
Axton tergugah dari lelapnya saat suara berisik menusuk indera pendengaran. Ia menggeliat seiring dengan pelupuk mata yang terbuka pelan. Di saat itu pula wajah masam Naora memenuhi pandangan.
Pria itu langsung bangkit dari posisi berbaring dengan hati-hati, mengingat dadanya masih dijadikan alas tidur si buah hati.
"Naora, kau sudah bangun?" Dengan raut wajah tak bersalah ia bertanya sembari memeluk tubuh kecil Axcel yang masih tertidur pulas dengan dengkuran halus.
"Istrimu ini sedari tadi kelimpungan mencari anaknya yang dikira menghilang," sela Edrich yang tiba-tiba nongol dari belakang Naora.
"Axcel tidak menghilang, Dad. Dia bersamaku semalaman," jelas Axton dengan cepat.
"Axton, kenapa kau ajak putra kita tidur di luar? Dia masih kecil, Axton. Terlalu lama terkena udara malam tidak bagus untuknya. Kalau sampai terkena masuk angin bagaimana? Belum lagi banyak nyamuk juga di sini. Kau ini sungguh keterlaluan. Aku sampai kebingungan mencari Axcel." Naora mengomel guna meluapkan rasa kesalnya.
Merasa terusik karena suara bising sang mommy yang menyerupai lebah, bayi Axcel mulai menggeliat dan terbangun dari mimpi indahnya. Kedua tangan mungilnya terlentang lurus seraya menguap dengan leluasa.
"Hei, bayi pemalas. Kenapa kau baru bangun? Mommymu mengamuk," bisik Axton kepada Axcel. Ia juga tampak beberapa kali melirik ke arah Naora yang masih setia dengan tukikan tajam pada kedua alisnya.
"Berikan dia kepadaku!" Naora langsung meraih putra kecilnya lalu memeriksa setiap jengkal tubuhnya seolah tidak ada satupun bagian yang lengah dari bidikan matanya. "Sayang, kau tidak apa-apa 'kan? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" Ia bertanya kepada pada makhluk kecil itu.
"Mam mam mam mam." Axcel berceloteh seraya tertawa girang.
"Putra kita baik-baik saja, Naora. Kau harusnya percaya kepadaku." Axton lantas beranjak dan keluar tenda, membawa muka bantalnya menghadap Naora. "Semalam, Axcel tidak mau segera tidur. Padahal sudah banyak cara aku lakukan agar dia tertidur. Lalu aku ajak dia melihat bulan dan bintang di bawah tenda. Baru dia mau tertidur. Lagian aku juga sudah memperkirakan semua hal sebelum aku membawanya tidur di tenda. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Coba kau lihat di sana," jelas Axton seraya menunjuk ke dalam tenda.
Naora membawa pandangannya ke arah yang ditunjuk Axton. Ia melihat ada kasur mini, selimut tebal, minyak penghangat, dan lotion nyamuk untuk bayi. Bahkan mainan kesukaan Axcel tidak ketinggalan. Mp3 player juga hingga saat kini masih terdengar mengalunkan lagu pengantar tidur.
Ternyata Naora telah keliru dalam berprasangka. Suaminya masih sama, yaitu seorang ayah yang super siaga. Kenapa dia bisa sampai lupa?
"Maaf, Axton, karena tadi sudah marah-marah kepadamu." Naora tampak menyesali perbuatannya. Apa lagi dia lakukan itu di depan Edrich.
Tersenyum hangat, Axton menarik pelan kepala Istrinya lalu melabuhkan ciuman lembut di keningnya. "Aku malah senang jika kau seperti ini. Itu bertanda kau sangat menyayangi putra kita." Ia mengecup singkat bibir ranum Naora. "Selamat pagi, istriku. Pagi kali ini aku sedikit terlambat memberi morning kiss dan ucapan selamat pagi," sambungnya kembali.
"Selamat pagi juga, suamiku," balas Naora.
"Ehem! Haruskah aku segera kembali menyusul Areum agar tidak selalu menjadi obat nyamuk di antara anak-anakku ini?" sela Edrich.
"Maaf, Dad." Naora mendadak canggung karena malu.
"Akui saja kalau Daddy sedang iri melihat kemesraan kita," celetuk Axton seenak lidahnya.
__ADS_1
"Dasar anak tidak sopan!" Edrich hendak menghadiahi tempelengan di kepala sang putra tapi tiba-tiba diurungkannya. "Kenapa kau tidak mencoba menghindari pukulanku?" tanya Edrich merasa kebiasaan Axton sedikit berubah. Biasanya dia akan selalu gagal mendaratkan pukulan karena putranya itu selalu menghindar dengan cekatan.
"Karena sebelum Daddy sadar dari koma, aku sudah berjanji tidak akan menghidari pukulanmu lagi asal kan kau tidak pergi meninggalkanku," jawab Axton apa adanya.
Edrich seketika terharu. Pusaran kasih sayang kian merajai hati dengan debaran menderu. Tangan yang sempat terangkat untuk memukul kini dibuat mengusap kapala putranya itu.
Sebenarnya ia tidak bersungguh-sungguh berniat memukul putra kesayangannya. Lagian juga tidak baik bersikap kasar di depan sang cucu yang bisa saja meniru perbuatannya.
"Kau benar-benar tidak pernah mengingkari perkataanmu. Itulah pria sejati," tutur Edrich.
Axton mengulas senyuman simpul seraya menurunkan pandangan. Rasanya ia sangat tidak pantas menerima pujian seperti itu. "Kau salah, Dad. Aku pernah mengingkari perkataanku, bahkan aku pernah menjilat air ludahku sendiri. Aku belum pantas disebut sebagai pria sejati."
