
Tyas berjalan ke depan dan membuka pintu.
"Sore bu, saya Ali, sopir pak Joe yang menjemput bu Tyas. Pak Joe mohon maaf karena tidak bisa menjemput ibu Tyas karena pak Joe masih meeting."
"Oh gitu. Tunggu sebentar ya, silakan duduk dulu. Saya siap-siap."
Pak Ali duduk di kursi teras. Sedangkan Tyas masuk ke dalam dan tidak lupa mengkunci pintu. Tyas ingin memastikan sama pak Joe. Apakah benar pak Ali adalah supir suruhan pak Joe untuk menjemput Tyas.
Tyas menelpon berkali-kali ke pak Joe, tetapi tidak diangkat. Tyas mencoba mengirimkan pesan kepada pak Joe. Tyas menunggu jawaban dari pak Joe.
Tidak berapa lama pak Joe menelpon Tyas.
"Halo Tyas, maaf saya baru selesai meeting dan tadi saya lupa info ke kamu kalau saya ada meeting jam 3 sore jadi saya minta pak Ali untuk menjemput kamu. Saya baru selesai meeting."
"Baik pak Joe. Pak Ali sudah datang tapi saya tidak berani ikut dia. Saya takut kalau ternyata pak Ali bukan supir yang diminta pak Joe untuk menjemput saya. Tapi Ali benar sopir kantor pak Joe?"
"Iya Tyas, tolong kamu berikan handphone kamu ke Ali di loud speaker saja, biar kamu dengar apa yang saya bicarakan sama pak Ali.
Tyas berjalan keluar dan memberikan handohonenya kepada Ali. Setelah mendengar pembicaraan pak Joe dengan Ali. Akhirnya Tyas ikut dengan pak Ali.
"Sudah sampai bu."
"Iya Pak Ali, terima kasih."
Tyas keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran yang tadi sudah diberitahu oleh pak Joe.
"Malam bu, ada yang bisa saya bantu? Ibu berapa orang?"
"Malam mbak. Saya sudah di tunggu teman saya pak Joe. Saya dengan Tyas."
"Oh bu Tyas, mari bu, saya antar kebetulan pak Joe sudah menunggu ibu.
Tyas mengikuti mbaknya berjalan. Di salah satu ruangan, mbaknya membuka pintu dengan di dorong. Dan mempersilahkan Tyas masuk.
"Pak Joe? Maaf, saya baru sampai tadi jalanan macet. Ini kenapa kita ada disini? Saya ngerasa tidak nyaman pak."
"Tidak papa Tyas. Saya ajak kamu ke sini sambil makan malam dan ada hal yang mau saya bicarakan sama kamu. Tapi ayo duduk dulu. Jangan diri saja.
__ADS_1
Tyas duduk. Pak Joe menawarkan makanan yang sudah terhidang.
"Pak Joe, kita sudah selesai makan, sebenarnya apa yang mau pak Joe sampaikan sama saya?"
"Tyas, saya mau jujur sama kamu. Sebenarnya saya suka sama kamu sejak kamu masuk di divisi QC. Tapi saat itu saya tahu bahwa status kamu sudah menikah makanya saya berusaha untuk menjadi teman atau mungkin lebih dari teman ditambah lagi dengan kejadian yang menimpa rumah tangga kamu. Saya berjanji sama diri saya sendiri untuk menolong dan menjaga kamu."
"Terima kasih pak Joe. Saya tahu selama saya kenal pak Joe, saya merasa beruntung karena pak Joe selalu ada, selalu menolong saya."
"Tyas, apakah kamu bersedia menjadi istri saya?"
Tyas kaget dengan kata-kata yang diucapkan oleh pak Joe."
"Maaf, maaf Tyas kalau saya membuat kamu kaget"
"Iya pak Joe. Saya kaget. Pak Joe, saya mohon jangan membuat status saya saat ini sebagai pernainan. Saya seorang janda sedangkan pak Joe masih perjaka. Apa kata orang tua pak Joe saat tahu status saya."
