Istri Suamiku

Istri Suamiku
Cerai


__ADS_3

"Ningsih, setelah ini kita beli baju buat kamu. Baru kita makan ya."


"Mas, tidak usah beli baju. Aku tidak mau kejadian yang seperti tadi. Aku memang orang kampung, tidak sepantasnya aku pacaran apalagi jadi istri seorang bos besar."


"Hei, kamu kenapa? Inilah hidup. Banyak orang iri dengan orang lain. Dan kamu harus bisa menghadapinya. Kamu mau jadi ikutan iri seperti mereka atau kamu tidak peduli dengan omongan mereka. Yang penting hidup kamu baik dan tidak berbuat hal-hal yang negatif. Dan aku cinta sama kamu dengan segala yang ada dalam diri kamu, baik itu kelebihan maupun kekurangan kamu. Aku merasa nyaman sama kamu. Dan aku mau menikah dengan kamu."


"Iya mas, cuma aku masih kesal dan malu dengan kejadian tadi."


"Kamu harus bisa mengatasinya. Dan kamu harus ingat bahwa aku adalah calon suami kamu. Biarkan mereka mau bicara apa. Anjing menggonggong kafilah berlalu."


"Iya mas, Terima kasih."


"Mbak Tyas, Gege mau keluar ya. Gege mau beli makanan. Mbak Tyas mau makan apa sekalian Gege belikan?"


"Tunggu sebentar Gege. Pak Joe nanti akan bawakan makanan untuk kita."


"Tapi mbak. Perut aku sudah lapar. Aku ke mini market yang diujung jalan sana. Mau beli cemilan dulu."


"Memangnya kamu mau beli cemilan apa?"


"Roti 4, mie rebus 3, mie kuah 3, biskuit 1, minuman botol 3, susu kotak 4, telor 1/2."


"Itu semua cemilan Ge?"


"Iya mbak. aku 2 roti, 2 susu kotak, 1 minuman botol. Lebihannya mbak Tyas dan Ningsih. Telur buat dimakan bersama nanti."


"Kamu langsung makan 2 roti terus minum susu kotak 2 sama minuman botol?"


"Iyaaaaa mbak Tyas. Sudah ah Gege mau keluar, ke mini market. Assalamu'alaikum"


"Assalamu'alaikum."


"Kok mbak Tyas malah salam lagi harusnya wa'alaikumsalam dong mbak."


"Aku belum jawab salam kamu loh Ge."


"Terus jadi siapa yang ngucap salam?"


"Ada tamu mungkin."


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


Gege membuka pintu


"Oh, ada pujaan hati mbak Tyas."


"Siapa Ge?"


"Pacar mbak Tyas. Masuk pak. Saya permisi nau ke mini market di ujung jalan. Mau beli cemilan, cepuluh."


"Nanti saja ke mini marketnya. Ayo kita makan dulu. Saya tahu kamu lapar."


"Alhamdulillah ya Allah. Engkau kirimkan malaikat laki-laki ke rumah ini dan membawa makanan."


"Hush, kamu tuh. Hati-hati kalau bicara. Dikutuk Tuhan baru tahu rasa kamu."


"Yeeeee, mbak Tyas. Allah tidak akan mengutuk kita. Allah itu maha pengasih dan maha penyayang. Emang manusia, dikasih baru deh jadi penyayang, ngga dikasih jadi su'udzon."


"Sudah, ayo makan dulu. Nanti saya antar ke mini market sekalian setelah selesai makan."


"Siap pak Joe."


Mereka bertiga makan bareng. Dan setelahnya mereka ke mini market.


"Iya Edi. Aku tunggu. Hati-hati di jalan.


Sekar sudah mulai duduk.


"Mas, bisa minta tolong ambilkan minum. Aku haus."


"Ambil saja sendiri. Kamu sudah bisa dudukan? Jadi kamu bisa ambil minum. Jangan manja. Gara-gara kamu tidak bisa menjaga anak kita. Aku kehilangan anak! Atau kamu memang sengaja tidak mau punya anak. Aku kasih uang segitu banyak buat kamu sama anak kita. Tapi kamu sudah membuat aku kehilangan penerusku. Kamu hanya ingin uangku sajakan?!"


"Tidak mas Ahmad. Aku memang sakit perut dari kemarin malam. Aku kan sudah bilang sama kamu saat kamu minta dilayani tapi kamu tidak mau mendengar dan kamu juga sudah merobek baju aku."


