Istri Suamiku

Istri Suamiku
Ditangkap


__ADS_3

"Maaf pak, menunggu agak lama. Gege tadi curhat dulu."


"Tidak papa. Ya saat ini Gege butuh teman. Kamu sudah siap untuk sidang cerai?"


"Kalau saya tidak siap, ya saya tidak akan datang lah pak. Apapun yang terjadi nanti dan siap tidak siap harus dijalani."


"Iya Tyas. Namanya hidup kadang di atas kadang di bawah seperti naik roller coaster."


Sepanjang perjalanan ke pengadilan, Tyas dan pak Joe terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Sudah sampai Tyas."


Pak Joe dan Tyas keluar dari mobil. Dan ternyata Jerry sudah datang.


"Bagus kalian sudah tiba. Selesai yang ini. Tyas masuk. Tadi saya sudah lihat suami kamu Ahmad. Tapi sekarang entah ada dimana?"


"Oh ok pak Jerry."


Pak Joe menelpon pak Arif dan memberitahu bahwa Ahmad datang.


Tidak berapa lama Tyas dan Ahmad dipanggil masuk ke ruang sidang. Tyas masuk ditemani oleh Joe dan Jerry. Ahmad juga mendengar namanya di panggil masuk ke ruang sidang dan di dalam sudah ada Tyas.


Ahmad kaget melihat Tyas.


Tyas, kamu berubah sekarang. Terlihat cantik lebih cantik dari Nur, Laila, Sekar dan Mirna. Kenapa aku baru menyadari sekarang. Aku tidak mau bercerai sama kamu. Kamu tetap milikku selamanya.


Di dalam ruang sidang Ahmad tetap tidak mau bercerai dengan Tyas. Semua bukti sudah diberikan kepada hakim. Tidak menyurutkan niat Ahmad untuk tidak mau bercerai dengan Tyas.


Di lain pihak Tyas tetap ingin bercerai. Hakim memberikan waktu untuk mediasi sampai nanti bertemu dengan sidang kedua.


Tyas keluar ruangan sidang. Ahmad mengejar Tyas yang sudah keluar ruangan duluan dan menarik tangan Tyas.


'Lepasin tanganmu."


"Tidak, aku tidak mau melepaskan tanganmu apalagi melepaskan kamu. Aku tidak mau bercerai dengan kamu, Tyas. Aku masih sayang dan cinta sama kamu."

__ADS_1


"Lepasin tanganku. Dengar Ahmad, di antara kita sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Kamu yang berbuat, kamu yang merusak dan kamu sudah merugikan aku lahir bathin."


Jerry melihat Tyas yang marah dan Ahmad yang masih memegang tangan Tyas segera mendekati mereka berdua.


"Pak Ahmad, saya minta pak Ahmad melepaskan bu Tyas. Ada saatnya nanti untuk mediasi dan tidak menutup kemungkinan kalian bersatu lagi. Saya tidak menjanjikan apapun kepada bu Tyas dan pak Ahmad. Semua ada prosesnya nanti. Jika pak Ahmad dalam proses ini melukai bu Tyas akan ada sanksi yang akan pak Ahmad terima."


"Tapi dia istri saya. Saya berhak melakukan apapun terhadap dia. Dalam agama apapun istri itu harus menurut sama suami apapun yang suami lakukan ataupun suami katakan. Jadi kalau seorang istri tidak menurut sama suaminya berarti si istri bukan istri yang baik dan tidak perlu di pertahankan. Saya tidak pernah mau bercerai dengan Tyas karena ada masalah intern yang belum terselesaikan."


"Ya aku tahu masalah intern yang kamu maksud. Kamu ingin aku menyerahkan surat tanah aku, peninggalan dari ibuku. Itu tidak akan pernah terjadi. Jadi tolong lepaskan tanganku."


Pak Arif datang bersama 3 orang polisi.


"Siang pak Ahmad. Anda kami tangkap atas kejadian menabrak bu Tyas."


"Saya menabrak Tyas! Kapan saya menabrak Tyas? Jangan sembarangan menuduh pak polisi."


"Pak Ahmad ikut sama kami dan beri keterangan di kantor polisi. Ada saksi yang melihat dan mencatat nomer plat mobil pak Ahmad."


"Kurang ajar. Pasti kamu! Kamu yang sudah melaporkan saya karena ingin memiliki Tyas. Kamu yang sudah merusak rumah tangga saya!"


