
Jam 3 pagi, Tyas bangun dan melihat Pak Joe tidur di kursi di samping tempat tidur Tyas.
Tyas berusaha bangun perlahan tetapi kepalanya sakit sekali dan membuat Pak Joe terbangun.
"Tyas, ada apa? Kamu mau apa? Biar saya ambilkan."
"Maaaf, Tyas mau bangun tetapi kepala Tyas sakit. Maaf kalau membuat Pak Joe terbangun.
"Jangan dipaksakan Tyas, kamu baru tadi sadar dari koma. Saya panggilkan suster ya."
"Tidak usah Pak Joe. Tyas bangun karena mau sholat."
"Tyas, kamu bisa sholat tanpa harus bangun dari tempat tidur. Kondisi badanmu masih belum stabil."
"Iya Pak Joe, terima kasih."
Tyas melihat Pak Joe yang mengambil roti. Perutnya terasa lapar. Ia ingin sekali makan roti, tetapi Tyas malu untuk meminta roti.
"Tyas, ini diminum dulu." Pak Joe memberikan sari kacang hijau untuk Tyas. Dan Tyas meminum sari kacang hijau dengan sedotan. Tetapi Tyas tidak merasakan rasa manis dari kacang hijau.
"Tyas, buka mulutmu. Saya suapin roti. Saya tahu kamu lapar." Pak Joe memotong dan menyuapi Tyas roti.
Tyas makan roti dengan perlahan karena kepalanya masih terasa sakit sekali.
"Kamu mau lagi rotinya? Saya ambilkan?"
"Tidak usah Pak Joe. Saya sudah kenyang. Saya minum dan makan roti tidak ada rasanya. Semuanya hambar."
"Iya Tyas, wajar, karena syaraf-syaraf di kepalamu mulai bekerja lagi. Dan semuanya butuh proses untuk pemulihan. Kamu sabar ya. Doa sama Allah minta yang terbaik dan kesembuhan untuk kamu."
"Pak Joe ngga sholat subuh? Sebentar lagi sholat subuh."
"Iya Tyas, habis ini saya mau ambil wudhu."
Pak Joe membersihkan mulut Tyas dengan tissue dan memberikan air putih.
Pak Joe segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat subuh. Tyas ikutan sholat dengan berbaring. Selesai sholat Pak Joe mengaji membuat Tyas merasa tenang dan nyaman mendengar suara Pak Joe yang mengaji.
Jam 6 pagi, suster datang ke kamar Tyas.
"Bu, saya basuh badan ibu ya."
__ADS_1
Pak Joe keluar dari kamar saat suster membasuh badan Tyas dan mengganti kantong tempat Tyas buang air kecil. Dan mengganti infus yang sudah hampir habis.
"Sudah bersih. Jika ada apa-apa pencet tombol ini ya bu."
"Iya suster, terima kasih. Suster saya mau tanya, teman saya dari kapan di rumah sakit."
"Pak Joe yang membawa ibu ke rumah sakit dan sampai saat ini yang menemani ibu. Orangnya baik. Dia keluar kamar kalau ibu dibersihkan badannya."
"Makasih suster informasinya."
"Sama-sama bu."
Suster keluar dari kamar, Pak Joe masuk.
"Tyas, nanti jam 10 kamu akan mri lagi. Lebih baik sekarang kamu tidur dan jangan terlalu banyak bicara seperti yang dokter bilang kemarin."
"Iya Pak, kepala Tyas masih sakit."
"Nah karena itu, jangan terlalu banyak mikir, istirahat yang banyak."
"Iya Pak Joe."
Joe duduk di sebelah Tyas dan memandang Tyas.
"Saya hanya bisa mengucapkan Subhanallah, syukur Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa sadar dari koma. Artinya Allah masih kasih kamu kesempatan kedua untuk hidup."
"Iya Pak Joe."
"Allah masih sayang sama kamu Tyas. Karena itu kamu harus lebih memperhatikan diri kamu sendiri."
"Iya, Pak Joe."
"Ya sudah istirahat, maaf saya ngajak kamu bicara."
Tyas memejamkan matanya. Kepalanya terasa sakit di bagian belakang."
Sementara di apartemen Mirna, pagi-pagi sudah dimulai dengan pertengkaran.
