Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Sekretaris Pribadi


__ADS_3


Di sebuah ruangan khusus HRD, Alexindo Corp.


"Maaf Pak, bukankah saya diterima bekerja sebagai accounting staff di perusahaan ini sebelumnya?" Naora melontarkan pertanyaan kepada Hendrawan, selaku pimpinan HRD perusahaan yang tengah duduk di seberang meja kerja. Sekali lagi ia ingin meyakinkan pendengarannya yang mungkin saja salah.


"Iya, semula kami memang berencana meletakkanmu di bagian divisi keuangan. Namun, atas permintaan langsung dari pimpinan perusahaan, kamu dipindahkan ke front liner sebagai sekretaris pribadi pimpinan kami," terang Hendrawan.


"Tapi Pak, saya masih belum memiliki cukupskill sebagai sekretaris pribadi CEO. Sebagai mahasiswi fress graduate, ini adalah pengalaman pertama saya bekerja langsung di lapangan. Apakah perusahaan sudah mempertimbangkan hal itu?"


"Pimpinan kami pasti sudah mempertimbangkan segala hal sebelum memutuskan. Kamu tidak perlu khawatir, nanti akan ada salah satu karyawan senior yang akan mengarahkanmu."


Naora hanya mampu mengangguk pasrah. Setidaknya, akan ada seseorang yang akan membimbingnya. Kendati, masih ada sebuah pertanyaan besar di dalam tempurung kepala. Kenapa tiba-tiba ia diletakkan sebagai sekretaris pribadi pemimpin perusahaan? Dia tahu betul, harus ada tahap-tahap khusus serta syarat pengalaman kerja yang cukup agar bisa menempati jabatan tersebut, terlebih lagi di perusahaan besar seperti Alexindo Corp.


Suara ketokan pintu tiba-tiba menyeruak, menarik perhatian kedua penghuni ruangan. "Masuklah," ucap Hermawan mempersilahkan.


Seorang wanita berpakaian formal lengkap dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya terlihat menyembul dari balik daun pintu. "Permisi Pak Hermawan, Tuan Alex meminta Nona Naora untuk menemuinya sekarang," lapor Bella yang menjabat sebagai sekretaris senior CEO perusahaan.


Hermawan tersenyum tipis seiring dengan anggukan ringan sebagai tanda mengerti. Lalu ia menggiring atensinya kepada Naora. "Kamu ikutlah bersama Bella. Dia lah nanti yang akan mengarahkanmu," tuturnya.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Naora berdiri dari kursi. Ia mengangguk sekilas sebagai bentuk sopan santun kepada Hermawan sebelum mengundurkan diri dari ruangan.


"Nona Naora, mari ikut saya." Bella mengarahkan.


"Baik." Naora gegas mengikuti Bella keluar ruangan.


Di sepanjang kaki menyusuri koridor kantor, Bella beberapa kali mengamati Naora yang terlihat tenang. Muka tegang dan keringat dingin, bahkan tak ditemukan pada diri sekretaris juniornya itu.


"Kau terlihat sangat tenang di hari bekerjamu, Nona Naora," Bella mencoba membuka obrolan dengan mimik muka terkesan dingin. Dan Naora tentu menyadari hal itu.


Tersenyum simpul, Naora menggeleng samar. Menandakan apa yang dikatakan Bella tidak sepenuhnya benar.


"Sebenarnya saya sangat gugup."


"Gugup karena akan bertemu CEO kami?"


"Bukan, Nona Bella."


"Lalu?"


"Gugup karena Nona Bella dari tadi sama sekali tidak tersenyum kepada saya."


Senyuman seketika membingkai muka Bella. "Kau sungguh menarik, Nona Naora. Sepertinya inilah alasan kenapa Tuan Alex memintamu menjadi sekretaris pribadinya."



Sementara, di sudut ruang lainnya. Seorang pria tampan berdiri gagah dan melepas pandang di luar dinding kaca. Menikmati hiruk pikuk padatnya jalanan Ibu Kota, seraya berbincang dengan benda pipih yang menempel di telinganya.


"Kenapa susah sekali bertemu denganmu?" pria itu terdengar melayangkan protes kepada lawan bicaranya di seberang telepon.


"Kau mau apa lagi? Ingin memaksaku kembali untuk memenangkan tender proyekmu?"