Tyas terdiam mendengar semua omongan polisi.


Ya Allah, jadi yang menabrak aku saat itu mas Ahmad. Kenapa kamu jahat sama aku mas. Apa salah aku selama ini?


Tanpa sadar Tyas menangis.


"Tyas, Tyas. Ayo kita pulang. Kita langsung pulang saja. Saya antar kamu pulang."


"Iya pak Joe. Pak Jerry, terima kasih. Tolong bantu saya. Saya benar-benar ingin bercerai dengan Ahmad. Apakah tidak bisa dipercepat langsung diputuskan oleh hakim."


"Sama-sama Tyas. Mohon ikuti saja prosesnya ya. Memang tidak mudah dan mau secepatnya ketok palu oleh hakim Tapi tidak bisa seperti itu juga. Kamu tenang saja dan tetap sembahyang supaya diberikan yang terbaik apapun hasilnya nanti."


"Iya pak Jerry. Kalau gitu saya pamit. Sekali lagi terima kasih banyak pak."


Pak Arif, pak Joe dan Tyas berjalan bersama ke mobil.

__ADS_1


"Tyas, hari ini kamu tidak usah ke pabrik. Kamu perlu menenangkan diri kamu."


"Tidak pak Arif, saya tetap masuk kerja. Kalau saya di rumah yang ada malah pikiran saya kemana-mana."


"Ok kalau itu yang terbaik buat kamu. Hati-hati di jalan."


"Iya pak Arif. Terima kasih banyak atas bantuannya pak Arif. Jujur saya kaget dan tidak menyangka kalau ternyata yang menabrak saya adalah Ahmad. Tapi sudah terjadi ya ini takdir hidup saya."


"Wajar saja kamu kaget yang penting kamu sudah tahu. Ok, saya duluan. Joe nanti ke ruangan saya ya."


"Baik pak Arif. Terima kasih."


Pak Arif masuk ke mobilnya. Pak Joe dan Tyas berjalan ke parkiran.


"Tyas, jadi bagaimana? Saya antar kamu pulang atau kamu tetap kerja."


"Saya tetap kerja pak. Jangan karena hal tadi lalu saya tidak kerja. Saya tetap harus kerja pak, setidaknya pikiran saya tidak bercabang kemana-mana."


"Ok, kalau begitu kita ke pabrik ya."


"Iya pak. Oh iya pak. Saya mau tanya, sebenarnya pak Joe juga sudah tahu kalau yang menabrak saya waktu itu adalah Ahmad."


"Saya tidak tahu Tyas. Semalam pak Arif telpon saya untuk menemani kamu. Dan pak Arif pesan, jika Ahmad datang ke pengadilan untuk sidang cerai, saya harus info ke pak Arif. Sudah itu saja. Saya juga kaget saat pak Arif bilang dia sudah dalam perjalanan ke pengadilan. Saya pikir dia mau bicara mengenai kerjaan. Ternyata dia bersama polisi."


Maaf Tyas, aku berbohong sama kamu. Sebenarnya aku sudah tahu dari pak Arif dan saya sudah bertemu dengan saksi yang melihat kejadian saat itu dan memberikan nomer plat mobil Ahmad.


"Oh gitu. Ya syukur alhamdulillah, akhirnya saya tahu siapa yang telah menabrak saya. Selama ini saya ikhlas atas kecelakaan yang menimpa saya. Dan tadi saya jujur kaget kalau ternyata Ahmad yang sudah menabrak saya waktu itu. Sebegitu bencinya Ahmad sama saya. Salah apa saya sama dia. Seandainya ibu saya masih ada. Saya bisa cerita sama dia."


"Allah mendengarkan doa kamu Tyas. Kamu baik, karena itu satu persatu kunci dari masalah kamu terbuka. Ibarat kata kebohongan yang ditutupi pasti akan terbongkar."


"Iya pak Joe. Terima kasih banyak atas bantuan pak Joe selama ini terhadap saya."


"Sama-sama Tyas. Nah kita sudah sampai pabrik. Mulai kerja. Semangat ya Tyas. Badai pasti akan berlalu. Dan kamu akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupmu."


'Iya pak Joe."

__ADS_1


Pak Joe dan Tyas keluar dari mobil dan masuk ke ruangan QC


__ADS_2