
Jovana menjeda ceritanya untuk beberapa waktu. Rasa sesak yang bergulung di dada kembali mengantar air mata bermuara di muka sendu.
"Malam itu kau langsung tertidur begitu saja. Padahal aku sedang menahan sakit karena perbuatanmu. Dengan hati yang patah, aku pergi meninggalkan kamar dan juga pesta. Dan keesokan harinya aku berniat menemuimu untuk berbicara, tapi ternyata kau sudah pindah ke Singapura tanpa meninggalkan sepatah dua patah ucapan perpisahan kepada teman-teman sekelas. Setelah kejadian itu, aku bertekad merubah penampilanku. Aku juga mencoba ikut kelas bela diri agar tidak menjadi wanita lemah dan bisa memberi perlawanan jika hal serupa menimpaku lagi."
Senyuman getir tiba-tiba menyelinap ke dalam raut kesedihan. Jovana tak menyangka bahwa pada akhirnya ia menceritakan luka masa lalunya kepada Nathan.
"Kau pasti tidak akan mempercayai ceritaku 'kan? Bagimu pasti terdengar seperti bualan belaka." Jovana masih tertunduk sembari meremas jari-jarinya.
"Aku mempercayainya."
Kepala yang semula masih tertunduk terangkat seketika. Dan di saat itu pula wajah basah berlinang air kesedihan Nathan memenuhi ruang mata.
"Kau menangis?" Jovana terperangah seolah tidak percaya.
"Aku tidak menyangka bahwa kejadian itu yang selama ini kuanggap hanyalah sebuah mimpi adalah kenyataan, Jovana. Ternyata itu bukanlah mimpi. Maafkan aku, Jovana."
Tentu saja Nathan disergap rasa sesal yang luar biasa. Selama ini ia selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati seorang wanita. Menjunjung tinggi martabat dan kehormatan kaum hawa. Namun, nyatanya ia lalai juga. Kendati, perbuatannya itu tidak atas dasar disengaja. Akan tetapi, tetap saja pria itu memegang status sebagai tersangka.
Perkosaan termasuk salah satu tindakan kejahatan bukan? Kalian pasti tahu itu.
Lagi-lagi Jovana menampakkan senyuman getir. "Lucu sekali. Bisa-bisanya kau hanya menganggap itu sebuah mimpi setelah mendapatkan kenikmatan duniawi. Hah! Semua pria sama saja." Ia menghelas napas panjang sebelum kembali bersuara. "Baiklah! Sekarang kau sudah tahu alasan kebencianku bukan? Aku akan pergi sekarang."
"Apa waktu itu kau sempat hamil?"
Tangan yang hendak menggapai handle pintu mobil mendadak terhenti. Pertanyaan Nathan kembali mengorek luka yang selama ini terpendam di hati.
"Natalie Alexanders. Itu adalah nama janin yang selama empat bulan aku rawat di dalam kandungan."
Bagaikan gulungan ombak yang menggantam samudra. Nathan merasakan getaran nyeri di rongga dada. Pria itu tentu paham maksud dari perkataan Jovana.
"Jadi--"
"Aku keguguran," tukas Jovana di sela menahan sesak yang kian menyita ruang paru-parunya.
Pecah sudah semua penyesalan pada diri pria berhati lembut itu. Direngkuh erat tubuh Jovana yang masih berguncang karena tersedu-sedu. Betapa ia tidak bisa membayangkan bagaimana wanita itu bisa menjalani hidupnya waktu itu.
Di sela rasa bersalahnya yang teramat dalam, pria itu berandai-andai di dalam hati.
Andai aku mengetahui kehamilan Jovana dari dulu, mungkin calon bayiku masih hidup. Nyatanya aku calon ayah yang buruk, tidak bisa menjaga dan melindungi.
Di saat Nathan menjalani hidupnya dengan nyaman bergelimang kesenangan, Jovana justru harus hidup dengan menanggung beban derita. Hamil di usia yang masih sangat muda, barang pasti menimbulkan stigma buruk masyarkat tentang si wanita.
"Maaf, Jovana. Aku sudah sangat berdosa."
"Kau memang jahat, Nathan." Jovana kian tergugu.
"Harusnya kau laporkan saja aku ke pihak kepolisian karena sudah melakukan kejahatan seksual kepadamu."
Sadar sudah terlalu jauh hanyut dalam suasana perasaan, Jovana mendorong tubuh Nathan. "Cukup. Aku sangat membenci berada disituasi yang membuatku terlihat menyedihkan. Setelah ini, anggap saja kita tidak pernah bertemu."
Seolah tak mengijinkan wanita itu menjauh darinya, Nathan kembali menghalau pergerakan Jovana yang hendak menuruni mobil.
"Tidak! Aku tidak akan mendengarkanmu. Kau menjadi tanggung jawabku sekarang."
__ADS_1
"Itu hanya masa lalu." Jovana menggeliat meminta pria itu melepas rengkuhannya.
"Tapi dosa yang kutanggung akan selalu menyisakan penyesalan sampai kapanpun jika kau pergi, Jovana. Ijinkan aku memperbaiki semuanya."
"Kau hanya merasa bersalah dan kasihan kepadaku. Aku tidak butuh itu."
Kali ini Nathan benar-benar tidak akan melepaskan Jovana. Apapun dan bagaimanapun itu, si wanita harus tetap bersamanya. Meski ia harus bertindak memaksa.
Seumur hidup, baru kali ini ia menerapkan sikap egois kepada wanita. Tidak apa, yang penting Jovana bisa kembali bahagia. Begitu yang dipikirkannya.
"Nathan ...! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Wanita itu terkejut saat tubuhnya melayang dan mendarat ke pangkuan Nathan.