Pria itu berdecih. "Kali ini bukan itu, tapi kau punya hutang penjelasan kepadaku."


"Penjelasan apa?"


"Kau menikah lagi tapi tidak memberitahuku. Apa kau anggap aku ini sudah mati?!"


"Itu karena kau masih di Inggris."


"Alasan! Padahal kau masih bisa memberi tahuku via telepon. Kau memang sudah melupakanku."


"Cerewet sekali seperti wanita."

__ADS_1


"Nanti malam kita bertemu di lounge seperti biasanya. Lagian kita sudah lama tak bertemu. Harusnya kita saling melepas rindu. Menghabiskan malam bersama."


"Pria gila kau itu, Alex! Aku semakin tidak ingin bertemu denganmu," hardik seseorang dari balik telepon.


Bukannya tersinggung, pria bernama Alex itu justru tergelak pecah. "Tidak ada salahnya rindu dengan sahabatku sendiri. Lagian sudah 2 tahun kita tidak bertemu."


"Menjijikan!"


Gelombang suara ketukan pintu seketika mengalihkan perhatian pria itu.


Itu pasti dia yang datang, batinnya terlihat senang. Rupanya ia juga sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Ya sudah, aku matikan dulu teleponnya ya." Ibu jari yang hendak mematikan panggilan seketika membatu karena lawan bicaranya ternyata sudah memutuskan panggilan terlebih dahulu. "Kebiasaannya memang belum berubah. Dasar manusia kulkas!" gerutunya.


Suara ketukan pintu kembali menegurnya, menuntut sebuah tanggapan darinya. Gegas ia menjatuhkan tubuh di kursi singgasana. Lanjut berputar membelakangi meja kerja. Mengambil satu deheman sebelum bersuara.


"Masuklah."


Terdengar suara knop pintu yang terbuka, disusul suara ketukan pelan langkah high heels memasuki ruangan kerja.


"Selamat pagi, Tuan. Saya sekretaris baru yang akan bekerja untuk anda. Maaf membuat anda menunggu."


Pemilik suara lembut itu, Naora, sudah berdiri tidak jauh dari meja kerja. Mungkin hanya berjarak tiga langkah saja dari sana. Wanita itu tengah menanti tanggapan dari atasannya.


Tidak butuh waktu lama, kursi yang semula masih memunggunginya mulai berputar hingga menampilkan sosok bermuka tampan yang sudah menyematkan ulasan senyuman di sepasang bibirnya.


"Naora, apa kabar? Tidak disangka kita bisa kembali bertemu."


Pria itu terlihat sangat senang dengan pertemuannya dengan Naora. Terlihat dari senyumannya yang kian mengembang sempurna.


"Saya baik, Tuan. Senang bisa bertemu kembali dengan anda."


Binar muka yang semula berseri-seri perlahan mulai meredup. Padahal dia sudah membayangkan muka terkejut Naora ketika bertemu dengannya. Nyatanya, reaksi wanita itu sunggu di luar jangkauan ekspetasi. Ia terlihat sangat biasa-biasa saja.


Pria itu langsung berdiri dengan satu kali pijakan. Mengayun tungkai mendekati Naora. Dilemparnya muka cemberut ke arah si wanita.


Senyuman tipis namun terkesan ramah, terbit di muka cantiknya. "Saya sebelumnya sudah tahu tentang siapa pemimpin di perusahaan ini, Tuan,"


"Benarkah? sejak kapan dan dari mana kau tahu?" Pria itu bertanya-tanya.


"Iya, Tuan. Saya tadi melihat banner perusahaan yang di pasang di lobby depan. Di sana ada gambar Tuan, lalu saya bertanya kepada seorang resepsionis. Dan di saat itu lah saya tahu kalau Tuan Alex adalah pemimpin perusahaan."


Pria yang bernama Nathan Alexander itu tersenyum kikuk seketika, menggaruk tengkuk lehernya yang jelas-jelas tidak gatal di sana. Bisa-bisanya dia melupakan keberadaan banner promosinya. Membuat ia terlihat bodoh di depan Naora.


"Ow, iya. Kenapa aku melupakan hal itu. Tapi setidaknya bereaksi lah sedikit terkejut, Naora. Kau membuatku terlihat bodoh di depanmu. Aku seorang CEO tapi terlihat bodoh di depan sekretaris barunya"


Naora tampak mengulum bibirnya, menahan tawa yang bisa saja lepas kapan saja. Untuk saat ini memang ada sikap formal yang harus dijaga ketika masih di jam kerja. Apa lagi sedang bersama atasannya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud."


