
"Tyas, nanti pulang kerja kamu ikut sama saya" Pak Joe menghampiri Tyas yang masih bekerja.
"Baik Pak Joe."
Tyas melanjutkan kerjanya.
"Tyas, sepertinya Pak Joe suka sama kamu? Aku yang pengen diperhatikan sama Pak Joe saja tidak pernah kesampaian. Kok kamu bisa?"
"Aku ngga tahu Mbak Lita. Aku sudah punya suami dan Pak Joe juga tahu suamiku."
"Oh, berarti aku masih punya kesempatan untuk mendekati Pak Joe."
"Iya Mbak Lita. Bisa. Tyas doakan semoga Mbak Lita berjodoh dengan Pak Joe."
"Amin Tyas, amin. Terima kasih ya."
"Iya Mbak Lita, sama-sama."
Tyas dan Lita melanjutkan pekerjaannya.
Bel pulang sudah berbunyi. Tyas segera membereskan pekerjaannya yang sudah selesai. Sedangkan Lita masih banyak. Bu Agnes minta beberapa orang untuk kerja lembur termasuk Lita.
Pak Joe sudah menunggu Tyas di luar.
"Pak Joe."
"Ayo Tyas, saya harus antar kamu."
"Kemana Pak Joe?"
'Ke kantor polisi. Kamu akan dimintai keterangan. Tidak usah takut, saya temani kamu. Tadi Pak Arif kasih tahu saya."
"Baik Pak Joe."
Tyas dan Pak Joe sudah sampai kantor polisi. Selama di kantor polisi, Tyas ditemani oleh Pak Joe.
Ternyata di kantor itu ada Nur dan juga Laila.
"Pak Joe, kenapa ada mereka juga? Apa mereka akan dimintai keterangan?"
"Saya kurang tahu. Mungkin kamu akan tahu nanti. Karena Ningsih dan Gege juga Pak Arif akan datang."
__ADS_1
"Kenapa mereka tidak bareng kita saja?"
"Pak Arif langsung dari tempat meeting. Gege dan Ningsih sudah dijemput dengan supirnya Pak Arif."
Laila yang melihat kedatangan Tyas langsung berteriak.
"Mau apa kamu ke sini?" Mau jemput suami orang atau masuk sel ketangkap prostitusi."
"Ibu diam. Ini kantor polisi jangan buat keributan!" Salah seorang polwan berbicara kepada Laila..
Gege dan Ningsih datang, tidak berapa lama Pak Arif datang. Mereka semuanya masuk ke dalam ruangan dan dimintai keterangan terkait perbuatan Ahmad kepada Tyas.
Tyas tidak menuntut agar Ahmad di penjara, tetapi Tyas minta polisi memberikan surat pernyataan bahwa Ahmad tidak boleh menganggu hidupnya lagi dan Tyas minta polisi menghadirkan Ahmad, Nur dan juga Laila.
Pak Arif, Pak Joe, Ningsih dan Gege bingung dengan rencana Tyas. Mereka berpikir bahwa Tyas akan meminta polisi untuk menahan Ahmad kembali.
Polisi membawa Ahmad, Nur dan Laila.
"Bu Tyas, silakan dilanjutkan."
"Baik Pak polisi. Terima kasih. Sebelumnya perkenalkan saya Tyas. Saya istri dari Mas Ahmad yang saat ini ada di hadapan kita semua. Saya menikah dengan Mas Ahmad 6 tahun yang lalu. Tepat saat mas Ahmad melakukan perbuatan yang membuat saya mengalami trauma." Tyas berhenti, menarik napasnya dan melihat reaksi kaget Nur dan juga Laila.
"Mana bukti kalau kamu istri dari Mas Ahmad suami saya?" Laila terlihat marah. Sedangkan Nur hanya terdiam.
"Mas Ahmad!! Kamu pembohong! Kamu bilang kamu belum menikah ternyata..."
"Ibu Laila, mohon tenang dan dengarkan saja dulu." polwan yang tadi kembali menegur Laila.
"Saya tidak butuh penjelasan ini. Saya mau keluar!"
"Duduk Bu Laila, ibu juga sedang kami proses atas perbuatan itu tadi pagi dengan Bu Tyas. Teruskan Bu Tyas."
"Karena saya melihat bahwa Mas Ahmad mempunyai istri selain saya dan ada 2 anak dari istri yang lain. Maka saya minta agar mas Ahmad dibebaskan. Dan saya mau mas Ahmad menanda tangani surat pernyataan untuk tidak mengganggu hidup saya lagi."
