Istri Suamiku

Istri Suamiku
Melihat


__ADS_3

Pagi-pagi Gege dan Ningsih sudah berisik.


"Kata si Otoy anak produksi, dia lihat ada 2 anak yang di titip ke satpam. Tapi pas aku pulang tanya ke satpam katanya ngga ada anak kecil."


"Ah kamu Gege, jangan dengerin omongan Otoy, dia itu kaya tukang tempe. Pagi jualan harga 5ribu, siang sedikit 4 ribu sore jadi 7 ribu."


"Tapi Mbak Ning, Otoy sampai ngomong sumpah demi Allah."


"Ngapain juga Allah dibawa-bawa namanya biar jadi tenar gitu? Basi tahu!"


"Mbak Ning kok jadi sewot, Gege kan cuma cerita. Jangan sewot sama Gege, sewot noh sama Otoy."


"Lah yang ngomong sekarang kan loe, Ge, bukan Otoy."


"Ada apa sih pagi-pagi sudah ribut, Sudah pada sholat?"


"Sudah Mbak Tyas. Mbak kemarin kemana? Kata Pak Satpam, Mbak pergi sama Pak Joe? Pulang jam berapa?"


"Gege, loe mau tahu aja urusan orang. Tyas itu jadi asisten Pak Joe. Jadi kemana Pak Joe pergi, kalau Tyas harus ikut ya ikutlah. Emang loe ngga diajak ngarep diajak."


"Mbak Ning kenapa sih? Lapar ya, pagi-pagi udah dari bengkel sih, jadi ngomongnya digas terus."


"Emangnya semalam pulang jam berapa?"


"Jiaaaahhhh, mbak Ning pengen tahu jugakan?"


"Sudah ah, laparkan? Aku masih ada rendang buat kita sarapan. Aku panasin dulu yah. Sudah masak nasikah?"


"Nasi sudah matang dari semalam, cuma kita sudah ngga ada uang buat beli lauk."


"Oh, udah tanggal tua sih ya. Makanya ngga punya uang."


Tok tok tok...


"Assalammualaikum." Pak Joe mengetuk rumah Tyas.


"Wa'allaikumsalam."


"Gege, tolong bukain pintu yah. Aku mau panasin rendang sudah jam 5.15


"Ya Mbak."


Gege membuka pintu ternyata yang datang Pak Joe.


"Pagi Gege."


"Pagi Pak Joe. Pagi-pagi sudah kesini. Ada perlu ya sama Mbak Tyas?"

__ADS_1


"Ngga, perlunya sama kamu.."


"Hah, masa sih Pak Joe?" Gege langsung memerah mukanya.


"Iya, perlunya sama kamu, Ningsih, Tyas dan saya bawa makanan khusus buat kamu." Pak Joe tersenyum yang membuat Gege makin klepek-klepek.


"Aaaahhh, Pak Joe ganteng banget. Darimana Pak Joe suka sama saya."


"Dari tadi." Pak Joe tertawa terbahak-bahak demi melihat muka Gege yang semakin memerah.


"Sudah ayo, ini ada makanan buat kalian sarapan. Setelah itu kita berangkat.


Ningsih dan Tyas yang mendengar pembicaraan Pak Joe dan Gege tertawa. Tyas memasukkan kembali rendang ayam yang tadi nya mau dipanasin untuk sarapan.


Pak Joe membawa spaghetti chicken katsu.


Mereka makan bersama.


"Oh iya, Gege dan Ningsih naik bis jemputan yah."


"Saya dan Tyas harus pergi untuk melihat proyek untuk QC, karena Bu Agnes hari ini cuti."


"Siap Pak Joe, oh iya Pak Joe, Gege mau Pak Joe nikah sama Mbak Tyas. Eh pacaran ding."


"Gege... !"


"Hhmmmpp." Ningsih melepas tangannya dari mulut Gege.


Tiiittt tiitt, bis jemputan datang dan mengklakson.


"Sudah sana berangkat, bisnya sudah datang. Ini biar aku yang bereskan." Tyas menyuruh Gege dan Ningsih segera berangkat.


Untungnya bis jemputan datang, seandainya belum datang pasti akan terjadi perang antara Gege dan Ningsih.


"Tyas. Semalam Pak Arif minta kamu tidak masuk kamtor dulu hari ini."


"Kenapa Pak Joe? Saya dipecat karena buat keributan kemarin?"


