
Malik meminta gendong Ahmad dan Ahmad segera menggendong Malik.
"Mas Ahmad. Ini anakmu semua dari Nurhasanah? Dan siapa Sekar yang orang bogor? Ok Laila, kamu sudah cerai. Dan tadi mbak Tyas. Mana surat cerai kamu dengan mbak Tyas?"
"Aku belum cerai dengan Tyas, aku masih suami sah Tyas, tetapi aku sudah lama tidak dengan Tyas. Jadi aku tidak tahu apakah Tyas sudah menikah lagi atau belum. Terakhir aku pulang ke kontrakan ternyata sudah di tempati oleh orang lain."
"Terus? Kedua anak ini?"
"Keisha dan Malik anakku dari istriku yang lain bernama Nurhasanah tetapi ia meninggal karena apa aku tidak tahu. Karena saat aku pulang, rumah sudah kosong. Anak-anak tidak ada. Aku cari mereka ada dimana. Sampai akhirnya aku bertemu mereka saat ini. Aku tidak tahu bagaimana Asep, adik dari Nurhasanah bisa tahu mengenai Tyas."
"Teruuuussss???"
"Aku sudah cerai dengan Laila dan kamu sudah lihat surat cerainya."
"Teruuuuuuusssss???"
"Aku baru menikah seminggu yang lalu dengan Sekar. Tetapi orang tuanya tidak setuju. Kecuali aku memberikan uang sebesar 500juta, mereka baru merestui pernikahan aku dengan Sekar. Dan aku baru saja dipecat 2 hari sebelum aku menikah dengan Sekar?"
Ahmad melihat raut muka Mirna yang masih tidak percaya dengan perkataannya.
"Ok, ok Mirna. Aku punya dua rumah. Rumah ini mau aku jual untuk memberikan uang 500juta ke orang tua Sekar. Tetapi kemarin aku bingung akhirnya aku bertemu dengan kamu. Aku jatuh cinta sama kamu dan aku mau menikah sama kamu. Tetapi aku punya dua anak Keisha dan Malik. Apakah kamu masih tetap mau menikah denganku, Duda dengan 2 anak?"
"Kamu belum jadi duda. Karena kamu belum cerai dengan Tyas, Mas. Dan kenapa kamu selingkuh dari mbak Tyas?"
"Karena Tyas tidak mau punya anak. Sedangkan aku ingin sekali punya anak. Karena itu aku menikah lagi. Setelah ada Keisha dan Malik, aku masih ingin punya anak, tetapi Nur, bunda mereka tidak mau punya anak lagi. Lalu aku menikah dengan Laila, ternyata aku tidak bisa mencukupi kehidupannya yang mewah. Aku bertemu dengan Sekar. Ia mau menikah denganku tetapi orang tuanya tidak mau sampai akhirnya kami berbohong bahwa Sekar sudah hamil. Selesai menikah ternyata orang tua Sekar membawa Sekar ke dokter kandungan. Dokter kandungan bilang bahwa Sekar belum hamil. Karena itu aku diusir dari rumah Sekar. Kalau aku ada uang 500 juta, aku bisa pulang ke rumah Sekar. Aku kalut dan bingung."
Mirna menghela napas panjang Mirna tidak tahu lagi harus bicara apalagi dengan Ahmad. Satu sisi ia sudah terjebak dengan Ahmad. Dan Mirna tahu bahwa Ahmad mempunyai uang yang cukup banyak dan Mirna tidak mau lagi hidup susah.
"Mirna, apakah kamu tetap mau menjadi istriku dan mempunyai anak?"
"Kasih aku waktu untuk berpikir. Dan anak-anak ini bagaimana?"
"Aku akan titipkan anak-anak ini ke adik iparku. Tapi saat ini, aku harus pergi mengantarkan barang-barang ke rumah yang satu Setelah itu mengantarkan anak-anak ke rumah iparku."
"Tidak usah diantar kerumah yang satu lagi. Minta para supir truk untuk memasukkan kembali barang-barangnya."
__ADS_1
Ahmad keluar rumah dan memberitahu pak polisi yang masih berjaga di depan rumah bahwa mereka akan memasukkan barang-barang kembali ke dalam rumah.
Ahmad menemui supir truk dan meminta mereka memasukkan kembali. Ahmad memberikan uang tambahan.
Melvern, Pak Joe dan Tyas sudah sampai rumah Pak Arif. Mereka melaporkan ke Pak Arif mengenai kejadian di rumah Ahmad tadi.
