
"Kyaaak! Axton!"
"Ssstt! Jangan berteriak, Naora," bisik Axton di dekat daun telinga Naora.
"Aku terkejut, kau tiba-tiba menarikku."
Terkurung ke dalam dekapan Axton, wanita itu melayangkan sebuah protes. Namun, perhatian seketika tertarik pada gelagat yang terlihat aneh. Pria itu meremas kain di dadanya seraya meiringis seolah sedang menahan sakit.
"Kau kenapa, Axton?" Naora mulai menelisik, tapi Axton tidak langsung menjawab.
Si wanita cantik bak barbie itu sedikit menjauh dari tubuh sang suami. Ekspresinya sudah ke dalam mode cemas. "Axton, jangan buat aku takut." Sepasang netranya bahkan sudah mulai berkaca-kaca.
"Dadaku, Naora ...."
"Iya, kenapa dengan dadamu?"
"Rasanya ...."
"Rasanya kenapa?" Naora kian diuji kesabarannya.
"Rasanya seperti dipijit ratusan kupu-kupu di dalam sini. Hingga membuat jantungku terus berdenyut." Axton menunjuk ke arah dadanya dengan
Ekspresi cemas Naora seketika bertransisi ke dalam mode datar seperti dinding kamar perawatan. Ia mendadak menyesal karena dengan mudahnya masuk ke dalam tipuan.
Tipuan nakal sang suami tentunya.
"Sejak kapan kupu-kupu berganti profesi menjadi tukang pijit?" sungut Naora yang mulai kesal. "Aku kira kau benar-benar kesakitan." Ia mencubit gemas tangan Axton.
"Aw! Kali ini beneran sakit, Naora." Axton mengaduh seraya mengusap bekas cubitan yang berada tepat di lukanya.
Naora reflek tercekat ringan diiringi rasa bersalah. "Ah, maaf! Aku lupa kalau kau sedang terluka," sesalnya.
Ia tampak beberapa kali meniup lembut luka tersebut. Berharap tindakannya itu bisa mengusir rasa sakit dengan segera. "Apa masih sakit? Maaf ya, karena kesal kau telah mempermainkan perasaan cemasku aku jadi mencubitmu."
Terenyuhlah kini. Entah sudah ke berapa kali rasa itu membelai hati. Sosok Naora sukses menjadi obat lukanya selama ini. Hingga bisikan cinta kian menggema di sanubari.
Kedua sudut bibir sedikit tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman tipis penuh makna. Sepasang maniknya seolah enggan berpaling dari paras cantik si wanita. Celotehan yang terdengar bagaikan syair merdu penenang jiwa.
"Naora."
"Iya?"
Axton beringsut ke posisi berbaring. Sebelah tangan direntangkan ke samping. "Ke marilah," titahnya, diikuti lirikan mata yang mengisyaratkan tawaran sebuah bantal lengan untuk sang istri.
Tampak keberatan, Naora tidak langsung mengindahkan titah sang suami. "Tanganmu masih terluka, apa lagi masih terpasang infus di sana. Aku akan semakin melukaimu nanti."
"Tidak masalah. Lagian lukanya di tangan dan bukan di lengan, Naora. Kemarilah."
"Tapi, Axton ...."
"Kemarilah. Kau tahu aku tidak suka penolakan."
Naora malah menggeleng. "Tidak mau, kau sebaiknya beristirahat sekarang."
Gemas dengan sikap Naora yang terkesan membangkang, Axton kembali menarik paksa tubuh wanita itu lalu menguncinya ke dalam pelukan. Dipandangi mutiara hazel itu dengan tatapan dalam, pria itu seakan sedang meluapkan semua perasaan.
"Kau selalu saja bertindak sesuka hatimu," cicit si wanita yang akhirnya pasrah.
"Inilah aku."
__ADS_1
"Hish! Menyebalkan."
"Jangan cemberut."
"Siapa yang cemberut?"
"Itu bibirmu manyun seperti bibir bebek. Jelek sekali."
"Iihh! Kok gitu sih?!" Naora kian menekuk mukanya. Axton malah tergelak lirih.
"Ada apa?" Pria itu keheranan karena tiba-tiba menerima tatapan tak terbaca di balik mutiara hazel si wanita.
