Istri Suamiku

Istri Suamiku
Benci Tyas


__ADS_3

Ningsih menarik Gege masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu.


"Kenapa sih, kok ditarik masuk?"


"Itu mereka bukan paman dan bibinya Tyas, tapi paman dan bibinya Ahmad. Dan mereka selalu minta uang sama Tyas."


"Oh, ya sudah kerjain saja mereka sekalian."


"Kalau aku sih mending bilang bahwa ini bukan rumah Tyas lagi."


"Udah tenang aja."


Gege membuka pintu.


"Heh, jadi anak gadis jangan kurang ajar sama orang tua, di sumpahin jadi perawan tua mau kamu!"


"Aduh, kayaknya ibu salah deh. Saya sudah menikah dan suami kakak saya sebentar lagi datang."


"Maksudnya apa! Ini rumah Ahmad dan Tyas bukan rumah kalian. Keluar kalian dari rumah ponakan saya."


"Bu, mau ibu teriak-teriak sampai orang sekompleks datang di rumah ini tidak ada yang namanya Tyas apalagi Ahmad. Ibu salah alamat. Atau mau saya panggilkan polisi!"


Ningsih menghubungi pak Arif untuk segera datang ke rumah. Dan Kebetulan pak Arif sedang dalam perjalanan pulang dan mendengar keributan.


"Saya mau ketemu Tyas, dia harus bayar hutang."


"Ibu, disini ngga ada yang namanya Tyas. Rumah ini sudah dibeli sama kakak saya. Sebentar lagi suaminya datang. Terserah ibu mau percaya atau tidak!


Tidak berapa lama terdengar klakson mobil pak Arif. Ningsih langsung bernapas lega


Pak Arif keluar dari mobil.


" Sayang ada apa ini? Siapa mereka?"


"Ini sayang. Kedua orang tua ini sudah mengaku paman dan bibinya Ahmad dan Tyas. Dan mereka memaksa masuk ke rumah padahal di rumah ini tidak ada yang namanya Tyas. Dan tadi Putri sudah bilang bahwa salah dan ibu ini ngotot katanya yang bernama Tyas punya hutang. Gimana mas?"


"Panggil polisi saja. Sudah banyak penipu, ngaku saudara ini. Saudara itu. Putri telpon polsek dekat sini. Suruh datang dan tangkap mereka. Buat keributan di rumah orang!"


"Eh, Hati-hati kalau bicara. Kata supir bis ini rumah Tyas yang kerja di pabrik BAT."


"Iya saya kerja di pabrik BAT, kalau di pabrik nama saua Tyas. Nama panjang saya Putri Cahya Ningtyas. Di rumah saya di panggil Putri."


"Udah bu, ayo kita pulang saja. Sepertinya menang salah orang. Sudah, lagipula kita bukan paman dan bibinya Tyas ini. Kita paman dan bibinya Ahmad. Dan suaminya orang terhormat Bu. Habis kita nanti ditangkap polisi."


Pak Akmal baru saja berhenti bicara.

__ADS_1


2 polisi datang.


"Malam Pak Arif. Kami datang. Mana orang yang harus kami amankan."


"Pak polisi tolong amankan mereka berdua. Dia mengaku-ngaku sebagai paman dan bibi dari adik saya."


Pak polisi langsung membawa bu Zaini dan pak Akmal.


"Ningsih, sebenarnya mereka itu siapa?"


"Kalau dari keterangan Pak Joe, mereka tadi ke pabrik mencari Tyas dan mengaku sebagai paman dan bibinya Tyas tetapi mereka sebenarnya paman dan bibinya Ahmad. Dan mereka mau minta uang sama Tyas."


"Oh gitu."


"Kasihan Tyas. Suaminya sudah begitu keluarga suaminya juga sama."


"Kalian tenang saja. Mereka berdua sudah diamankan polisi dan mereka akan dipulangkan ke rumahnya besok."


"Alhamdulillah, terima kasih pak Arif."


"Katanya pacaran, tapi kok masih kaku kayak kerupuk yang dijemur. Kalau mau manggil sayang-sayangan mah silakan saja. Gege juga sudah besar sudah tahu pacaran."


"Apaan sih Ge, nyambung aja loe kayak sumbu kompor." Ningsih melotot ke arah Gege.