"Jangan ditahan, Naora."


Sepasang alis Naora terlihat sedikit terangkat, membentuk muka penuh tanya. "Maaf, apanya ya, Tuan yang tidak boleh ditahan?"


"Senyummu. Kau mencoba menahannya, aku tahu itu. Apa mungkin kau sedang menutupi cabai yang nyangkut di gigimu?"


Suara gelak lirih Naora seketika terlepas dari bibir ranumnya. Menampilkan deretan gigi putih di sela senyumannya. Banyolan Nathan seolah menggelitik perutnya.


Senyuman Naora terlihat indah di muka anggunnya. Sekali lagi, Nathan terpesona.


Dia hanya tersenyum kecil, dan aku serasa melayang. Ingin sekali kurangkum mukanya dengan bibirku. Ia sangat menggemaskan.


"Apa kau sedang menggodaku dengan senyumanmu?"

__ADS_1


Senyuman yang terulas manis di bibir seketika luruh, tergantikan mimik muka rasa bersalah. "Maaf Tuan. Saya tidak bermaksud menggoda anda."


Kini ganti Nathan yang tergelak. "Aku hanya bercanda, Naora. Justru kau dilarang bermuka cemberut di depanku."


"Baik, Tuan."


"Kenapa kau bersikap sangat formal di depanku?"


"Karena anda Atasannya saya."


"Bagaimana kalau aku memintamu untuk berbicara lebih santai kepadaku?"


"Bukankah itu kurang sopan, Tuan? Apa lagi di saat jam kerja."


Nathan tampak berpikir sejenak. "Kau kuperbolehkan berbicara sedikit santai jika hanya kita berdua saja."


"Tapi, Tuan."


"Tidak ada tapi-tapian."


"Baik, Tuan."


"Ya sudah, kau bisa kembali ke tempatmu. Nanti siang temani aku makan siang ya."


"Makan siang?"


"Iya, aku ingin kau menemaniku."



Di sudut kota lainnya, tepatnya di sebuah gedung pencakar langit milik Sanders Corp. Axton tampak berkutat dengan ponsel di tangannya. Mengabaikan lembaran pekerjaan yang berserakan di atas meja. Pria itu sudah mengirim beberapa pesan singkat ke nomor telepon Naora, tapi belum mendapat balasan juga. Membuatnya tidak fokus dalam bekerja.


Sedang apa dia sekarang? Aku yakin dia sedang menebar senyuman di depan bosnya. Awas saja kalau itu sampai terjadi. Aku akan menghukumnya. Dia bahkan tidak pernah tersenyum di depanku.


Axton menjeda monolog pada batinnya. Menenangkan pikiran kalut yang ia belum tahu apa penyebabnya. Sungguh, ia dibuat frustrasi hanya karena memikirkan, Naora.


Selang tidak lama ia kembali menggiring perhatian kepada layar ponselnya. Membuka aplikasi chat berwarna hijau, lanjut mengirim sebuah pesan kepada Naora.


^^^Axton:^^^


^^^Bersiaplah, nanti aku akan mengajakmu makan siang.^^^


Diletakkan kembali ponsel di atas meja. Membawa sebelah tangannya menopang dagu, dan sebelah tangan yang lain mengajak kelima jari besarnya membuat beberapa ketukan secara bergantian pada permukaan meja. Pria itu sedang menunggu balasan dari Naora.


Hingga satu dentingan notifikasi pesan dari ponsel, menuntut tangan untuk menjamahnya dengan segera. Sangat yakin bahwa pesan yang masuk adalah balasan dari Naora.


Brak!


Sebuah rasa tidak terima membangkitkan emosinya. Menyokong tangan melakukan satu gebrakan kasar di atas meja. Sebagai bentuk pelampiasan perasaannya.


"Berani-beraninya dia menolakku!" geram Axton setelah membaca pesan dari Naora.


^^^Naora:^^^


^^^Maaf aku tidak bisa.^^^





Bersambung~~

__ADS_1


Terima kasih masih setia membaca dan memberi dukungan pada karya ini..


lop you poll..🥰🥰


__ADS_2