rumah sakit yang terletak di pinggiran ibu kota. Terlihat dua orang polisi lalu lintas juga turut mengiringi saat tiba. Dengan cekatan beberapa orang perawat menurunkan brankar lipat dari dalam ambulance dengan lampu sirine yang masih menyala.


Terlihat tubuh seorang pria dalam balutan pakaian kerja bersimbah darah dengan kondisi sangat tak berdaya. Tidak ingin membuang waktu, nyawa seorang manusia sedang dalam bahaya, beberapa petugas medis langsung mendorong ranjang rumah sakit beroda itu menuju instalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Di sana, Naora yang sedari tadi mendampingi korban tak henti-hentinya berderai air mata. Hatinya sungguh diliputi kecemasan yang luar biasa. Bayang-bayang pikiran buruk tak jengah terus menari-nari di atas kepala.


"Maaf, Nona. Silahkah anda menunggu di luar dulu ya," ucap seorang perawat, mencegah Naora yang hendak ikut masuk ke ruang tempat korban ditangani.


Pasrah, akhirnya wanita itu hanya bisa menunggu sembari terus berdoa. Ia kian melemas saat otaknya kembali teringat peristiwa tabrak lari yang terjadi langsung di depan mata. Seakan tak mampu lagi menopang beban tubuh, Naora beringsut ke lantai, menjadikan dinding sebagai sandarannya. Di antara tekukan kedua lutut, wanita itu menenggelamkan wajah untuk merendam suara isak tangisnya.


Di dekat ruang instalasi gawat darurat, dua petugas polisi terlihat mengintrogasi seorang pria berbalut jas kerja yang juga merupakan saksi peristiwa kecelakaan tersebut. Usai menerima keterengan para petugas itu undur diri untuk melanjutkan penyidikan.


Bersamaan dengan itu, Lana datang dengan raut kecemasan di muka. Tidak lupa air mata diajaknya bermain peran bak artis terkemuka. Wanita itu bersikap seolah bukan dia lah tersangka utama.


Lana memang sangat percaya diri bahwa kejahatannya tidak akan terhembus oleh petugas polisi. Lagian tidak ada orang yang melihatnya saat berada di tempat kejadian karena ia langsung bersembunyi. Oleh sebab itu, dia berani datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang suami.


Naora yang semula masih tergugu seraya menenggelamkan wajah di antara kedua lutut tiba-tiba diserang keterkejutan. Lana berjongkok seraya mencengkeram kedua lengannya disusul lemparan tatapan menuntut penjelasan.


"Naora, bagaimana keadaan Axton? Jelaskan kepadaku kenapa suamiku bisa sampai terluka?" Lana langsung mengerahkan segenap kemampuan aktingnya. Kendati ia tidak menampik, bahwa kecemasan akan keselamatan Axton sedikit ada.


Sementara Stefan yang juga datang bersamanya hanya tampak bergeming dengan pikiran tak karu-karuan. Berbeda hal dengan Lana yang terlihat tenang dalam menutupi kebusukannya, pria itu justru terbelenggu oleh keresahan.


Iya, niat Stefan untuk menolong Naora dari rencana jahat Lana jadi terurungkan karena Axton terlebih dahulu menyelamatkan nyawa wanitanya hingga membuat ia berada di ruang instalasi gawat darurat sekarang.


"Naora, cepat jawab aku! Kenapa Axton bisa terluka?!" desak Lana dengan bakat aktingnya yang terlihat begitu luwes.

__ADS_1


"Axton terluka demi menyelamatkanku dari pelaku tabrak lari." Naora akhirnya bersuara di sela isak tangisnya.


"Ini semua gara-gara kamu, Naora! Makanya dia sampai terluka. Kamu memang pembawa sial!" cerca Lana yang langsung mendapat tepukkan pelan di bahu. Stefan mencoba menegur halus agar wanita itu tidak membuat keributan di rumah sakit.


"Cukup, Lana. Siapa yang pembawa sial? Berhati-hatilah saat menggunakan lidahmu itu," tampik Naora yang sebisa mungkin merendahkan nada bicaranya.


Lana berdecih sinis. "Apa kau lupa kalau ini bukan pertama kalinya Axton terluka karenamu?! Semenjak ada kau di kehidupan kami, suamiku selalu saja dalam bahaya."


Lana kian menggencarkan aksi. Ia terus menjorok Naora ke dalam posisi sebagai penyebab terlukanya sang suami. Padahal, sejatinya ia sedang memanfaatkan situasi. Dengan cara memojokkan sang madu agar merasa sangat bersalah dan memilih pergi. Hingga Axton bisa dimilikinya sendiri.