"Kau pasti mempunyai alasan untuk itu." Edrich mencoba memaklumi.
"Iya, kau benar, Dad." Axton merangkul pinggang Naora lalu mencium pelipisnya. "Alasannya karena aku tidak mampu mengelak dari pesona putri angkatmu ini."
"Axton, kau ini." Naora tersipu malu.
Edrich tergelak lirih. Lagi-lagi ia seakan melihat dirinya sendiri di dalam putranya. "Ya sudah, kerja sana. Cari uang yang banyak untuk keluargamu. Daddy mau bersiap-siap main golf sama teman-teman."
"Dad, kau belum sepenuhnya pulih semenjak sadar dari koma. Cutilah dulu bermain golf," tutur Axton.
"Dad."
"Apa lagi?" Edrich yang hendak pergi lagi-lagi tidak jadi.
"Sebagai gantinya, aku sudah menyiapkan sebuah room private golf di rumah kita. Setidaknya Daddy tidak akan terlalu kelelahan jika bermain di rumah. Dan aku juga sudah menambah banyak koleksi buku di ruang baca untuk mengobati rasa bosanmu. Katakan saja apa yang Daddy mau, aku pasti akan menurutinya jika mampu."
"Kau sepertinya benar-benar tidak akan membiarkan aku keluar rumah." Edrich tergelak. "Apa kau juga membelikan aku buku dongeng juga? Kau tahu aku suka membacakan dongeng untuk cucuku ini." Ia membelai sayang pipi temben Axcel dan langsung disambut oleh celotehan lucu.
"Tentu saja. Ada puluhan buku dongeng yang sudah ku beli." Kini gilir Naora yang bersuara dengan semangat.
"Sepertinya kelak aku akan mati dengan bahagia," ucap Edrich di sela langkahnya meninggalkan Axton dan Naora.
Tidak lama, sepasang suami berserta putranya itu juga menyusul masuk ke dalam rumah. Namun, langkah Axton tiba-tiba terhenti saat melihat Stefan sedang membersihkan kebun.
Sesekali Stefan tampak kepayahan karena bekerja sambil menggendong putra kecilnya. Naora sebenarnya sudah meminta agar Alan biar dia yang menjaga selama pria itu bekerja. Akan tetapi, beberapa kali penolakan selalu diterima, karena alasan tidak ingin merepotkannya.
Lagian Stefan juga selalu mencoba sadar diri agar tidak lupa akan posisinya kini. Sudah cukup besar kebaikan yang diterima selama ini. Bahkan pria itu sampai merasa tidak enak hati. Jadi, mana mungkin bisa bersikap tidak tahu diri dengan kembali merepotkan orang yang rumahnya ia tumpangi.
__ADS_1
"Apa kau tidak kasihan dengan bayimu?" tanya Axton, membuat Stefan terkesiap karena sebelumnya belum menyadari keberadaan Axton dan Naora.
Jujur Axton sangat tidak nyaman melihat bayi Alan terus berada di gendongan Stefan saat bekerja. Bukankah malaikat kecil itu harusnya menghabiskan waktu dengan bermain, makan, dan tidur? Tapi pemandangan di depan mata, sungguh mengiris hati seorang Axton Sanders.
"Bayi saya tidak apa-apa, Tuan. Dia pasti bisa mengerti keadaan saya," jawab Stefan sedikit gugup karena tatapan dingin sang majikan pria.
Tersenyum sinis, Axton menampilkan mimik tidak sukanya. "Bagaimana bisa bayi sekecil itu diminta mengerti keadaanmu sementara ia tidak mengerti apapun tentang masalah orang dewasa? Seharusnya kau yang mencoba mengerti dia. Kemana letak otakmu itu?!" cercanya.
"Maaf, Tuan."
"Minta maaflah kepada putramu!" Axton kian kesal.
"Axton ... jangan seperti itu. Setiap orang memiliki kondisi hidup yang berbeda-beda, termasuk Stefan yang memang kondisinya masih sulit," tutur Naora dengan lembut dan sabar.
Di sisi lain, bayi Axcel dan Alan tampak saling melempar celotehan tidak jelas. Beberapa kali Kedua makhluk kecil itu terkikik bersamaan seolah sedang asyik dengan dunia mereka sendiri.
"Kirim surat lamaran pekerjaanmu di perusahaanku segera," titah Axton tiba-tiba.
Stefan seketika terperangah hampir sulit untuk ia percaya. "Maksud Tuan, saya bisa bekerja di perusahaan anda?" Ia bertanya lebih jelas untuk memastikan.
"Jangan besar kepala dulu. Aku hanya miris saja melihat kondisi putramu. Bagaimana bisa kau membawa Alan ke jenjang pendidikan tinggi jika kau hanya bekerja sebagai tukang kebun. Kau itu orang yang berpendidikan dan sepak terjang di dunia bisnis juga lumayan meluas, tapi kau terlalu bodoh karena tidak menggunakan apa yang kau miliki."
"M-maaf, Tuan." Stefan masih gugup.
"Ucapan maafmu tidak bernilai di mataku!"
"Axton ....sudah sudah. Tahan emsosimu." Noara mencoba menenangkan. Namun, Axton berlagak tuli.
"Titipkan saja Alan kepada bi Milah saat kau bekerja di luar nanti. Dasar si pecundang bodoh!" cerca Axton kembali lalu pergi dari hadapan Stefan.
"Stefan, maaf ya jika perkataan suamiku menyinggung perasaanmu. Percayalah, begitulah cara dia menunjukkan kepeduliannya kepada orang lain," jelas Naora.
☘
☘
☘
Bersambung~~
__ADS_1