Istri Suamiku

Istri Suamiku
Photo


__ADS_3

"Sudah 2 hari Mas Ahmad tidak pulang. Aku harus mencari kemana lagi" Tyas bingung sendiri karena tidak ada kabar sama sekali dari suaminya Ahmad.


"Mbak Tyas, Mbak Tyas, buka pintu Mbak. Ini Mirna."


"Iya Mirna, sebentar."


"Ada apa Mirna, tumben malam-malam ke rumahku?"


"Mbak, Mirna mau tanya?"


"Iya, mau tanya apa? Eh iya masuk dulu."


"Duduk Mir, Ada apa? Kamu mau tanya apa?"


"Mas Ahmad sudah pulang Mbak?"


"Belum, sudah dua hari ini belum pulang dan handphonenya mati. Kenapa Mirna?"


"Semoga aku salah lihat ya Mbak. Jadi kemarin sore pulang kerja, aku lihat Mas Ahmad sama perempuan yang sedang hamil besar lalu tadi siang aku jenguk teman aku yang lahiran di Rumah Sakit Bunda, aku lihat perempuan yang sama Mas Ahmad kemarin sore sudah melahirkan. Dan satu kamar sama aku, untungnya Mas Ahmad tidak lihat aku."


"Mungkin Mas Ahmad sedang membantu temannya Mirna. Aku pikir ada apa. Lagi pula Mas Ahmad memang jarang pulang karena kerjaannya banyak."


"Mbak Tyas memangnya ngga pernah ada rasa curiga kenapa Mas Ahmad jarang pulang."


"Mirna, aku percaya sama Mas Ahmad. Aku sama Mas Ahmad sudah 5 tahun menikah. Dan selama ini semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Hanya saja aku suka kesepian kalau Mas Ahmad tidak pulang seperti saat ini."


"Mbak Tyas tidak percaya sama Mirna."


"Kok bicaranya seperti itu? Mbak percaya sama Mirna."


"Ya sudah Mbak, aku pulang sudah malam juga."


"Ya Mirna, hati-hati ya."


Baru saja Tyas menutup pintu, terdengar suara motor suaminya. Tyas segera membukakan pintu untuk suaminya, Ahmad.


"Kenapa pintunya tidak dikunci? Berapa kali aku bilang sama kamu, Kunci pintunya!"


"Aku tadi dengar suara motornya Mas Ahmad, makanya aku langsung buka pintu."


"Lain kali kunci pintu, sampai aku ketuk pintu, baru kamu buka pintunya, ngerti kamu?"


"Iya Mas."

__ADS_1


"Mas Ahmad mau mandi dulu, aku siapkan air panas untuk mandi."


"Ngga usah, aku hanya mau ambil baju dan pergi lagi. Siapin bajuku untuk seminggu. Aku harus keluar kota selama seminggu. Aku belum bisa kasih uang ke kamu. Aku belum gajian."


"Iya Mas, sebentar aku siapkan bajunya Mas."


Tyas masuk ke kamar dan menyiapkan baju untuk suaminya.


"Mas, ini bajunya untuk seminggu."


"Kunci pintunya jangan terima tamu malam-malam. Aku tadi lihat Mirna keluar dari rumah. Jangan sampai aku lihat lagi ada orang keluar dari rumah malam-malam."


"Iya Mas, maaf."


"Aku berangkat, jaga rumah dan tidak usah kemana-mana kecuali kerja, nanti aku transfer uang ke kamu pas gajiku keluar".


"Iya Mas".


Sepeninggalnya Ahmad, Tyas hanya bisa duduk terdiam dj tempat tidurnya.


"Ya Allah, lindungi suami hamba, Ahmad agar perjalanan keluar kotanya selamat sampai tujuan tanpa kurang suatu apapun. Amin."


Tyas tertidur, jam 1 malam Tyas terbangun, ia mimpi buruk. Lalu Tyas sholat tahajud dan dilanjutkan dengan sholat subuh.


Hari ini Tyas jatah masuk pagi. Tyas segera menyiapkan diri untuk. berangkat kerja.


"Pagi Gege, tumben kamu nanya apa kabar?"


"Sini Mbak Tyas, sarapan dulu, aku bawa ketan bubuk, Mbak Tyas kan suka banget sama ketan bubuk."