Lidah mendadak kelu, Naora terbungkam di saat itu juga. Sesaat ia membenarkan perkataan Lana. Memang, Axton sudah dua kali terluka untuk melindunginya. Lalu, apa lagi yang harus disangkal


Tak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka disusul seorang perawat yang keluar dari sana. Naora langsung beranjak dari lantai dengan menaruh secercah harapan di dada.


"Suster, bagaimana dengan keadaan suami saya? Ahk!" Tubuh Naora tiba-tiba sedikit terdorong ke samping karena ulah Lana yang menyenggolnya.


"Menyingkirlah," usir Lana seolah dirinya yang lebih berhak menanyakan keadaan Axton.


Sementara Stefan tampak mendengus jengah melihat kelakuan istrinya yang menurutnya keterlaluan. Jujur, suara hatinya berkali-kali menjerit meminta didengarkan. Naluri seolah menuntutnya untuk bertindak sesuatu yang dibenarkan. Namun, otaknya terus membekukan kinerja sarat pada tubuh hingga ia masih membatu dan tidak melakukan tindakan.


"Bagaimana keadaan suami saya, Suster?!" Lana gilir bertanya.


Petugas wanita berbalut pakaian kerja serba putih sesaat tampak mengernyit. Di hadapannya saat ini ada dua wanita yang mengaku sebagai istri dari pasien, jelas saja dia keheranan.


"Pasien mengalami pendarahan hebat dan membutuhkan transfusi darah secepatnya agar nyawanya tertolong. Golongan darah pasien A-, dan sayangnya pihak rumah sakit sedang kehabisan stok golongan darah tersebut. Apakah ada dari kalian memiliki golongan darah A- atau O-?" terang si suster dan diakhiri kalimat bertanya.


"Stefan, kau diamlah dulu," sergah Lana dengan cepat hingga pria itu yang hendak bersuara jadi mengurungkan niat. "Suster, tolong anda tunggu sebentar, ya. Tidak lama saya akan segera kembali lagi."


"Kau ikut aku sekarang. Aku ingin berbicara empat mata kepadamu." Tanpa meminta persetujuan, Lana menarik Naora menuju belokan lorong rumah sakit yang terletak tidak jauh dari IGD.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, kedua wanita itu kembali dengan ekspresi saling bertolak belakang. Samar-samar Lana terlihat tersenyum puas. Sedangkan Naora kian bermurah durja. Entah apa yang baru saja mereka bicarakan tadi.


"Stefan, bukankah golongan darahmu juga sama? Aku mohon kepadamu untuk bersedia mendonorkan darahmu," pinta Lana kepada Stefan. Namun, bagi pria itu, pemintaan Lana lebih bersifat titahan yang tak terbantahkan.


"Tentu saja aku bersedia," jawab Stefan dengan cepat seolah sama sekali tidak keberatan. Lagian dari awal ia memang berniat menjadi pendonor atas kemauannya sendiri. Bukan karena dibawah perintah Lana.


"Mari Tuan, sekarang ikut saya untuk pencocokan darah." Si suster langsung membimbing tubuh Stefan masuk ke ruang IGD.


"Lana. Bukankah tadi kau bilang bahwa kau sendirilah yang akan mendonorkan darahmu? Lantas kenapa malah Stefan? Naora memasang muka penuh tanya.


"Aku sedang hamil, mana bisa mendonorkan darahku?" jawab Lana yang langsung disambut mula penuh tanya Naora.


"Hamil?" lirih wanita cantik bak barbie itu.


"Iya aku sedang mengandung janin hasil dari buah cintaku bersama Axton." Lana berdusta, berniat memanas-manasi Naora. "Tapi aku beberapa kali ingin menggugurkannya."


"Kau jangan gila, Lana," sembur Naora.


"Itu semua karena kau! Kau merebut suamiku. Hal itu buatku menggila!" Lana berdecih di sela senyuman masamnya. "Lagi-lagi karena kau! Jika suatu saat janinku ini kenapa-kenapa, itu juga karena kau." Lana seolah belum puas melimpahkan segala penyebab kemalangan nasib Axton dan juga janinnya. "Dan ingat! Kau harus menepati kesepakatan kita tadi.





Bersambung~~


Terima kasih ya masih nyimak ...

__ADS_1


Maybe kurang 3 bab lagi kebusukan Lana terbongkar. Semoga saja🥰🥰🥰


__ADS_2