"Ati-ari bola matanya copot nanti diganti sama gundu yang gede baru tahu rasa loe."


"Iya Ningsih pacar saya, iya kan sayang?"


"Iya mas Arif. Mas Arif mau makan disini. Nanti biar aku minta Gege beli makanan di mall BTC."


"Sekalian aja suruh gue beli di BP, pan kudu naik kereta tuh jadi lama. Dan kalian bisa berindehoi."


"Hahahahha, ada yang keki."


"Ih, malas benar keki sama loe, Ning, Ning. Iya tahu gue kalah kagak bisa jadian sama raja minyak, kalo loe pan sama raja baterai, yang hibinya ngecharge mulu. Hahahahah." Gege langsung berlari masuk ke kamarnya.


"Maaf Pak, maaf. Gege mulutnya ngga disekolahin jadi asal ngomong aja."


"Jiah mbak Ning, kalau kata loe mulut gue ngga disekolahin mah salah. Yang sekolah seluruh diri gue. Mulut termasuk. Jadi loe salah. Kalau gue ngga sekolah, kagak lulus mana bisa gue di terima di pabrik BAT punyanya pacar loe. hahahahhaha."


Gege berteriak dari dalam kamar.


Pak Arif menikmati hiburan antara Ningsih dan Gege.


"Sudah, ngga usah diambil pusing omongan Gege. Kita makan di luar aja."

__ADS_1


"Gege, gue mau makan di luar. Loe di rumah aja ya, jaga kandang."


Gege keluar dari kamarnya.


"Tuh pak Arif, pacarnya pak Arif tega benar. Masa mau makan di luar terus Gege di tinggalin. Kan tahu sendiri gajian baru lusa. Uang Gege udah habis."


"Lah kita mau makan di luar maksudnya dj teras depan. Emang mau makan dimana?"


"Ah, ngga asik loe."


"Ayo Gege ikut, kita makan di luar. Makan di restoran. Bukan di teras rumah."


Pak Arif mengusap-usap kepala Ningsih.


"Pasangan ngga sinkron. Yang lakinya baik benar, yang pere nya rusuh."


"Apaan pere?"


"Pare dikeringin jadinya pere."


"Sudah ayo keburu malam. Besok kalian masuk kerja."


"Emang pak Arif ngga masuk kerja besok? Kan kita sama satu area pabrik. Bedanya pak Arif yang punya tuh pabrik."


"Gege! Loe ngomong terus kapan berangkatnya. Mau ikut ngga sih?"


"Eh iya, iya. Mau. Lapar ini."


Mereka bertiga pergi dan makan malam di restoran.


Sementara Pak Akmal dan Bu Zaini masih di kantor polisi untuk dimintai keterangan. Dan mereka diantarkan polisi pulang ke rumahnya.


"Bu, kan tadi bapak bilang kita pulang saja. Tapi ibu maksa harus ketemu Tyas. Dan kita ternyata salah rumah. Namanya buruh pabrik pasti namanya ada yang sama. Kan buruh pabrik ribuan Bu."


"Oh jadi bapak nyalahin ibu! Memangnya bapak bisa kasih uang yang banyak ke ibu? Bapak saja ngga becus kerja."


"Ya, maaf tapi kan harusnya ibu ngga maksa. Kita hidup sesuai dengan kemampuan kita."


"Tapi Tyas itu kurang ajar, sudah lebih dari 2 tahun dia ngga kasih uang lagi ke kita."


"Lihat saja nanti, Tyas akan aku buat celaka."


"Bu, istighfar bu. Jangan seperti itu. Lagi pula Tyas selama ini tidak pernah berbuat salah sama ibu. Kenapa ibu benci sekali dengan Tyas?"


"Ah sudah, sudah. Semua akarnya kesalahannya ada di Tyas. Gara-gara Tyas, Ahmad sudah tidak mau bantu kita. Tidak nengok orang tuanya. Ibunya Ahmad kangen sama Ahmad. Ini pasti ulah Tyas. Ahmad tidak boleh nengokin. Huh!"

__ADS_1


Pak Akmal hanya bisa diam dengan kelakuan istrinya yang begitu membenci Tyas.


__ADS_2