
Naora terjingkat kaget saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Lagi-lagi ia harus menunda keinginan untuk meraup kehangatan di balik selimut tebalnya. Di dalam hati ia menggerutu kesal saat itu juga.
Tadi Axton, sekarang Lana. Mereka sama-sama tidak tahu sopan santun. Apa lagi yang akan aku hadapi kali ini? Ya Tuhan ... Aku hanya ingin tidur dengan tenang malam ini.
"Kau harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang, Lana," tegas Naora, menunjukkan rasa tidak sukanya. Kendati, ia menyadari mimik muka Lana yang terlihat tak biasa.
Alih-alih menghiraukan protesan yang diterima, Lana malah melangkah cepat mendekati Naora, dengan membawa muka mendungnya. Diangkatnya sebelah tangan ke udara, seraya memamerkan kuku-kuku panjang bak cakar siluman rubah betina.
Plak!
Muka cantik Naora seketika terhempas ke samping saat sebuah hadiah tamparan mendarat di pipinya. Sesaat, ia tampak terpaku karena tindakan kasar yang diterima secara tiba-tiba. Sedetik kemudian, diajaknya sepasang mutiara hazelnya menatap nanar muka Lana.
"Katakan, apa alasanmu menamparku?" Disela rasa kesalnya, Naora masih mencoba bersikap tenang.
"Kenapa kau tega menyakiti perasaanku, Naora?! Apa sebelumnya aku pernah berbuat jahat kepadamu?!" Lana kembali menumpahkan air mata kesedihan, memposisikan diri seolah dia adalah korban.
Dua garis terpahat jelas di antara sepasang pangkal alis Naora, menandakan sebuah pertanyaan besar tengah mengambang di atas kepala. Masih dengan sebelah tangan menangkup bekas tamparan di pipi, ia kembali membuka suara.
"Aku yang ditampar, tapi kenapa kau yang menangis? Yang benar saja, Lana." Wanita berparas bak barbie itu melipat kedua tangannya di depan dada sembari menampilkan mimik muka keheranan. "Dan apa maksudnya aku menyakitimu? Kapan aku menyakitimu? Bukankah selama ini kau dan Axton lah yang justru menyakitiku?"
"Kau sengaja menggoda suamiku dengan tubuhmu!" tuding Lana tanpa menyurutkan isak tangisnya. Bahkan air matanya kian menganak sungai di muka. Seakan dia lah pihak yang paling menderita.
"Suamimu?" Naora berdecak jengah akan sikap Lana yang seolah Axton hanya miliknya seorang. Madunya itu juga terkesan menolak kenyataan bahwa sang suami memiliki istri lain selain dia. "Maksudmu suami bersama?" bibirnya tersenyum miris. "Aku tidak pernah menggoda Axton," imbuhnya kembali.
"Jangan berkilah, Naora!"
__ADS_1
"Aku tidak berkilah. Coba kau lihat ini." Naora menunjuk beberapa bekas tanda ciuman di lehernya. "Dan juga, lihatlah ini." Bahkan jejak-jejak nakal bibir Axton di dadanya sengaja dibiarkan menusuk mata Lana. "Ini semua kerjaan Axton. Kau bisa membayangkan betapa agresif suami kita itu. Jadi dari sini kau bisa menilai, siapa yang menggoda dan digoda bukan?"
Menolak untuk percaya dengan perkataan Noara, wanita yang tengah berpeluh amarah itu terus menyangkal. "Axton tidak akan melakukannya jika kau tidak menggodanya dengan sengaja! Karena dia hanya mencintaiku seorang! Sebagai sesama wanita, seharusnya kau menjaga perasaanku! Kau seharusnya juga menjaga sikap kepada suami orang."
Naora luar biasa tercengang. Lana bercakap seakan dia adalah seorang perempuan perebut lelaki orang, yang biasa disebut dengan bahasa keren 'pelakor'. Tidak berhenti sampai disitu saja, tingkat keegoisan Lana yang mungkin tidak bisa diukur menggunakan alat apapun, membuat siapa saja auto garuk kepala.
"Kau sungguh egois. Meminta orang lain agar menjaga perasaanmu sementara kau sendiri tidak berniat memikirkan perasaan orang lain."
