
"Joe, nanti jam makan siang kamu ke ruangan saya sama anak baru itu."
"Baik Pak Arif."
Pak Joe menutup sambungan telpon internal.
"Kenapa Pak Arif? Kita ada masalah lagi" Bu Agnes merasa kuatir.
"Belum tahu Bu Agnes, jam makan siang saya dipanggil Pak Arif ke ruangannya."
"Semoga tidak ada masalah lagi ya Pak Joe."
"Amin, saya berharapnya juga gitu. Oh iya gimana hasil kerjanya anak baru? Karena Bu Agnes kan yang langsung berhadapan dengan anak baru itu.."
"Si Tyas ok Pak, kerjanya cepat dan rapi, selama beberapa hari ini hasilnya juga ok. Kalau dapat karyawan baru lagi seperti Tyas, saya mau Pak."
"Tergantung Pak Arif, Bu Agnes. Apakah masih mau nambah orang untuk di QC. Karena produksi di tambah dan orang untuk di QC belum bisa nambah lagi atas kejadian yang kemarin."
"Iya Pak, semoga Tyas bisa lebih baik lagi kerjanya. Tyas fokus kerjanya. Dia cepat belajar dan bisa mengikuti sistem kerja di QC."
"Ya baguslah."
Pak Joe melanjutkan kerjanya.
Jam istirahat, semuanya sudah keluar ruangan sedangkan Tyas baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Tyas, kamu sudah selesai? Ayo ikut saya ke ruangan Pak Arif."
"Sudah Pak Joe, saya ikut ke ruangan bos? Ada apa Pak? Apa saya berbuat kesalahan dalam bekerja?"
"Sudah ikut saja dulu, saya di minta sama Pak Arif untuk bawa kamu menghadap ke Pak Arif."
"Baik Pak Joe."
Pak Joe berjalan di depan Tyas. Sepanjang jalan ke ruangan Pak Arif, Tyas merasa gelisah dan cemas, ia takut hasil kerjanya jelek dan dipecat langsung oleh bos.
Pak Joe mengetuk ruangan Pak Arif. Dan Pak Arif mempersilahkan mereka masuk.
"Silakan kalian duduk, sebentar saya menyelesaikan sedikit."
Tyas duduk dengan gelisah. Tidak berapa lama Pak Arif selesai dengan pekerjaannya.
"Joe, ini anak baru itu?"
__ADS_1
"Iya Pak, namanya Tyas."
"Ok, gimana kamu setelah bergabung di QC apakah bisa mengikuti sistem kerja di bagian QC karena kamu dari produksi."
"Siang Pak Arif, iya Pak. Awalnya saya masih canggung karena berbeda jauh dengan sistem di produksi. Terima masih saya diberikan kesempatan untuk berkembang di QC. Sampai saat ini saya bekerja sesuai dengan pola kerja dj QC. Alhamdulillah Bu Agnes belum dan semoga seterusnya saya tidak melakukan kesalahan. Agar lancar semuanya di QC. "
"Joe, kamu sudah dapat datanya?"
"Sudah Pak Arif, Tyas sudah menikah dan suaminya bernama Ahmad Sadeli. Sampai saat ini mereka belum mempunyai anak."
"Ok sebentar nama suamimu Ahmad Sadeli? Benar?"
"Iya Pak, benar."
Pak Arif menelpon seseorang dan menjauh dari Pak Joe dan Tyas.
Tidak berapa lama Pak Arif kembali duduk.
"Tyas, benar ini suamimu?"
Pak Arif menunjukkan photo Mas Ahmad kepada Tyas.
"Iya Pak Arif, benar itu suami saya. Saya sudah menikah sama Mas Ahmad 5 tahun."
"Maksudnya Pak? Saya belum punya anak apalagi melahirkan."
"Gini Tyas, di pabrik ini, ada beberapa divisi yang harus tahu mengenai latar belakang karyawannya. Karena itu saya minta Joe untuk cari tahu mengenai statusmu karena statusmu di HRD bilang bahwa kamu belum menikah."
"Baik Pak Arif."
"Nah, pabrik ini adalah pabrik keluarga saya. Karena itu kakak saya minta beberapa data karyawan dan dia tidak bisa ke pabrik ini terus menerus karena dia punya perusahaan kontraktor. Saya sudah mengecek semuanya data karyawan kakak saya, ada yang bernama Ahmad Sadeli dan saat saya kasih lihat photonya kata kamu itu suami kamu. Sedangkan nama istri Ahmad Sadeli di kantor kakak saya bernama Nurhasanah dan mempunyai anak bernama Keisha dan Malik. Mereka baru menikah 4 tahun yang lalu. Ahmad menjabat sebagai manager marketing di perusahaan kakak saya."