Sungguh sulit dipercaya. Di tempat minim ruang kosong seperti di dalam mobil, Nathan bisa sangat mudah memindahkan tubuh Jovana. Pria itu seperti mengangkat seorang bayi saja.
Dasar Nathan!
"Jovana, tenanglah dan dengarkan aku." Ia merangkum pipi Jovana dengan sebelah tangan dan tangan yang lainnya dibiarkan melingkari perut ramping si wanita.
Sorot mata serius berbaur dengan ketulusan Nathan ahkirnya mampu meluluhkan hati seorang Jovana. Gerakan memberontak terlihat melambat seiring dengan getaran jantung yang menyentuh jiwa.
"Apa maumu, Nathan?" lisan tanyanya terdengar lirih. Jujur, Jovana merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini.
Ya Tuhan ... pipinya terlihat merah merona. Dia sedang malu rupanya. Memang seperti inilah bentuk asli seorang Jovana Sandrea, tidak meninggalkan fitrah sejati seorang wanita. Sikap tomboynya hanya kamuflase saja.
"Menikahlah denganku."
"Jika aku tidak mau?"
"Aku akan memaksamu."
Jovana memukul dada Nathan yang langsung meringis seolah tindakan kecil si wanita menyakitinya. Padahal rasanya tidak lebih dari gigitan bayi semut saja.
Nathan kian mengunci tubuh Jovana saat wanita itu hendak turun dari pangkuannya. "Menikahlah denganku." Rupanya Nathan tidak mau menyerah terlalu cepat. Lebih tepatnya tidak kata 'menyerah' di kamusnya saat ini.
"Aku tidak suka paksaan, Nathan. Apalagi harus menikah tanpa berlandaskan rasa istimewa di hati."
"Tapi aku sudah menempatkan seorang Jovana di hatiku. Apakah itu kurang istimewa?"
"Ee? Sejak kapan?" Jovana sontak bertanya-tanya.
"Waktu aku melihatmu membantai kecoa tanpa ampun. Kau terlihat keren di mataku."
Tercengang sejadi-jadinya, mulut Jovana bahkan sampai menganga.
"Alasan macam apa itu? Please! Apanya yang keren?! Sudahlah! Aku menyesal bertanya kepadamu tadi," sungut si wanita dan kembali memberontak.
"Jangan banyak bergerak, Jovana. Tempatnya sempit."
"Makanya cepat lepaskan aku! Jangan mancing emosi lebih dari ini jika tidak ingin kau menyesal!"
"Jangan tolak aku ya." Nathan masih keukuh.
"Hei, kau mau apa?!" Jovana langsung menutup bibir Nathan yang terlihat memangkas jarak.
"Mau menciummu."
__ADS_1
"Enak saja! Nggak!"
"Bukankah aku kekasihmu."
"Sejak kapan? Jangan ngaco."
"Sejak hari ini. Tepatnya setelah kita berciuman tadi."
Semakin geregetan dibuatnya. Jovana terlihat frustrasi dan emosi karena pria di depannya. "Itu hanya ciuman spontanitas agar kakakku tadi percaya dengan hubungan kita. Tidak berarti apa-apa."
"Tapi ciuman itu sangat berarti bagiku. Jovana ... sekali lagi aku meminta kepadamu. Menikahlah denganku."
Jovana sudah kehabisan tenaga untuk memberontak lebih lama. Akhirnya ia menyerah dan putus asa. Ternyata Nathan sangat keras kepala, dan juga ... pemaksa.
Dibuang napas ke udara dengan sekali helaan, ia pun kembali berucap kata. "Kau benar-benar serius dengan mengajakku menikah?"
"Iya, aku sangat serius," jawab Nathan sangat mantap tanpa terselip sedikitpun keraguan.
"Kalau begitu kau pria yang sangat buruk, Nathan."
"Apa alasannya?"
Beberapa detik Jovana tertunduk dalam lalu kembali mengangkat wajahnya, disusul tatapan tak terbaca. "Beginikah caramu melamar seorang wanita? Kau memang benar-benar buruk."
Menyadari lilitan tangan Nathan melonggar, wanita itu bergegas turun dari pangkuannya.
"Jovana, kau mau ke mana? Jangan pergi."
"Aku tidak mendengarmu." Jovana terlihat sudah menuruni mobil.
"Besok aku akan melamarmu dengan benar. Kau harus menerimaku," ucap Nathan setengah berteriak.
"Terserah kau saja!" sahut wanita itu seiring tubuhnya yang kian mengecil dari pandangan Nathan.
Meski hati masih berliput sesal dan sedih, Nathan tampak mengulas senyuman tipis di bibir. "Jovana ... aku berjanji akan menjadi suami yang terbaik untukmu."
Dirogoh ponsel dari saku celananya, Nathan langsung melakukan panggilan keluar. Tidak lama suara seseorang terdengar dari seberang telepon.
"Siapkan sebuah tempat terbaik yang cocok untuk melakukan lamaran romantis."
☘
☘
☘
Bersambung~~
Manisan mana coba? Axton atau Nathan?🤭
Kalian pasti milih Nathan 'kan? Iya, Nathan memang baik, ramah, dan manis terhadap wanita. Karakternya lembut.
Axton sebenernya manis kalau sudah bucin, meski karakter dinginnya sangat konsisten dan juga nggak bisa merangkai kata-kata puitis. Ia hanya mengatakan apa yang hatinya katakan.
Oya, masih ada Wildan. Kalau Wildan sih radak sableng dia😆 tapi dia juga bisa romantis kok.
__ADS_1
Terima kasih ya masih setia membaca karya Nofi yang kian sepi like dan komentar ini🥰
...See next time. lop you😘...