"Akhirnya Keisha dan Malik dapat bertemu dengan ayahnya. Maaf Tyas, kata Joe kamu hari ini sakit, tidak masuk kerja."
"Iya Pak Arif, tadi pagi badan saya meriang tapi tadi sudah minum obat. Jadi besok saya bisa masuk kerja."
"Tidak usah, Joe besok antar Tyas ke dokter ya. Nanti saya kirimkan alamatnya."
"Baik Pak Arif."
"Melvern. Terima kasih sudah dibantu hari ini."
"Sama-sama Om. Oh iya Om, aku mau tanya jadi Tyas ini istrinya Ahmad."
"Masih jadi istrinya Ahmad tetapi sebentar lagi mereka akan cerai."
"Kamu tuh, Kalau mau mendapatkan Tyas harus bersaing sama Joe. Karena Joe suka sama Tyas."
Joe terlihat salah tingkah karena Pak Arif bicara saat ada Tyas. Sedangkan Tyas berusaha menutupi rasa terkejutnya.
"Tuan, ada Non Ningsih."
"Suruh masuk Bi."
Tidak berapa lama Ningsih sudah masuk.
"Eh ada Pak Joe dan Tyas juga. Maaf saya menganggu"
"Tidak mengganggu Ningsih, silakan."
Ningsih mendekat ke Pak Arif.
__ADS_1
"Jadi gini Joe dan Tyas. Saya suka sama Ningsih dan tadi pagi akhirnya Ningsih menerima saya sebagai calon istri saya."
"Waah, selamat ya Ningsih."
Tyas memberikan selamat kepada Ningsih. Dan Ningsih terlihat salah tingkah dan malu.
"Pak Arif dan Pak Melvern, saya dan Tyas pulang dulu. Kasihan Gege sendirian."
"Ya hati-hati. Ningsih nanti pulang saya antar."
Pak Joe dan Tyas keluar dari rumah Pak Arif.
Mereka masuk ke mobil. Dan pergi dari rumah Pak Arif.
"Tyas, jangan pikirkan omongan Pak Arif. Dia hanya bercanda."
"Maaf Pak Joe, omongan yang mana? Tyas lupa. Tyas tadi tidak fokus karena kepikiran dengan Keisha dan Malik. Kasihan mereka, masih kecil-kecil dan bisa mengganggu psikologi mereka."
"Iya Tyas, kita lihat dan dengar-dengar saja dulu nanti. Jangan bertindak gegabah. Karena tadi terlihat jelas Ahmad marah sekali sama kamu. Dan ada kemungkinan dia akan membalasnya. Saya harap kamu hati-hati ya."
"Iya Pak Joe. saya tidak takut dengan Ahmad. Surat pernyataan yang waktu saya buat di kantor polisi tetap berlaku. Dan saya yang akan mengurus perceraian."
"Terus tadi Mirna? Kamu kenal dengan Mirna?"
"Iya Pak. Dulu dia adalah tetangga di rumah kontrakan. Dia yang pertama kali kasih tahu saya bahwa Mas Ahmad sedang sama wanita yang mengandung dan melahirkan seorang anak. Saya tidak percaya selama ini. Karena saya tidak melihat langsung. Saya hanya tahu bahwa Mas Ahmad sedang ada kerjaan karena itu ia tidak pulang dan bisa berhari-hari tidak pulang. Pulang ke rumah hanya sekitar 2-3 hari setelah itu pergi lagi."
"Oh ok. Terus gimana kamu saat ini."
"Maksudnya Pak Joe?"
"Kondisi kamu saat ini setelah kejadian yang tadi. Kalau besok kamu belum bisa masuk tidak papa. Sehatkan dulu badanmu. Buang jauh-jauh pikiran yang aneh-aneh."
"Saya sudah sehat. Saya sudah baik-baik saja. Saya tidak ada pikiran aneh-aneh Pak. Kalau sedih wajar. Ternyata pernikahan saya tidak bisa dipertahankan. Tapi balik lagi semuanya, saya mengikuti apa kehendak Allah. Saya berdoa dan minta petunjuk dari Allah agar masalah saya sama Ahmad cepat selesai. Jadi atau tidak jadi bercerai, yah saya terima Pak Joe. Ini takdir hidup saya Pak Joe."
"Ya sudah. Kita sebagai umat Allah hanya bisa doa dan tahajud. Minta ditunjukkan yang terbaik. Ikhlas dan pasrah. Sudah sampai. Kamu istirahat ya. Jangan mikir macam-macam."
__ADS_1
"Iya Pak Joe, Terima kasih. Sampai besok."