Tyas yang mendengar penjelasan dari Pak Arif menjadi kaget. Bagaimana bisa? Tyas menikah dengan Ahmad secara sah. Tyas berusaha menguasai dirinya agar tidak menangis. Tyas sudah tahu bahwa suaminya sudah menikah lagi dan mempunyai 2 anak sejak kejadian ice cream yang jatuh di kepala Tyas.
Pak Joe menceritakan kejadian tadi pagi dan juga info yang dia dapat mengenai suami Tyas dengan Pak Arif.
Muka Pak Arif terlihat memerah menahan marah. Tyas menundukkan kepalanya saat Pak Joe menceritakan kepada Pak Arif.
"Tyas, ini handphone buat kamu. Dan hari ini kamu tidak usah lagi ngontrak di rumah itu. Joe nanti tolong temani Tyas untuk mengambil baju dan beberapa barang dan antar ke rumah karyawan yang masih kosong, dekat dengan rumahmu dan Agnes kan?"
"Baik Pak Arif, saya akan temani Tyas nanti sore."
"Mohon maaf Pak Arif, saya ngga bisa menerima rumah karyawan tersebut. Saya masih pegawai rendahan beda dengan Pak Joe dan Bu Agnes."
__ADS_1
"Tyas, saya hanya ingin menyelamatkan kamu dari suamimu itu, bukan untuk memisahkan kamu. Urusan rumah tangga kamu adalah urusan kamu untuk menyelesaikan. Karena kamu pegawai saya dan sudah tugas saya untuk melindungi karyawan saya."
"Iya Pak Arif, tapi saya merasa tidak enak hati, saya hanya karyawan...."
"Cukup Tyas, buat saya tidak ada karyawan rendahan. Kalian bekerja disini karena kami membutuhkan tenaga kalian dan kami mau kalian berkembang, bukan hanya sekedar bekerja tanpa mau berkembang. Untuk menjadi orang sukses memang dimulai dari bawah. Ikuti prosesnya. Dan ingat jangan pernah merendahkan diri kamu sendiri. Kamu harus open mind."
"Iya Pak, terima kasih. Nanti sore saya memang akan pergi menginap di rumah kontrakan Ningsih salah satu teman saya. Dia anak produksi. Dan Pak Joe juga sudah tahu Pak. Mengenai handphone tidak usah Pak. Saya masih ada handphone."
"Joe bilang handphone kamu sudah di banting sama Joe karena itu ini handphone untuk kamu. Jangan berpikir bahwa saya ataupun Joe ada maksud tertentu sama kamu."
"Iya Pak, mohon maaf tetapi saya... "
Pak Arif mendengar pintu ruangannya diketuk. Dan Tyas belum selesai berbicara.
"Masuk."
Pak Arif mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk pintu.
Ternyata yang datang adalah kakaknya Pak Arif dan Ahmad suami Tyas. Baik Tyas maupun Ahmad tidak menyadari kalau mereka akan bertemu satu ruangan.
Ahmad dan Pak Joe masih duduk. Tyas memberikan isyarat akan keluar ruangan Pak Arif.
Pak Ahmad mempersilahkan tamunya duduk di sofa dan menunggu sebentar.
"Maaf Pak Arif, saya permisi keluar ruangan karena mau sholat dan sebentar lagi bel masuk untuk bekerja kembali."
"Duduk dulu Tyas. Saya belum selesai. Joe tolong telpon si Ratna kasih tahu ada tamu saya dan minta dibawakan minum.
"Baik Pak Arif."
Joe bangkit berdiri dan menelpon sekretaris Pak Arif.
Ahmad mengenali suara Tyas dan juga mendengar Pak Arif adik dari Bosnya menyebut nama Tyas.
"Apakah Tyas, istrinya atau bukan. Karena Tyas masih duduk di depan meja Pak Arif. Sedangkan Ahmad duduk di sofa."
"Joe dan Tyas, ya sudah kalian kembali bekerja."
"Baik Pak Arif, terima kasih" Joe dan Tyas mengucapkan secara bersamaan.
Joe dan Tyas berdiri dan saat membalikkan badan Tyas kaget ternyata ada Ahmad. Begitu pun dengan Ahmad juga merasa kaget.
"Mas Ahmad."
__ADS_1