"Kamu gimana sih Mas? Katanya kamu tidak menikah lagi. Tapi ini apa? Ada pesan masuk dari Maryam dan aku sudah baca isinya. Maksud kamu apa? Jangan banyak alasan, jelaskan sama aku?"
"Sabar Mirna, sabar. Aku akan jelaskan. Maryam itu adik dari Nur, ibu dari Keisha dan Malik. Aku menitipkan anak-anak ke Maryam. Dan aku memang minta dia mengasuh Keisha dan Malik, tiap bulan aku harus kirim uang untuk Keisha dan Malik. Tidak mungkin aku menikah sama Maryam. Dia adik dari almarhum Nur."
__ADS_1
"Kamu tidak bohongkan mas?"
"Iya sayang buat apa aku bohong. Semua yang aku mau dari seorang perempuan ada di kamu. Jadi aku tidak mungkin mencari yang lain. Sudah jangan marah-marah masih pagi Atau karena semalam tidak dapat jadinya pagi-pagi marah?"
"Bukan karena itu, tetapi kata-kata Maryam. Dia panggil kamu ayah dan anak-anak kita butuh uang."
"Ya jelaslah dia butuh uang untuk anak-anak. Anaknya ada 6 orang, suaminya tidak bekerja. Yang bekerja hanya dia ditambah ada Keisha dan Malik. Aku akan transfer uang ke dia nanti."
"Aku ikut. Memangnya mas Ahmad mau transfer uang berapa ke dia?"
"Sekitar 5 juta. Anak-anaknya sekolah semua dan Keisha kan juga masuk sekolah. Sudah didaftarkan kemarin saat aku pergi ke sana."
"Jadi 5 juta itu untuk semua anaknya termasuk untuk Keisha dan Malik?"
"Iya, karena kemarin aku hanya mendaftarkan sekolah Keisha dulu, dan aku belum membayar uang gedung. Totalnya 3.5 juta dan sisanya buat anaknya dan juga Keisha, Malik."
"Oh ok, jadi bukan karena kamu sudah menikah sama adiknya Nur kan?"
"Tidak sayang. Cintaku hanya untukmu saat ini dan selamanya."
Maryam minta uang karena uang yang kemarin diberikan oleh Ahmad sudah habis untuk belanja baju anak-anaknya juga Keisha dan Malik. Dan membeli perlengkapan dapur.
Maryam berharap Ahmad akan mengirimkan uang sama seperti sebelum berangkat. Sekarang Maryam memakai kalung, cincin, gelang dan anting. Dan ia hanya di rumah saja memgurus anak-anaknya, Keisha dan Malik.
"Teh, asep bagi uang dong teh."
"Loh, bukannya kamu sudah dapat dari mas Ahmad?"
"Ya ampun teteh, uang segitu mana cukup? Teteh sekarang aja pakai perhiasan. Asep juga mau beli untuk pacar Asep."
"Tapi ngga gitu juga Sep. Mas Ahmad kan masih harus cari kerja. Walaupun kamu lihat bahwa uang mas Ahmad banyak. Tapi kalau tiap hari tiap minggu diminta terus gimana bisa?"
"Udahlah teh Maryam. Asep tahu uang mas Ahmad masih banyak. Dia tinggal jual rumahnya juga banyak lagi uangnya. Tidak perlu capek kerja. Lagipula anaknya juga diasuh sama kita."
"Sep, biar gimanapun Keisha dan Malik itu anaknya kakak kamu. Teh Nur. Ingat itu. Kamu mau didatangi teh Nur karena kita nyiksa Keisha dan Malik?"
"Aaahhh, teteh bisa kayak ini karena siapa? Asep, Asep yang bujuk mas Ahmad untuk nikah sama teteh. Asep yang minta supaya teteh jangan kerja lagi. Anak teteh 6 ditambah anaknya teh Nur, total ada 8 anak. Dan pada akhirnya teteh juga mau kan menikah sama Ahmad. Ya sudah harusnya terima kasih sama Asep.".
"Iya teteh ucapin terima kasih tapi bukan berarti teteh harus minta terus uang sama Ahmad untuk kamu. Apalagi sebenarnya sudah banyak uang yang dikasih mas Ahmad. Tetapi teteh habiskan untuk beli baju dan peralatan dapur."
"Ya sudahlah terserah teteh saja."
__ADS_1
Asep pergi membanting pintu rumah.