"Wah enak nih, pagi-pagi minum kopi pakai ketan bubuk. Kamu tahu aja Ning, kalau aku belum sarapan."


Gege, Ningsih dan Tyas sedang menikmati sarapan di pabrik sebelum masuk kerja.


Handphone Tyas bergetar. Ia merogoh tasnya dan mengambil hamdphonenya.


Ada pesan masuk dari Tari teman sekolahnya yang belerja di Rumah Sakit Bunda. Tari mengirimkan photo ke Tyas. Belum sempat Tyas membuka photo kiriman dari Tari, bel di pabrik berbunyi yang menandakan pergantian shift malam ke shift pagi. Tyas segera memasukkan handphonenya dan bergegas masuk ke pabrik berbarengan dengan Gege dan Ningsih.


Saat jam makan siang, Tari menelponnya.


"Hallo Tyas, loe udah lihat photo yang gue kirim tadi pagi?"


"Belum Tari, Ya Allah gue lupa. Nanti deh gue lihat, gue baru istirahat nih. Memangnya ada apa? Ngga biasanya loe kirim photo."

__ADS_1


"Loe lihat dulu deh dan jangan nangis ataupun kaget. Ya sudah istirahat sana."


"Ok, thank you Tari."


Tyas menutup telponnya dan berjalan ke kantin. Selesai makan, Tyas menyalakan handphonenya dan membuka photo kiriman dari Tari. Ada 3 photo yang Tyas dapatkan


Tyas kaget melihat photo suaminya Mas Ahmad dengan seorang perempuan dan bayi yang sedang di gendong Mas Ahmad.


Photo kedua adalah papan nama di box bayi, disitu tertera jelas nama suaminya Ahmad Sulaiman dan Nurhasanah dan bayi laki-laki yang sedang terlelap.


Photo ketiga adalah bukti penbayaran persalinan sebesar 6 juta.


Tyas melihat ketiga photo itu berkali-kali dan kembali dikagetkan oleh suara bel bahwa jam istirahat telah selesai.


Tyas segera mematikan handphonenya dan berjalan ke ruang produksi.


Tyas berusaha konsentrasi dengan pekerjaannya dan melupakan photo -photo yang tadi ja lihat.


Pulang kerja, Tyas berjalan kaki sampai rumahnya. Ia tidak naik angkot. Hatinya hancur, apa yang di bilang Mirna benar adanya. Dan hari ini Tari mengirimkan photo suaminya bersama seorang perempuan dan juga bayi laki-laki.


Sampai rumah, Tyas segera mandi dan menggoreng telor untuk makan.


Mungkin karena perempuan itu melahirkan, Mas Ahmad tidak memberikan uang gajinya kepada Tyas.


Selesai sholat maghrib, Tyas makan telor yang tadi ia goreng.


Rumah ini sepi karena memang hanya ada Tyas dan suaminya Ahmad. Pernikahan mereka yang sudah berjalan selama 5 tahun belum diberikan anak. Tyas selalu berpikir positif, bahwa ia belum hamil mungkin Tuhan belum mengijinkan Tyas untuk hamil.


Tyas mencoba telpon Ahmad.


"Assalamualaikum Mas Ahmad."


"Wallaikumsalam, Mas Ahmad lagi keluar dengan anaknya Mbak baru saja. Maaf ini dengan Mbak siapa?"


"Saya dengan Tyas, Mbak. Maaf sebelumnya saya bicara dengan Mbak siapa?"


"Saya Nur, Mbak Tyas. Ada pesan buat suami saya? Nanti biar saya sampaikan Mbak."


"Urusan kantor Mbak, untuk pengiriman barang. Kalau begitu besok pagi saja saya bicara langsung sama Mas Ahmad untuk pengiriman barang yang tadi sudah di packing. Terima kasih Mbak."


"Ini nomernya Mbak Tyas ya, saya save dulu takutnya suami saya nanti mau hubungi Mbak tidak bisa. Soalnya saya pelupa."


"Iya Mbak Nur, terima kasih. Selamat malam."

__ADS_1


Tyas menutup telponnya dan menangis. Berarti Mas Ahmad punya istri lagi dan anaknya sudah 2.Sejak kapan Mas Ahmad menikah dengan Mbak Nur.


"Ya Allah, mampukan hamba untuk menerima cobaan ini. Lindungi Mas Ahmad dan istri serta anak-anaknya."


__ADS_2