"Tyas, saya tidak ada maksud sama sekali mempermainkan kamu. Orang tua saya sudah tahu status kamu. Kamu sudah tahu dan dengar sendiri omongan mama saat kita mau pulang dari Bandung. Mama mau saya dan Jerry menikah secara bersamaan karena kami kembar."
"Iya saya tahu pak Joe. Tapi..."
Tyas terdiam dan menunduk. Agak lama Tyas terdiam memikirkan kata-kata pak Joe.
"Pak Joe, saya tidak bisa menjawab sekarang. Saya akan memberitahukan kepada pak Joe. Jujur saya kaget dan shock dengar permintaan pak Joe."
"Tyas, saya mengerti dan saya tahu kamu masih trauma dengan pernikahan kamu dengan Ahmad. Saya tidak mau mengajak kamu berpacaran dengan berbagai macam pertimbangan. Akan lebih baik saya menikah dengan kamu dan selepasnya kita bisa pacaran."
"Iya pak Joe. Saya mengerti. Tapi kasih saya waktu untuk memikirkan hal tersebut dan saya akan memberitahu pak Joe mengenai permintaan pak Joe apakah saya setuju atau menolak."
"Tyas, apapun keputusan kamu nantinya. Saya akan menerima. Ya sudah, ayo kita pulang. Sudah malam."
"Iya pak."
Pak Joe dan Tyas menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang mereka berdua terdiam.
Berarti benar apa yang dibilang sama Ningsih dan Gege, bahwa pak Joe suka sama aku. Tapi apa yang dilihat pak Joe dari aku? Aku bukan seperti Ningsih yang belum pernah menikah? Dan kata-kata mamanya pak Joe. Ya Allah, berikanlah aku petunjuk. Apapun yang terjadi itulah yang terbaik menurut Engkau ya Allah.
"Tyas, Tyas. Kita sudah sampai. Tyas! Tyas!"
__ADS_1
"Eh iya pak Joe."
"Kita sudah sampai. Kamu kenapa melamun?"
"I-iya pak Joe. Maaf, saya sudah ngantuk." Tyas tersenyum dan keluar dari mobil pak Joe.
"Tyas, besok pagi saya jemput ya. Kamu besok ada janji ketemuan dengan pak Arif kan?"
"Iya pak Joe. Tidak usah, saya bisa berangkat bareng Ningsih besok."
"Tidak papa, Ningsih sekalian bareng sama kita. Ya sudah selamat malam. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam pak Joe. Selamat malam juga."
Tyas masuk ke rumah. Dan melihat Ningsih tertidur di sofa. Sedangkan TV menyala.
"Ningsih, Ningsih. Bangun Ning. Pindah tidurnya ke kamarmu. Jangan disini nanti digigitin nyamuk loh." Tyas mengguncang bahu Ningsih dengan pelan.
"Tyas, kamu baru pulang? Jam berapa sekarang?"
"Iya, Sudah jam 10 malam. Tidurnya pindah jangan disini. Aku juga sekalian mau tidur."
"Tyas, aku tunggu disini ya. Aku mau ngobrol sama kamu."
"Besok saja. Mata kamu udah celeng gitu kok masih nekat mau ngobrol yang ada nanti malah ngga enak ngobrolnya. Lagi pula aku capek banget. Maaf ya."
"Heheheh, ya sudah besok pagi sajalah."
Ningsih masuk ke kamar dan Tyas pun juga masuk ke kamarnya.
Tyas segera masuk ke kamar mandi dan mandi, mengambil wudhu dan sholat. Selesai sholat duduk di pinggir ranjangnya.
Tyas
Pak Joe sebenarnya yakin tidak ya untuk menikah sama aku? Aku takut pak Joe hanya ingin menyelamatkan statusku saat ini yang janda. Tapi, ah ngga tahulah.
Tyas merebahkan dirinya di kasur
__ADS_1