"Bagaimana saudara Ahmad."
"Baik pak polisi, Saya akan tanda tangani surat tersebut dan saya akan segera urus surat perceraian saya dengan Tyas, perempuan mandul!" Ahmad terlihat sinis dan geram kepada Tyas.
Akhirnya Nur dan Laila tahu bahwa Tyas adalah istri pertama dari Ahmad. Baik Nur dan Laila sailing menduga bahwa istri kedua Ahmad adalah mereka.
Nur menduga bahwa Laila adalah istri ketiga begitu pun sebaliknya Laila menduga bahwa Nur adalah istri ketiga.
__ADS_1
"Maaf saudara Ahmad, dengan anda bicara seperti itu kepada Bu Tyas, anda bisa kami penjara kembali."
"Jangan Pak polisi. Kasihan anak-anaknya. Saya sudah tidak peduli dengan omongan mas Ahmad. Yang pasti saya tidak mau diganggu lagi oleh mas Ahmad dan apabila mas Ahmad masih mengganggu hidup saya, saya akan membuat laporan ke polisi untuk penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Mumpung di kantor polisi, saya juga mau bercerai dengan Ahmad. Saya mau buat surat pernyataan seperti ibu itu." Laila kembali bersuara.
"Saudari Laila, jika anda tidak bisa diam, saya akan minta masukkan anda kembali ke dalam sel Dan ini kantor polisi bukan kantor KUA atau pun pengadilan agama."
"Iya Pak Polisi."
"Jadi Bu Tyas, saudara Ahmad Saya bebaskan dan bebasnya bersyarat karena seminggu sekali saudara Ahmad harus datang ke kantor polisi untuk laporan."
"Iya Pak polisi, terima kasih."
"Pak polisi, saya minta agar Tyas mengembalikan semua perhiasan yang saya berikan pada saat menikah."
"Mas Ahmad masalah perhiasan tidak perlu.. bicara sama pak Polisi. Perhiasan yang mas Ahmad kasih ke Tyas waktu menikah hanya cincin dan kalung. Cincin sudah mas Ahmad ambil saat kita baru menikah 3 bulan. Dan kalung mas Ahmad sudah ambil. Jadi semua perhiasan yang mas Ahmad berikan untuk pernikahan sudah tidak ada semuanya. Sudah pak polisi. Adakah yang lainnya lagi?"
"Baik Bu Tyas. Jika begitu, silakan saudara Ahmad tanda tangan disini dan disini."
Satu masalah sudah selesai. Tyas sudah merasa tenang karena ia tidak akan diganggu lagi oleh Ahmad.
Tetapi tidak untuk Ahmad. Dia tidak akan menceraikan Tyas.
"Sudah selesai dan kami semua sudah dengar. Keputusan yang tepat Tyas, selamat ya. Sekarang kita pulang dan sebelumnya kita makan malam dulu."
Pak Arif mengajak mereka pergi makan malam.
"Mas Ahmad, kamu tidak jujur sama aku. Kamu bilang kamu perjaka dan belum menikah. Karena itu aku mau menikah sama kamu. Jadi Laila itu juga istri kamu? Mas, kamu kenapa tega sama aku? Aku lagi mengandung anakmu yang ketiga."
"Maaf Nur, karena kamu tidak mau punya banyak anak, karena itu aku menikah lagi. Aku ingin punya banyak anak. Kamu kan dengar aku akan cerai dari Tyas."
Laila Menghampiri Ahmad yang sedang bicara dengan Nur.
"Ahmad, kita cerai sekarang juga!" Saya tidak mau dimadu sama kamu."
"Ok kalau kamu mau cerai. Kembalikan semua perhiasan dan kamu angkat kaki dari rumah yang sekarang kamu tempati!"
"Tidak masalah buat aku. Rumah dan perhiasan silakan saja ambil. Aku pikir kamu lelaki jantan ternyata mulutmu sepertj perempuan. Ciiihhh!"
Laila melempar kalung dan cincin yang diberikan Ahmad. Ahmad segera meraih tangan Laila.
__ADS_1
Kamu pulang bareng aku. Laila meronta dan berusaha melepaskan tangannya dari Ahmad.
Nur mengikuti Ahmad ke parkiran mobil. Ahmad dan Laila duduk di belakang dan Nur duduk di depan. Untungnya Nur memakai supir.