"Kau tersenyum."
Deheman kikuk seketika menyapu ulasan senyuman di paras tampannya. Sesaat Axton memutus tautan mata. Namun, sedetik kemudian ia kembali memandang binar mutiara cantik si wanita. Kali ini tatapannya lebih dalam dan penuh makna.
"Itu karena aku bahagia, Naora," terangnya.
Sama halnya dengan Axton, Naora juga menatap lekat netra bening bewarna abu-abu milik si pria. "Kapan terkahir kali kau merasakan bahagia?"
Samar-samar, kesenduan terbias di muka Axton. "Aku tidak tahu, lebih tepatnya aku lupa. Sudah lama sekali."
Naora tertegun saat itu juga. Ia sangat yakin, sorot mata Axton menyiratkan kebenaran dari dalam hatinya. Berarti perkataan pria itu bukanlah dusta. Batin Naora pun langsung bertanya-tanya.
Apakah selama ini dia tidak pernah bahagia ketika bersama, Lana? Ah! Itu tidak mungkin. Yang aku tahu Axton mencintai istri pertamanya itu. Akan tetapi, aku menemukan kesungguhan di dalam matanya. Saat ini ... aku justru merasa kasihan. Hatiku seakan *merasakan kepiluan. Pria ini kenapa sungguh malang? Sangat tidak sesuai dengan pembawaan dirinya yang arogan*.
Naora kembali terbuai ke dalam denyutan jantung yang menyisakan kesedihan. Ia mengajak salah satu tangan menangkup pipi Axton dengan penuh perasaan. Di saat itu pula pria itu menyambut sentuhannya dengan sebuah kecupan. Hingga mereka kian dikuasai oleh sensasi debaran.
"Kau boleh menumpahkan air matamu saat bersamaku," ucap Naora sembari menatap sendu netra si pria. Ia dengan senang memberi ruang kepada Axton untuk mencurahkan isi hatinya.
Setiap untaian kata yang keluar dari bibir Naora bagaikan sebuah matra ajaib sarat akan ketulusan. Jiwa Axton seketika bergetar mengiringi gulungan perasaan. Menggelitik hati untuk memuai sisi kelembutan. Hingga ... Butiran kristal lolos dalam sekali kedipan.
Di depan Naora, jiwa Axton bebas. Perasaan yang biasa dipendam bisa sangat mudah lepas. Ia tak segan menumpahkan segala emosi hati tanpa batas. Entah ke mana perginya gengsinitas.
Axton bermonolog di dalam hati.
Dituntun oleh naluri sebagai istri, jari-jari lentiknya menyeka lembut jejak air mata di pipi sang suami. "Apa kau sangat sedih?"
Digenggam tangan Naora yang masih bersemayam di pipinya. Axton kembali berucap kata. "Sudah aku katakan tadi, kalau aku sedang bahagia. Daddy ... akhirnya mengakuiku kembali."
"Sebahagianya itukah?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena dia Daddyku. Orang tuaku satu-satunya. Sebagai wadah baktiku sebagai putra. Seseorang yang harus aku temani di hari tuanya."
Terenyuh, itu yang dirasakan Naora. Jawaban Axton kian meluluhkan hatinya. Sungguh sulit dipercaya, si tuan muda arogan memiliki sisi kelembutan juga.
Ya Tuhan ... kenapa saat ini dia terkesan manis sekali? Apakah memang begini sosok asli Axton?
"Axton, kau sadar tidak jika sikapmu kepadaku itu sudah berubah?" Naora menurunkan pandangannya dari muka sang suami. Jari di ajak bermain di dada bidangnya.
"Kau sekarang lebih bersikap baik kepadaku. Kau juga sudah tidak pernah berlaku kasar. Apa sih alasannya?" Naora kembali menaikkan pandangan hingga paras tampan itu memenuhi ruang mata. Menuntut akan jawaban dengan segera.
Sayangnya Axton seolah enggan langsung memberi jawaban. Ia malah mengulas senyuman penuh makna dan berniat menghadiahi bibir Naora dengan sebuah ciuman. Namun, gerakannya terhenti saat sepasang tangan menekan dadanya agar tidak mendekat.