"Bukan, bukan. Keisha dan Malik semalam badannya panas. Dan Keisha mengigau manggil nama kamu terus. Jadi Pak Arif minta kamu datang hari ini ke panti."


"Tapi Pak Joe, kok bisa Keisha panggil nama saya?"


"Saya tidak bisa jawab pertanyaan kamu Tyas. Tapi saya ingin bertanya sama kamu. Seandainya Ahmad tidak mau menceraikan kamu gimana?"


"Saya tetap mau bercerai Pak. Saya memang tidak cantik seperti istri-istrinya Ahmad. Saya tidak mau mengulur waktu untuk bercerai Pak, saya yang akan maju untuk proses cerai. Saya sedang mengumpulkan uang untuk biaya cerai."


"Kamu yakin?"

__ADS_1


"Iya Pak Joe, yakin. Karena selama menikah dengan Ahmad, ia tidak pernah menghargai dan menghormati saya sebagai seorang istri. Dan yang paling utama adalah membohongi saya."


"Ya sudah, kita berangkat sekarang ke panti asuhan."


"Baik Pak."


Pagi ini Ahmad siap-siap hendak pulang ke rumah. Ia ingin melihat kondisi istrinya yang katanya masuk rumah sakit.


Ahmad tidak terlalu ambil pusing kalau anak atau Nur istrinya sakit. Ia sudah menaruh uang 20 juta di tas Nur. ATM Nur dan pehiasan Nur sudah diamankan oleh Ahmad. Dan Ahmad sudah memakai no handphone yang baru sehingga ia tidak tahu kabar mengenai Nur yang sudah meninggal. Ia hanya tahu Nur sakit dan sedang diperiksa oleh dokter.


"Ma, hari ini papa harus masuk kantor. Mama jaga kondisi ya, karena lagi hamil muda dan morning sick terus."


"Iya papa, hati-hati di jalan. Jangan lama-lama di Jakarta. Papa kok tahu morning sick?"


"Ya kan baca-baca mengenai kehamilan istri pertama."


"Istri pertama?"


"Maksudnya kehamilan pertama istri itu bagainana?"


"Oh kirain papa punya istri pertama."


"Ya salah kalimat karena kuatir harus ninggalin Mama dalam kondisi hamil."


"Ya kan ada Mama dan adik aku. Yang penting papa hati-hati, jangan lupa makan. Dan cepat pulang. Kepengennya ikut papa ke Jakarta."


"Doain proyek goal, papa beli rumah di Jakarta untuk Mama dan dede."


"Amin."


"Ya sudah, papa jalan sekarang ya, biar urusannya cepat selesai dan cepat pulang."


"Iya Mama. Assalammualaikum."


"Wa'allaikumsalam papa."


Ahmad masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya. Ahmad sudah memikirkan rencananya nanti saat Nur bertanya. Dan rumah yang sekarang di tempati Nur akan ia jual dan minta Nur serta anak-anak tinggal dulu dengan mak dan adiknya. Minggu depan Ahmad akan menerima uang penjualan rumah yang sebelumnya di tempati oleh Laila.


Ia sudah masuk Jakarta. Ahmad menghentikan mobilnya di lampu merah. Ahmad menunggu sambil menengok mobil di samping kanan dan kiri. Tidak sengaja, Ahmad melihat Tyas di dalam mobil dengan Pak Joe.


"Oh, ternyata kamu ada hubungan dengan teman kantormu? Pantas saja waktu kejadian dan di kantor polisi, laki-laki itu selalu ada. Awas kamu Tyas, aku akan hancurkan kamu sampai tidak ada yang mau sama kamu."


Ahmad mencengkram setirnya. Dan saat lampu hijau tanpa sengaja Tyas melihat Ahmad.


Ahmad hendak mengikuti Tyas, tetapi ternyata Tyas belok ke kanan dan Ahmad belok ke kiri.


Tyas hanya melihat Ahmad dan tidak melakukan pergerakan apapun sehingga Pak Joe yang duduk di sampingnya tidak curiga.

__ADS_1


Ternyata Mas Ahmad punya mobil. Sedangkan bilang sama aku hanya punya motor dan kerjanya mandor. Tyas menarik napas panjang. Reaksi Tyas yang menarik napas panjang membuat Pak Joe memandangi Tyas.


__ADS_2