
"Naora ...! Kau di mana?! Hmmp!"
Hari masih pagi, tapi suasana rumah mungil itu sudah dibuat gaduh oleh Axton yang terus memanggil-manggil Naora. Pria itu tampak gusar dengan menahan rasa mual yang terus mengaduk-aduk isi perutnya.
Nathan melihat sahabatnya yang sudah seperti induk gajah kehilangan telurnya hanya bisa berduduk santai tanpa berbuat apa-apa. Toh, nggak ada gunanya. Yang Axton butuhkan saat ini hanyalah Naora.
"Kau tenanglah dulu, Axton. Istrimu itu masih keluar membeli sarapan bersama temannya," tutur Nathan.
Axton berakhir pasrah, duduk menunggu Naora sembari menahan mual dan pusing yang melanda. Tubuh sudah sangat lemas karena beberapa kali bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Sebenarnya kau sakit apa sih? Padahal semalam kau sudah baik-baik saja dan sekarang penyakitmu itu kambuh lagi." Nathan keheranan.
"Entahlah, aku tidak tahu kenapa. Yang jelas, aku tidak ingin berjauhan dengan Naora."
"Ck! Rupanya kau sudah kerasukan jin bucin. Dulu saja kau sok jual mahal dan terus saja bersikap buruk kepada Naora. Aku yakin, kau itu kualat dengannya," cebik Nathan.
Axton menjatuhkan kepalanya di atas meja lalu memejamkan mata. Kepayahan yang dirasa seolah merenggut semua energinya.
"Terserah kau mau berkata apa. Tapi nanti ada saatnya kau juga akan merasakannya apa yang kurasakan," timpal Axton tanpa melihat reaksi Nathan.
"Kau menyumpahiku?"
"Tidak. Tapi aku mengutukmu," celetuk Axton sekenannya.
"Hish! Apa bedanya. Aku memang pernah mencintai seseorang, tapi tidak pernah sebucin apalagi sebodoh kau. Dan hal seperti itu tidak mungkin terjadi kepadaku."
Axton seketika mengangkat kepalanya lalu melayangkan tatapan sangsi kepada Nathan. "Kalau seseorang yang kau maksud adalah Naora, sebaiknya kau gadaikan saja hatimu itu sebelum aku sendiri yang akan memutilasimu. Hanya aku yang boleh mencintainya," ucapnya penuh penekanan.
Tergelak pecah. Alih-alih merasa terintimidasi, Nathan malah semakin tertarik memancing emosi Axton.
"Aku akan menunggu Naora sampai ia menjanda. Kau tahu sendiri aku bukan tipe pria yang mudah sekali move on kalau sudah mencinta," goda Nathan. Rasanya sangat menyenangkan melihat reaksi muka Axton yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Kau jangan gila! Hmmp!"
Belum puas Axton mengumpat, rasa mual kembali menyerangnya. Ingin muntah tapi tidak ada yang bisa dikeluarkan karena isi perut sudah tandas tak tersisa. Jadi ia memilih menjatuhkan lagi kepalanya di permukaan meja.
"Kalau aku sudah sehat, aku akan membunuhmu!" Axton masih sempat mengumpat meski nada suara hanya menyerupai bisikan.
Seolah tidak merasa prihatin sedikitpun, Nathan malah kian terbahak. "Baru kali ini aku melihatmu lemah seperti cacing kurang asupan gizi. Terima kasih ya, kau sudah sangat menghiburku," cerocosnya.
"Bisa diam tidak?! Kau sangat berisik!" sengit Axton.
Tidak lama, Naora dan Jovana kembali. Menyadari kedatangan sang istri, Axton langsung tampak berseri. Seperti anak kecil, ia langsung memeluk Naora yang masih berdiri.
Bagaikan sebuah candu, dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh si wanita. Rasa mualnya seketika sirna. Sungguh, sosok Naora memang selalu sukses menjadi obat terampuh baginya.
"Naora, kenapa kau lama sekali pulangnya?"
"Kau kenapa, Axton? Jangan seperti ini, malu dilihat Nathan dan Joe." Naora mencoba mengingatkan. Tubuhnya juga sedikit menggeliat saat Axton menenggelamkan wajah di ceruk lehernya.
__ADS_1
Nathan dan Jovana kompak menggelengkan kepala. "Astaga ...," ucap keduanya bersamaan.
Jovana sontak melirik sinis ke arah Nathan yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Nathan langsung melisankan tanya.
"Dasar mesum," jawab Jovana hampir menyerupai desisan. Ia masih sangat kesal jika mengingat kejadian semalam. "Ini sarapanmu. Makanlah." Wanita itu menyodorkan sebungkus nasi kepada Nathan dengan sedikit kasar sebelum pergi menuju dapur.
"Joe?" panggil Nathan, tapi yang dipanggil malah cuek saja. Ia lantas mengekori Jovana. Bagaimanapun juga, rasa bersalah tetaplah ada. Meski semalam ia melakukan itu dengan tanpa sengaja. Namun, pria itu tidak akan tenang sebelum permintaan maafnya diterima.