"Apa maksudmu, Naora? Kalau aku egois, kau tidak mungkin bisa tinggal di rumah ini bersama kami. Jika aku mempunyai hati yang jahat, aku bisa saja meminta Axton mengusirmu dari rumah ini dari dulu. Selama ini apa aku kurang baik kepadamu?"
Lucu sekali. Naora sampai tidak bisa berkata-kata. Rasa-rasanya ia hanya ingin tertawa bersama cicak-cicak di dinding, karena ucapan Lana sangat menggelitik telinga, membuat ia malas untuk berdebat dengannya lebih lama.
"Aku sampai bingung, kebaikan apa yang telah kau lakukan kepadaku?" celetuk Naora dibarengi gelengan muka jengahnya. Kemudian ia menatap lekat muka Lana. "Terserah apa yang kau katakan. Yang jelas aku tidak akan melupakan statusku sebagai istri sah Axton Sanders. Dan aku ... akan meminta semua hakku, termasuk nafkah batin."
Jujur, Naora tidak bersungguh-sungguh saat membahas perihal menuntut nafkah batin dari Axton, termasuk kegiatan penyatuan raga. Keraguan memang masih mengganjal di hati, apalagi mengingat pernikahannya akan berakhir pada perceraian semata. Wanita itu hanya ingin menyadarkan madunya itu saja.
Sementara Lana, hatinya kini tengah disergap oleh kegelisahan. Kata demi kata yang terlisan dari ujung lidah Naora, bagaikan sebuah ancaman nyata, membuatnya tidak nyaman. Entah mengapa, ia merasa keberadaan wanita di hadapannya sekarang lambat laun akan mereggut posisinya yang aman.
"Sayangnya, aku tidak terpangaruh oleh provokasimu. Yang ada aku malah semakin menggebu ingin menggoda suamimu. Ah ... aku lupa. Bukankah Axton juga suamiku." Sahutan Naora kembali menaikkan emosi Lana.
"Aku mohon berhentilah bersikap seperti ini, Naora." Muka Lana mendadak memelas dan sendu, mendambakan iba dari lawan bicaranya.
"Sikapku masih di ambang wajar dan tidak ada yang salah."
"Apa ibumu dulu juga seorang penggoda suami orang, hingga kau pun mewarisi kelakuan bejadnya itu?"
"Jaga ucapanmu!" Kali ini Amarah Naora seketika melesat cepat ke ubun-ubun. Ia tidak terima jika almarhum mamanya dihina oleh lidah Lana yang licin seperti sabun.
__ADS_1
Bukankah sangat tidak pantas menjelekkan seseorang yang telah meningal dunia? Apa lagi sampai mengumbar aibnya. Padahal, kiriman alunan merdu dari doa yang dilangitkan sangat dianjurkan.
Emosi yang tiba-tiba mendidih di dalam hati, menjemput keinganan akan sebuah pelampiasan. Naora langsung mengangkat tinggi satu tangan, dan siap menghadiahi sebuah tamparan pada pipi lawan.
Namun, belum sempat niatnya itu kesampaian, wanita itu kembali dibuat bingung oleh tindakan random Lana yang tiba-tiba bersimpuh di bawahnya, seraya memohon dengan kedua tangan mengatup di depan muka, dan tidak lupa banjir air mata yang seoalah tak pernah surut hingga kiamat besar tiba.
"Kyaaa! Aku mohon, Naora ... jangan tampar aku." Tubuh Lana terlihat bergetar karena ketakutan.
"Naora! Apa yang kau lakukan?!"
Gelombang suara bariton seseorang tiba-tiba menjalar ke indera pendengaran Naora. Dengan tangan masih dalam posisi siap untuk menampar, ia sedikit memutar tubuh ke belakang.
"Axton?" lirih Naora. Sepasang manik hazelnya mengikuti pergerakan si pria yang kian mendekat dengan urat-urat keras di mukanya.
☘
☘
☘
Bersambung~~
Well, bab ini masih akan berlanjut besok ya. Maaf sekali karena Nofi belum bisa ngetik panjang🙏
Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon like. Tinggalkan komen cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣
Vote gratis mingguan juga boleh disumbangkan ke lapak yang masih sangat sepi pembaca ini..
__ADS_1
Sumbangan Gift juga akan Nofi terima dengan senang hati🥰
lop lop you pooolllll😘😘