"Jadi gara-gara itu kamu menyalahkan aku. Maksud kamu, aku yang sudah membunuh darah dagingku?"


"Aku tidak menyalahkan kamu. Uang yang mas Ahmad kasih masih ada belum aku pakai sama sekali. Sepulang dari rumah sakit, aku kembalikan uangnya ke mas Ahmad."


"Aaaahhhh sudah. Besok pagi-pagi aku harus pergi ke Jakarta. Kamu besok bisa pulang sama ibu. Semua biaya rumah sakit sudah aku lunasin. Mulai besok dan seterusnya aku tidak akan ke Bogor. Kamu boleh menikah lagi dengan siapapun. Uang bisa kamu pakai. Anggap saja aku sudah membayar kamu atas pelayanan kamu selama ini. Kamu memang tidak bisa memberikan kebahagiaan sama aku. Aku ke Jakarta susah payah cari uang. Aku setia sama kamu. Tapi kamu malah tidak bisa menjaga anak kita."


"Maksud mas Ahmad apa? Mas Ahmad mau aku menikah lagi? Mas Ahmad sudah membayar aku karena pelayanan aku sama mas Ahmad. Jadi mas Ahmad menganggap aku perempuan murahan?"

__ADS_1


"Sudah tidak usah banyak bicara. Aku ceraikan kamu. Dan aku mau pergi sekarang juga. Sini mana kartu ATM yang aku kasih ke kamu?"


"Ada di rumah mas."


"Ya sudah. Kamu urus diri kamu sendiri. Dan jangan pernah lagi mengharapkan aku pulang. Karena aku akan menikah dengan perempuan lain nantinya yang bisa memberikan aku anak. "


"Tapi mas? Apakah tidak bisa besok pagi saja."


"Aku muak lihat muka kamu. Ternyata aku salah menikahi kamu."


Ahmad keluar dari ruang perawatan dan membanting pintu.


Sekar menangis. Ternyata perkawinan dirinya dan Ahmad sudah berakhir. Ahmad sudah menjatuhkan talak ke dirinya. Sekar merasakan sakit yang teramat dalam membuat Sekar pingsan dan mengalami pendarahan.


Erna yang hendak menjenguk Sekar berpapasan dengan Ahmad.


"Ahmad, mbak Sekar di kamar berapa?"


"Tanya aja sama suster. Aku sudah tidak ada urusan lagi sama Sekar dan keluarga kalian!"


"Heh, kenapa marah sama Erna. Ditanya baik-baik malah dikasih urat."


"Hei, dengar ya anak kecil! Aku dan kakakmu sudah tidak ada urusan lagi. Karena dia tidak bisa menjaga anakku yang belum lahir. Jadi bilang sama bapak dan ibumu, bahwa Sekar sudah aku ceraikan."


"Hei, laki-laki sombong. Jangan dipikir kamu dengan seenaknya menceraikan kakak saya! Kalau kamu memang mau menceraikan kakak saya, ngomong baik-baik ke bapak dan ibu. Jangan beraninya ngomong sama saya. Kamu laki-laki pengecut. Saat istri sedang kesakitan malah kamu tinggal dan ngomong cerai ke saya. Ngga ada urusan sama saya, ngerti kamu! Harusnya kamu sadar diri. Kamu sudah cukup mampu jadi seorang suami dan kepala keluarga? Makanya Tuhan tidak mau kasih kamu anak karena Tuhan melihat kamu dan mbak Sekar belum mampu untuk jadi orang tua yang baik! Dasar egois, pengecut!"


"Tutup mulut kamu! Aku sudah kasih uang yang diminta ayah dan ibumu! Termasuk kamu sudah menikmatinya. Jangan bohong sama saya. Kamu juga menikmati uang yang saya kasih lewat ibu dan bapakmu!"


Ahmad meninggalkan Erna dan masuk ke dalam mobilnya.


Erna segera ke suster dimana kamar Sekar.


Erna pergi ke kamar Sekar.


"Mbak Sekar."


Erna mendekati Sekar yang pingsan dan oendarahan dengan pelan-pelan


Erna melihat darah di tempat tidur Sekar. Erna segera berlari keluar dan memanggil suster. Beruntung Sekar dapat segera di tolong sehingga nyawanya masih tertolong.


Lihat Ahmad, elo sudah buat mbak gue menderita. Gue akan balas elo. Lihat saja nanti!

__ADS_1


Erna mengepalkan tangannya.


__ADS_2