Sementara Naora dan Axton tampak saling melempar pandang setelah melihat pemandangan interaksi kedua manusia itu. Di mata mereka, Nathan dan Jovana terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Mereka kenapa sih?" Naora keheranan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," balas Axton yang kembali sibuk menghirup aroma rambut istrinya.
"Apa kau tidak ingin tahu?"
"Buat apa aku tahu? Lagian aku tidak mau tahu."
"Hish! Kau menyebalkan, Axton! Ya sudah kita sebaiknya sarapan dulu. Setelah ini aku mau membantu Jovana mengajar anak-anak."
"Hmm ... ya sudah ayo kita sarapan."
"Axton, kenapa kita malah ke kamar? 'Kan mau sarapan?" tanya Naora dengan mengikut pasrah saat Axton menyeretnya menuju kamar.
"Iya, tapi aku ingin sarapan yang lain," ucap Axton penuh makna dan rupanya langsung dipahami oleh Naora.
"Iih ...! Jangan sekarang. Ini masih sangat pagi. Lagian bagaimana nanti Nathan dan Joe mendengarnya?" Naora sedikit menggeliat dari rengkuhan Axton, berniat keluar kamar, tapi usahanya pun sia-sia. Kekuatan si pria tidak sebanding dengan kekuatan tubuhnya yang mungil.
"Ya itu 'kan karena salahmu sendiri. Kau keasyikan menyusu seperti bayi raksasa sampai ketiduran."
"Sstt ...! Naora ... jangan keras-keras mengatakan hal itu. Para readers nanti dengar. Imageku bisa anjlok nanti."
Sementara itu di sudut ruang lainnya.
"Joe?"
"Apa sih?! Sana pergi! Aku risih kau ikutin terus!" sentak Jovana.
Astaga ... ini cewek galak banget. Apa waktu mengandung ibunya ngidam memelihara singa?
Nathan membatin seraya mengelus dada. Baru kali ini dia menghadapi seorang wanita sejudes Jovana. Pria itu sampai meraup banyak kesabaran agar tidak terpancing emosi jiwa.
"Semalam aku tidak sengaja. Aku minta maaf." Nathan berlisan benar-benar dari hati.
Jovana tidak menjawab apalagi bersuara. Ia malah tampak sibuk menyiapkan sarapan di atas piringnya. Kemudian berniat langsung pergi dari sana. Wanita itu sungguh sangat malas meladeni Nathan yang sedari tadi mengamatinya.
Pantang menyerah, Nathan menghadang tubuh Jovana agar tetap tinggal di sana sampai menerima permintaan maafnya. "Bukankah guru di sekolah pernah bilang, jika ada teman yang meminta maaf maka kita harus memaafkannya."
*Dialog Nathan di atas, Nofi ambil dari real life ya. Bocilku di rumah pasti bilang gitu kalau mamanya yang super amit-amit ini sedang marah.
__ADS_1
"Sayangnya aku bukan temanmu, jadi aku tidak harus memaafkanmu." Akhirnya Jovana bersuara.
"Joe?"
"Apa'an sih?!" Jovana kian risih karena Nathan bagaikan anak itik yang terus mengekori induknya.
"Dosa loh kalau nggak mau memaafkan orang yang tulus meminta maaf."
"Terserah!"
"Joe ...."
"Menyingkirlah. Kau menghadangi jalanku!" Rupanya wanita itu masih keukuh tidak ingin memaafkan.
"Tidak mau."
"Nathan!" sentak Jovana lagi.
"Iya?" sahut Nathan dengan santainya. Padahal muka di hadapannya sudah ditekuk berkali-kali.
"Aku sudah sangat lapar dan ingin segera menyantap sarapanku. Kau ini sangat mengganggu!"
"Hei! Kembalikan sarapanku!" seru Jovana saat Nathan merebut piring berisi sarapan miliknya.
"Kau harus memaafkanku dulu, baru aku akan mengembalikannya." Pria itu mengangkat tinggi piring itu seraya bernegoisasi. "Arrgh ...!" Ia mengerang kesakitan karena Jovana menendang kakinya.
"Rasakan!" Ia langsung menyabet kembali piring makanannya dari Nathan dan berniat pergi.
"Jovana?" Panggil Nathan sembari menahan sensasi ngilu di kakinya.
Langkah si wanita langsung terhenti saat mendengar Nathan menyebut namanya dengan lengkap. Sesaat ia teringat akan sosok seseorang yang sangat ia sayang. Ia memutar kembali tubuhnya menghadap si pria dengan sepasang bibir siap bersuara.
"Kau tidak perlu meminta maaf lagi."
"Apa itu berarti kau sudah memaafkanku?"
"Pikir saja sendiri." Jovana melenggang pergi dan Nathan masih setia membuntuti. Sebelumnya ia masih menyempatkan diri mengambil piring untuk wadah sarapannya.
Tidak lama keduanya tiba di ruang tamu. Bertepatan dengan itu, Axton dan Naora juga keluar dari kamar mereka. Hingga keempat manusia itu dibuat terkejut berjamaah karena kedatangan seseorang yang berpenampilan sangat kotor
"Kau?!"
☘
☘
☘
Bersambung~~
VISUAL JOVANA
__ADS_1