"Jawab dulu pertanyaanku," tuntut Naora.
Axton meraih tangan Naora dari dadanya, meninggalkan bekas kecupan di buku-buku jarinya. Kemudian ia melabuhkan tatapan lebih serius dari pada sebelumnya.
__ADS_1
"Itu karena aku mulai mencintaimu, Naora."
Deg! Deg! Deg!
Jantung Naora seketika berpacu sangat kencang. Detakannya bagaikan musik yang berdendang. Wanita itu teramat senang.
Sesaat ia sempat tenggelam ke dalam euforia karena perasaanya berbalas. Namun, sedetik kemudian ia menarik kembali kesenangannya itu dengan gegas. Wanita itu mulai mencekoki otaknya dengan cara berpikir yang realitas.
"Baru kemarin kau bilang tidak akan jatuh cinta kepadaku karena kau sangat mencintai Lana. Dan sekarang dengan mudahnya kau bilang mencintaiku. Apakah setiap pria itu sepertimu, bisa mencintai dua wanita sekaligus?" Naora menampakkan raut kecewa.
"Aku berkata sesuai yang aku rasakan, Naora. Percayalah," bujuk Axton.
"Aku merasa kau hanya sedang terbawa suasana saja, Axton. Aku mohon jangan ulangi sikapmu yang bisa dengan sangat mudahnya mengatakan cinta kepada siapa saja."
Naora memutar tubuhnya, berniat menuruni ranjang, tapi rengkuhan Axton menghalau gerakannya. Pria itu kian mengeratkan lilitan tangannya saat si wanita sedikit meronta meminta dilepaskan.
"Lepaskah, Axton. Aku akan berpindah ke sofa saja."
"Permintaanmu ditolak."
"Axton."
"Iya."
"Aku bilang lepaskan."
"Tidak akan." Pria itu malah menenggelamkan mukanya ke ceruk leher Naora. "Bagaimana caraku membuktikan kesungguhan perasaanku kepadamu, Naora?"
Naora seketika meremang saat hembusan napas hangat Axton menyapu kulit lehernya. Ia mendadak lemah tak berdaya. Hingga akhirnya pasrah, membiarkan hati terlena.
"Tidak perlu kau buktikan, Axton. Karena itu tidak perlu," lirihnya seraya menahan hasrat.
"Jangan seperti itu, Naora."
"Ahk!" Naora terhenyak ringan saat merasakan sesuatu yang bergerak di pantatnya. Ia sedikit memutar tubuhnya agar pandangan bisa menjangkau pria yang masih merengkuhnya dari belakang itu. "Axton," lirihnya tampak tersipu malu. Bahkan pipinya sudah merona.
"Iya, Sayang," jawab Axton di sela kecupan-kecupan ringannya di pundak polos Naora.
"Tolong tidurkan kembali adik kecilmu itu. Karena ini masih di rumah sakit."
Axton seketika melayangkan tatapan penuh makna. "Kalau begitu, kita pindah ke hotel saja sekarang. Atau kita bisa melakukannya di rumah Daddy. Aw!" pria itu mengaduh saat Naora kembali mencubit tangannya.
"Mesum sekali! Kau itu sedang sakit tapi masih sempat-sempatnya, hmmp--"
Ucapan Naora tercekal karena Axton tiba-tiba membekap mulutnya dengan ciuman lembut dan penuh perasaan. Sekali lagi, pria itu sukses membuat wanita itu terbuai.
…
"Aarrgg!" Lana terus mengerang kecewa.
"Lana, tenangkan dirimu. Jangan mengundang keributan." Stefan mencoba menenangkan.
"Axton sudah menjahatiku, Stefan. Dia mulai mengabaikanku. Panggilan teleponku sedari tadi juga tidak dijawab! Dia telah menghianatiku! Ini semua karena wanita jalaang itu!"
Beberapa saat yang lalu, ia memamg mendapat kabar dari Milah tentang keadaan sang suami. Ia sangat marah karena merasa tidak dianggap sebagai istri. Wanita itu juga cemburu ketika tahu bahwa Axton kini bersama Naora.
"Stefan! Kita harus membuat sebuah rencana!"
☘
☘
__ADS_1
☘
Bersambung~~